Perjuangan Lapis Tertinggi…Bag 1

Senin,Nopember 10, 2008

Kelanjutan Kisah Serial Perjalanan Hidupku..

Sudah hampir 10 tahun aku tidak bertemu dengan ayahku. Laki-laki yang selama ini aku benci, aku pandang hina, dan tak bermoral hilang, lenyap tanpa bekas. Aku tak tahu dimana keberadaan ayahku sekarang dan bagaimana keadaannya. Masih hidupkah atau sudah meninggal. Rasa bersalahku membuat hidupku tak menentu. Aku terombang-ambing oleh arus dan badai kehidupan, terhempas oleh bebatuan,karang yang menjulang timbul dan tenggelam dalam gelombang lautan. Aku terdampar dalam sebuah ruang dan dimensi waktu antara masa lalu, sekarang, dan masa depanku. Ingin rasanya aku muntahkan seluruh isi perut dan kepalaku. Diantara kesibukan kuliah, aku menyempatkan diri untuk sholat malam dan berdo’a agar aku dipertemukan dengan ayahku. Aku ingin mencium tangannya dan memeluknya erat-erat. Hampir setiap saat aku bermimpi tentang ayahku. Entah apakah karena rasa bersalahku sehingga hadir dalam tidurku atau sebuah firasat. Firasat yang mengatakan bahwa aku akan bertemu dengan ayahku. Atau sebuah firasat buruk bahwa ayahku sudah meninggal.

Setelah surat perceraian itu dikeluarkan oleh hakim, ayah tak lagi muncul ditengah-tengah kami. Bahkan saat-saat keberangkatanku untuk kuliah ia tak tahu sama sekali. Ketika itu aku mengalami pergolakan batin antara kuliah atau bekerja. Melihat keadaan ibuku dan adikku yang masih SMP, aku memutuskan untuk bekerja saja. Aku ingin seluruh hidupku membaktikan diri pada ibuku. Bekerja mencari penghasilan utnuk membantu membiayai adikku. Karena akulah satu-satunya yang bisa diharapkan untuk menanggung beban hidup. Secara akademik, memang adikku jauh dibawahku. Dia tumbuh menjadi laki-laki yang brutal, keras kepala, dan tidak mau diatur. Sehingga prestasinya hancur bahkan tidak memiliki prestasi yang diandalkan. Akibatnya, adikku tidak mendapatkan bantuan beasiswa sama sekali. Namun, aku tidak memungkiri bahwa aku masih ingin kuliah dan tidak mau berakhir dengan ijasah SMA saja. Ibuku sebenarnya tidak melarangku untuk kuliah asalkan mendapatkan beasiswa. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan. Dengan terpaksa aku membohongi ibuku dengan berpura-pura mendapatkan beasiswa dari pemerintah apalagi aku sudah mendengar pengumuman bahwa aku diterima di perguruan tinggi paling bergengsi. Ironis memang, tapi itulah aku. Aku tidak mau keluargaku menjadi bulan-bulanan cemoohan orang-orang yang tak bertanggung jawab. Aku ingin membuktikan bahwa tidak selamanya anak orang miskin, akan terus miskin sampai nafas terakhir. Aku akan membuktikan pada dunia, bahwa kelak aku akan menjadi orang paling kaya di daerahku. Ini tekadku.

Setelah mendapatkan persetujuan dari ibuku, semangat mudaku mulai membara, membelah cakrawala, memecah lapisan langit. Seolah-olah aku berkata:”Tunggulah…sebentar lagi.” namun, semangatku mulai padam, hancur tak tersisa di antara lembaran-lembaran kertas bertuliskan:”SELAMAT …” bukan karena tulisan itu melainkan deretan angka-angka pada lembaran berikutnya yang menunjukkan besarnya biaya yang harus aku keluarkan setelah diterima. Aku yang seharusnya berbahagia karena telah diterima di universitas ternama sebelum lulus SMA malah harus menelan ludah angka nominal itu. Aku yang seharusnya berbangga karena tidak perlu pusing-pusing ikut bimbel untuk persiapan SPMB malah harus mengecap pahitnya hidup miskin. Lain halnya dengan teman-temanku. Mereka memberiku ucapan selamat atas diterimanya sebagai mahasiswa. Mereka tidak melihat sama sekali bagaimana perasaanku saat ini. Terkadang aku menggerutu:”Kenapa harus aku yang hidup miskin, kenapa bukan orang lain.” tapi percuma saja karena inilah yang dinamakan takdir. Namun aku masih memiliki keyakinan bahwa takdir masih bisa berubah. Keyakinanku akan takdir semakin kuat ketika kepala sekolah memanggilku. Aku masih punya secercah harapan untuk mengubah takdirku. Rupanya kepala sekolah, guru-guru ikut memikirkan tentang kuliahku. Terutama wali kelasku, pak Taufik guru kimia. Beliau membuat penggalangan dana dari guru-guru tanpa rasa malu akan reputasinya nanti sebagai guru.

Saat-saat keberangkatanku semakin dekat. Aku lulus dengan NEM yang sangat memuaskan. Nilai Matematika dan Kimia 10. prestasiku memang cukup dibanggakan oleh sekolah. Mungkin karena itu, kepala sekolah dan guru-guru rela membantuku. Berkat sumbangan guru dan kepala sekolah sebesar 1 juta aku pun berangkat. Tentunya sebelumnya berpamitan dulu kepada guru-guru di sekolah. Aku terharu melihat suasana itu terlebih lagi dengan kata-kata kakak kelasku, ”berangkatlah jangan pikirkan biaya. Uang bisa dicari tapi semangat sangat jarang.” aku terlecut oleh kata-katanya seolah-olah tersengat listrik bertegangan tinggi. Akupun berangkat meninggalkan tempat kelahiranku membawa harapan besar untuk merubah hidup. Aku pergi meninggalkan kampung halamanku, rumahku yang penuh kenangan pahit selama aku hidup.

Aku ditemani ibuku karena dalam surat undangan harus ditemani oleh salah satu anggota keluarga. Di tengah perjalanan pikiranku kembali berkecamuk. Ibuku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang akan terjadi nanti. Aku melirik ibuku. Kulihat raut wajahnya yang teduh, keibuan. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Namun aku yakin, ibu menaruh harapan besar kepadaku. Sungguh miris melihat keadaan ibuku saat itu. Ibu harus menanggung beban hidup ini sendirian. Aku kagum padanya. Ia adalah satu-satunya wanita tegar yang aku temui. Sesaat kami berpandangan. Seulas senyum ia hadiahkan untukku. Aku ikut tersenyum. Di perjalanan aku tidak bisa memejamkan mataku walau aku paksakan. Ada perasaan gelisah yang memaksaku tidak bisa memejamkan mata meski sesaat. Apa yang harus aku perbuat nanti setelah tiba dikampus yang masih terasa asing bagiku. Bagaimana aku harus menghadapi orang-orang berpangkat dan berpendidikan tinggi saat menanyakan kenapa aku belum membayar biaya kuliah. Apa yang harus kulakukan dengan uang 1juta sumbangan guru2 agar bisa bertahan sampai 1tahun berjalan atau sampai mendapatkan beasiswa. Dan yang paling menyesakkan adalah kekhawatiranku pada ibu nanti. Apa yang akan terjadi pada ibu setelah kepergianku. Ibu harus sendirian melawan perihnya hidup. Ibu harus bekerja keras, banting tulang membiayai adikku. Ibu harus sendirian melawan ketakutan dalam rumah yang tak berpintu dan berjendela yang hanya dihuni oleh seorang wanita dan anak kecil tanpa seorang suami. Ibu harus bisa menelan getirnya kehidupan dan menyelesaikan setiap masalah-masalah hidup serta cacian para tetangga. Ibu benar-benar wanita yang tegar dan memiliki semangat membaja. Aku berjanji dalam hatiku, aku tidak akan menyia-nyiakan harapannya. Aku berjanji akan pulang membawa kemenangan hidup. Aku berjanji akan menuai harapan bagi keluargaku. Ini tekadku…

Kami menempuh perjalanan satu hari satu malam karena kebetulan aku diterima di universitas jauh dari rumahku. Aku satu bis dengan teman SMP dulu. Lalu temanku memberi kami makan karena kebetulan aku dan ibu tidak membawa makanan. Ada banyak bungkusan dalam tasnya. Kemudian ia memberikan satu bungkus untuk ibu dan aku satu. Aku sengaja duduk terpisah dengan ibu karena aku ingin ngobrol dengan teman lamaku. Karena saking asyiknya mengobrol, kami tak tahu bahwa bungkusan yang diterima ibu hanyalah nasi saja tanpa lauk. Dengan rasa bersalah, ia menyodorkan lauk kepada ibu. Ibu menerimanya dengan malu-malu. Dalam hati, kami sudah terbiasa makan tanpa lauk. Tak perlu kau merasa bersalah.

Selanjutnya

Entry Filed under: Kisah. Tag: , , , , , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Countdown Ramadhan

Mutiara Hadits dan Hikmah

Hadits Terasing

Hadits Larangan Bid'ah

Mutiara Hikmah

Sunnah yang ditinggalkan

Kumpulan Situs Sunnah

Kumpulan Situs Sunnah

Download Kajian

Download e-Book

Arsip

Yang Suka

Komentar Terakhir

abdul aziz di Who Am I?
isyaratpena di Who Am I?
Miqdad A Dawwas di Hisablah Hari-harimu!!!
zahra di Aroma Kasturi Keluar Dari Hidu…
pika di Aku Tidak Pernah Melakuka…

Sahabat Terasing

Jumlah Pengunjung

Data Pengunjung/Informasi

Meta