Adab, Akhlak,dan Nasihat, birrul walidain, Kisah, remaja, Tazkiyatun Nufus

Lari Dari Kenikmatan Surga


Banyak tokoh utama yang terkait dengan kisah ini menjauhkan diri dari kenikmatan surga. Sebuah kejadian yang tidak terbayangkan dalam benakku seandainya saya tidak melihat atau mendengarnya secara langsung.

Mereka adalah orang-orang yang melarikan diri dari tanggung jawab dan meninggalkan ayah atau ibu mereka di rumah sakit saat waktunya mereka dijemput pulang dari rumah sakit. Dengan begitu sebenarnya mereka tidak hanya meninggalkan orang tua mereka akan tetapi mereka telah melarikan diri dan menjauhi surga. Dan faktanya kisah seperti ini banyak sekali terjadi.

***

Ini adalah kisah tentang seorang kakek yang berusia Sembilan puluh enam tahun, ia saya beri rekomendasi untuk keluar dari rumah sakit setelah menjalani pengobatan. Akan tetapi sampai tiga hari setelah saya sampaikan rekomendasi tersebut, tidak ada satu orangpun yang menjemputnya keluar dari rumah sakit karena orang terdekatnya tidak ingin membawanya ke rumah, ia beralasan bahwa pada minggu-minggu pertama setelah keluar rumah sakit kakek itu memerlukan perhatian khusus, di samping itu pasti akan banyak orang yang membesuknya, hal itu tentunya hanya akan menambah beban saja, demikianlah apa yang disampaikan oleh salah satu anak dari orang tua tersebut kepada saya.

Anak itu berkata, “Istriku tidak mau menerimanya, ia berkata kepadaku, ‘Saya tidak mau menjemput ayahmu dari rumah sakit, karena akan banyak orang yang datang ke sini dan tentunya ayahmu akan memerlukan perhatian khusus, biarlah saudaramu yang menjemputnya atau mengambilnya dari rumah sakit.”

Saya –dr. Al-Jubair- katakan kepadanya, “Tetapi tidak ada satupun yang menjemputnya?” Ia segera menyahut, “Mungkin istrinya juga mengatakan seperti apa yang dikatakan istriku kepadaku.”

Saya berkata, “Bagaimana mungkin engkau menuruti kemauan istrimu dalam masalah seperti ini?” Ia menjawab, “Dokter, aku tidak ingin pusing menghadapi istriku.”

Akhirnya datanglah salah satu anak orang tua tersebut yang belum menikah untuk menjemputnya keluar dari rumah sakit.

***

Kisah selanjutnya tentang seorang wanita berusia delapan puluh tahun yang telah menjalani operasi penambalan pembuluh nadi tanpa ditemani oleh seorang pun.

Saya bertanya kepadanya, “Apakah anda mempunyai anak?” Ia menjawab, “Ya, saya mempunyai empat orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan, satu anak laki-laki di Amerika, dua orang di al-Qashim dan satu lagi di daerah selatan.” Saya bertanya, “Sedangkan anak-anak perempuanmu ada di mana?” Ia menjawab, “Dua orang di al-Qashim, satu orang di Riyadh sedangkan yang terakhir berada di Tabuk.”

Saya berkata, “Saat ini engkau membutuhkan seseorang untuk membantumu?” Ia menjawab, “Anak-anakku sangat sibuk, cukuplah Alloh Ta’ala yang membantuku.”

Aku menginstruksikan kepada seorang perawat, jika datang salah seorang dari anak-anak ibu ini, agar memintanya tinggal di rumah sakit menemani ibunya. Akan tetapi sudah empat hari ibu ini berada di rumah sakit, tidak seorang pun dari kerabatnya menjenguk atau menemaninya.

Kemudian pada hari Kamis tepatnya waktu Ashar, saya datang untuk memeriksa ibu tersebut, di sana saya mendapati salah seorang anaknya yang baru saja datang pada hari itu dari al-Qashim. Saya memohon dengan sangat agar ada satu orang yang menemani ibunya.

Setelah saya mohon dengan sangat, tahukah anda, siapa yang menemaninya? Apakah salah satu dari anak perempuannya? Ataukah salah satu menantu perempuannya? Ataukah salah satu cucu perempuannya? Tidak, ternyata yang menemaninya adalah pembantu perempuannya, ya… pembantu perempuan yang sama sekali tidak bisa bahasa Arab, dengan begitu mereka merasa telah menunaikan kewajibannya dalam berbakti kepada orang tua.

***

Kisah selanjutnya tentang seorang ibu yang dirawat di rumah sakit dan ditemani oleh anak perempuannya.

Anak perempuan ini tidak sabar lagi untuk segera membawa ibunya keluar dari rumah sakit, saat saya katakan kepadanya, “Ibumu baru empat hari yang lalu menjalani operasi dan ia sudah sangat tua.” Segera ia menyahut, “Dokter, aku ingin segera berkumpul dengan suami dan anak-anakku.”

Saya katakan kepadanya, “Temuilah suamimu, akan tetapi biarkanlah ibumu di sini.” Ia menjawab, “Tidak bisa, apa yang akan dikatakan orang-orang nanti, mungkin mereka akan mengatakan, ‘Engkau meninggalkan ibumu di rumah sakit untuk pulang menemui suamimu?’

Saya katakan kepadanya, “Saudariku, anda hanya memikirkan kepentinganmu sendiri dan tidak memikirkan kebutuhan ibumu, apapun keputusannya, yang penting anda bisa pulang ke rumah, soal apakah ibumu nyaman atau tidak, sembuh atau tidak, anda tidak memusingkannya, anda hanya memikirkan dirimu sendiri dan tidak mau tahu soal kesembuhan ibumu! Sungguh anda telah menzhalimi diri anda sendiri juga ibumu. Takutlah anda kepada Allah Ta’ala.”

Kisah orang-orang yang menjauhkan dirinya dari surga, mendurhakai orang tuanya sangatlah banyak, mungkin anda akan mendapati kebanyakan orang-orang tua yang sedang terbaring di rumah sakit ditemani oleh pembantu atau sopir. Naudzu billah min dzalik.

***

Kesaksian Seorang Dokter (dr. Khalid bin Abdul Aziz Al-Jubair, SpJp)

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

One thought on “Lari Dari Kenikmatan Surga

  1. semoga tidak terjadi sama kita salam kenal… http://kolomkiri.wordpress.com

    Posted by kolomkiri | Sabtu, Mei 29, 2010, 7:32 pm

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: