Sahabat dan Ulama

Umeir bin Sa’ad Radhiyallaahu’anhu 3/3


Umeir pun memohon kepada Allah petunjuk dengan shalat istikharah, dan kemudian melaksanakan tugas kewajibannya….
Dan setelah berjalan setahun masa jabatannya di Hems itu, tak ada hasil pemungutan pajak Yang sampai ke Madinah …. Bahkan tak ada sepucuk surat pun yang datang kepada Amirul Mu’minin daripadanya….

Amirul Mu’minin memanggil penulisnya, katanYa: “Tulislah surat kepada Umeir agar ia datang pada kita!”
Maka di sinilah saya akan meminta keidzinan anda untuk melaporkan pertemuan di antara Umar dan Umeir, sebagaimana tercantum dalam buku saya “Di hadapan Umar”, sebagai berikut:

“Di suatu hari jalan-jalan kota Madinah menyaksikan seorang laki-laki dengan rambut kusut dan tubuh berdebu. Ia diliputi kelelahan karena berjalan jauh. Langkah-langkahnya seakan-akan tercabut dari tanah disebabkan Iamanya kepayahan dalam perjalanan, dan tenaganya yang sudah habis terkuras….Di atas pundak kanannya terdapat buntil kulit dan sebuah piring · · sedang di pundak kirinya kendi berisi air … ! Ia bertelekan pada sebuah tongkat, yang tidak akan terasa berat bila dibawa oleh orang yang kurus dan lemah …. menghampiri majlis Umar dengan langkah yang gontai, lain ucapnya: “Assalamu’alaikum ya Amirul Mu’minin .. .!” Umar membalas salamnya kemudian menanyainya. Hatinya sedih melihatnya dalam kedaan payah dan letih itu. “Apa kabar hai Umeir?” Jawab Umeir: “Keadaanku sebagaimana yang anda lihat sendiri ….

Bukankah anda melihat aku berbadan sehat dan berdarah bersih, dan dunia di tanganku yang dapat kukendalikan semauku …”
– Apa yang kamu bawa itu? — Yang kubawa ialah buntil atau bungkusan tempat membawa;bekal …, piring tempat aku makan, kendi tempat air minum dan wudlu, kemudian tongkat untuk bertelekan dan guna melawan musuh jika datang menghadang …. Demi Allah, dunia ini tak lain hanyalah pengikut bagi bekal kehidupanku … ! — Apakah anda datang dengan berjalan kaki? — Benar! — Apa tak ada orang yang mau memberikan binatang kendaraannya untuk kamu tunggangi …?
– Mereka tidak menawarkan dan aku tidak pula memintanya.
-Apa yang kamu lakukan mengenai tugas yang kami berikan padamu? — Aku telah mendatangi negeri yang anda titahkan itu.

Orang-orang shaleh di antara penduduknya telah kukumpulkan.
Kuangkat mereka mengurus pemungutan pajak dan kekayaan negara. Bila telah terkumpul, kupergunakan kembali pada tempatnya yang wajar untuk kepentingan merka. Dan kalau ada kelebihan, tentulah sudah kukirimkan ke sini … ! – Kalau begitu kau tak membawa apa-apa untuk kami? — Tidak … !”

Maka berserulah Umar dalam keadaan bangga dan berbahagia: “Tetapkan kembali jabatan gubernur bagi Umeir … !” yang dijawab oleh Umeir dengan mengelakkan diri secara bersungguh-sungguh, katanya: “Masa yang demikian itu telah berlalu… aku tak hendak menjadi pegawai anda lagi, atau pegawai pejabat setelah anda… !”

Cerita ini bukanlah skenario yang kami atur sendiri, dan bukan pula cerita yang dibuat-buat … tetapi benar-benar peristiwa sejarah yang pada suatu masa pernah disaksikan oleh bumi Madinah selaku ibu kota Islam yakni di saat-saat kejayaan dan kebesarannya. Maka dari tipe golongan manakah tokoh-tokoh utama dan luar biasa itu … ?
Selalulah Umar radhiallahu anhu mengangankan dan mengatakan: “Aku ingin sekali mempunyai beberapa orang laki-laki yang seperti Umeir akan jadi pembantuku untuk melayani Kaum Muslimin

Sebabnya, Umeir yangdilukiskan oleh para shahabatnya sebagai “tokoh yang tak ada duanya” benar-benar telah meningkat naik dan dapat mengatasi kelemahan dirinya selaku manusia berhadapan dengan harta benda dunia dan kehidupan yang penuh dengan onak dan duri ini …. Di waktu ia diharuskan melaksanakan pemerintahan dan pemimpin, maka kedudukannya yang tinggi itu hanya semakin menambah sifat wara’ dari orang suci ini, dengan perkembangan, pertumbuhan dan kecemerlangan….

Ketika ia menjabat sebagai gubernur di Hems itu ia telah menggariskan tugas kewajiban seorang kepala pemerintahan Islam dalam kata-kata yang selalu diutarakannya dalam menggembleng Kaum Muslimin dari atas mimbar. Kata-kata itu demikian bunyinya:

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Islam mempunyai dinding teguh dan pintu yang kukuh · · · · Dinding Islam itu ialah keadilan … sedang pintunya ialah kebenaran…

Maka apabila dinding itu telah dirobohkan, dan pintunya didobrak orang, Islam pun akan dapat dikalahkan. Islam akan senantiasa kuat selama pemerintahannya kuat. Kekuatan pemerintah tidak terletak dalam angkatan perang, atau keperkasaan angkatan kepolisian…Tetapi dalam realita pelaksana, melaksanakan segala ketentuan dengan jujur dan benar disertai menegakkan keadilan … !”

Dan sekarang dalam kita melepas Umeir …dan menghormatinya dengan penuh kebesaran dan hati yang khusyu’, marilah kita menundukkan kepala dan kening kita: — Bagi sebaik-baik guru, yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasalam Bagi ikutan orang-orang taqwa, yakni Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasalam …. Bagi pembawa rahmat Allah yang dilimpahkan kepada umat manusia sepanjang hayatnya

Semoga shalawat dan salam-Nya terlimpah kepadanya….Begitu pun ucapan selamat dan berkah-Nya . . .Semoga terlimpah pula salam atas keluarganya yang suci …. Begitupun terlimpah atas para shahabatnva yang terpuji … !

Iklan

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: