Aqidah dan Manhaj

AL-QIYADAH AL-ISLAMIYYAH TIDAK HANYA SESAT!!!(1/3)


Oleh: Abu Salma bin Burhan Yusuf

Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, ketika merespon fatwa MUI tentang kesesatan al-Qiyadah al-Islamiyyah, menyatakan bahwa al-Qiyadah tidak sesat, namun salah. Manusia tidak berhak menyesat-nyesatkan, karena yang berhak untuk menvonis sesat hanyalah ‘Tuhan’. Al-Qiyadah hanyalah melakukan kesalahan, yang harus disikapi dengan persuasip. Demikian kurang lebih kelakar Gus Dur, seorang yang dikenal akan sikap kontroversinya yang lebih banyak menyerang Islam daripada membelanya. Hal serupa juga dikumandangkan oleh simpatisan Gus Dur dalam Wahid Institute, termasuk Komnas HAM, kaum Liberalis dan Atheis.

Kelakar di atas tidaklah mengherankan, karena ucapan tersebut keluar dari orang yang dikenal akan persahabatannya dengan kaum kafir dan aliran sesat, serta permusuhannya terhadap kaum muslimin. Lah Wong menurut Gus Dur sendiri bahwa agama Kristen dan Yahudi itu tidak kafir, karena menurutnya orang yang kafir itu adalah orang yang tidak mempercayai Tuhan (atheis) dan tidak beragama. Maka, tentu saja Gus Dur dengan ‘enak’-nya mengatakan bahwa al-Qiyadah itu tidak sesat, hanya salah saja… Aduhai, betapa samanya hari ini dengan hari kemarin!!!

Saya katakan : Bahkan al-Qiyadah itu tidak hanya sesat, namun sudah kafir murtad dari Islam. Ahmad Moshadeq al-Kadzdzab itu telah kafir murtad dari Islam, wajib diminta taubat dan kembali mengucapkan syahadat, apabila tidak, maka penguasa/pemerintah kaum muslimin harus membunuhnya [ingat, penguasa yang berhak membunuh, bukan setiap orang, harap difahami!]. Ulah Ahmad Moshadeq ini tidak lebih seperti ulah Musailamah al-Kadzdzab, Tulaihah, Habalah bin Ka’ab, dan nabi-nabi palsu lainnya, termasuk Mirza Ghulam Ahmad al-Qodhiyani.

Jika ada yang bertanya : atas dasar apa anda mengatakan al-Qiyadah telah kafir dan Ahmad Moshadeq juga telah kafir?

Maka saya jawab : atas dasar agama Islam. Islam adalah agama yang sempurna dan paling haq. Berpaling atau mencari agama selain agama Islam adalah kekufuran yang menyebabkan kekal di dalam neraka. Mengingkari hal-hal yang telah pokok dan aksiomatis di dalam syariat Islam dapat menyebabkan pelakunya murtad keluar dari Islam. Berikut ini alasannya mengapa al-Qiyadah dan Ahmad Moshadeq dikatakan telah murtad dan kafir :

Gerbang untuk masuk ke dalam Islam adalah mengucapkan syahadatain. Barangsiapa beribadah dan beramal shalih, namun tidak/belum mengucapkan syahadatain, maka ia dikatakan belum masuk Islam/masih kafir. Syahadatain itu telah jelas kalimatnya, yaitu Asyhadu an Laa Ilaaha illa Allohu wa asyhadu anna muhammad Rasulullah. Barangsiapa yang mengucapkan syahadat selain syahadat ini (atau yang semakna), maka ia belum dikatakan masuk Islam. Dan barangsiapa yang merubah syahadatnya setelah keislamannya dengan syahadat yang baru, seperti mengatakan Asyhadu an Laa Ilaaha illa Allohu wa asyhadu anna al-Masih al-Maw’ud Rasulullah, maka tidak syak (ragu) lagi, ia telah kafir, murtad dari Islam.

Islam ditegakkan atas dasar 5 perkara, yaitu syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji. Barangsiapa mengingkari kewajiban sholat, zakat, puasa dan haji maka ia telah murtad keluar dari Islam. Barangsiapa yang mengimani bahwa jumlah waktu sholat di zaman ini tidak 5 waktu, atau zakat, puasa dan haji belum wajib, maka ia telah murtad dari Islam. Bahkan, siapa saja yang menegakkan sholat 5 waktu namun tidak mengimani akan kewajibannya, ia tetap dikatakan kafir murtad dari Islam. Karena ia telah mengingkari keimanan terhadap hukum Alloh yang telah pasti, qoth’i dan aksiomatis.

Barangsiapa mendakwakan atau mengklaim bahwa nubuwwah (kenabian) atau risalah (kerasulan) dapat dicari dan diupayakan dengan amal perbuatan, maka ia telah menyimpang sesat zindiq. Barangsiapa mendakwakan bahwa dirinya telah mendapatkan wahyu dari Ruhul Qudus atau memperoleh kenabian atau bahkan kerasulan, setelah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam, maka ia telah murtad keluar dari Islam, dan penguasa kaum muslimin wajib membunuhnya.

Mengingkari hadits-hadits dan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah kekafiran. Ahmad Moshadeq mengklaim bahwa setelah ia diutus menjadi Rasul, maka semua hadits Nabi dan tafsir al-Qur’an setelah dirinya di’utus’ batal tidak berlaku. Yang berlaku hanyalah ucapan dan ‘sabda’ (baca: igauan) dirinya. Padahal di dalam Islam, barangsiapa mengingkari satu hadits dari Nabi dengan alasan hadits bukanlah hujjah, maka ia telah sesat menyesatkan, kafir keluar dari Islam.

Dengan ketiga hal ini saja –padahal bisa jadi masih banyak hal-hal lainnya yang dapat mengkafirkan- maka sudah cukup untuk menyatakan bahwa al-Qiyadah al-Islamiyyah, bukan hanya sesat, namun sudah kafir murtad dari Islam!! Bahkan penguasa kaum muslimin wajib memintanya taubat, dan apabila menolak maka harus dibunuh, sebagaimana Musailamah, al-Aswad, dan nabi-nabi palsu lainnya dibunuh.

Syubhat 1 : Apabila ada yang berkata : Apa dalil anda bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah Nabi terakhir?

Jawab :

Dalil yang menunjukkan bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah Rasul dan Nabi terakhir cukup banyak, diantaranya adalah :

Firman Alloh Ta’ala dalam surat al-Ahzaab ayat 40 :

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu”

Sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam :

إن مثلي ومثل الأنبياء من قبلي كمثل رجل بنى بيتا فأحسنه وأجمله، إلا موضع لبنة من زاوية، فجعل الناس يطوفون به ويعجبون له ويقولون: هلا وضعت هذه اللبنة؟ قال: فأنا اللبنة، وأنا خاتم النبيين

“Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan para Nabi sebelumku adalah seperti seorang yang membangun rumah yang ia perbagus dan perindah, melainkan ada satu batu bata (tertinggal) di salah satu sudut. Manusia pun melewati rumah itu dan terheran-heran, kemudian berkata: “kenapa batu bata ini tidak kau letakkan (sebagai penyempurna)?” Rasulullah menjawab : Karena akulah batu bata tersebut dan akulah penyempurna (penutup) para nabi.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam :

وأخرج ابن مردويه عن ثوبان رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم « إنه سيكون في أمتي كذابون ثلاثون كلهم يزعم أنه نبي ، وأنا خاتم النبيين لا نبي بعدي » .

”Sesungguhnya akan datang di tengah ummatku tiga puluh pendusta, semuanya mengaku-ngaku sebagai Nabi, padahal aku adalah penutup para Nabi yang tidak ada lagi Nabi setelahku.“ (HR Ibnu Mardawaih dari Tsauban Radhiyallahu ’anhu)

Sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam :

وأخرج أحمد عن حذيفة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال « في أمتي كذابون ودجالون سبعة وعشرون ، منهم أربع نسوة وإني خاتم النبيين لا نبي بعدي »

“Ummatku memiliki dua puluh tujuh para pendusta (kadzdzab) dan dajjal (pembohong besar), empat diantaranya adalah kaum wanita, padahal aku adalah penutup para Nabi yang tiada nabi lagi setelahku.“ (HR Ahmad dari Hudzaifah Radhiyallahu ’anhu)

Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang bertebaran.

Bahkan, Sahabat yang mulia, turjumanul Qur`an, Ibnu ’Abbas Radhiyallahu ’anhu pernah berkata :

قال أهل الإسلام : لا دين إلا الإسلام ، كتابنا نسخ كل كتاب ، ونبينا خاتم النبيين ، وديننا خير الأديان . فقال الله تعالى { ومن أحسن دينا ممن أسلم وجهه لله } .

“Ahlul Islam berpendapat bahwa tidak ada agama kecuali Islam, kitab suci kita adalah penghapus semua kitab suci lainnya, Nabi kita adalah penutup para nabi dan agama kita adalah agama yang paling baik. Alloh Ta’ala berfirman : “ Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah.“ (Diriwayatkan Ibnu Abi Hatim, lihat ad-Durul Mantsur fit Ta’wil bil Ma’tsur karya Imam Jalaludin as-Suyuthi, II/263).

Di dalam Surat an-Nisa` ayat 123, dikisahkan asbabanun Nuzul-nya sebagai berikut :

عن قتادة قال: ذُكر لنا أن المسلمين وأهل الكتاب افتخروا، فقال أهل الكتاب: نبيّنا قبل نبيكم، وكتابنا قبل كتابكم، ونحن أولى بالله منكم! وقال المسلمون: نحن أولى بالله منكم، نبيُّنا خاتم النبيين، وكتابنا يقضي على الكتب التي كانت قبله! فأنزل الله:”ليس بأمانيكم ولا أماني أهل الكتاب من يعمل سوءًا يُجْزَ بِه”، إلى قوله:”ومن أحسنُ دينًا ممن أسلم وجهه لله وهو محسن واتَّبع ملَّة إبراهيم حنيفًا”، فأفلج الله حُجَّة المسلمين على من ناوأهم من أهل الأديان.

“Dari Qotadah beliau berkata : Disebutkan kepada kami bahwa kaum muslimin dan ahli kitab sedang berselisih. Ahli kitab berkata : Nabi kami lebih dahulu dari nabi kalian, kitab suci kami lebih dahulu dari kitab suci kalian, oleh karena itulah kami lebih utama menurut Alloh ketimbang kalian! Kaum muslimin pun menjawab : Kamilah yang lebih utama bagi Alloh daripada kalian, nabi kami adalah penutup para nabi, kitab suci kami menghapuskan kitab-kitab suci sebelumnya! Alloh menurunkan firman-Nya : “ (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli Kitab. barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan…” sampai firman Alloh “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus”, maka Allohpun memenangkan hujjah kaum muslimin atas permusuhan yang dilakukan oleh agama-agama lainnya.” (Lihat Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur`an, karya Imam Muhammad bin Jarir Abu Ja’far ath-Thobari, tahqiq : Al-‘Allamah Ahmad Muhammad Syakir; Mu’assasah ar-Risalah : cet. I, 1420; juz IX hal. 229)

Saya berkata, apabila ada Nabi lain selain Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam, lantas apa hikmah dimenangkannya hujjah kaum muslimin di atas atas agama-agama lainnya?! Barangsiapa yang menganggap ada Nabi selain nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa Salam, maka ia telah menodai agama Islam, merendahkan kesempurnaan agama ini, melecehkan kedudukan Rasulullah Muhammad Shallallahu ’alaihi wa Salam dan melakukan kedustaan terhadap Alloh, Rasul-Nya, Kitab-Nya dan seluruh umat Islam bahkan umat manusia!!!

Selain itu, ijma’ ummat Islam yang merupakan hujjah tidak terbantahkan juga menyatakan bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah Nabi terakhir. Barangsiapa menyelisihi ijma’ ummat Islam ini, maka ia bukan termasuk golongan ummat Islam!!

(Disalin dari Maktabah Abusalma)

Iklan

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: