Disebuah sudut ruangan, terlihatlah seorang wanita yang sangat terkulai lemas. Badannya mengurus dan kelopak matanya terlihat semakin hitam. Siapapun yang melihat, pastilah setuju bahwa kondisinya terlihat begitu mengenaskan. Pandangannya kosong menatap jendela di luar, sama sekali tidak nampak sebuah kebahagiaan selain air mata yang selalu menetes, bahkan tanpa sama sekali di rasanya. Penampilannya terlihat lusuh, sepertinya dia benar- benar kehilangan gairah untuk terus hidup.
Ini adalah kisah tentang sepasang suami istri, yang dalam bahtera rumah tangga tersebut, Allah memberikan ujian dengan belum hadirnya buah hati ditengah- tengah kehidupan mereka. Semoga menjadi hikmah bagi kita semua, bahwa ujian adalah memang bagian dari kehidupan yang seharusnya membentuk kita agar menjadi pribadi yang lebih sabar.
Musik sudah menjadi makanan pokok bagi kebanyakan orang pada hari ini. Seakan-akan mereka tak bisa hidup tanpa musik dan lagu. Pagi-pagi buta suara musik lah yang mengalun pertama kali dari rumah-rumah mereka. Kalaulah kita data satu persatu, hampir di setiap rumah kita temui kaset atau CD musik, karaoke dan sejenisnya! Itulah realita kita!
“Alhamdulillah dalam segala keadaan. Ku telah menunaikan kewajibanku sebagai lelaki yang mencintai seseorang. Bukanlah keberhasilan diukur dengan diterimanya lamaran, tapi bagiku keberhasilan itu adalah mampu melamar wanita itu di depan ibunya.”
Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: “Masih dengan beras yang sama”.
Bahtera rumah tangga membutuhkan nakhoda yang mengerti tujuan dan arah berlayar, diikuti para awak yang memiliki kesabaran yang tangguh dan teruji, yang siap diatur oleh sang nakhoda. Sebagaimana bahtera yang mengarungi samudra yang luas akan menghadapi arus dan gelombang yang menggunung, begitu pula bahtera berumah tangga
Gadis itu menatap punggung Rina yang semakin menjauh. Dia pun beristighfar melihat penampilan Rina. Pakaian ketat dengan rok mini sepaha, mengumbar aurat dengan bentuk lekuk tubuhnya. Sebuah dandanan seksi menjadi tontonan gratis para lelaki jalang, para suami yang tidak menjaga matanya, dan para pemuda dengan gairah hawa nafsunya
Kalaulah kita ibaratkan zina adalah sebuah ruangan yang memiliki banyak pintu yang berlapis-lapis, maka orang yang berpacaran adalah orang yang telah memiliki semua kuncinya. Kapan saja ia bisa masuk. Bukankah saat berpacaran ia tidak lepas dari zina mata dengan bebas memandang?
“Sesungguhnya Ya`juj dan Ma`juj membongkarnya setiap hari, sampai ketika mereka hampir melihat cahaya matahari. Pemimpin mereka berkata, ‘Kalian pulanglah, kita teruskan besok’. Lalu Allah mengembalikannya lebih kuat dari sebelumnya. Hingga ketika masa mereka telah tiba dan Allah ingin mengeluarkan mereka kepada ma-nusia, mereka menggali, ketika mereka hampir melihat cahaya ma-tahari, pemimpin mereka berkata, ‘Kalian pulanglah, kita teruskan besok, insya Allah Subhanahu Wata’ala’.
Satu hari seperti setahun, satu hari seperti sebulan dan satu hari seperti seminggu dan hari-hari lain seperti hari-hari biasa. Kecepatannya seperti hujan diterpa angin kencang. Dia mendatangi suatu kaum, dia mengajak mereka, dan mereka beriman kepadanya dan menjawab ajakannya, lalu dia menyuruh langit dan ia menurunkan hujan, dia menyuruh bumi, maka ia menumbuhkan tanaman, maka ternak-ternak mereka makmur, punuknya tinggi, susunya deras dan perutnya kenyang.
Wahai orang-orang yang ingin selamat ! Ikutilah Sunnah ! berpegang teguhlah padanya ! jangan sekali-kali tertipu oleh apa yang dilakukan oleh banyak orang. Karena kebenaran tidak diukur dengan banyaknya orang, melainkan dalil dan hujjah yang kuat.
Ketika umat didera banyak fitnah dan masyarakat dilanda beragam cobaan dan malapetaka, juga sering terjadi pelanggaran-pelanggaran, sehingga kebenaran bercampur dengan kebathilan, simbol-simbol Sunnah menghilang pada banyak orang, dan petunjuk berpadu dengan kesesatan, maka ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dapat menerangi jalan hidayah, dan cahayanya dapat menghancurkan gelapnya kebodohan dan kesesatan.
Komentar Pembaca