birrul walidain, Jeritan Hati

Suratku Untukmu…!!!


Anakku…,surat ini datang dari ibumu yang selalu dirundung sengsara. Ia coba untuk menulis di atas keraguan dan rasa malu. Setelah berfikir panjang, ia goreskan pena berulang kali akan tetapi selalu terhalang oleh tangis dan setiap kali menitikkan air mata, setiap itu pula hatinya terluka.

Anakku… setelah umur yang panjang ini, kulihat engkau telah menjadi laki-laki yang dewasa, cerdas, dan bijak. Karenanya engkau pantas untuk membaca tulisan ibu ini. Sekalipun nantinya engkau sobek sebagaimana sebelumnya engkau telah menyobek hati ibumu.

Wahai anakku…25 thn berlalu dan tahun2 itu adalah tahun2 kebahagiaan dalam hidupku. Ketika itu dokter memberitahukanku bahwa aku positif hamil dan semua para ibu mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur gembira bersama bahagia sebagaimana ia adalah awal mula perubahan fisik dan emosi. Setelah kabar gembira tersebut, aku membawamu 9 bulan. Tidur dalam kesulitan, berdiri dalam kesulitan, makan dalam kesulitan, bernapas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidaklah mengurangi rasa cinta dan kasih sayangku padamu. Bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu. Aku mengandungmu wahai anakku dalam kondisi lemah di atas lemah. Akan tetapi aku gembira setiap kali aku melihat gerakanmu didalam perutku. Aku gembira setiap kali aku menimbang tubuhku bertambah dgn bertambah berat badanmu padahal kandungan itu sangat berat wahai anakku.

Penderitaan yang berkepanjangan itu, telah sampai ketika fajar malam itu yaitu ketika mata ini tdk bisa dipicingkan. Aku merasakan sakit yg tidak tertahankan dan takut yang tidak bisa dilukiskan. Sakit itu terus berlanjut shg aku tdk lagi menangis. sebanyak itu pula aku melihat kemaitian dihadapanku sampai engkau benar2 keluar ke alam dunia. Ketika aku melihat engkau keluar ke alam dunia, bercampur air mata kebahagiaanku dengan air mata tangismu. Dengan itu semua telah sirna, semua keletihan dan kesedihanku. Bahkan kasihku bertambah dgn kuatnya sakitku. Aku peluk cium dirimu sebelum aku meneguk setetes air.

Wahai anakku, telah berlalu tahun dan usiamu sedangkan aku membawamu dengan hatiku, memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku, memberi saripati hidupku padamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, aku berletih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap harinya agar aku melihat senyumanmu. Setiap harinya aku berharap bahwa engkau tersenyum. Kebahagiaanku setiap saat, yang aku harapkan adalah permintaan dari mulut mungilmu agar aku berbuat sesuatu untukmu. Itulah kebahagiaanku di hari2 masa kecilmu. Lalu berlalulah hari..sedangkan aku setia menjadi pelayan yg tidak pernah lalai, dayang yg tidak pernah berhenti, pekerja yg tidak pernah mengenal lelah. Mendo’akan selalu kebaikan dan taufik untukmu. Itu semua aku perhatikan dirimu dari hari ke hari sampai engkau dewasa. Telah tegak pula badanmu. Telah nampak jiwa laki-lakimu pada tingkah laku dan keseharianmu. Saat itu pula aku melirik ke kiri dan ke kanan agar engkau mendapat pasangan hidup. Datanglah hari perkawinanmu wahai anakku…berarti hampir dekat pula kepergianmu dariku. Tatkala itu hatiku serasa teriris, air mataku mengalir bercampur kebahagiaan dengan kesedihan. Bagaimana tidak, aku bahagia karena engkau akan mendapat pasangan akan tetapi bersamaan dengan itu aku sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.

Waktu pun berlalu…seakan-akan menyeretnya dengan berat. Kiranya, setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu. Waktu sudah berlalu…setelah engkau menikah, setelah engkau berkeluarga, setelah engkau bawa istri dan anak-anakmu dari rumahku. Waktu bagiku serasa lama, sangat lamban. Perkawinan itu menyebabkan engkau tidak lagi mengenal diriku. Senyummu telah sirna dihadapanku sebagaimana sirnanya matahari ditutupi oleh kegelapan malam. Suaramu telah tenggelam sebagaimana tenggelamnya batu dijatuhkan ke dalam kolam yang sunyi dan kelam. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau benar-benar melupakanku dan melupakan hakku. Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung hanya sebatas untuk mendengar suaramu. Akan tetapi penantian tetap penantian…penantian yang sangat panjang..aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu yang tidak pernah kunjung datang. Sampai-sampai setiap kali berderit pintu, aku menyangka bahwa engkaulah ia.. orang yang aku tunggu. Setiap kali berdering telepon, aku merasa bahwa engkau yang akan menelponku. Setiap kendaraan yang lewat, aku menyangka bahwa engkaulah yang datang. Akan tetapi semua itu tidak ada…penantianku sia-sia, harapanku hancur…yang ada hanyalah keputusasaan…yang tersisa adalah kesedihan dari semua keletihan selama ini. Yang tinggal hanyalah menangisi diri dari nasib yang memang telah ditakdirkan.

Anakku…ibu tidaklah meminta banyak..ia tidaklah menagih hal yang bukan-bukan. Satu yang ibu pinta…satu yang ibu harapkan…sekiranya engkau rela ibumu jadikan sahabat sekalipun ia sahabat yang jauh dalam kehidupanmu. Dan janganlah sekali-kali engkau jadikan ibumu musuh yang engkau jauhi. Yang ibu tagih kepadamu..wahai anakku…jadikan rumah ibumu ini terminal..sekalipun ia adalah terminal yang jauh agar engkau sekali-kali singgah sekalipun hanya satu detk. Jangan sekali-kali engkau jadikan rumah ibumu ini adalah tempat sampah yang memang engkau tidak pernah mengunjunginya..

Anakku…telah bungkuk pula punggungku…bergemetar tanganku…badanku telah pula dimakan oleh usia…tubuhku telah pula digerogoti oleh penyakit. Berdirinya ibu seharusnya dipapah…duduknya ibu seharusnya dibopong…akan tetapi walaupun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu. Masih seperti lautan yang tidak pernah kering…masih seperti angin yang tidak pernah berhenti..sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang..tentu engkau akan membalas kebaikannya dengan kebaikan. Akan tetapi ibumu..yang telah berbuat banyak kepadamu..yang telah berlarut..berletih-letih kepadamu…mana balas budimu…wahai anakku…mana balasan darimu…sampai begitu keraskah hatimu setelah berlalunya hari..!!! setelah berselangnya waktu…??!!! setelah engkau meninggalkan ibumu di sudut rumah yang sepi dan hening ini…??!!!

Wahai anakku…setiap aku mendengar engkau bahagia dengan hidupmu..setiap itu pula bertambah kebahagiaanku…bagaimana tidak pula aku bahagia karena engkau adalah gerakan kedua tanganku…kiranya dosa apa yang telah aku perbuat sehingga aku engkau jadikan musuh bebuyutanm…engkau musuhi..tidak pernah disapa..tidak pernah engkau kunjungi..apakah aku pernah salah satu hari dalam bergaul denganmu atau aku pernah berbuat lalai dalam melayanimu..tidak dapatkah engkau menjadikanku pembantu yang hina dari sekian banyak pembantumu yang mereka semua telah engkau beri upah..dan mereka semua telah engkau berikan perlindungan..mana upahku wahai anakku…mana ganjaranku…mana jasaku untukmu..kenapa engkau tidak sedikit beri perlindungan di bawah kebesaran naunganmu…kenapa tidak engkau anugrahkan sedikit kasih sayangmu demi pengobatan derita orang tua yang lemah ini padahal Allah SubhaanahuwaTa’ala mencintai orang yang dermawan…yang ibu pinta di hari-hari akhir ibu kelak hanya untuk melihat wajahmu. Aku tidak menginginkan yang lain..aku tidak menginginkan hartamu yang banyak, tidak menginginkan kebesaranmu yang luas…tidak menginginkan tahtamu yang tinggi..yang ibu inginkan hanyalah wajahmu di hadapanku…

Wahai anakku…hatiku terasa teriris, air mataku mengalir sedangkan engkau masih sehat wal’afiat karena orang-orang mengatakan bahwa engkau adalah orang yang supel dalam pergaulan. Engkau adalah seorang yang dermawan dalam pemberian. Engkau adalah orang yang berbudi dalam masayarakat. Akan tetapi mana supelmu kepada ibumu…mana deramwanmu pada ibumu…mana budimu pada ibumu…

Anakku…apakah hatimu tidak tersentuh terhadap seorang wanita tua yang lemah..yang telah binasa dimakan rindu berselimutkan selalu kesedihan dan berpakaian selalu kedukaan. Berbahagiakah engkau karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya…??!!! tersenyumkah engkau karena engkau telah membuat sedih hatinya…?!!! Berbahagiakah engkau karena engkau telah berhasil memutuskan tali silaturrahmi dengan ibumu…??!!!

Wahai anakku…inilah pintu surga. Maka titilah…pergilah menuju sana..lewatilah jalannya dengna senyuman yang manis. Kumaafkan dan balas budi yang baik. Semoga kau denganmu nati bertemu disana dengan kasih sayang Allah…sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallaahu’alaihiwasallam:”orang tua adalah pintu tengah surga. Seandainya engkau menginginkannya maka hilangkanlah pintu itu atau jagalah pintu itu.” anakku selama ini aku mengenalmu bahwa engkau adalah laki-laki yang selalu tamak dengan pahala…yang selalu rakus dengan ganjaran…yang selalu mengharapkan ampunan dari Allah ‘azza wa jalla...akan tetapi yang pasti engkau telah melupakan sebuah hadits…engkau telah melalaikan sabda Rasulullah Shallallaahu’alaihiwasallam:”Sesungguhnya sebaik-baik amal disisi Allah adalah sholatpada waktunya kemudian berbakti kepada kedua orang tua kemudian jihad fisabilillah..” Anakku..aku adalah pahalamu…aku adalah ganjarannya yang akan engkau pandu tanpa harus engkau memerdekakan budak..tanpa engkau harus banyak-banyak berinfak…tanpa engkau harus banyak-banyak beramal…cukup engkau bahagiakanku. Akan tetapi yang ibu takutkan adalah sabda Rasulullah Shallallaahu’alaihiwasallam:”Celaka..celaka..celaka…seorang!!!ditanya oleh sahabat:siapa itu ya Rasulullah Shallallaahu’alaihiwasallam? Maka dijawab: celaka bagi seseorang yg memperoleh kedua orangtuanya dalam keadaan tua atau salah satu dari mereka berdua akan tetapi tidak membuat anak itu masuk surga.”

Wahai anakku…ibu tidak akan mengangkat keluhan ini ke langit. Ibu tidak akan adukan luka ini kepada Allah. Karena ibu yakin sekiranya suara ini sampai ke langit…jeritan ini membumbung menembus awan maka yang binasa adalah engkau…maka yang akan menimpamu adalah kebinasaan dan kesengsaraan. Kebinasaan yang tidak bisa diobati oleh obat… yang tidak mungkin tersembuhkan oleh dokter dan tabib. Bagaimana pula aku akan mengangkatnya ke langit padahal engkau adalah jantung hatiku. Bagaimana pula aku adukan kepada Allah padahal engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana pula akuakan tangisi kepada Allah Azza wa jalla padahal engkau adalah kebahagiaan hidupku. Bangunlah nak…uban sudah mulai merambat di atas kepalamu. Akan berlalu masa sehingga engkau menjadi tua pula dan sebagaimana yang engkau perbuat, engkau akan diperlakukan hal yang sama dan ganjaran sesuai apa yang telah engkau perbuat. Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat dengan air matamu kepada anak-anakmu sebagaimana telah aku menulisnya dengan air mataku kepadamu.

Anakku…bertakwalah kepada Allah..tentang ibu peganlah kakinya sesungguhnya surga berada di kaki ibumu. Basuhlah air matanya…balurlah kesedihannya…kencangkanlah tulang ringkihnya…kokohkan badannya yang lapuk. Anakku…setelah engkau membaca surat ini maka terserah engkau. Apakah engkau akan sadar dan kembali pada ibumu atau engkau menyobek surat ini. Akan tetapi barang siapa yang menanam maka ia yang akan menuainya. Wassalaamu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh.

Sumber: disalin dari kajian Suratku Untukmu (Ust. Armen Halim Naro)

Download Kajian Lengkapnya: Klik Disini


Dari ibumu yang selalu mencintaimu

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

3 thoughts on “Suratku Untukmu…!!!

  1. semoga kita selalu mendapat restu & do’a ibu..

    atas setiap langkah yang diambil..

    juga restu & do’a bapak..

    amiin..

    Posted by ummu awliya | Sabtu, Februari 28, 2009, 12:59 pm
  2. memanglah ada mantan pacar, mantan suami, mantan istri, mantan presiden atau mantan-mantan yang lain, tapi ketahuilah wahai seluruh anak adam bahwa di dunia ini tak akan pernah ada mantan orang tua….wassalam

    Posted by dewi wulan | Rabu, Januari 6, 2010, 9:48 pm
  3. saya lama belum ketemu ibu nih🙂

    Posted by Adam | Sabtu, Juni 25, 2011, 11:52 am

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: