Halal dan Haram, remaja

Wanita Saudara Kandung Laki-Laki, Tapi Bukan Laki-Laki


Wanita adalah saudara kandung laki-laki. Begitulah makna sebuah firman Alloh dan sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya wanita itu saudara kandung laki-laki.” (HR.Abu Dawud 204)

Maknanya, secara umum wanita itu sama dengan laki-laki, baik dalam akidah, ibadah, hokum, maupun lainnya. Oleh karena itu, secara umum laki-laki dan wanita mendapat perintah , larangan, pahala bagi yang taat dan dosa bagi yang maksiat dengan kadar yang sama. Perhatikanlah firman Alloh Ta’ala:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal sholih, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga, dan mereka tidak dianiaya walaupun sedikit.” (QS. an-Nisa’:124)

Bahkan dalam Al Ahzab: 35 malah sangat tegas, Alloh menyebutkan wanita dalam pahal kebajikan. Wanita pun secara umum tercakup semua firman Alloh yang tertuju kepada manusia dan orang yang beriman. Misalnya firman Alloh Ta’ala:

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)

Juga firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kalian pada Alloh dan Rasul-Nya.” (QS. an-Nisa’:136)

Namun, harus dipahami bahwa bagaimanapun juga wanita bukan laki-laki.

Wanita Bukan Laki-Laki

Perhatikan firman Alloh:

Dan laki-laki itu tidaklah seperti perempuan.” (QS. Ali Imron: 36)

Hal ini diketahui oleh siapapun yang masih mempunyai akal dan perasaan. Secara fisik, jiwa, akal, perasaan, dan kejiwaan; semuanya ada sisi-sisi perbedaan antara laki-laki dan wanita. Oleh karena itu, di antara keadilan Alloh adalah membedakan antara keduanya dalam beberapa hal.

Konsekuensi Perbedaan

Adanya beberapa perbedaan syari’at ini menunjukkan pada beberapa hal, di antaranya:

  1. Harus beriman dan menrima adanya perbedaan antara laki-laki dan wanita, baik secara fisik, psikologis, maupun syar’i. Dan hendaklah masing-masing ridho dengan apa yang telah ditentukan oleh Alloh padanya dan harus meyakini bahwa adanya perbedaan ini adalah salah satu bukti akan keadilan Alloh Ta’ala demi tetap berlangsungnya kehidupan umat manusia.
  2. Tidak boleh bagi laki-laki maupun wanita untuk menginginkan sesuatu yang dikhususkan oleh Alloh untuk lawan jenisnya, karena itu merupakan bentuk kebencian terhadap takdir, hokum, dan ketentuan Alloh. Oleh karena itulah Alloh berfirman:

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Alloh kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanitapun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Alloh sebagian dari karunia-Nya.” (QS. an-Nisa:32)

Imam Ibnu Jarir ath-Thobari menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Mujahid berkata: Berkata Ummu Salamah: “Wahai Rasululloh, kenapakah laki-laki ikut perang di jalan Alloh sedangkan kami kaum wanita tidak boleh ikut perang? Dan kenapa kami cuma mendapatkan separuh harta warisan? Maka turunlah ayat di atas.”

  1. Kalau sekadar menginginkan kelebihan jenis lainnya saja sudah dilarang oleh Alloh, lalu bagaimanakah dengan orang yang jelas-jelas mengingkari adanya perbedaan hokum antara laki-laki dan wanita? Yang mana kemudian mereka menyerukan persamaan derajat antara laki-laki dengan wanita dalam semua sisi kehidupan dengan slogan emansipasi, persamaan gender, dan lainnya?! Tak diragukan lagi bahwa ini adalah sebuah pemikiran orang-orang akfir yang merasuk pada sebagian tubuh uamt Islam, karena hal ini jelas menentang sunnatulloh dan menentang hokum syar’I dari Alloh dan Rasul-Nya.

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata: “Seandainya antara laki-laki dengan wanita disamakan dalam semua hokum, padahal jelas adanya perbedaan fisik dan psikologis pada keduanya, maka ini akan membuat semakin kacau dan merupakan sebuah kezholiman bagi keduanya, bahkan juga merupakan sebuah kezholiman bagi kehidupan umat manusia secara umum, karena akan mengurangi kemampuan orang yang lebih berhak dan membebani orang yang kurang mampu di luar kemampuannya. Dan ini semua mustahil akan terjadi pada syari’at Alloh yang mempunyai hikmah tak terbatas. Dari sinilah maka wanita dalam hukum Islam dilindungi sebagai seorang ibu yang mengurusi kehidupan rumah tangganya serta mendidik generasi masa datang.

Bagaimana Seharusnya Kita Bersikap?

Syaikh Mushthofa al-Adawi saat menyebutkan hadits:…, beliau berkata: “Jelaslah sekarang bahwa sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya wanita itu saudara kandung laki-laki.’ mempunyai sebab terjadinya, yaitu seorang wanita mimpi basah seperti laki-laki. Dan hadits ini berlaku untuk semua masalah yang tidak ada perbedaan antara laki-laki dengan wanita. Adapun masalah-masalah yang telah ada nash (dalilnya) tentang perbedaan wanita dengan laki-laki, maka kita harus menetapkan bagiannya masing-masing. Sebagai contoh mudah, tidak boleh seseorang mengatakan bahwa persaksian wanita sama dengan persaksian laki-laki hanya berlandaskan hadits ini, sebab ini adalah pendapat yang mungkar dan kedustaan. Tidak boleh juga mengatakan bahwa wanita mempunyai hak memimpin rumah tangga seperti halnya laki-laki, sebab ini adalah kedustaan dan kekurang-ajaran, karena Alloh Ta’ala berfirman:

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. an-Nisa’: 34)

Begitu pula jangan sampai ada yang berkata bahwa sholat Jum’at hukumnya wajib atas wanita seperti laki-laki, sebab ini adalah sebuah pendapat yang sangat jelas kesalahannya. Juga jangan sampai ada yang mengatakan bahwa wanita itu mewarisi seperti bagian warisan laki-laki, sebab ini juga pendapat yang sangat ‘ngawur’.

Dan ini semua butuh ilmu. Maka berbahagialah wanita yang diberi taufik oleh Alloh untuk menuntut ilmu, memahami, lalu mengamalkannya. Wallohu a’lam.

Ust. Ahmad Sabiq Abu Yusuf (Majalah Al-Mawaddah vol. 30)

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: