Malam Itu…
Sabtu,Oktober 18, 2008
Aku tinggal di kota yang terpencil. Katakanlah Kota X. Namaku sebut saja Anto (Bukan nama sebenarnya). Semenjak kecil aku tidak pernah merasakan kegembiraan. Masa seusiaku seharusnya masa dimana merasakan kegembiraan, canda tawa, dan permainan masa kecil tapi bagiku tidaklah demikian. Masa seusiaku justru merupakan masa kesedihan, tangis, dan penuh air mata. Kalaupun ada, itu hanyalah senyum yang dipaksakan. Senyum hambar yang dibuat-buat hanya untuk menutupi luka dan beban penderitaan yang selama ini mendera hidupku dan ibuku. Memang aku terlahir sebagai manusia normal tapi aku tidak terlahir dalam kehidupan yang normal. Hidup dan kehidupanku penuh dengan onak duri dan jurang penderitaan. Tidak seperti anak-anak yang lainnya. Di setiap masa kanak-kanaknya merasakan kasih sayang orang tua, merasakan betapa bahagianya masa kecilnya. Mungkin aku bisa disebut “Masa kecil kurang bahagia” seperti ungkapan yang selalu dilontarkan.
Awalnya, kehidupan keluargaku bisa dikatakan lumayan untuk urusan rezeki. Karena ayahku seorang wiraswasta yang bekerja sebagai buruh/pedagang tembakau. Namun, tidak disangka ketenangan keluargaku berubah menjadi penderitaan seperti roda yang senantiasa berputar. Aku masih ingat saat-saat kejadian di malam dimana merupakan malam ambang penderitaan aku dan ibuku. Malam itu adalah malam tangis pertamaku bukan karena tangis yang merengek minta duit atau tangis yang dipukul teman-teman atau tangis karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
“pyaarrrrrr…..!!!”. Suara pecahan piring dan hantaman memecah kesunyian malam. Menghilangkan dinginnya malam berganti dengan panasnya suasana pertengkaran yang membuat mata orang tertidur menjadi terbelalak dan bangkit dari tidurnya. Membuat sunyinya malam menjadi keramaian oleh masyarakat sekitar. Malam itu sebuah pemandangan yang tidak sepantasnya terlihat olehku. Terlihat oleh anak seusiaku. Malam itu, ibuku tidak berdaya karena ia hanyalah seorang wanita yang tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan. Melawan kebengisan ayahku. Melawan kejamnya penyiksaan yang ayah lakukan pada ibu. Malam itu, ayahku seperti monster yang akan memangsa dan membunuh buruannya. Akupun tidak berdaya karena aku hanyalah anak kecil yang masih ingusan dan belum memiliki kesempurnaan akal. Aku hanya bisa melihat dan menangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak!!!ayahku dengan tega dan bisa dikatakn tidak berperikemanusiaan menghantam ibuku dengan kursi kayu. Belum habis kemarahan yang ia lemparkan pada ibuku, ia juga melayangkan tamparan dan menjambak rambut ibuku. Sungguh pemandangan yang sangat mengiris hatiku dan hati-hati orang yang masih memiliki kelembutan hati.
Wargapun mulai berdatangan begitu juga dengan nenek dan saudara ibuku yang memang rumah nenekku berada di belakang rumah kami. Di balik gelapnya malam dan gelapnya rumahku warga mulai melerai pertengkaran antara ayah dan ibuku. Lampu rumah memang sengaja dimatikan karena memang kejadiannya pada saat orang-orang tidur, lebih tepatnya jam 12 malam. Pertengkaran pun bisa dihentikan. Seandainya tidak ada warga yang melerai, ibuku pasti mati ditangan ayahku sendiri. Setelah itu, aku lupa apakah ayah masih berada disitu atau pergi dari rumah. Akupun berlari menghampiri ibuku yang rambutnya telah acak-acakan dan tersungkur menangis. Aku melihat dengan perasaan seorang anak yang sangat mencintai wnaita yang telah melahirkan dan memberi kasih sayangnya kepadaku. Aku mengamati wajahnya dalam-dalam. Hatiku sangat sakit dan sedih melihat air mata dan tetesan darah yang keluar dari mulut dan hidung ibuku. Akupun menyeka air matanya dan membersihkan bekas darah yang keluar dengan tangan mungilku. Lalu nenek membawa ibu ke kamarnya. Meskipun pertengkaran itu sudah bisa dilerai, masih banyak warga yang belum meninggalkan rumah kami. Mereka memilih untuk duduk di halaman rumah atau dalam rumah untuk bertanya-kepada keluargaku terutama pada ibu-penyebab pertengkaran itu. Mereka seolah-olah menginterogasi korban.
Semenjak kejadian itu semuanya berubah. Malam itu membuat tidak sedikit warga yang mencaci keluargaku. Malam itu membuat munculnya muka-muka manis yang bisa dikatakan memasang dua muka. Dihadapan keluargaku mereka bersikap empati terhadap apa yang menimpa keluargaku. Namun, dibalik itu mereka menyimpan dan melontarkan cacian dan hinaan yang sangat. Malam itu adalah malam tertanamnya kebencian kepada ayahku. Ayah yang paling buruk diantara semua ayah yang ada di seluruh sejarah kehidupan rumah tangga.
*****
to be continue…
Entry Filed under: Kisah. Tag: kisah nyata.
4 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
















1.
diana | Selasa,Oktober 21, 2008 at 9:17 pm
aku pernah juga sakit hati..
tapi ternyata aku telah tercengang dengan kekuatan diriku saat aku mencoba untuk memaafkan…ternyata Tuhan Mahaadil euy…salam
2.
abdul aziz | Rabu,Oktober 22, 2008 at 1:34 pm
memaafkan jalan lebih selamat. tunggu aja kisah selanjutnya akan banyak hikmah yang dpt kita petih dari perjalanan hidupnya
3.
Vee | Rabu,Desember 10, 2008 at 5:32 pm
ummm hebat antum berani bercerita ttg kisah antum…
4.
abdul aziz | Kamis,Desember 11, 2008 at 10:27 pm
aduh…ini tentang temen ana???kalo cerita ana ada dlm kenangan.hehe…