An-Nisaa', Halal dan Haram, remaja, Tazkiyatun Nufus

Saudariku… Siapa Sajakah Mahrommu?


Sebagaimana banyak yang salah kaprah menyebut mahrom dengan muhrim, banyak juga yang salah kaprah memahami masalah besar ini, sehingga salah kaprah pula dalam menerapkan hukumnya. Banyak yang menganggap bahwa setiap kerabat adalah mahrom, seperti saudara ipar, istri paman, suami bibi, saudara sepupu; padahal sebenarnya bukan. Lalu, siapakah mahrom itu sesungguhnya?

Pengertian Mahrom

Berkata Imam Ibnu Qudamah: “Mahrom adalah semua orang yang haram dinikahi selama-lamanya karena sebab nasab, persusuan, dan pernikahan.” (Al-Mughni 6/555)

Berkata Imam Ibnu Atsir: “Mahrom adalah orang-orang yang haram dinikahi selama-lamanya, seperti bapak, anak, saudara, paman, dan lain-lain.” (An-Nihayah 1/373)

Hal ini karena orang yang haram dinikahi itu ada dua macam: Pertama, haram dinikahi selamanya, dan inilah yang disebut dengan mahrom; Kedua, haram dinikahi untuk sementara waktu, dan ini bukan mahrom. Dari pengertian ini, maka mahrom terbagi menjadi tiga macam:

Mahrom Karena Nasab (Keluarga)

Mahrom dari nasab adalah yang disebutkan oleh Alloh Ta’ala dalam surat an-Nur ayat 31:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa Nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putera-putera mereka atau putera-putera suami mereka atau saudara-saudara laki-laki mereka atau putera-putera saudara laki-laki mereka atau putera-putera saudara perempuan mereka…”

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa sesungguhnya lelaki yang merupakan mahrom bagi wanita adalah yang disebutkan dalam ayat ini. Mereka adalah:

  1. Bapak. Bapak adalah laki-laki yang menjadi sebab seseorang terlahir kedua secara syar’I, baik secara langsung maupun tidak. Oleh karena itu, termasuk dalam kategori bapak yang merupakan mahrom bagi wanita adalah kakek, baik kakek dari ajlur bapak maupun dari jalur ibu. Juga bapak-bapak mereka ke atas. Dan yang juga jelas tidak masuk dalam mahrom adalah bapak asuh, bapak guru dan yang semisalnya. Adapun bapak tiri, bapak persusuan dan bapak mertua, akan dibahas pada babnya insyaAlloh.
  2. Anak laki-laki. Maknanya, setiap laki-laki yang terlahir disebabkan oleh seorang wanita, baik secara langsung maupun tidak. Karenanya, termasuk dalam kategori anak laki-laki bagi wanita adalah cucu laki-laki, baik cucu dari anak laki-laki maupun anak perempuan dan keturunan mereka. Adapun anak angkat, maka dia tidak termasuk mahrom berdasar pada keterangan di atas. Begitu pula dengan anak asuh, anak buah dan yang semisalnya. Adapun tentang anak tiri, anak sepersusuan dan anak menantu laki-laki akan dibahas pada babnya.
  3. Saudara laki-laki, baik saudara laki-laki kandung maupun saudara sebapak atu seibu saja.
  4. Anak laki-laki saudara (keponakan), baik keponakan dari saudara laki-laki maupun saudara perempuan dan anak keturunan mereka, baik dari jalur laki-laki maupun wanita. (Tafsir Qurthubi 12/232-233
  5. Paman. Menurut jumhur ulama, paman adalh mahrom seorang wanita. Paman yang dimaksud di sini adalah saudara laki-laki bapak atau saudara laki-laki ibu, saudara laki-laki kakek atau nenek baik dari jalur bapak maupun ibu, demikian seterusnya ke atas.

Tidak disebutkan paman termasuk mahrom dalam QS. an-Nur ayat 31 dikarenakan kedudukan paman sama seperti orang tua. Bahkan kadang-kadang paman juga disebut sebagai bapak, sebagaimana di dalam firman Alloh Ta’ala dalam surat al-Baqoroh ayat 133, di mana dalam ayat tersebut Alloh menyebut Ismail sebagai bapak bagi keponakan-keponakannya. (alMufashshol fi Ahkamil Mar’ah 3/159)

Ada sebuah masalah yang perlu dipertegas tentang masalah paman. Bahwa saudara laki-laki kakek itu dalam istilah syar’i adalah paman (meskipun di Indonesia biasanya dipanggil dengan sebutan kakek juga). Begitu pula dengan saudara laki-laki bapaknya kakek. Oleh karena itu, anak laki-laki saudara kakek adalah anak paman (saudara sepupu) yang bukan teramsuk mahrom.

Mahrom Karena Persusuan

Persusuan adalah masuknya air susu seorang wanita kepada anak kecil dengan syarat-syarat tertentu. Dalil tentang hubungan mahrom sebab hubungan persusuan adalah firman Alloh Ta’ala tentang wanita-wanita yang haram dinikahi:

“…Juga ibu-ibu yang menyusui kalian serta saudara-saudara kalian dari persusuan…” (QS. an-Nisa’: 23)

Dan hadits dari Abdullah Ibnu Abbas berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Apa-apa yang diharamkan sebab nasab diharamkan pula sebab persusuan. (HR. al-Bukhari 3/222/2645, Muslim 2/1068/1447, Abu Dawud 1/474, Nasa’I 6/82, Darimi 2/156, Ahmad 1/27)

Dan riwayat dari Aisyah berkata: “Sesungguhnya Aflah, saudara laki-laki Abi Qu’ais, meminta izin untuk menemuiku setelah turun ayat hijab, maka saya berkata: ‘Demi Alloh, saya tidak akan member izin kepadamu sebelum saya minta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena yang menyusuiku bukan saudara Abi Qu’ais, tetapi istrinya.’ Maka tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, saya berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya lelaki tersebut bukanlah yang menyusuiku, tetapi yang menyusuiku adalah istrinya.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Izinkan baginya, karena dia adalah pamanmu.’” (HR al-Bukhari 4796 dan Muslim 1445)

Sedangkan persususan yang menyebabkan seseorang menjadi mahrom adalah lima kali persusuan. Ini adalah pendapat yang rojih (kuat) di antara seluruh pendapat para ulama. Hal ini berdasar pada hadits dari Aisyah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  berkata:

“Termasuk yang diturunkan dalam al-Qur’an adalah bahwa sepuluh kali persusuan dapat mengharamkan (pernikahan), kemudian dihapus menjadi lima kali persusuan.” (HR.Muslim 2/1075/1452, Malik 2/608/17, Abu Dawud 2/551/2062, Turmudzi 3/456/1150 dan lainnya)

Berdasarkan ayat dan hadits di atas, maka kita ketahui bahwa mahrom dari sebab persusuan sebagaimana mahrom dari sebab nasab, yaitu:

  1. Bapak persusuan (suami ibu susu). Dan teramsuk mahrom juga adalah kakek persusuan, yaitu bapak dari bapak atau ibu persusuan, juga bapak-bapak mereka ke atas.
  2. Anak laki-laki yang disusui. Teramsuk anak susu adalah cucu dari anak susu, baik laki-laki maupun perempuan. Juga anak keturunan mereka.
  3. Saudara laki-laki sepersusuan. Baik dia saudara susu kandung, sebapak maupun Cuma seibu.
  4. Keponakan dari persusuan (anak saudara persusuan). Baik anak saudara persusuan laki-laki maupun perempuan, juga keturunan mereka.
  5. Paman dari persusuan (saudara laki-laki bapak atau ibu susu).

Mahrom karena Mushoharoh (Pernikahan)

Dalil mahrom sebab mushoharoh di antaranya ialah firman Alloh Ta’ala:

“… Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka…” (QS. an-Nur:31)

Juga firman Alloh Ta’ala:

“(Diharamkan atas kamu (mengawini)…, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, dan istri-istri anak kandungmu (menantu)…” (QS. an-Nisa’:23 lihat juga an-Nisa’:22)

Berdasarkan ayat-ayat dan keterangan di atas, dapat kita ketahui bahwa orang-orang yang haram dinikahi selama-lamanya sebab mushoharoh ada empat, yaitu:

  1. Ayah suami (bapak mertua). Mencakup ayah suami atau bapak dari ayah dan ibu suami juga bapak-bapak mereka ke atas.
  2. Anak suami dari istri lain (anak tiri). Termasuk anak tiri adalah cucu tiri, baik cucu dari anak tiri laki-laki maupun perempuan, begitu juga keturunan mereka. Maka haram bagi seorang wanita menikah dengan anak tirinya, begitu juga sebaliknya. Berkata Imam Ibnu Katsir saat menafsirkan firman Alloh “Janganlah kalian menikah dengan wanita-wannita yang (pernah) dinikahi oleh bapak-bapak kalian.” (QS. an-Nisa’:22): Alloh Ta’ala mengharamkan menikah dengan istri-istri bapak (ibu tiri) demi menghormati mereka, dengan sekadar terjadi akad nikah baik terjadi jima’ ataupun tidak, dan masalah ini telah disepakati oleh para ulama.
  3. Ayah tiri (suami ibu si wanita tapi bukan anak kandungnya). Maka haram bagi seorang wanita dinikahi oleh ayah tirinya, kalau sudah berjima’ dengan ibunya. Adapun kalau belum, maka hal itu dibolehkan. Berkata Abdulloh Ibnu Abbas: “Seluruh wanita yang pernah dinikahi oleh bapak maupun anakmu, maka dia haram bagimu.”
  4. Suami putri kandung (menantu laki-laki). Dan kemahroman ini terjadi sekadar putrinya diakad-nikahkan dengan suaminya.

Bagaimana dengan suami? Mahrom ataukah bukan mahrom? Suami bukan termasuk mahrom, karena pengertian mahrom adalah orang yang haram dinikahi. Hanya saja boleh bagi wanita untuk menampakkan auratnya pada suaminya, bahkan menampakkan sesuatu yang tidak boleh dinampakkan pada mahromnya sekalipun.

Berkata Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan firman Alloh Ta’ala surat an-Nur ayat 31: “Adapun suami, maka semua ini (bolehnya menampakkan perhiasan, perintah menundukkan pandangan dari orang lain) memang disyari’atkan baginya. Maka seorang istri boleh berbuat untuk suaminya sesuatu yang tidak dilakukan di hadapan orang lain.”

Wallohu a’lam.

Ust. Ahmad Sabiq Abu Yusuf (Majalah Al-Mawaddah vol.28)

Blog Advertising

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: