Aqidah dan Manhaj

Kenapa Anda Memilih Salaf??!!!


Menegakkan kebenaran tidak luput dari hujatan orang-orang yang tidak memahami hakikat kebenaran itu sendiri. bahkan banyak penghujat berasal dari golongan berilmu dan bergelar “profesor”. Gelar bukanlah tolok ukur bahwa dirinya benar dan memiliki ilmu agama yang lurus. tidak jarang kita mendengar belakangan ini, ia dikatakan seorang kyai, ulama’ tapi pemikirannya jauh dari gelar yang ia sandang. Bagi antum sendiri yang telah memilih kebenaran yang hakiki apa pernah mengalami seperti di bawah ini???ana yakin hampir sebagian ikhwah merasakannya.

Pernah dapat ejekan seperti ini:

Mas, jenggotnya kayak kambing!!!

mas, lagi kebanjiran yaa…!!

mas, celananya kayak mo ke sawah..!!!

cukur tuh jenggotnya biar keren..!!!

kamu sok alim…!!!

atau seperti ini?!!!

salaf terlalu ekstrim..

salaf pemecah belah ummat…

salaf itu wahhabi..

salaf sesat menyesatkan..

salaf merasa paling benar..

Sekian banyak kita mendapatkan komentar dan pertanyaan-pertanyaan seputar salaf seperti di atas. Kita sebagai orang yang berilmu dan para penuntut ilmu (Thullabul ‘ilmi) hendaklah tidak merasa emosi, marah ataupun benci. Selayaknya kita memaafkan, mendakwahkan mereka karena mereka belum paham, tidak berilmu dan belum mendapatkan hidayah. Kita pasti menginginkan mereka mendapatkan hidayah yang sama seperti kita mendapatkan hidayah-Nya. Kalau kita ikut menghujat, membenci, dan menjauhkan mereka maka apa bedanya kita dengan mereka. Apa bedanya kita sebagai orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.

Oleh karena itu ana meminta kepada ikhwah sekalian untuk memberikan komentar dan sedikit pengalamannya “Kenapa Memilih Salaf??”. Hal ini penting agar orang-orang yang belum paham akan mendapa hidayah. Agat orang yang membenci salaf, sadar dan mau kembali menempuh jalan yang haq ini. Agar ikhwah sekalian yang sudah menerima salaf dan baru masuk salaf bisa tetap istiqomah berjalan di atas sunnah ini. Sekali lagi ana minta dengan seikhlasnya untuk memberikan pengalamannya mencari kebenaran dalam bermanhaj seperti ana. Baca perjalanan ana mencari kebenaran di sini. Jazakumullah khoir atas ketersediaan ikhwah sekalian.

Iklan

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

22 thoughts on “Kenapa Anda Memilih Salaf??!!!

  1. Untuk kesempatan ini ana akan menuliskan singkat saja, jika masih ada kesempatan besok insya Allah dilanjut lagi.
    Kenapa ku pilih manhaj salaf.
    Karena di sini ku temukan kebenaran, kelemahlembutan, dan ketentraman jiwa.
    Kebenaran: Karena bersumber dari sumber yang otentik dan shahih, yakni Al Qur’an dan As Sunnah. Serta didukung dengan pemahaman yang tepat pula, yakni pemahamannya para sahabat nabi. Patut direnungkan: Jika ada suatu permasalahan, dan yang menangani adalah 100 orang, maka akan timbul 100 penyelesaian… bayangkan… Namun jika semua permasalahan tersebut kita kembalikan kepada satu saja pemahaman yang maksum (terbebas dari kesalahan), yakni pemahaman para sahabat, maka insya Allah hanya akan ada satu. Ya, hanya akan ada satu syari’at, yakni syari’at islam yang murni tanpa kotoran syirik, biod’ah, dan khurafat.
    Kelemahlembutan: Manhaj salaf adalah manhaj yang paling menyayangi makhluk. Janganlah dikira bahwa seorang ibu yang memarahi anaknya karena bermain api itu suatu tindakan yang keras. Tapi karena sang ibu tak ingin anaknya celaka. Begitu pula manhaj ahlussunnah/salaf mengingatkan umat ini akan bahayanya syirik, bid;ah, maksiat, de el el.
    Ketentraman jiwa: Manhaj salaf membimbingku dalam seluruh aspek kehidupan sesuai dengan contoh rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga hati ini merasa nyaman dan tentram, karena apa-apa yang diajarkan oleh manhaj ini adalah i’tiba, yakni mencontoh nabi, tanpa menambah-nambahi dan tanpa pula mengurangi. Jika kitapun demikian adanya, maka insya Allah hati kita akan selamat.
    Renungan: Jika rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya sudah dijamin selamat, mengapa kita masih mencari-cari jalan selain jalan mereka? Sadarlah wahai saudaraku, bahwa syari’at islam ini mudah, yakni tinggal nurut saja sama contoh rasul dan para sahabatnya.
    Ada sedikit cerita singjkat perjalananku mencari hidayah hingga akhirnya kutemukan jalan yang haq ini. Jika berkenan bisa kunjungi link ini

    Posted by rismaka | Rabu, Oktober 22, 2008, 11:22 pm
  2. Saya melabuhkan sajadah ke jalan para Salaf…

    karena Salaf itu Haq!

    Sedangkan pengikutnya dengan baik…pun demikian insya Allah…!

    dan saya ingin berada di antara mereka…

    “Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman karena seorang Muslim akan mengikuti Muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir yang lainnya.” (Al Ibanah 2/477 nomor 502 dan Syarhus Sunnah Al Baghawi 13/70)

    maka, jadilah seorang salafiyyin yang santun saudara2ku…

    jangan menjadi salafiyyin yang keras lagi kasar…

    dan selalu permanis wajahmu dengan senyum…

    Posted by l5155st™ | Kamis, Oktober 23, 2008, 1:26 am
  3. (Pernah baca artikel “Mengapa Harus Salafiy” dari Syaikh Nashir rahimahullah atau buku “Mengapa Manhaj Salaf” dari Syaikh Salim hafidhahullah? Nah, artikel saya ini adalah versi orang awam sekaligus versi lokal dari artikel “serius, penuh ilmu, dan internationally accepted”-nya Syaikh-syaikh tersebut)Mungkin ada sebagian pihak yang bertanya-tanya: mengapa fai – yang aktivis jamaah x sekaligus kader sebuah partai y – tiba-tiba kok, memutuskan untuk menjadi salafiy? Padahal jamaah x adalah jamaah yang begitu widely accepted di masyarakat dan partai y juga sedang ngetren-ngetrennya. Sementara salafiy…. , jamaah apaan tuh? gak terkenal. Dan kalaupun terkenal, paling terkenal karena ulah orang-orangnya yang keras, kaku, jumud, tekstualis, gak tau fiqh waqi’, gak solider sama umat Islam lain, suka membid’ah-bid’ahkan, suka mengkafirkan, dan suka gontok-gontokan sama jamaah-jamaah lain plus suka meng-hajr temennya sendiri. Terus ngapain juga si fai jadi salafiy?

    Itu kata orang…

    Nah, sekarang marih kita bahas, kenapa saya akhirnya menjadi salafiy…

    Keputusan saya ini tidak lepas dari faktor kekurangan jamaah x serta kelebihan salafiy. Namun saat ini saya hanya tertarik untuk bercerita tentang kelebihan salafiy (kekurangan jamaah x-nya kapan-kapan aja ‘kali)

    Pertama kita harus memahami kondisi umat Islam saat ini yang berpecah belah. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang buta. Pokoknya gak perlu pakai hadits perpecahan pun sudah jelas kelihatan bahwa umat Islam saat ini berpecah belah. Ada yang ikut jamaah x, ada sekte y, ada partai abc, ada hizb d, dan begitu seterusnya. Dan masing-masing jamaah, sekte, partai, hizb dst berusaha agar seluruh umat masuk ke kelompok mereka dan berusaha agar kelompok mereka dapat menang dan unggul dari kelompok lain.

    Menghadapi kondisi umat Islam yang berpecah belah tanpa ada kesatuan kepemimpinan dan jamaah ini, ternyata Rasulullah telah memberikan jalan keluarnya, yaitu pada sebuah hadits dari Hudzaifah yang ada di shahih Bukhari dan Muslim : Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya ? Beliau bersabda : “Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”[1]

    Firqah itu adalah semua kelompok, jamaah, sekte, partai[2]. Berarti saat ini kita gak boleh ikut atau masuk menjadi anggota maupun simpatisan kelompok Islam, jamaah, partai apapun.

    Selain tidak boleh masuk ke kelompok apapun, kita juga diharuskan untuk “menggigit pokok pohon”. Apa maksudnya?

    Nah, untuk arti menggigit pokok pohon ini, kita bisa melihat ke hadits lain yaitu hadits Irbaad bin Saariyah yang artinya : “Berkata al-’Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu: Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kamu adalah seorang budak Habasiyyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.”[3]

    Luar biasa sekali isi hadits di atas (sama luar biasa dengan konteks hadits di atas yang bisa membuat para shahabat sampai menangis). Hadits tersebut memberi petunjuk yang jelas dalam menghadapi perpecahan dan perselisihan dalam umat Islam. Rasulullah memerintahkan kita agar berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudah Rasulullah dan untuk menghindari bid’ah.

    Apabila dihubungkan antara hadits Hudzaifah dan hadits ‘Irbadh bin Sariyah, maka kita memperoleh kesimpulan bahwa : Pada saat banyak perpecahan dan perselisihan, maka kita diperintahkan untuk meninggalkan semua firqah, semua kelompok, semua jamaah, semua sekte, semua partai untuk kemudian memegang teguh Sunnah Nabi yang mulia dan Sunnah Khulafaur Rasyidin serta menghindari bid’ah.

    Lalu apa kaitannya kewajiban meninggalkan semua firqah dan berpegang teguh pada sunnah dengan salafiy? Bukankah salafiy juga kelompok juga dan bukankah semua kelompok juga berpegang teguh pada sunnah?

    Pertanyaan ini akan membawa kita pada segmen berikutnya pembahasan kita yang tidak kalah seru kalau dibandingkan segmen pertama.

    Teks-teks Al Qur’an dan Assunnah sudah terhidang di depan kita. Tinggal bagaimana kita bisa memahami dan mengamalkan teks-teks tersebut agar sesuai dengan keinginan Syari’ (Pembuat Syari’at).

    Tentunya kita sudah sepakat bahwa kita tidak akan memakai metodologi liberal dalam memahami dan mengamalkan teks-teks Al Qur’an dan Assunnah seperti metodologi firqah Islam liberal, dimana tafsir atas teks hanya didasarkan atas akal. Kita akan memakai metodologi yang telah dipakai oleh ulama Ahlussunnah wal Jamaah sepanjang masa.

    Metodologi pemahaman dan pengamalan ini dapat kita ketahui jika kita telah menyepakati bahwa salafusshalih-lah yang pemahaman dan pengamalan agamanya paling benar setelah Rasulullah.

    Yang disebut dengan salafusshalih (pendahulu yang shalih) adalah para shahabat, tabiin dan tabiuttabiin.

    Mengapa kita bisa menyatakan bahwa pemahaman dan pengamalan agama mereka-lah yang paling benar setelah Rasulullah?

    1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” [At-Taubah : 100]

    2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Artinya : Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk menusia menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah” [Ali Imran : 110]

    “Kamu” di atas adalah merujuk pada para shahabat, karena konteks awal turunnya ayat ini adalah pada masa para shahabat.

    3. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Artinya : Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul menjadi saksi atas perbuatan kamu” [Al-Baqarah : 143]

    Makna “kamu” pada ayat di atas juga merujuk para shahabat.

    4. Karena sesuai dengan hadits Rasulullah yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku (para shahabat – pen), kemudian masa berikutnya (tabiin – pen), kemudian masa berikutnya (tabiuttabiin – pen)” [4]

    Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Salim hafidhahullah, para shahabat bisa menjadi sebaik-baik manusia bukan karena harta mereka atau fisik mereka, tapi karena agama mereka.

    5. Dari Abi Musa Al-Asy’ariy beliau berkata :

    “Artinya : Kami sholat maghrib bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu kami berkata : Semalam kita duduk-duduk sampai shalat Isya bersama beliau lalu kami duduk sampai Rasulullah menemui kami dan berkata ; Kalian masih di sini ? kami menjawab : wahai Rasulullah kami telah shalat bersamamu kemudian kami berkata : kami akan tetap duduk sampai shalat Isya bersamamu, beliau menjawab ; bagus atau benar. Abu Musa berkata : kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepala ke langit dan hal itu sering beliau lakukan lalu bersabda : bintang-bintang adalah penjaga langit, jika hilang bintang-bintang tersebut maka datanglah bencana padanya dan saya adalah penjaga para sahabatku maka jika saya pergi datang kepada mereka apa yang dijanjikan dan sahabatku adalah penjaga umatku jika telah pergi sahabatku datanglah kepada umat ku apa yang dijanjikan” [5]

    Dan masih banyak lagi ayat dan hadits yang memuji para shahabat khususnya dan salafusshalih umumnya hingga kita bisa benar-benar meyakini bahwa merekalah yang pemahaman agamanya paling baik setelah Rasulullah.

    Selanjutnya karena salafusshalih-lah yang paling benar dalam pemahaman agama, maka tidak ada jalan lain bagi kita kalau ingin benar dalam memahami agama selain mengikuti pemahaman salafusshalih.

    Kewajiban mengikuti pemahaman salafusshalih (para shahabat khususnya) ini bahkan diperkuat dengan beberapa ayat dan hadits sebagai berikut :

    1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala “Artinya : Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali” [An-Nisaa : 115]

    Ustadz Abdul Hakim Hafidhahullah menjelaskan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah di muqaddimah kitabnya “Naqdlul Mantiq” telah menafsirkan ayat “jalannya orang-orang mu’min” (bahwa) mereka adalah para sahabat. [6]

    2. Diantaranya hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Artinya : Berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin dan gigitlah dengan gigi gerahammu”

    Dan masih banyak lagi ayat dan hadits yang bisa menguatkan.

    metodologi atau cara pemahaman agama para salafusshalih yang wajib kita ikuti dinamakan dengan manhaj salaf. Pemahamannya (atau “isme”nya) disebut Salafiyah. dangkan orang-orang yang berusaha untuk menerapkan manhaj salaf disebut dengan salafiy.

    Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa salafiy bukanlah kelompok, sekte ataupun organisasi apapun yang memiliki AD/ART, ketua, pendiri, tahun berdiri, bahkan metodologi pemahaman agama sendiri. Salafiy hanyalah penisbatan seseorang pada manhaj salaf – yaitu hanya menyatakan bahwa seseorang itu mengikuti manhaj salaf (metodologi beragama para salafusshalih) dalam pemahaman agamanya. Tidak lebih dari itu.

    Dan kebetulan metodologi beragama para salafusshalih tidak mengizinkan orang-orang yang mengaku salafiy untuk mengikuti berbagai macam firqah (karena sudah ada hadits yang menyuruh kita untuk meninggalkan semua firqah). Oleh karena itu saya akhirnya memilih untuk meninggalkan jamaah x dan partai y dan kemudian berusaha untuk secara konsekuen menjadi salafiy (artinya menjalankan metodologi pemahaman agama sebagaimana para salafusshalih).

    Lalu mungkin gak ada satu kelompok atau firqah saat ini yang mengaku bermanhaj salaf?

    Kita lihat saja, ada gak ciri manhaj salaf dalam diri orang-orang dalam kelompok tersebut. Apakah mereka antara lain [7] : (ini baru antara lain, lho)

    1. beriman kepada Allah, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, menurut apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, tanpa tahrif (menyimpangkan maknanya), mentamtsil (memisalkan dengan makhluk), mentasybih(menyerupakan dengan makhluk) dan tanpa menta’thil (meniadakan atau menghapus sifat itu dari Allah)

    2. berkeyakinan bahwa berdo’a kepada orang mati, meminta tolong kepada mereka dan begitu juga terhadap orang yang masih hidup pada masalah yang tidak disanggupi kecuali oleh Allah adalah syirik.

    3. mencintai para Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan membenci orang-orang yang mencela mereka.

    4. mencintai Ahlul Hadits dan seluruh para salaf (pendahulu) ummat ini dari kalangan Ahlus Sunnah.

    5. tidak menulis dalam kitab-kitab dan pelajaran-pelajaran kita serta kita tidak berkhutbah kecuali dengan Al-Qur’an atau Hadits yang shahih untuk berhujjah.

    6. berpendapat wajib saling tolong-menolong sesama muslim mana saja dalam kebenaran. Dan kita berlepas diri dari dakwah-dakwah jahiliyah (firqah, sekte, kelompok, partai)

    7. berpendapat tidak boleh memberontak terhadap pemerintah kaum muslimin selama mereka masih muslim. Kita tidak berpendapat bahwa revolusi adalah cara yang membawa kebaikan, bahkan itu adalah cara yang merusak masyarakat.

    8. mengikat pemahaman kita dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang berdasarkan pemahaman Salaf (pendahulu) ummat ini dari kalangan ahli hadits.

    9. membenci kelompok-kelompok baru: Komunisme, Ba’tsi, Nashiry, Sosialisme, dan Rafidhah yang telah keluar dari Islam.

    10. mencintai Ulama Sunnah yang hidup sekarang. Dan kita ingin mengambil faedah dari mereka.

    11. bersikap tegas terhadap bid’ah dan maksiat yang banyak tersebar di masyarakat.

    Lalu bagaimana dengan pandangan orang bahwa salafiy itu keras, kaku, jumud, tekstualis, gak tau fiqh waqi’, gak solider sama umat Islam lain, suka membid’ah-bid’ahkan, suka mengkafirkan, dan suka gontok-gontokan sama jamaah-jamaah lain plus suka meng-hajr temennya sendiri?

    Perlu saya tegaskan bahwa standar kebenaran bukanlah pada “kata orang lain” atau “suara mayoritas”. Kebenaran adalah Al Qur’an dan Assunnah dengan pemahaman shahabat walaupun engkau sendirian. Jadi kalau memang konsekuensi dari pemahaman agama yang benar ini kita dituduh macam-macam, ya itulah resiko berpegang teguh pada sunnah Nabi dan sunnah Khulafaurrasyidin. Toh, yang menilai kita sebenarnya adalah Alloh, bukan orang lain dan bukan suara mayoritas.

    Walaupun tentunya bukan berarti orang-orang salafiy cuek tidak memperhatikan umat sekelilingnya. Mereka tetap (dan seharusnya tetap) memperhatikan kondisi umat dalam konteks untuk berda’wah.

    Khusus untuk kasus sebagian orang yang mengaku salafiy yang kelihatannya suka menghajr teman sendiri sesama salafiy.., dapat saya jelaskan bahwa hal tersebut sama sekali tidak mempengaruhi terang benderangnya manhaj salaf.

    Penisbatan salafiy bukan pada orang-orang tersebut. Penisbatan salafiy adalah pada generasi awal yang shalih, pada orang-orang yang telah dijamin pemahaman agamanya. Kalaupun ada orang-orang salafiy yang (mungkin) salah, maka yang salah adalah orang tersebut, dan bukan penisbatannya apalagi manhaj-nya.

    Lagi pula penisbatan salafiy adalah penisbatan yang cenderung personal bukan penisbatan kelompok. karena penisbatannya personal pada manhaj salafusshalih, maka tanggung jawab seorang yang mengaku salafiy juga personal, tidak ada tanggung jawab jama’i untuk menanggung kesalahan orang lain yang kebetulan bersalah. Dan kalaupun ada tanggung jawab, maka tanggung jawab tersebut hanyalah berupa nasihat.., sama dengan tanggung jawab seorang salafiy pada umat Islam yang lain.

    Terakhir bisa saya utarakan salah satu hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Artinya : Senantiasa ada segolongan dari umatku yang selalu dalam kebenaran, menegakkan perintah Allah, tidak akan mencelakai mereka orang yang tidak menolongnya dan orang yang menyelisihinya. Sampai datang perintah Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu. [8]

    *************

    Footnote :

    [1] Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399

    [2] Firqah adalah kelompok selain dari Jamaatul Muslimin. Dan pengertian Jamaatul Muslimin kembali pada dua makna: Pertama, Umat Islam yang bersepakat mengangkat seseorang amir (pemimpin) menurut tuntunan syara’. Dan kedua, yaitu jama’ah Ahlus Sunnah yang melakukan i’tiba’ dan meninggalkan ibtida’ (bid’ah). Dari majalah As-Sunnah edisi 10/I/1415-1994 hal.29-32, terjemahan dari majalah Al-Bayan No. 78 Shafar 1415H/Juli 1994 oleh Ibrahim Said. Saya kutip dari situs http://www.almanhaj.or.id

    [3] HR. Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimy (I/44), al-Baghawy dalam kitabnya Syarhus Sunnah (I/205), al-Hakim (I/95), dishahihkan dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi

    [4] Hadits Mutawatir sebagaimana dicantumkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam “Al-Isabah” 1/12, dan disepakati oleh Suyuthi, Al-Manawi, Al-Kinani

    [5] Hadits Riwayat Muslim 16/82 -An-Nawawiy

    [6] Dalam kitab “Menanti Buah Hati Dan Hadiah Untuk Yang Dinanti”

    [7] Penjelasan Syaikh Muqbil rahimahullah, Diambil dari Buletin Al-Manhaj, edisi 7/1419 H/1999 M, yang diterbitkan oleh Lajnah Khidmatus Sunnah wa Muharobatul Bid’ah. Ponpes Ihyaus Sunnah. Kecuali pada butir terakhir merupakan tambahan penulis

    [8] HR. Al-Bukhari (no. 3641) dan Muslim (no. 1037 (174)), dari Shahabat Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu

    http://faidzin.wordpress.com/2007/05/31/ngapain-jadi-salafiy-salafiy-for-beginner/
    NB: link udah ga valid

    Posted by bayu200687 | Kamis, Oktober 23, 2008, 7:35 am
  4. Aaaarrrrrggghhhhh…. Panjang nian komentar yang di atas saya… 😀
    Semangat sekali bro kekekekee

    Posted by rismaka | Kamis, Oktober 23, 2008, 8:27 am
  5. copas dari blog lama bro. bayu200687.wordpress.com

    Posted by bayu200687 | Kamis, Oktober 23, 2008, 8:40 am
  6. ia nih…panjang benar.tapi gpp syukron.. buat yang lain diminta kesediaannya. kalo mau nulis yang lebih panjang dari akh bayu. attach aja ke email ana: ibnu.jafar@gmail.com entar ana upload se rapi mungkin. OK!

    Posted by abdul aziz | Kamis, Oktober 23, 2008, 10:08 am
  7. Alloh maha memberi petunjuk kepada siapa saja yang di kehendaki-Nya

    Posted by Prasetyo Muchlas | Jumat, Oktober 24, 2008, 5:51 am
  8. assalamu’alaikum…makasih undangnnya….artikel bagus nih…

    Posted by Admin | Jumat, Oktober 24, 2008, 1:45 pm
  9. assalamu’alaykum,

    afwan akh baru komentar. tentang kebenaran manhaj salaf dan kewajiban mengikutinya sepertinya sudah dijelaskan panjang lebar oleh akh bayu. kita mesti berharap, berdo’a dan berusaha agar senantiasa istiqamah di atas manhaj yg haq ini.

    barakallahu fiikum.

    Posted by herr | Jumat, Oktober 24, 2008, 1:54 pm
  10. wa’alaykumussalaam..akh sekalian komentarnya atuh masak cuma itu doang..

    Posted by abdul aziz | Jumat, Oktober 24, 2008, 1:54 pm
  11. wahh..lagi barengan yaa…komentar ana di atas untuk akh admin. untuk akh herr dan lainnya sebenarnya ana butuh komnentar pribadi kenapa ia sendiri milih salaf. karena ana sendiri awalnya milih bukan atas buku yg ana baca tetapi melihat sesuatu yg tampak dan wkt itu ikut kajian ust. Badru

    Posted by abdul aziz | Jumat, Oktober 24, 2008, 2:00 pm
  12. Assalamu’alaykum…
    akan saya bahas dalam postingan tersendiri.

    tunggu setelah UTS ya, akh…

    Posted by Ghani Arasyid | Jumat, Oktober 24, 2008, 2:01 pm
  13. Karena ane ingin mengikuti jalan orang-orang dari generasi terbaik umat ini. Alhamdulillah ada temen ane dulu yang mengajak ane nyalaf… Juga beberapa buku yang membuka matahati ane.

    Posted by abrari | Jumat, Oktober 24, 2008, 5:06 pm
  14. manhaj salaf merupakan cara/jalan tepat dalam memahami islam, berdiri diatas alQuran, assunnah, dan pemahaman para sahabat. (para golongan terdahulu.)

    ketauhilah :
    Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.(QS. aT taubah 100)

    Allah memuji orang-orang yang mengikuti manusia terbaik, maka diketahui dari hal tersebut bahwasanya jika mereka mengatakan suatu pandangan kemudian diikuti oleh pengikutnya pantaslah pengikut tersebut untuk mendapatkan pujian dan ia berhak mendapatkan keridhaan, jika sekiranya mengikuti mereka tidak membedakan dengan selain mereka maka tidak pantas pujian dan keridhaan tersebut.

    dakwah salaf, adalah dakwah yang lembut, tidak bertentangan dengan akal (fitrah), alamiah.

    “Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (Al-Fatihah:6-7).
    Al-Imam Ibnul Qayyim berkata: “Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya, maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah (Syi’ah).” (Madarijus Salikin 1/72).

    Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (Al-Baqarah:143).
    Allah telah menjadikan mereka orang-orang pilihan lagi adil, mereka adalah sebaik-baik ummat, paling adil dalam perkataan, perbuatan serta keinginan mereka, karena itu mereka berhak untuk menjadi saksi atas sekalian manusia, Allah mengangkat derajat mereka, memuji mereka serta menerima mereka dengan penerimaan yang baik.

    Dengan ini jelaslah bahwasanya pemahaman para shahabat merupakan hujjah atas generasi setelah mereka dalam menjelaskan nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah.

    Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dinul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lamu bish shawab.

    Posted by mahabbahtedja | Jumat, Oktober 24, 2008, 8:23 pm
  15. jazakallaah akh atas waktunya..semoga Allah memberikan hidayah kepada orang2 yang belum mendapatkan hidayah ini. melalui jalan manapun dan semoga forum ini dapat menjadi salah satu jalan hidayah Allah. Barakaallaahu fiik.

    Posted by abdul aziz | Jumat, Oktober 24, 2008, 9:43 pm
  16. DI masyarakat awam, kadang mereka agak kurang berkenan dengan penyebutan kata “SALAF” yang begitu dominan. Akan tetapi kalau disebutkan kata “Ahlussunnah”, “Ahlut Tafsir”, “Ahlul Hadits” mereka lebih bisa menerima (tidak menolak). Hal ini biasanya disebabkan karena ketidaktahuannya tentang istilah “As-Salaf”. Mereka menyangka ini adalah kelompok sempalan Islam yang baru.

    Posted by Tommy | Sabtu, Oktober 25, 2008, 11:43 pm
  17. hmmm….salam kenal. kata ahlussunnah di mayarakat sekarang ini telah disalahgunakan. banyak kelompok menamakan dirinya ahlussunnah wal jama’ah tapi kenyataannya..?

    Posted by abdul aziz | Sabtu, Oktober 25, 2008, 11:51 pm
  18. Tau manhaj salaf, bermula dari rasa penasaran pada ikhwah2 yang masih muda, rajin ke masjid, berpenampilan nyunnah (memelihara jenggot) yang sebelumnya tidak saya temui di majelis yang saya ikuti. berawal dari rasa penasaran itulah.
    Kemudian, ada dua saudara saya yang memperkenalkan manhaj ini baik lewat buku maupun info kajian. Qodarulloh sekarang kedua saudara saya ini telah berpulang menghadap Allah, dalam usia 21 dan 24 tahun. Semoga segala kebaikan mereka diberi balasan pahala yang berlipat dan mendapatkan jannatul firdaus. amiin.

    Posted by Sadat ar Rayyan | Senin, Oktober 27, 2008, 11:05 am
  19. subhaanallah. semoga kita mati dalam keadaan teguh di jalan-Nya dan diatas sunnah nabi-Nya. amien

    Posted by abdul aziz | Senin, Oktober 27, 2008, 1:47 pm
  20. Aku pernah, aku sedang, dan aku ingin, tapi aku hanyalah keturunan seorang yang telah diusir oleh Robbnya dari rumah-Nya lalu menjadi musafir di dunia. Dan tidaklah ada tujuan seorang musafir, selain kembali ke rumahnya….

    Posted by Kapten Bombay | Selasa, Oktober 28, 2008, 10:37 am
  21. syukron luar biasa sangat bagus

    Posted by sigit pamungkas | Kamis, November 13, 2008, 3:06 pm
  22. Akhi fillaah… Apa yg antum alami jls dialami jg olh smua org brmanhaj salaf trmasuk sy.m’ikuti jln rosul resikonya ya dibenci spt rosul yg dibenci kufar qurais.smua itu ujian.bknkh ALLAH tlh brfirman “apakah km menyangka akn masuk surga pdhl blm dtg ujian sbagaimana umat trdahulu?…”. smoga ALLAH mmberi kita ksabaran.amiin.barokallohu fik

    Posted by Nurdijono | Kamis, Maret 8, 2012, 6:08 am

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: