Harapanku Terkubur

Senin,Nopember 10, 2008

Sebelumnya

Aku pulang membawa harapan yang lama terkubur. Aku pulang ingin memeluk wanita yang selama ini berjuang melawan hidup. Wanita yang memberiku semangat dan pelajaran bagaimana bersikap sabar dan tegar. Aku rindu wajah teduhnya meskipun terlihat lesu namun aku melihat guratan kasih sayang di wajahnya. Aku berharap setelah di rumah nanti aku melihat ayahku tengah berkumpul, bercengkerama bersama ibu dan adikku. Aku ingin melihat suasana hangat penuh canda tawa dan tersenyum riang melihat kedatanganku. Aku ingin saat aku datang tak ada lagi kemuraman, kesedihan dan tangisan air mata. Aku berharap dengan harapan tertinggi melihat keluargaku bersatu, sebuah keluarga yang aku idam-idamkan dan tak pernah aku rasakan semenjak aku kecil.

Sampailah aku di rumah yang memiliki banyak kenangan ini. Kucium tangan ibuku sambil tersenyum melihat keadaannya yang tak pernah berubah sama seperti dulu. Aku bersyukur dianugrahkan ibu yang awet muda. Aku menceritakan pengalamanku selama kuliah namun tak pernah aku menyinggung keadaanku. Selang beberapa hari, kutanyakan tentang ayah dan aku berharap ada secercah harapan bertemu dengannya. Namun, ibu tak pernah berubah. Kebenciannya pada ayah semakin besar sangat besar terlihat dari nada bicaranya. Tidak jelas ayah dimana yang kutahu ayah sudah menikah lagi dan kelakuannya semakin menjadi-jadi. Aku sedih mendengar perkataan ibu. Aku ingin tahu dimana ayah berada. Meskipun aku tidak dapat memeluknya dan minta maaf padanya, aku bisa melihat wajahnya. Itu saja….

Aku terus berdo’a dan berharap bisa dipertemukan dengan ayah. Setidaknya sekali saja. Bagaimanapun ia adalah ayahku. Ayah yang pernah memberikan kasih sayangnya padaku meskipun hanya setetes saja. Suatu hari disaat aku pulang dari mengunjungi asrama SMAku, aku melihat sesosok wajah yang mirip ayahku. Namun aku tidak percaya kalau itu ayahku karena ibu bilang ayah ada di malaysia. Kupaksakan melihatnya dari jarak dekat dan memang tidak salah lagi kalau itu ayah. Entah apa yang dilakukannya di tempat seperti itu. Hatiku miris melihat keadaan ayah. Aku merasa ayah tidak memiliki tempat tinggal sehingga ia berada di tempat seperti itu. Apa ini yang disebut hukum karma. Apakah hukum karma berlaku bagi umat manusia. Aku tak mengerti, tak tahu dan tak ingin tahu. Aku pulang ke rumah dan tak membicarakan pada ibu.

Tidak berapa lama di rumah, aku pamit untuk kembali ke kampus meskipun ibu keberatan. Namun aku tetap saja ingin kembali ke kampus. Aku pulang dengan harapan mendapatkan kebahagiaan. Aku kembali ke kampus membawa kesedihan, luka baru dalam hatiku. Kepedihan demi kepedihan tak pernah berhenti mengganguku. Seakan-akan seperti sahabat yang selalu bersama dimanapun dan kapanpun berada. Aku pulang membawa masalah baru dalam hidupku. Terlebih lagi hadir dalam hidupku sesosok pria yang ingin menggantikan posisi ayahku. Kepalaku serasa mau pecah saking tidak kuat menahan masalah ini.aku takut kejadian masa lalu terulang kembali apalagi pria itu tidak memiliki pekerjaan tetap dan kurangnya ilmu agama. Lelah aku menanggung hidup seperti ini. Harapanku untuk bertemu dengan ayah hampa meskipun aku sudah bertemu dengannya. Tapi pertemuan yang tak disangka itu justru membuatku ingin menjerit, menangis. Aku iri melihat teman-temanku yang memiliki keluarga yang utuh, ayah yang mengasihinya. Sedangkan aku…aku hidup tanpa kasih sayang ayah laksana manusia tanpa ruh. Tekatku yang ingin menyatukan ayah dan ibu hilang, lenyap tanpa bekas. Kini aku harus dihadapkan dengan dua pilihan: menerima pria itu yang tak jelas pekerjaannya atau tetap pada tujuan semula yaitu menyatukan ayah dan ibu. Aku bingung menghadapi masalah ini. Ibu menyuruhku menjauhi ayah dan jangan berkomunikasi apapun sedangkan ayah tak jelas keadaannya.

Harapanku terkubur disela-sela semangatku untuk memperbaiki keadaan. Aku pulang ke kampus pergi dari rumah membawa duka. Kujalani kembali kehidupan kampus seprti semula. Tetap saja aku menjadi pemurung, pria yang selalu memojokkan diri di kelas, melamun dan tak mengindahkan suara teman-teman. Aku tidak memiliki teman untuk meluapkan emosiku. Lambat laun kebutuhanku dikampus sedikit tertutupi dengan beasiswa baru yang aku dapatkan. Aku berhenti dari bekerja karena pada waktu itu memasuki bulan puasa. Dalam hidup aku tidak pernah merasakan ketenangan. Aku ingin menuntut ilmu agama karena siapa tahu aku memiliki teman yang bisa memberiku semangat hidup di samping menambah ilmu agama.

Selanjutnya

Entry Filed under: Kisah. Tag: , , , , , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Countdown Ramadhan

Mutiara Hadits dan Hikmah

Hadits Terasing

Hadits Larangan Bid'ah

Mutiara Hikmah

Sunnah yang ditinggalkan

Kumpulan Situs Sunnah

Kumpulan Situs Sunnah

Download Kajian

Download e-Book

Arsip

Yang Suka

Komentar Terakhir

abdul aziz di Who Am I?
isyaratpena di Who Am I?
Miqdad A Dawwas di Hisablah Hari-harimu!!!
zahra di Aroma Kasturi Keluar Dari Hidu…
pika di Aku Tidak Pernah Melakuka…

Sahabat Terasing

Jumlah Pengunjung

Data Pengunjung/Informasi

Meta