Sudah 6 semester berjalan. Tinggal beberapa langkah lagi aku bisa mewujudkan cita-citaku, menuai harapan dari kerja kerasku selama ini. Namun di saat-saat aku membutuhkan banyak biaya cobaan itu datang menghampiriku. Orang tua asuhku enggan untuk membantuku lagi. Saat itu aku diminta untuk magang di perusahaannya. Semula aku menolak karena aku tidak memiliki cukup ilmu. Akhirnya aku terpaksa menyetujuinya karena aku tidak ingin mengecewakannya. Terlebih lagi aku mulai bosan di kampus dan ingin refreshing. Pada saat itu sudah liburan semester.
Pertama kali magang aku merasakan kegelisahan bukan karena aku tidak bisa menyelesaikan tugas yang diberikan. Tapi suasana ruangan yang tidak mendukung. Ruangan yang ber-AC membuat penyakitku kambuh. Pening dan sakit kepala yang berat tak bisa kutahan. Ingin rasanya aku berniat pulang terlebih awal dari jam kerja. Entah kenapa aku enggan untuk mengatakannya. Dengan terpaksa kuurungkan niatku sambil menahan sakit yang amat sangat. Puncaknya keesokan harinya aku tidak masuk kerja karena demam tinggi. Untuk kedua kalinya darah keluar dari hidungku. Aku sangat kaget melihat darah yang tiba-tiba mengalir dan menempel dibajuku. Esoknya, aku pamit pulang ke rumah dengan maksud berobat. Aku kira mereka akan mengizinkanku. Tapi perkiraanku meleset. Mereka memberiku solusi untuk berobat disana. Akhirnya aku tetap ngotot minta dipulangkan.
*****
Esoknya aku kembali ke kampus karena aku tidak ingin lama-lama di rumah. Karena masih musim liburan, kampus masih terasa sepi. Kucoba buka-buka email dan ternyata aku menerima email dari orang tua asuhku yang isinya beliau kecewa dengan sikapku karena tidak pamitan terlebih dahulu. Akhirnya, beliau tidak mau lagi membantuku. Akupun pasrah karena aku rasa ini salah paham antara aku dengan orang yang mengizinkanku pulang. Masa-masa tingkat pertama terulang kembali. Aku tidak memiliki pemasukan sedangkan beasiswaku sudah habis. Yang tersisa hanayalah tabunganku selama ini. Aku berniat untuk kerja di toko dimana dulu aku pernah kerja di toko itu. Tapi, mengingat penyakitku yang semakin parah akhirnya dengan terpaksa aku hidup dari sisa tabunganku. Hari demi hari penyakitku semakin parah. Banyak teman-temanku menyuruhku untuk periksa ke dokter. Tapi aku menolak karena aku tidak ingin tahu penyakitku. Aku merasa ada keganjalan mengenai penyakit yang dideritaku. Siang malam aku mengeluhkan rasa sakit di kepalaku. Berat rasanya….aku hanya melilitkan kain dikepalaku untuk meringankan rasa sakit. Sebenarnya aku takut kalau penyakit yang bersarang ditubuhku adalah penyakit mematikan. Penyakit yang membawaku pada kematian. Penyakit yang akan membuat semua harapanku akan sia-sia.
Kekhawatiranku terbukti. Aku mengidap penyakit komplikasi. Dalam tempurung kepalaku bersemayam makhluk kecil yang ganas dan mematikan. Sebuah tumor ganas bersarang di otakku. Hilang sudah harapanku selama ini. Sia-sia semua kerja kerasku selama belasan tahun. Aku tak dapat mewujudkan harapan ibuku, harapan semua keluargaku. Mungkin ini akibat dari masalah yang aku alami yang membuatku menjadi laki-laki pemikir. Sehingga melahirkan makhluk kecil di otakku. Aku tinggal menunggu waktu kapan maut akan menjemputku. Hanya Toni yang tahu tentang masalahku termasuk penyakitku ini. Ibu dan semua keluarga tak pernah kuberitahu. Biarlah mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi terhadap diriku. Mereka hanya tahu bahwa aku adalah laki-laki yang kuat, baik, pendiam dan penurut. Dibalik itu aku adalah laki-laki lemah dan tidak berguna. Tonilah yang selalu menjaga dan merawatku. Ia tak pernah bosan menghiburku. Ia rela tidak masuk kuliah hanya untuk merawatku. Aku terpaksa dirawat di rumah kost karena aku tidak memiliki cukup biaya untuk operasi.
Penyakitku semakin parah. Aku mengalami goncangan hebat dikepalaku sehingga menyebabkanku tidak sadarkan diri. Terpaksa temanku membawaku ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan secara intensif. Kepalaku dirontgen dan ternyata aku mengalami kelainan. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Dokter menyuruh temanku untuk segera memutuskan di operasi atau tidak. Melihat kondisiku yang semakin parah, Toni memutuskan untuk dioperasi dan dialah yang akan mencari jalan keluar mengenai biaya rumah sakitnya. Setelah hampir 3 jam lebih aku berada diruang bedah dan aku tak tahu apa yang mereka lakukan terhadapku.
Sedikit demi sedikit mataku mulai terbuka. Kupandangi disekelilingku wajah-wajah temanku dengan tersenyum mereka memandangku. Dokter mengatakan bahwa untuk sementara aku selamat dari kematian. Tapi makhluk ganas itu suatu saat pasti akan hadir karena dokter belum membunuh semuanya. Mungkin karena kondisiku yang tidak memungkinkan. Aku bersyukur masih bisa melihat teman-temanku. Tapi seandainya aku ditakdirkan untuk mati aku sudah siap. Aku ingin sebelum aku meninggal dipertemukan dengan ayahku. Memeluknya dan meminta maaf padanya. Meskipun harapanku tidak terwujud namun harapanku untuk bertemu dengan ayah bisa tercapai. Setidaknya disaat-saat terakhirku. Aku tidak bisa membahagiakan ibuku. Aku itdak bisa melihat senyum ibu. Aku khawatir bagaimana kalau ibu tahu tentang keadaanku yang seperti ini.
Aku mulai menjalankan aktifitas seperti biasa. Namun aku tidak boleh banyak berpikir yang membuat penyakitku kambuh. Dengan terpaksa kuisi hari-hariku di depan komputer. Membaca dan menulis. Kehidupanku hampa. Aku kesepian, aku rindu pada ibu, pada senyumnya. Tapi bagiku tak mungkin untuk pulang ke rumah dengan keadaanku seperti ini. Terkadang sakit dikepalaku masih kambuh meski tidak separah sebelumnya. Tapi aku tersiksa, aku lelah dengan semua ini. Apakah hidupku akan berakhir dengan seperti ini. Semula yang aku takutkan adalah ibuku meninggal sebelum cita-citaku terwujud. Justru akulah yang akan menjadi penyebab hilangnya harapan. Disaat-saat kelulusanku, didetik-detik keberhasilanku, ia malah kembali. Yaah…ujian ini kembali menerpaku, menyiksaku dan akan menghantarkanku pada kematian. Siang malam aku berdo’a agar aku bisa bertemu dengan ayahku. Setidaknya aku bisa tahu keadaannya. Ternyata do’aku dikabulkan.
Suatu malam suara hpku berbunyi. Kulihat deretan angka yang tak jelas siapa pemiliknya. Dengan ragu-ragu ku angkat… suara laki-laki yang tak kukenal. “Assalaamu’alaykum…Anto, ini bapak nak?” aku tersentak kaget mendengar suara yang ternyata adalah ayahku. Lama kami berbicara. Dari situ aku tahu tentang ayahku. Ayahku bilang ia ada di malaysia. Tapi aku tidak banyak bertanya. Aku tak tahu darimana ayah tahu nomor hpku. Terdengar jelas kalau ayah masih menginginkan ibuku. Katanya ayah menelpon ibu tapi tak pernah diangkatnya. Ayah ingin mengirim uang tapi ibu tidak menjawabnya malah mengganti nomor hp. Ayahku menangis di telpon dan menganggapku ikut membuangnya sama seperti ibu. Entahlah perasaan senang, ragu, sedih bercampur aduk saat itu. Aku senang karena bisa mendengar suara ayahku. Aku sedih melihat sikap ibuku meskipun tidak seratus persen menyalahkan ibu. Mungkin ibu trauma dengan perbuatan ayah sehingga enggan untuk menerimanya kembali meskipun hanya mendengar suaranya. Aku ragu karena aku tak tahu apakah ayahku sudah sadar atau belum. Aku takut ia justru membohongiku terlebih lagi ibu menyuruhku untuk ganti nomor. Dialog terakhir ayah ingin mengunjungiku dan mau mengirimkanku uang. Pembicaraanku dengan ayah tidak aku ceritakan pada ibu.
Disini aku hanya tinggal menunggu waktu. Aku tak tahu apakah aku bisa menyelesaikan studyku dengan keadaanku seperti ini. Aku hanya bisa pasrah dengan semua ini. Aku selalu berharap ayah bisa berubah dan berkumpul bersama kami meskipun sangat kecil bagiku ada ditengah-tengah mereka. Aku berjanji akan menyatukan mereka dengan sekuat tenagaku sebelum aku menghembuskan nafas terakhirku. Semoga kesedihan ibu bisa terhapus dengan permintaan terakhirku. Memaafkan ayah dan kembali bersatu. Semoga aku bisa tidur nyenyak melihat ayah sadar dan memaafkanku. Aku ingin disaat-saat terakhirku melihat senyum mereka menghiasi keduanya. Untuk para pembaca, bantu aku dengan do’a agar harapanku terwujud yaitu menyatukan mereka berdua. Jika Alloh masih memberiku kesempatan untuk tetap hidup sampai cita-citaku terwujud dan kebahagiaan mewarnai keluargaku, aku ingin meneruskan kisah ini sampai akhir hayatku. Kini aku menunggu saat-saat itu. Saat ayah mengunjungiku dan selanjutnya aku tak tahu apa yang akan terjadi.
















Posted by quantumeconomics on Rabu,November 12, 2008 at 9:16 am
Artikel yang sangat menarik.
GIMANA SIH CARANYA BIAR HEADER BERUBAH-RUBAH SEPERTI DALAM BLOG INI.. TOLONG INFO VIA E-MAIL YA aa.zakyfirmansyah@yahoo.co.id
Jazakumulloh Khoiron Katsiro
saya mengajak anda semua untuk berpikir positif….(Husnuzon)
Kunjungi http://www.hibahbca.co.cc
baca dan analisa dengan seksama, jangan ambil keputusan sebelum memahaminya dengan baik, dan jangan memberikan komentar sebelum Anda benar benar paham. Semoga program ini dapat dijadikan salah satu alternatif membangun kekuatan ekonomi umat.
Think Positive !!!!
Posted by abdul aziz on Rabu,November 12, 2008 at 8:56 pm
udah ana kirim lewat email.
Posted by lintasmarketing on Sabtu,November 15, 2008 at 3:45 pm
Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah.
Kami berharap bisa meningkatkan kerjasama dengan memasangkan WIDGET Lintas Berita di website Anda sehingga akan lebih mudah mempopulerkan artikel Anda untuk seluruh pembaca di seluruh nusantara dan menambah incoming traffic di website Anda. Salam!
Posted by Nu on Rabu,November 19, 2008 at 9:39 am
assalamualaikum…ini kisah antum ndiri ya akhi??? syafakallah…
lam kenal, oia..ngelink yak
Posted by rahma on Selasa,Maret 3, 2009 at 2:14 pm
assalamu’alaikum,an terharu smoga alloh memberi jaln keluar yg terbaik dan alloh mmg selalu mmberi yg terbaik bwt hambanya, la tahzan wal takhof innalloha ma’na