Aqidah dan Manhaj, Assunnah, Fatwa Ulama

Untuknya, kukirim al-Fatihah


Pada suatu acara, seorang tokoh dengan serius mengatakan: “Sebelum acara ini kita mulai, marilah kita membukanya dengan bacaan al-Fatihah..” Serempak, para hadirin pun tunduk dan khusyuk membacanya bersama-sama.

Di penghujung acara, seorang tokoh diminta menutup acara dengan do’a, maka dia pun menghadiahkan doanya untuk para wali yang telah meninggal dunia, lalu mengatakan: “Al-Fatihah ala hadhroti syaikhina wa waliyyina..”

Kasus-kasus serupa mungkin sering kita jumpai di masyarakat. Namun, pernahkah kita berfikir bahwa semua itu adalah tata cara beragama yang tidak ada contohnya dan diingkari oleh para ulama?!

Teks Hadits

“Al-Fatihah itu sesuai untuk apa yang dibaca.”

TIDAK ADA ASALNYA. Yakni dengan lafadz ini, demikian juga kebanyakan keutamaan-keutamaan surat yang disebutkan oleh sebagian ahli tafsir. Demikian dikatakan oleh Syaikh Ali al-Qori.

Jadi hadits dengan lafadz ini tidak ada asalnya dalam kitab-kitab hadits. Cukuplah keutamaan-keutamaan surat al-Fatihah yang shohih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah sabda beliau:

“Tidak ada sholat bagi orang yang tidak membaca induk al-Qur’an (al-Fatihah).” (Mutawatir. Sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Bukhori dalam juz’ul Qiro’ah hlm. 4 dan al-Kattani dalam Nadhmul Mutanasir hlm. 103)

Mengkritisi Matan

Hadits ini dijadikan dasar oleh sebagian kalangan untuk memulai segala hajat dengan membaca: “Al-Fatihah…”

Oleh karena itulah, Syaikh Ali al-Qori berkata: “Hadits ini merupakan landasan amalan manusia yang sudah menjadi adat yaitu membaca al-Fatihah untuk mendapatkan kebutuhan mereka.” Namun hal ini belum cukup untuk sebagai dasar karena harus diteliti terlebih dahulu derajat hadits tersebut. Dan ternyata telah terbukti bahwa hadits tersebut adalah tidak ada asalnya sehingga tidak bisa dijadikan dasar dalam agama.

Syaikh Ibnu Utsaimin juga berkata setelah menjelaskan keutamaan-keutamaan surat al-Fatihah yang shohih: “Dinamakan al-Fatihah (pembuka) karena surat ini adalah pembuka dalam mushaf al-Qur’an dan bacaan pembuka dalam sholat, namun bukan berarti segala sesuatu dibuka dengan bacaan al-Fatihah.

Sebagian manusia pada zaman sekarang telah membuat suatu hal yang baru dalam agama tentang surat ini, mereka menutup do’a dengannya dan memulai khutbah serta acara dengan mengatakan “al-Fatihah”!! Maka ini adalah suatu kesalahan sebab agama itu dibangun di atas dalil dan ittiba’ (mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Syaikh Amr bin Abdul Mun’im tatkala menyebutkan bid’ah-bid’ah seputar al-Qur’an yakni bacaan al-Fatihah ketika akad nikah atua pembukaan acara dan sebagainya, katanya: “bid’ah ini begitu meyebar sekali sehingga masuk ke setiap negeri Islam, bahkan ada yang berkeyakinan bahwa akad-akad ini tidak akan mendapatkan berkah bila tidak dibuka dahulu dengan al-Fatihah, padahal semua itu tidak ada asalnya dalam syari’at. Tetapi yang disyari’atkan adalah membuka dengan khutbah hajah.”

Kirim Pahala Bacaan Al-Fatihah

Menghadiahkan bacaan al-Qur’an untuk yang sudah meninggal dunia tidak pernah dinukil dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan juga tidak seorang pun dari imam kaum muslimin. Seandainya hal itu baik, tentu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat adalah orang yang terdepan mengamalkannya.

Banyak para ulama yang menegaskan bid’ahnya budaya kirim al-Fatihah kepada ruh fulan dan sebagainya. Berikut beberapa nukilan, di antaranya:

  1. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani berkata: “Do’a ini dibuat-buat, tidak ada asalnya dalam sunnah.”
  2. Al-Hafizh as-Sakhowi berkata: “Saya ditanya tentang kebiasaan manusia usai sholat. Mereka membaca al-Fatihah dan menghadiahkannya kepada kaum muslimin yang hidup dan yang mati, maka saya menjawab: “Cara seperti ini tidak ada contohnya, bahkan ini termasuk kebid’ahan dalam agama.”
  3. Ad-Dirdir berkata: “Sebagian imam kami (mazhab Malikiyyah) menegaskan bahwa membaca al-Fatihah dan menghadiahkannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumnya dibenci. Ibnu Hajar mengatakan: “Ini adalah do’a yang dibuat-buat oleh para pembaca al-Qur’an belakangan dan saya tidak mengetahui salaf yang mendahului mereka.”
  4. Syaikh Muhammad Rosyid Ridho berkata: “Ketahuilah bahwa apa yang popular di kampong dan kota berupa bacaan al-Fatihah untuk orang-orang yang sudah meninggal dunia tidak ada haditsnya yang shohih maupun yang dhoif. Bahkan hal itu termasuk kebid’ahan yang sesat berdasarkan dalil-dalil yang telah lalu. Hanya saja karena orang-orang yang dianggap alim diam maka seakan-akan menjadi perkara yang sunnah maukkad bahkan wajib.”
  5. Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Adapun menghadiahkan al-Fatihah atua selainnya kepada orang-orang yang mati maka tidak ada dalilnya. Hendaknya hal itu ditinggalkan karena tidak dinukil dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Namun disyari’atkan berdo’a, shodaqoh, haji, umroh, membayar hutang dan sebagainya bagi yang telah meninggal yang telah jelas dalilnya bahwa hal itu bermanfaat bagi mayit.”

Sampaikah Kiriman Pahalanya?

Masalah ini diperselisihkan oleh ulama. Namun pendapat yang kuat dalam masalah ini bahwa pahala kiriman tersebut tidak sampai, sebab tidak ada dalil yang mengatakan sampainya. Karena ibadah itu dibangun di atas dalil, bukan logika dan analogi. Ini merupakan mazhab Syafi’i. Imam Ibnu Katsir berkata ketika menjelaskan surat an-Najm ayat 38:

“(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,” (QS. an-Najm:38)

“Yakni sebagaimana dia tidak memikul dosa orang lain, dia juga tidak mendapatkan pahala kecuali apa yang dia usahakan sendiri. Dari ayat inilah Imam Syafi’I dan para pengikutnya beristinbath (mengambil hukum) bahwa pahala hadiah bacaan al-Qur’an tidak sampai kepada si mayit, karena hal itu bukan dari amalan dan usahanya. Oleh karena itu Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencontohkan kepada umatnya, dan tidak menganjurkan serta menyuruh umatnya baik secara nash (dalil yang jelas) maupun secara isyarat. Perbuatan ini juga tidak dinukil dari seorang sahabat pun. Seandainya perbuatan itu baik, tentu mereka adalah orang yang terdepan mempraktekkannya. Masalah ibadah hanyalah berdasar pada dalil, bukan akal pikiran dan pendapat manusia. Adapun do’a dan sedekah maka hal itu menjadi kesepakatan akan sampainya pahala tersebut kepada mereka.”

Jangan Salah Sangka

Perlu kami tegaskan di sini bahwa tulisan ini bukan bermaksud melarang membaca surat al-Fatihah atau merendahkan al-Qur’an. Demi Alloh, bukan demikian maksudnya, tetapi tujuan kami hanyalah ingin meluruskan hal-hal yang tidak ada ajarannya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga ibadah kita sesuai dengan tuntunan beliau.

Maka janganlah engkau tertipu dengan silat lidah ahli bid’ah yang menudh ahli sunnah tatkala mengingkari ritual seperti ini dengan ucapan mereka: “Mereka adalah Wahhabi!! Melarang dari dzikir dan membaca al-Qur’an! Tidak suka bacaan al-Qur’an dan sholawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam!!”

Dari Said bin Musayyib, ia melihat seorang laki-laki menunaikan sholat setelah fajar lebih dari dua rokaat. Ia memanjangkan ruku dan sujudnya. akhirnya Said bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata: “Wahai Abu Muhammad, apakah Alloh akan menyiksaku dengan sebab sholat?“ Beliau menjawab: “Tidak, tetapi Alloh akan menyiksamu karena meyelisihi as-Sunnah.”

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani mengomentari atsar ini: “Ini adalah jawaban Said bin Musayyib yang sangat indah. Dan merupakan senjata pamungkas terhadap para ahlu bid’ah yang menganggap baik kebanyakan bid’ah dengan alas an dzikir dan sholat, kemudian membantai ahlus sunnah dan menuduh bahwa mereka (Ahlus Sunnah) mengingkari dzikir dan sholat! Padahal sebenarnya yang mereka ingkari adalah penyelewengan ahlu bid’ah dari tuntunan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dzikir, sholat, dan lain-lain.”

Demikianlah penjelasan singkat masalah ini. Semoga bermanfaat. Amin.

Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi (Majalah Al-Furqon vol. 102)

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

One thought on “Untuknya, kukirim al-Fatihah

  1. Bid’ah dalam fiqih tdk selalu bersifat sesat, atau syirik. Ada dua, yg prtama yg sesat, dan yg kedua yakni yg tdk dilarang meskipun tdk prnah dianjurkan scara jelas. Adapun memberikan doa/hadiah atau menyertakan bacaan surat al-fatihah dlm mendoakan sesuatu/seseorang baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain merupakan bid’ah yang tidak sesat, dan jelas tidak ada unsur syirik didalamnya. Demikian penjelasannya.

    Posted by faruk | Kamis, Juni 21, 2012, 9:11 pm

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: