Aturan Undang-undang

Melanggar Aturan Manusia


Peraturan menusia, menurut, mereka  boleh  dilanggar. stopContoh  sederhana,  giliran ronda malam,  lampu  lalu lintas, atau peraturan yang bersifat  administratif.  “Ronda,  kan, bukan  ajaran  agama, mana wajib memenuhinya?!”  kilah  sebagian orang. Ada saja orang yang merasa punya hak secara mutlak untuk melanggar aturan buatan manusia.

Dalam  kehidupan  sehari-hari fenomena  demikian  banyak  kita saksikan  di  negeri  yang mayoritas penduduknya muslim ini. Ada yang merokok sembarangan dengan alasan tidak ada nash yang tegas melarang merokok. Sebagian lain mengendarai sepeda, sepeda motor atau mobil dengan melawan arus dalam sebuah jalan yang diatur untuk satu arah. Sebagian lagi biasa tidak membeli tiket naik KA, dengan membayar di atas gerbong (maksudnya di dalam gerbong)  kepada  kondektur  biaya perjalanan  Jakarta-Jogja  bisa  jauh lebih  irit.  Zaman  dulu,  saat marak telepon kartu,  ada  yang membeli kartu  bekas  yang  sudah diisi  pulsa secara illegal. Ada juga yang berani mebayar mahal demi  jabatan PNS karena selain aturan itu hanya dibuat manusia, yang membuat aturan pun tidak  sedikit  yang  ikut menikmati uang “daftar ulang” tersebut.

Akibat  dari  pelanggaran  aturan semacam  ini memang bukan  suatu yang  ringan.  Bayangkan  apakah tidak lebih parah tingkat kecelakaan jika  banyak  pengguna  jalan  yang tidak memperhatikan peraturan lalu lintas? Mengabaikan jiwa sendiri saja sebuah dosa, apalagi jiwa orang lain. Naik KA tanpa tiket berarti merugikan perusahaan negara, dan ini tidak bisa dibenarkan walau dengan dalih “toh,  kalau  bayar  uangnya  bakal dikorupsi orang BUMN!”  Maraknya suap dalam peneriman pegawai juga menimbulkan ekses yang luar biasa, selain kualitas skill pegawai menjadi rendah, moral pun menjadi tidak terindahkan. Bagaimana bisa bersikap jujur jika motivasi pertama sebagian pegawai adalah segera mengembalikan modal  yang mencapai antara 50-100 juta?!

Memang tidak serta merta semua aturan  harus  ditaati. Karena  di  sebagian  negara  ada  juga  beberapa aturan yang selain melanggar syariat Allåh  juga  justru merugikan  semua masyarakat. Misalnya tentang “pelegalan”  terselubung  terhadap minuman  keras  atau  prostitusi. Karena itu  dalam menyikapi  aturan-aturan semacam  ini  harus  dikaji  secara rinci  jenis-jenisnya. Karena  bentuk hukum  bisa  berbeda  konsekuensi bagi seorang muslim.

Jenis Aturan Manusia

Peraturan  yang  dibuat manusia ada dua macam.

Pertama, peraturan buatan manusia yang terkait dengan peraturan yang ditetapkan Allåh.

Karena terkait dengan peraturan dari Allåh, maka pelanggaran atasnya langsung terkait dengan hukum yang ditetapkan-Nya. Misalnya, ada aturan di  suatu  tempat untuk  tidak boleh minum khamar, berzina atau mencuri.  Peraturan  semacam  ini terkait  dengan  ketetapan Allåh , karena Dia juga mengharamkan minum khamar, berzina, dan mencuri. Pelanggaran  terhadap  peraturan ini  jelas merupakan  pelanggaran atas ketetapan Allåh . Hukumnya berdosa  di  sisi  Allåh,  selain  juga mendapat  hukuman  dari manusia yang membuat peraturan.

Sebaliknya,  ada  juga  peraturan buatan manusia  yang  justru  bertentangan dengan hukum Allåh . Misalnya, peraturan buatan manusia yang melarang wanita mengenakan  jilbab, melarang  shålat,  atau melarang  puasa wajib Ramadhan. Peraturan melanggar  aturan  dari Allåh ,  sebab menutup  aurat, shålat, dan puasa adalah kewajiban dari Allåh . Menaati peraturan ini justru berdosa kepada Allåh , kecuali dalam kondisi puncak darurat yang  sudah  tidak  ada  jalan  keluar lagi. Dalam  hal  ini Allåh  masih memberikan toleransi, sebagaimana yang dilakukan Ammar bin Yasir  saat dirinya dan keluarganya disiksa dengan sangat kejam.

Kedua,  peraturan  buatan manusia  yang  tidak  terkait  dengan peraturan  yang  ditetapkan  Allåh. Jenis  peraturan  ini  bisa  dipilahkan lagi. Pertama, kita tidak terikat secara langsung dengan peraturan itu. Kita hanya  jadi orang yang  tidak secara langsung terikat tetapi sesungguhnya
kita tidak bisa dikaitkan dengan peraturan itu. Contohnya, pengendara konvoi atau  rombongan pejabat  tidak terikat dengan peraturan lalu lintas yang berlaku. Kedua, kita terikat secara  langsung  dengan  peraturan itu, maka kita wajib taat dan tunduk terhadap peraturan itu.

Misalnya, peraturan bahwa setiap warga boleh naik kereta api Jabotabek dengan syarat harus membayar sesuai dengan  tarifnya. Kita wajib membayar, tidak boleh menjadi penumpang gelap, apalagi membayar kepada kondektur. Tidak boleh naik ke atas gerbong. Ini peraturan yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. Karena  selain kereta  itu bukan punya kita atau kondektur, sebagian perilaku  kita  bisa membahayakan jiwa  kita,  sementara  kita  diharus menjaga keselamatan jiwa.

Demikian  juga  pedagang  kaki lima. Mereka  wajib  taat  kepada peraturan  untuk  tidak  berjualan  di sembarang  tempat. Akibatnya  jelas sangat merugikan.  Jalanan  dan trotoar menjadi macet,  orang  lalu lalang menjadi  terhambat,  dan  ini melanggar peraturan bersama, selain merugikan orang lain.

Peraturan Lalu Lintas
Demikian juga dengan peraturan lalu  lintas,  pada  hakikatnya  setiap warga  negara wajib menaatinya. Terlebih  lagi  seorang muslim  yang baik. Karena  peraturan  itu  dibuat untuk  ketertiban,  kemudahan,  dan kelancaran  berkendara.  Surat-surat  kendaraan  harus  diurus,  dari STNK,  SIM  hingga  perlengkapan berkendara seperti helm, sit belt, danyang lainnya.Seorang muslim yang baik tentu sadar bahwa semua itu bukan sekedar  peraturan, melainkan  cermin dari peradaban.

Seorang yang sengaja tidak melengkapi semua itu bisa digambarkan  bahwa  pada  jiwanya masih ada sisa-sisa peradaban masa lalu. Tidak punya SIM saat mengemudi bukan karena tidak punya uang tapi memang  sengaja melanggar, tentu bukan sikap muslim yang patut untuk diteladani.

Apalagi  bila  dia  seorang  ahli dakwah  yang  seharusnya menjadi panutan umat. Kalau sosok panutannya saja adalah pelanggar peraturan (meski bukan termasuk pelanggaran berat), namun umat akan mencontoh dan mengidentikkan hal itu dengan ajaran Islam yang dibawanya.

Padahal mengurus  SIM  atau STNK  bukan  kejahatan  apalagi dosa, sebaliknya malah sangat baik untuk  ketertiban  dan  keamanan berkendara. Akankah kita beralasan malas mengurus  pembuatan  SIM karena  takut  berdosa  karena harus menyogok dan  lainnya? Ya  jangan nyogok!

Menaati  semua  peraturan  lalu lintas memang  bukan  perintah  al-Quran  secara  langsung,  juga  tidak ada  di  dalam  hadits-hadits. Bukan berarti tidak perlu dilakukan, karena di mana-mana di dunia  ini,  semua warga negara yang baik pasti menaati peraturan lalu lintas.
Wallåhu a’lamu bishshåwab

Iklan

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: