Aqidah dan Manhaj

Tarbiyah Masa Kecil Para Salaf


TAQDIM

Tarbiyatul aulad adalah tanggung jawab setiap orang tua. Dari sinilah kelak akan terbentuk baiknya sebuah keluarga yang terdiri dari bapak, ibu dan anak-anak, sebuah keluarga yang dahulunya pernah menjadi anak-anak. Dari sini pula kelak akan terbentuk baiknya sebuah umat atau masyarakat.

Akan tetapi bagaimanakah sesungguhnya model tarbiyah (pendidikan) anak-anak hingga bisa melahirkan generasi penerus yang handal itu ?

Islam telah mempunyai konsepnya sendiri, dipimpin langsung oleh Murabbi terbesar Nabi Muhammad shallallaahu’alaihi wa sallam, Nabi yang diutus untuk mendidik serta membimbing para bapak, para ibu dan para anak agar terjamin kebahagiaan hidupnya di dunia maupun di akhirat. Kemudian sepeninggal beliau, jejaknya diteruskan oleh tokoh-tokoh salaful ummah, begitulah seterusnya hingga Islam akan tetap abadi dan utuh sampai hari ini dan sampai hari kiamat, dibawa oleh Tha’ifah al-Manshurah sekalipun kerusakan dunia akibat ulah manusia semakin dahsyat.

Tulisan di bawah ini merupakan upaya untuk menyingkap bagaimana tarbiyah masa kecil kaum salaf untuk kemudian bisa dijadikan acuan untuk mendidik anak-anak dewasa ini. Sebab apa yang pernah dijalankan oleh generasi salaf merupakan uswah serta suri tauladan terbaik bagi umat Islam, apalagi yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam jelas merupakan kebenaran mutlak.

Ingatlah nasehat Imam Malik rahimahullah :

“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik pada generasi awal umat ini.”

Selanjutnya ingat pula pesan Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam :
“Bertaqwalah kepada Allah dan berlaku adillah terhadap (hak) anak-anakmu.” (Muttafaqqun’alaih )

Perlu dicatat bahwa tulisan ini hanya mengambil beberapa contoh dan beberapa sisi yang pernah dijalankan sejak masa kecil oleh kaum salaf. Tulisan ini dengan segala catatan maraji’ yang ada, dinukil dan diringkas dari kitab Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah li ath-Thifli karya Muhammad Nur bin Abdul Hafizh Suwaid.

Sebagai pendorong semangat, kita nukil apa yang dikatakan oleh Abu ‘Ashim :
“Saya pergi bersama anak saya yang berumur kurang dari 3 tahun kepada Ibnu Juraji supaya beliau menceritakan kepada anak saya ini tentang hadits dan al-Qur’an.”

Beliau berkata lagi : “Tidak mengapa anak seumur itu untuk diajari al-Qur’an dan al-Hadits.”
( Lihat Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah lil ath-Thifli hal. 113 )

PEMBINAAN MASA KANAK-KANAK GENERASI SALAF

Berkenaan dengan pembangunan masa kanak-kanak, ada beberapa contoh nyata yang pernah dijalani oleh para ulama salaf :

1. Tentang Penanaman Kalimat Tauhid

Dalam sejarah telah tercatat bahwa anak kecil pertama yang masuk Islam adalah Ali bin Abi Thalib. Ketika itu umur beliau radhiyallaahu’anhu belum genap 10 tahun, tetapi begitulah Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam sebagai murabbi terbesar, pemimpin sekaligus suri tauladan umat, telah meletakkan satu uswah dalam dunia pendidikan, beliau ajak Ali bin Abi Thalib kecil untuk beriman kepada risalah yang beliau bawa, risalah tauhid (Laa ilaaha illallaah muhammadur rasuulullah). Maka berimanlah Ali radhiyallaahu’anhu, bahkan dengan rajinnya beliau mengikuti Nabi untuk melaksanakan shalat secara sembunyi-sembunyi di lorong-lorong kota Mekah.

Disamping itu, ada lagi satu kisah menarik yang diriwayatkan oleh Ibnu Dzufr al-Makky dalam kitabnya Anba’ Najba’i al-Anba’, tentang seorang anak kecil yang suka mengulang-ulang kalimat syahadatain, bernama (Abu Sulaiman) Dawud bin Nushair ath-Tha’I rahimahullah. Ketika beliau masih berusia 5 tahun, oleh bapaknya sudah diserahkan kepada seorang pendidik. Mulailah ia diajarkan untuk menghafal dan memahami al-Qur’an.

Setelah ia mempelajari dan menghafal surat al-Insan, suatu kali di hari jum’at, ibunya memergokinya sedang memandangi dinding seraya menunjuk-nunjuk ke arah dinding tersebut. Ibunya takut kalau pikiran anaknya berubah, maka ditegurlah ia oleh ibunya : “Hai Dawud, pergilah sana bermain bersama anak-anak.” Tetapi ia tidak menjawab. Maka ibunya pun menjadi histeris, lalu berkatalah beliau : “Wahai ibu mengapa anda ?” Ibunya menjawab : “Kemanakah pikiranmu ?” Ia menjawab : “Di Surga.” Ibunya bertanya lagi :

“Apakah yang sedang mereka kerjakan ?” Ia menjawab dengan cara membacakan ayat :

“Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan.” ( al-Insan : 13 )

Kemudian ia baca pula ayat-ayat seterusnya sambil seolah-olah mengangankan sesuatu, hingga akhirnya sampai pada firman Allah :

“Dan adalah usahamu disyukuri (diberi balasan).” (al-Insan : 22 )

Kemudian ia bertanya : “Hai ibu, apakah usaha mereka itu ?” Ibunya tidak mampu memberi jawaban, hingga berkatalah ia : “Tinggalkanlah aku Bu… supaya aku bisa merenungkan diri sesaat bersama mereka.” Maka bangunlah ibunya, dan menyerahkan persoalan Dawud kepada bapaknya seraya memberitahukan keadaan serta pertanyaan anaknya. Maka bapaknya berkata : “Hai Dawud, usaha mereka adalah mengucapkan : “Laa ilaaha illallaah muhammadur rasuulullaah.”

Sejak itu beliau (Dawud bin Nushair ath-Tha’i) rahimahullah selalu mengulang-ulang kalimat syahadatain tersebut.

2. Tentang Penanaman rasa cinta kepada Allah, rasa bergantung serta tawakkal kepada-Nya dan kepada taqdir-Nya

Ada sebuah riwayat, dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi, dari Ibnu Abbas radhiyallaahu’anhuma :

“Suatu hari aku pernah berada di belakang Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam lalu beliau bersabda : ‘Hai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat (artinya): Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya kamu dapati Dia ada di hadapanmu, bila kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan bila kamu minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa umat, seandainya mereka bersepakat untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat apa-apa kecuali dengan apa yang telah Allah taqdirkan buatmu, dan seandainya mereka bersepakat untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu sedikitpun kecuali dengan apa yang Allah telah taqdirkan atasmu, pena-pena telah terangkat, dan lembar tuliasan pun telah kering.’

3. Tentang Penanaman rasa cinta kepada Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam

Banyak sekali contoh yang diberikan Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam tentang bagaimana menanamkan rasa cinta kepada beliau, diantaranya :

– Kisah masuk Islamnya Ali bin Abi Thalib, membuktikan hal itu

– Imam Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim telah mengeluarkan:

Dari Tsabit dari Anas radhiyallaahu’anhu (Anas waktu itu adalah anak yang berumur kurang lebih 10 tahun), ia berkata : “Telah datang kepadaku Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam ketika aku sedang bermain bersama anak-anak, maka Nabi menyalami kami, kemudian mengutusku untuk keperluan yang beliau butuhkan …”

Begitulah Anas bin Malik yang telah tertanam rasa cinta di dalam jiwanya kepada Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, padahal dia masih berumur 10 tahun, ia rela meninggalkan kesenangannya bermain bersama teman-teman sebayanya demi melaksanakan apa yang diminta oleh Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam.

KEIKUTSERTAAN ANAK-ANAK DALAM PERANG MELAWAN MUSUH ALLAH :

membuktikan kecintaan mereka terhadap Nabi-nya.

Dalam sebuah riwayat Bukhari dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallaahu’anhu beliau menceritakan ketika beliau sedang berada di tengah kecamuknya perang Badar beliau berkata :

“Ada seorang anak kecil berdiri di sisi kananku bertanya : “Hai paman, tunjukkan aku, mana Abu Jahal ?” Beliau balas bertanya : “Mau apa kamu dengan Abu Jahal wahai anakku ?”. Ia (anak kecil itu) berkata : “Wallaahi, bila aku melihatnya aku tidak akan melepaskannya, dia adalah orang yang suka menyakiti Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam “.

Kemudian ada lagi seorang anak kecil di sebelah kiri juga bertanya seperti yang ditanyakan anak kecil yang pertama. Setelah itu terjadi peperangan sengit dan seru. Lalu Abdurrahman bin ‘Auf menoleh kepada kedua anak kecil ini seraya berkata : “Itulah dia orang yang sedang kalian cari, itulah Abu Jahal”.

Maka kedua anak kecil ini pun melompat dengan cepat dengan cepat membawa pedang kecil masing-masing, keduanya berpacu, berebut dahulu untuk menikam musuh Allah dan Rasul-Nya, lalu keduanya sama-sama mengayunkan senjatanya dengan kuat ke arah Abu Jahal, maka jatuhlah Abu Jahal tersungkur di tanah (untuk tidak bangun lagi). Selanjutnya kedua anak ini berlomba memberi kabar kepada Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam seraya masing-masing berkata : “Ya Rasulullah, saya-lah yang telah membunuhnya”. Maka beliau bersabda kepada keduanya : “Coba perlihatkan pedang kalian !”.

Ternyata beliau melihat bekas darah pada kedua pedang itu. Maka bersabdalah beliau : “Kalian bedua telah membunuhnya ! “. (Hadits Riwayat Imam Bukhari)

Itulah bukti keberhasilan Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam mendidik anak-anak.

Dicopy dari tulisan Ustadz Ahmad Faiz Asifuddin, semoga Allohu ta’ala selalu melindungi, mengasihi dan menyayanginya.

Iklan

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: