Kisah

Perjuangan lapis Tertinggi… Bag 2


Sebelumnya

Kami telah tiba di kampus untuk pertama kalinya. Ada sekelompok mahasiswa menyambut kedatangan kami dan baru kuketahui kalau itu adalah mahasiswa satu daerah yang memiliki organisasi. Katakanlah OMDA (Organisasi Mahasiswa Daerah). Aku minder melihat teman-teman satu daerah. Kami yang berpakaian sederhana dan tak membawa apa-apa harus bergaul dengan mereka yang hidup bergelimang harta dan biasanya sangat dimanjakan tak terkecuali anak laki-laki.

Keesokan harinya mahasiswa baru harus melakukan registrasi ulang. Kukumpulkan keberanianku dan kutepis rasa minderku di antara ribuan mahasiswa baru. Kini saatnya aku harus berhadapan dengan dunia nyata, bergulat dengan manis pahitnya hidup, dan bersahabat dengan masalah di antara masalah. Sambil menunggu giliran, kulayangkan mataku ke setiap wajah-wajah mahasiswa baru. Dengan tatapan nanar, kulihat canda tawa, kegembiraan menyelimuti mereka. Sedangkan aku seulas senyumpun tak ada. Kalaupun ada hanyalah senyuman kecut yang dibuat-buat. Pikiranku melayang jauh, terbang menembus lorong-lorong waktu masa lalu, gelap, pengap, dan berbau. Tak kusangka aku mengalami hidup seperti ini. Mulai dari tangisan melihat penyiksaan, pelarian, rencana pembunuhan, perjuangan, kerja keras dan air mata sampai aku duduk disini di tengah-tengah kerumunan anak-anak kaya yang juga memiliki cita-cita. Aku berharap, putaran roda paling atas berpihak padaku. Setelah mengalami pergolakan batin, problema hidup aku mengantongi sejuta harapan untuk menuai kesuksesan. Aku memiliki cita dan tekad yang tinggi yang jarang dimiliki oleh anak sepertiku. Tiba-tiba sebuah panggilan membuyarkan lamunanku dari alam bawah sadarku dan menepis cita-citaku yang masih belum kugapai.

Kuayunkan langkah dengan gontai sambil mengumpulkan kekuatanku bagaimana menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari petugas. benar juga. Petugas itu menanyaiku kenapa aku belum membayar biaya yang tersusun rapi dalam surat pengumuman sekaligus surat undangan kalau aku diterima. Dengan menunduk menahan rasa malu, kujawab:”belum ada uang, pak?” sebuah jawaban yang membuatku terasa kecil. Petugas itu ternyata sangat baik dan mengerti akan posisiku. Sambil tersenyum ia menyuruhku melanjutkan ke pos berikutnya. Sampai pada pos terakhir dengan terpaksa aku menandatangani surat perjanjian kapan biaya itu harus aku bayar. Tak lama kemudian, kakak kelasku membawaku ke ruang wakil rektor yang kebetulan dari satu daerah. Beliau memarahiku dan berkata:”kalau kamu benar-benar tidak mampu katakan tidak mampu. Kalau kamu menyetujui bikin surat perjanjian berarti kamu adalah orang yang mampu.” Dengan gemetar kujawab:”saya kan tidak tahu, pak?”. Kemudian beliau membuatkan memo dan aku diminta menyerahkan kepada ketua registrasi dan memberiku nasihat:”kamu berani mengatakan keluar dari kampus kalau kamu tidak mendapatkan keringanan?”. Dengan ragu-ragu aku mengiyakan. Sampai akhirnya aku kembali ke ruangan registrasi. Ternyata banyak mahasiswa yang mengalami sepertiku termasuk juga masalah rapor. Aku memanggil petugas dan menanyakan kapan aku dipanggil. Namun, tanpa rasa bersalah petugas itu tidak mau menggubrisku dengan alasan berkasku sudah dikumpulkan. Akhirnya, aku memberanikan diri menyatakan untuk mengundurkan diri dari kampus meski aku takut kalau benar-benar dikeluarkan. Petugas itu memberiku tatacara bagaimana mengundurkan diri. Beberapa menit kemudian ketua Mahasiswa Tingkat Satu memanggilku dan menanyakan masalahku. Sambil menunduk kusodorkan memo dari wakil rektor tersebut. Kemudian beliau menyuruhku untuk tidak memikirkan masalah biaya berapapun uang yang ada serahkan sampai pada deadline perjanjian.

Akhirnya masalah dengan biaya sudah selesai meskipun belum sepenuhnya. Masalah selanjutnya adalah masalah asrama dimana untuk mahasiswa tingkat pertama diwajibkan tinggal diasrama. Mengenai asrama aku tidak mengalami kesulitan sama sekali. Esoknya, semua orang tua dari satu daerah banyak yang pulang termasuk ibuku. Aku memberinya uang transport selama perjalanan pulang. Mungkin kalian berpikir ibuku lemah sehingga harus bergantung padaku. Tidak!!! Ibuku bukanlah wanita yang lemah seperti yang kalian pikir. Aku memberi ibu uang karena aku yang mengajak ibu ikut. Aku bertekad tidak akan membuat ibu mengeluarkan sepeserpun uang untuk kuliahku termasuk uang transport. Sehingga berkuranglah uang ditanganku kurang lebih sebesar 8 ratus ribu.

*****

Hari demi hari kujalani kehidupan di kampus, asrama dan teman-teman baruku. Aku berkenalan dengan mereka dan menanyakan perihal dirinya. Namun, tak satupun kutemukan mahasiswa sepertiku. Selama satu semester berjalan, aku tidak memiliki semangat untuk kuliah. Aku menjadi laki-laki pendiam, penyendiri, dan pemikir. Yaah…aku memikirkan bagaimana caranya aku bisa bertahan hidup. Akupun nekad berpuasa daud, satu hari puasa dan satu hari tidak puasa. Makanpun hanya satu kali. Di kelas, aku banyak melamun. Tak satupun dosen yang aku dengarkan. Terkadang aku tidur di kelas karena sudah tidak bisa menahan kantuk lantaran kurang tidur. Sedangkan di asrama, aku menghindari pergaulan, keramaian. Teman-teman se kamarpun menganggapku orang aneh. Bagaimana tidak!!!malam-malam, aku turun ke atap yang kebetulan kamarku di lantai dua. Disitu aku melamun, menangis, menatap langit. Hatiku berontak, meraung-raung. Kenapa hidupku tak pernah berubah. Kenapa aku tidak seperti teman-teman lainnya. Mereka hanya tinggal belajar, tak perlu memikirkan biaya. Uang tinggal minta. Apapun disediakan dan tersedia. Sedangkan aku….aku menjadi laki-laki lemah karena jiwaku sudah terbentuk menjadi kepribadian lemah. Di rumah, aku memikirkan ibuku. Bagaimana keadaannya. Apa ibu sudah makan. Terkadang saat aku makan, ada saja yang terlintas dalam benakku. apakah ibu pernah makan enak sepertiku.

Suatu malam ada seorang mahasiswa satu asrama yang berkenalan denganku. Ia kemudian mengajakku kerja di swalayan. Aku heran kenapa tiba-tiba dia mengajakku padahal baru beberapa detik berkenalan. Ternyata dia mengetahui keadaanku dan tanpa sengaja mendengar pembicaraanku dengan petugas registrasi tempo lalu yang ternyata beliau adalah dosen fisika. Aku bersyukur dipertemukan dengan dosen itu karena beliau selain ingat denganku juga membantuku mendapatkan beasiswa zakat waktu itu. Akhirnya, aku diterima kerja di swalayan dekat kampus. Aku berjuang dan bekerja keras mencari pemasukan karena tabunganku sudah menipis. Aku bekerja sebagai part time. Mulai dari menjaga tas pembeli, mengangkat barang-barang, mengepel lantai toko, merapikan barang-barang. Siang dan malam aku bekerja dengan menahan rasa malu ketika teman-teman melihatku bekerja. Kuliahku terbengkalai bukan karena pekerjaanku melainkan aku sulit membagi otakku antara masalah keuangan, keluarga, dan lainnya. Sehingga nilai utsku hancur berantakan. Aku frustasi kala itu karena bagiku sangat tidak pantas mendapatkan nilai sejelek itu padahal aku jebolan SMA Unggulan. Meskipub aku mendapatkan beasiswa zakat, namun terus terang belum mencukupi kebutuhan kuliahku.

Suatu hari saat ada seminar narkoba aku mengalami sakit berat. Disaat seluruh penghuni asrama ikut seminar, aku terkapar di kamar tanpa ditemani seorangpun. Aku mengalami depresi berat, panas dingin dan kepala serasa mau pecah. Alhamdulillah ada seorang teman yang membantuku membuat surat izin untukku. Hari demi hari aku terkapar di tempat tidur, tak beranjak sedikitpun. Ada yang mengatakan aku terkena typus dan ada pula yang mengatakan aku terkena demam berdarah. Puncak depresiku adalah dari mulutku keluar darah yang memuncrat di dinding. Kaget bukan kepalang. Tanpa kuberitahu kuhapus darah itu namun tetap saja masih ada bekasnya. Lambat laun aku mulai sedikit lebih baik. Berat badanku mulai berkurang, mataku cekung seperti kurang tidur. Hidupku tidak bergairah tapi aku masih saja bekerja. Karena ini cara satu-satunya aku bisa bertahan hidup. Ibuku tidak pernah tahu dan takkan pernah kuberitahu keadaanku. Aku tidak mau menambah beban berat bagi ibuku. Aku harus mandiri dan bangkit mengatasi masalah hidupku. Aku bertekad untuk bisa membagi otakku agar masalah pribadi tidak menghalangiku untuk mendapatkan nilai yang bagus. Uaspun tiba dan aku bisa membuktikan diri bahwa aku bisa sesukse mereka. Nilai ipku cumlaude.

Selain gembira karena menyandang cumlaude, liburan uaspun tiba. Dengan begitu aku bisa pulang dan bertemu dengan ibuku dan harapanku melihat ayah siapa tahu ayah pulang ke rumah meskipun kemungkinannya sangat kecil.

Selanjutnya

Iklan

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: