Jeritan Hati, Tazkiyatun Nufus

Sarana Menggapai Hati


Ibnul Qayyim berkata,“Jika seorang hamba di waktu pagi dan sore yang dipikirkan hanya Allah, niscaya Dia akan menanggung segala kebutuhannya, menghilangkan segala kegelisahan, dan menjadikan hatinya senantiasa mencintai-Nya. Lidahnya dibuat selalu berdzikir pada-Nya.Seluruh anggota tubuhnya pun dibuat bergerak hanya dalam rangka melayani dan menaati-Nya.”

Seorang penyair berkata:

Ada lima penawar hatimu saat
sedang membatu…
Tetapilah kelimanya, dengan
memperoleh banyak kebaikan dan
kemenangan niscaya beruntunglah
kamu…
Yang pertama adalah kosongnya
perut,
Yang kedua renungkanlah isi al-
Quran itu,
Yang ketiga di waktu sahur tunduk
dan menangislah selalu,
Yang keempat di tengah malam
jangan lupa shalatmu,
Yang kelima berkumpul dengan
orang yang baik lagi banyak ilmu.

Ada beberapa sarana yang bias ditempuh untuk menggapai hati yang bersih, lurus dan selamat, insyaallah mujarab dan efektif. Di antaranya:

• Bersihkan akidah dan sempurnakan tauhid.
Akidah dan tauhid adalah pondasi kehidupan seorang mukmin. Keduanya yang memperlancar dan menjernihkan aliran air ketentraman dan kedamaian jiwa seseorang. Allah berfirman, “Tidak demikian, bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah,sedangkan ia berbuat kebajikan maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih.”(Al-Baqarah:112)
Sebaliknya, kesyirikan dan penyimpangan dari syariat Allah akan menimbulkan kecelakaan dan ketidaktentraman.
“Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit,…”(Thaha:124)

• Memperbanyak shalat.
Shalat adalah pembersih jiwa, bahkan mencegah pelakunya dari perbuatan keji lagi mungkar. Rasulullah bersabda, “Bagaimana menurut kalian kalau ada sebuah sungai di depan rumah salah seorang kamu dan ia mandi di sungai tersebut lima kali setiap hari, apakah ia masih mempunyai kotoran?”Sahabat berkata, “Tidak ada lagi kotoran sedikitpun.” Rasulullah menjawab, “Demikianlah perumpamaan shalat lima waktu yang mana dengannya Allah membersihkan kesalahan-kesalahan.”
Ibnul Arabib berkata, “Letak kemiripan dari permisalan Rasulullah ini adalah bahwasanya daki dan kotoran hilang kalau dibasuh dengan air sungai (banyak dan terus menerus) apalagi berulang kali. Demikian dengan dosa dan kesalahan pasti akan hilang kalau dibersihkan dengan shalat. Shalat yang khusyuk bukan saja menyucikan jiwa, bahkan akan membahagiakannya dan mengantarkannya menuju keberhasilan. Allah berfirman, “Sungguh beruntung orang-orang mukmin, orang–orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (Al-Mukminun:1-2)

• Bersedekah.
Memberikan sebagian harta yang dimiliki, apalagi yang disenangi, bukanlah hal yang mudah kecuali bagi orang yang hatinya di-tazkiyah oleh Allah. Dengan “memaksa” diri untuk terbiasa bersedekah, lebih-lebih secara rahasia, merupakan sarana untuk melunakkan dan membersihkan hati. Di antara hikmah diperintahkannya zakat adalah untuk membersihkan jiwa dari kedengkian dan kekikiran.
Allah berfirman, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, karena dengan zakat itu kamu membersihkannya (dari kekikiran) dan menyucikan mereka (dengan kebaikan) dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kami itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka, dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”. (Al-Taubah:103).

• Doa dan dzikir.
Dzikrullah merupakan terapi yang efektif untuk mengobati dan menentramkan jiwa. Apalagi kalau itu dilakukan dengan penuh rasa ketundukan dan takut yang terbalut dalam rasa cemas dan harap. Orang yang tidak mau berdzikir dan enggan berdoa menandakan pada jiwanya ada penyakit kesombongan. Itu sebabnya Rasulullah  menganjurkan kita untuk berdoa dalam setiap waktu dan aktivitas. Allah berfirman, “Orang-orang beriman hatinya akan tenang dengan dzikrullah, dan ingatlah hanya dengan dzikrullahlah hatimu akan tenang.” (Al-Ra’du:28)
Dzikrullah yang paling utama adalah tilawah (membaca dan memahami ayat-ayat Allah), Allah menurunkan al-Quran di antara fungsinya adalah sebagai syifa’ (penawar) dan rahmat bagi orangorang yang beriman. Bisa diperiksa dalam surat al-Isra ayat 82.

Ibnul Qayyim berpesan, “Carilah hatimu pada tiga tempat: saat mendengarkan al-Quran, ketika dalam majlis dzikir (ilmu), dan pada waktu sedang menyendiri. Jika kamu tidak mendapatinya pada ketiga tempat tadi, maka mohonlah kepada Allah agar kamu diberi hati, karena berarti kamu tidak memiliki hati lagi.”

• Menjauhi dosa dan maksiat.
Dosa dan maksiat adalah factor yang menghitamkan hati hingga menjadi keras dan tumpul alias rusak. Setiap satu dosa menyumbang hitamnya hati, semakin banyak dosa dan maksiat hati akan semakin hitam. Sebaliknya menghindari dosa menjauhi maksiat akan menjaga kebersihan hati. Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin jika berbuat dosa akan muncullah satu noda hitam di hatinya, jika bertobat, menjauhinya, dan meminta ampun hatinya kembali bersih, sebaliknya jika selalu bertambah dosa itu, bertambah pula nodanya hingga penuh berkarat. Sebagaimana disebutkan Allah _ dalam al-Quran, ‘Sekali-kali tidak, bahkan hati mereka berkarat disebabkan oleh apa yang mereka perbuat’.” Lebih-lebih muslim yang wara’. Wara’ adalah unsur utama dalam sebuah perilaku zuhud. Wara’ yang paling rendah adalah meninggalkan yang haram dan sekadar mengambil yang halal. Wara’, sebagaimana kata Ibrahim bin Ad-ham, adalah menjauhi segala hal yang syubhat (samar). Bahkan meninggalkan 100 pintu halal lebih baik daripada terjerumus dalam pintu haram yang masih meragukan.

Ibnu Qayim al-Jauziyah mengatakan, “Wara’ mampu menyucikan hati dari noda dan najis sebagaimana air menyucikan noda dan najis pada pakaian. Antara hati dan pakaian sesuai secara lahir maupun batin…

Rasulullah mengumpulkan gambaran tentang wara’ dalam sebuah kalimat, “Di antara kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan segala yang tidak bermanfaat”. Termasuk meninggalkan hal yang tidak perlu, baik perkataan, pandangan, pendengaran, bersikap kasar, berjalan, berpikir dan seluruh gerak anggota badan yang lahiriah maupun batiniah. Inilah kalimat yang pas tentang wara’.” Apapun langkah yang telah kita tempuh demi sehatnya hati kita, hingga menjadi hati yang lembut dan selamat senantiasa keikhlasan harus dikedepankan. Keikhlasan itu juga disokong dengan doa khusus. Toh hati kita semua yang menguasai hanyalah Allah, bukan kita masing-masing. Ada baiknya memperbanyak doa berikut dalam berbagai kesempatan:

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa lemah dan malas, penakut dan kikir, sedih, dan siksa kubur. Ya Allah! Berilah ketakwaan pada jiwaku, sucikanlah ia, Engkau sebaik-baik Dzat yang menyucikannya, Engkaulah pemilik dan penguasanya. Ya Allah! Sungguh aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak kenyang, dan doa yang tidak terkabul.”

Dengan doa dan usaha tersebut semoga kita mendapatkan kembali putihnya hati penuh dengan sinar keimanan. Dengan bersih hati kita raih simpati. “Simpati” dari Allah tentu yang kita harapkan selalu, meski dengan begitu simpati manusia yang tidak kita harap dan tunggu pun akan menghampiri. Siapakah yang tidak simpati kepada orang yang bersih hati?

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: