Bagaimana Mungkin…bag 2
Sabtu,Oktober 25, 2008
Preview on Bagaimana Mungkin…bag 1
Aku ga tahu apa do’aku dikabulkan Allah yang jelas sumur itu tidak jernih lagi, bahkan menguning. Setelah perlakuannya pada kami, kami memutuskan untuk menimba di tempat lain. Ternyata sama saja. Bedanya ia mengumpat secara diam-diam sedangkan di depan bersikap manis. Namun, kami tetap saja menimba disitu toh yang mengumpat hanya ibunya selainnya tidak masalah.
*****
Ketidaktenangan semakin memuncak ketika ayah berbuat kelewat batas terhadap ibu. Setelah sekian lama ayah pergi dan lebih memilih tinggal bersama istrinya-aku tidak tahu istri yang keduakah atau yang ketigakah-ia muncul kembali di tengah-tengah kami. Padahal kepergiaan ayah merupakan ketenangan tersendiri bagi ibuku. Mungkin ayahku beranggapan bahwa perlakuan ibu akan sedikit berubah dan mau menerima ayah kembali. Tapi mungkinkah??!!!. bagaimana mungkin ibu akan menerima ayah pulang hanya sekedar numpang tidur dan makan. Bagaimana mungkin ibu mau berubah sedangkan ayah tidak pernah memberikan kewajibannya sebagai seorang suami (baca: memberi nafkah). Ketika ayah pulang, yang ibu lakukan adalah pergi dan tidak berbicara dengan ayah termasuk aku. Aku memang berbeda dengan adikku. Kalau ayah pulang, adikku sangat gembira. Lain halnya dengan diriku. Temperatur dan volume darahku seakan-akan mau meledak melihat wajah ayahku. Sering sekali aku tidak mau dan selalu memasang muka masam jika disuruh ayah. Ibu yang jarang di rumah tidak mengetahui apa-apa tindakan aneh yang dilakukan ayahku. Pernah aku memergoki ayah menaruh dan menabur sesuatu di kamar. Setelah ayah pergi. Aku mencari tahu keganjalan aneh yang ayah lakukan. Setelah aku periksa ternyata ada banyak butiran beras kuning dimana-mana. Di sekitar meja makan, di tanah bawah tempat tidur. Semula aku tak tahu itu kemudian aku ceritakan pada ibu dan nenekku. Apa yang terjadi???rupanya ayah mau membunuh ibu secara pelan-pelan. Selama tiga hari ibu merasakan sakit perut yang sangat. Nenekku berusaha mengobatinya dengan minta bantuan dukun. Dan atas izin Allah ibu sembuh. (red: Rasulullah bersabda: barang siapa mendatangi dukun atau paranormal dan mempercayai apa yang dikatakannya maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari. Dalam riwayat lain ia telah kafir.)
Setelah kejadian itu, ibu memasang jimat di atas pintu kamar dan memakai sabuk jimat. Aku yang sudah tahu itu menasihati ibu namun ia masih saja melakukan hal bodoh seperti itu. Setelah diterima di SMA Unggulan aku jarang pulang. Sering sekali ibu menjengukku dan menceritakan bahwa ayah datang dan mencariku. Ibu tidak memberitahu keberadaanku.
Suatu hari di saat pulang sekolah ayahku mampir ke sekolah. “ayahmu mencarimu.”kata temanku. “dimana?” tanyaku kaget tak percaya.”tuh di musholla”. Jawab temanku. Dengan perasaan takut aku menemuinya di musholla. Kebetulan mushollanya terletak di tengah-tengah antara asrama putra dan putri. Setiap perkataan dan pertanyaan ayah aku jawab dengan nada emosi dan pedas. “kamu sudah tidak menganggapku sebagai ayah lagi?!!!”Tanya ayahku sembari menangis. “aku hanya diam. Dalam hatiku baru kali ini ayah meneteskan air matanya seumur hidup. Sebenarnya aku tidak tega melihat ayah. Tapi setelah mengingat apa yang diperbuatnya aku sudah berjanji tidak akan memaafkannya. Apalagi ibu telah memberi kesempatan tapi kesempatan itu telah ayah sia-siakan dengan percuma. Kemudian ayah pulang dan memberiku uang. Tapi aku tolak karena aku merasa uang itu adalah uang haram. Hasil dari perbuatan haram yang ayah lakukan. Aku masih ingat ketika aku masih SMP. Suatu malam kira-kira pukul 12 ada suara mengetok pintu kamar. Setelah ibu keluar ternyata da segerombolan polisi datang ke rumah. Aku tidak tahu apa benar itu polisi. Soalnya tidak memakai seragam polisi dan kalau benar itu polisi apa pantas polisi bertamu tengah malam seperti ini. Setelah berbicara panjang lebar ternyata ayahku menipu temannya sendiri. Temannya berniat menjual motornya karena ia membutuhkan uang. Kemudian ayah menawarkan diri untuk membantu menjualkan motornya. Setelah motornya terjual ayahku pergi membawa uang hasil penjualan motor itu dan menghilang dari temannya. Sungguh tindakan ayah telah menambah coretan hitam keluargaku dan menambah kebencian orang-orang yang memiliki hati kotor terhadap keluarga. Ibuku heran kenapa harus mencari ke rumah sedangkan ayah sudah lama tidak pulang. Polisi itu mengatakan bahwa mereka tahu dari istri ketiganya. Dasar istri yang memiliki tabi’at buruk. Rupanya semua perbuatan ayah ia lemparkan ke ibu. Lebih kaget lagi, ternyata tindakan pembunuhan yang ayah lakukan atas suruhan istri ketiganya. Akhirnya, polisi itu pulang tanpa membawa hasil tapi mengirim sederetan tambahan coretan hitam latar belakang keluargaku. Keluargaku harus menanggung rasa malu yang sangat. Bahkan nenekku sempat pingsan mendengar celotehan tetangga. “jadi, istri dan anaknya diberi makan uang haram.”
Bagaimana mungkin aku memaafkan ayah sedangkan ayah tidak mempercayaiku dan menuduhku mencuri uangnya. Kejadiannya saat aku masih SD. Di saat kami makan malam ayah kehilangan uang. Kemudian ayah menuduhku tanpa bukti. Panjang lebar aku meyakinkannya. Justru dengan nada emosi ayahku mau menamparku kalau tidak mengaku. Aku yang tidak merasa bersalah memilih untuk lari dari rumah diajak oleh teman ayahku sendiri yang pada waktu itu ikut makan bersama. Dikejarnya kami lalu ia menyuruhku pergi jauh-jauh. Akhirnya, kau pergi malam itu dan memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Aku terpaksa tidur di rumah yang tak berpenghuni. Tidur beralaskan tanah sambil menangis aku memendam kebencian terhadap ayah. Seorang ayah yang tidak percaya kepada anaknya. Keesokan harinya, ibuku mencariku. Kasihan melihat ibu yang kebingungan mencariku, aku putuskan untuk pulang. Ibu memberitahuku bahwa uangnya ada di bawah piring. Tapi ayah sama sekali tidak meminta maaf. Setelah kejadian itu bagaimana mungkin aku menerima ayah kembali. Sedangkan ibu sudah tidak mengakuinya sebagai suami. Jadi bagaimana mungkin aku mengakuinya sebagai seorang ayah.
Ayah telah menanam kebencian dalam hatiku. Kebencian yang tumbuh sebanyak buih di lautan. Kebencian yang tidak akan tertampungi di tempat manapun. Semakin lama akan semakin tumpah dan terpaksa ia harus dimuntahkan kepada sumbernya. Puncaknya saat ayah mencoba membunuh ibu setelah tidak berhasil dengan guna-guna yang ia tebarkan di kamar. Ayahku menjodohkan dengan anak saudaranya. Alasannya karena saudaranya itu adalah orang yang kaya raya. Tentu saja keluargaku terutama ibuku tidak setuju dengan keputusan ayah. Setelah itu dengan amarah ayah mengayunkan goloknya untung saja ibu segera lari ke rumah nenek dan menutup pintu (red: sumber tidak ingat penyebab utamanya). Suasana menjadi panas waktu itu. Kalau saja ibu tidak lari, mungkin ibu akan terkena sabetan golok itu. Ayahku memang selalu membawa golok kemanapun ia pergi. Setelah mengetahui bahwa ibu tidak setuju, pihak keluarga ayah membenci ibu dan melontarkan kata-kata pedas. Sampai akhirnya keluar kata-kata dari mulut sang mertua (baca: ibunya Ayah), “ sampai tujuh turunan, akan aku nikahkan anakku!!!”. Kata-kata itu telah menjadi boomerang bagi mereka dan duri bagi ibuku. Sekarang ayahku sudah memiliki empat isteri.
to be continue..
Entry Filed under: Kisah. Tag: kisah nyata.
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
















1.
ucenk | Selasa,Oktober 28, 2008 at 1:14 pm
Masak sampean tidak yakin bahwa doa sampen diterima apa ngak, kok jadi lucu, Iman apaan tuH???
2.
abdul aziz | Selasa,Oktober 28, 2008 at 11:07 pm
salah satu diterimanya do’a adalah harus yakin bahwa Allah akan mengabulkan do’anya. dia bukan ana tidak yakin dgn do’anya karena ia mendo’akan dlm keburukan dan dalam keadaan marah atau kesel.