An-Nisaa', Aqidah dan Manhaj, Assunnah, Berita, Iman, Keluarga Bahagia, Kisah, pasutri

Berbagi Suami …


Setelah aku menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi salah seorang kerabatku datang kepadaku. Aku menetap di Riyadh bersama suamiku. Allah menganugerahi kami putri pertama yang kami beri nama Mawaddah. Sejak masih sekolah di SMA aku menjalankan syariat dengan baik serta menghafal beberapa juz Al-Quran.

Setelah aku menetap di Riyadh aku semakin teguh melaksanakan ajaran Islam, karena di kota ini ada beberapa ulama yang menerangkan aqidah yang benar kepada umat Islam, ditambah lagi dengan banyaknya kaset-kaset Islami dan buku-buku bermutu, hal itu didukung pula oleh keamanan dan stabilitas.

Begitu pula suamiku yang menjaga shalatnya dengan baik dan melaksanakannya di masjid. Kami sering duduk bersama untuk menghafalkan Al-Qur’an atau memperbincangkan masalah-masalah agama.

Suatu ketika suamiku pergi ke Filipina untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Pada suatu saat, ketika sedang melaksanakan shalat jum’at di Manila, seusai shalat suamiku turut menyaksikan beberapa orang Filipina yang masuk Islam. Dalam sambutannya, Khatib menyampaikan beberapa hal berkaitan dengan mereka yang baru masuk Islam serta apa yang harus mereka hadapi dengan keislaman mereka, khususnya para muslimah yang sering dipaksa kembali murtad atau dipaksa menikah dengan orang kafir.

Oleh sebab itu, khatib mengumumkan kepada hadirin, khususnya para bujangan, untuk menikahi para muallaf ini. Mereka diminta berkorban untuk menjaga para muallaf yang telah lebih dulu berkorban untuk Islam.

Suamiku menghubungiku dari Manila untuk meminta pertimbanganku bagaimana jika seandainya dia menikahi salah seorang muallaf ini. Spontan aku langsung memintanya untuk memilih salah satu dari mereka. Aku siap berkorban dan hidup bersama maduku di Riyadh.

Benar. Suamiku pulang bersama istri barunya. Kami duduk bersama-sama di satu rumah, aku menyambutnya. Kami bersama-sama pergi ke Mekah Al-Mukarramah untuk melaksanakan Umrah di bulan Ramadhan dan dilanjutkan dengan ziarah ke Madinah. Akupun mengajari maduku bahasa Arab dan ajaran Islam. Di bawah satu atap kami hidup bahagia, aku bahkan mengajarinya segala hal sampai tentang bagaimana cara memasak makanan Arab.

Seperti itulah pengorbananku untuk Islam dengan harapan semoga Allah menjadikan apa yang kulakukan sebagai tabungan amalku di hari  ketika harta dan anak-anak tak lagi berguna kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang suci.

Aku pulang ke negeriku bersama  maduku. Keluargaku bertanya kepadaku bagaimana aku dapat membagi suamiku bersama orang lain? Aku menjawab, “Segalanya mudah selama dia berada di jalan Allah.” Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam, sungguh aku mengerjakan semua ini dengan hati yang tenang. Semoga Allah melimpahkan pahala kepada kami sampai maut menjemput.

Umm Mawaddah yang tinggal di Riyadh mengisahkan.

Iklan

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

5 thoughts on “Berbagi Suami …

  1. salam ziarah..teruskan perjuangan..jemput http://temanmuslimah.blogspot.com

    Posted by sahabat muslimah | Jumat, Januari 8, 2010, 6:12 pm
  2. semga alloh melimphkn surga kpda istri perma ats ksbrnya amin3x

    Posted by shifaa | Senin, Januari 11, 2010, 8:19 pm
  3. subhanallah..
    like thiz dul.. ^^v

    Posted by ÙüÐ | Rabu, Januari 13, 2010, 12:51 pm
  4. Subhanallah….
    Terharu membacanya, barokallahu fiihim.
    Ini kisah nyata, pak ?

    Ummu Harun di Cikarang

    Posted by Admin Blog Sunniy Salafy | Kamis, Maret 11, 2010, 12:44 pm
  5. semua yang ana tulis di blog adalah kisah nyata..bukankah ada dalil yang melarang untuk menyampaikan berita bohong..jazakumullah khoir atas kunjungannya..

    Posted by abdul aziz | Kamis, Maret 11, 2010, 6:08 pm

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: