An-Nisaa', Berita, Iman, Jeritan Hati, Kisah, pasutri

Kisah Seorang Wanita yang Menikah Dua Kali Dalam Semalam


Islamic Center di Munich sedang melaksanakan konferensi musim panasnya ketika diumumkan pernikahan antara Batina, seorang perempuan Jerman dengan seorang pemuda Mesir bernama Ali Hasan Utsman. Di awal acara, bertempat di tempat khusus perempuan, Batina berbicara di depan mikrofon, “Ada sesuatu yang penting yang ingin aku sampaikan sebelum akad nikah dimulai. Aku dengan mengumumkan bahwa aku masuk Islam. Aku ingin para hadirin menyaksikan bahwa

diriku malam ini telah menerima lamaran dua kali, satu dari suamiku dan satu lagi dari Islam sebagai agamaku yang baru. Aku telah meninggalkan keluarga, kerabat dan tetangga. Inilah aku yang terlahir kembali.

Para hadirin terkesima mendengar kata-kata Batina yang mulai menceritakan kisa awal mula ia masuk Islam.

Kedua orang tuaku adalah seorang atheis. Ketika umurku menginjak 12 tahun aku mulai merasakan keinginanku untuk memeluk suatu agama. Pada saat itu yang aku tahu hanya kristen, akupun memeluknya, aku ingin membaktikan seluruh hidupku untuk agama yang kupeluk, hal ini sampai mengejutkan keluargaku.

Pada saat-saat awal kekristenanku aku memeluk protestan. Aku mulai mengabdikan diri dengan mengasuh anak-anak, namun setelah beberapa waktu aku mengetahui bahwa orang-orang protestan di sekelilingku tidak memeluk kristen sepenuh hati. Aku meninggalkan protestan dan masuk aliran Baptis. Bersama para pemeluk aliran ini aku merasakan kelembutan dan kehangatan keluarga yang kudambakan. Akupun selalu berdoa kepada Tuhan agar dipertemukan dengan lelaki yang cocok sebagai suamiku. Alhamdulillah, aku berhasil menemukannya.

Ketika aku mengabdikan diriku untuk gereja, aku masih merasakan ada sebuah kekosongan dalam diriku yang tidak dapat diisi oleh gereja. Aku memang selalu mencari kesempurnaan untuk memuaskan jiwaku. Sebagaimana aku rasakan bahwa pandanganku tentang Isa a.s. tidak pernah bersesuaian dengan pandangan gereja tentang beliau. Sampai saat itu aku belum tahu apa-apa mengenai Islam.

Di penghujung tahun 1989, ketika aku sedang menulis diary aku merasakan bahwa pada tahun 1990 aku akan mengalami perubahan besar dalam hidupku. Perubahan besar yang aku bayangkan saat itu adalah semakin mendalamnya pengetahuanku tentang ajaran kristen dan keikutsertaanku dalam misi ke Afrika di salah satu perguruan tinggi misionari.

Ketika aku berada di puncak keimanan aku bertemu dengan Ali –yang kini menjadi suamiku- yang sedang bekerja. Aku ingin mengajaknya masuk kristen seperti yang sering kulakukan terhadap banyak orang lain.

Kami mulai melakukan diskusi-diskusi dan tanya jawab tentang Tuhan, ajaran Islam, dan ajaran kristen. Sejak awal aku telah menyadari bahwa sulit menerangkan masalah trinitas, roh kudus dan siapa sebenarnya Isa bin Maryam a.s. karena dia tidak pernah disebut-sebut sebagai Tuhan bahkan di dalam Injil sekalipun. Terlalu banyak pertanyaan yang tak dapat kujawab sehingga aku harus kembali membaca dan mendalami kandungan Injil. Ternyata penggambaran Isa di dalam Injil memang menunjukkan bahwa dia hanyalah seorang manusia biasa.

Aku mulai mengkaji penerapan ajaran Kristen dalam realitas kehidupan sampai kutemukan bahwa sebenarnya para pemeluk kristen justru mengikuti ajaran Paulus, yaitu prinsip “Segala sesuatu dalam kehidupan hukumnya boleh, wlaupun terlarang” hal ini kontradiktif karena aku tidak menemukan dalam ajaran kristen sebuah prinsip atau ideologi yang komprehensif yang pada gilirannya sedikit demi sedikit menggoyahkan keyakinanku terhadap ajaran Kristen. Padahal keyakinan inilah yang dulu membuatku memusuhi dengan keluargaku.

Aku mulai mempelajari Al-Qur’an. Beberapa aku mendalami kajian karena untuk berpindah agama bukanlah sesuatu yang remeh sampai akhirnya aku berjumpa dengan Syekh Al-Mehlawi pada bulan Mei yang lalu di Mesir aku banyak berdiskusi dengan beliau. Aku mulai merasakan banyak penghalang antara diriku dengan realitas yang runtuh. Aku merasakan bahwa Al-Qur’an sebagai satu-satunya kitab yang benar. Saat itu aku merasakan seolah terlahir kembali. Sedikit demi sedikit aku mulai mendalami ajaran Islam dan melaksanakan shalat lima waktu dan puasa Arafah, yang kesemua itu semakin mengokohkan pendapatku bahwa Al-Qur’an adalah jalan kebenaran.

Sampai situ Batina menghentikan kisahnya lalu dia berkata dalam bahasa Arab yang terpatah-patah, sebuah ungkapan yang menyebabkan banyak yang hadir menangis:

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, Ya Allah aku memohon Engkau, para pemikul arasy-Mu, para malaikat, dan seluruh ciptaan-Mu, bahwasannya Engkau adalah Allah yang tidak ada Tuhan selain Engkau. Aku rela Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul.”

Sumber : Dumu’ an-Nadimat Fi Qishash a-Taibat (Abdul Muthallib bin Hamid Utsman)

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

3 thoughts on “Kisah Seorang Wanita yang Menikah Dua Kali Dalam Semalam

  1. SUBHANALLAH…

    Posted by Abdul Muiz | Senin, Juli 12, 2010, 11:07 am
  2. assalamualaikum:” saya ingin sharing.. saat ini saya dihadapkan dengan kenyataannya, bahwa saya ingin melamar seorang wanita yang beragama kristen. lamaran saya didasari karena ia akan masuk islam demi untuk menikah dengan saya, tapi ia ingin menikah digereja dulu untuk formalitas keluarganya. dan setelah itu dia akan masuk islam. apa yang harus saya lakukan???
    1. untuk bisa meyakinkan dia masuk bukan karna keterpaksaan
    2. saya tidak ingin menikah di gereja dulu baru akad nikah

    mohon masukannya.. trims

    Posted by sakti | Rabu, Februari 16, 2011, 2:17 am
  3. wa’alaykumussalaam warohmatulloh…

    sekedar menasihati..apa yg antum tempuh akan berdampak buruk bagi agama dan pernikahan antum. kenapa?? karena walaupun formalitas saja tapi dalam islam tetap tidak berlaku karena menyangkut aqidah antum..sebaiknya jika wanita tersebut benar2 serius masuk islam harusnya dia masuk islam dulu bukan setelah nikah dan ikhlas karena Alloh bukan karena antum…kemudian mudhorotnya jauh lebih besar karena: pihak keluarga istri belum tahu dan akan berakibat pada pernikahan antum, kemudian antum harus menjalani pernikahan dua kali..karena nikah yg pertama sebelum masuk islam maka sama saja antum tidak terikat perkawainan melainkan bentuk zina..sehingga dalam islam antum harus melakukan akad lagi setelah wanita tersebut masuk islam…
    jadi saran ana: wanita tersebut harus masuk islam dulu..kemudian baru melakukan pernikahan seperti dalam syariat islam..wallaahua’lam..

    Posted by abdul aziz | Kamis, Februari 17, 2011, 2:20 pm

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: