Keluarga Bahagia, pasutri, rumah tangga, Taman Orang Jatuh Cinta

Mengayuh Biduk Bag 2 (Lamanya Meninggalkan Istri)


Amat panjangnya malam ini dan tertutup sisinya

Ia menaruh belas kasihan kepadaku karena tidak ada Image and video hosting by TinyPicteman berbaring yang kudapat bersenda gurau dengannya

Aku bersenda gurau dengannya setingkat demi setingkat

Seakan-akan bulan yang memunculkan alisnya dalam kegelapan malam

Orang yang bermain dengannya dibuat senang karena berdekatan dengannya

Lunak pangkuannya, tidak dimiliki oleh kerabatnya

Maka demi Allah, seandainya bukan karena Allah, aku tidak peduli dengan selain-Nya

*****

Berapa Lama Seorang Suami Diperkenankan Meninggalkan Istrinya?

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Batasan yang ditetapkan secara syar’i tentang perginya suami meninggalkan istrinya adalah selama empat bulan, tidak boleh lebih. Kecuali bila si istri ridha, dengan catatan aman dari fitnah baik bagi si istri maupun bagi si suami. Terkecuali orang yang dipaksa oleh keadaan darurat untuk pergi dalam waktu yang lama, maka ia diberi udzur karenanya.

Dalam masa kepergiannya itu, ketika memungkinkan bagi si suami untuk kembali guna bertemu istrinya, menjaganya dan menunaikan kebutuhannya maka wajib baginya untuk kembali. Khususnya di zaman kita ini, yang banyak terjadi fitnah dan perkara-perkara menipu yang dapat merusak akhlak. Maka tidak sepantasnya suami berjauhan dari istrinya kecuali karena kebutuhan dan karena darurat disertai keinginan yang besar untuk cepat-cepat menyelesaikan keperluan lalu segera kembali kepada istri sesuai kesempatan yang ada.” (Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/248)

Sebagaimana yang kita maklumi, seorang istri tidak hanya berhak mendapatkan nafkah lahir, namun juga nafkah batin. Sehingga seorang suami tidak cukup sekadar mencukupi kebutuhan lahiriah istrinya berupa sandang, pangan, dan papan. Namun juga harus menaruh perhatian terhadap kebutuhan batin istrinya. Bila ia bepergian dalam waktu lama berarti kebutuhan yang satu ini akan terabaikan. Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta`(Komisi Tetap untuk Pembahasan dan Fatwa, Dewan Ulama Besar, KSA) yang saat itu diketuai oleh Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz , ketika ditanya tentang berapa lama seorang istri harus bersabar ditinggalkan suaminya tanpa memperoleh nafkah batin, memberikan jawaban, “Masa yang mungkin bagi seorang istri untuk bersabar dalam masalah jima’ secara umum adalah empat bulan. Empat bulan ini adalah masa yang ditetapkan secara syar’i bagi seorang yang meng-ilaa` istrinya, yaitu suami yang bersumpah tidak akan menggauli istrinya. Waktu empat bulan ini lebih pantas ditetapkan sebagai batasan waktu seorang istri dapat bersabar tidak mendapat nafkah batin dari suaminya. Allah k berfirman:

“Bagi orang-orang (para suami) yang meng-ilaa` istrinya diberi tangguh empat bulan. Kemudian bila mereka kembali kepada istrinya (mau kembali menggauli istrinya) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (Al-Baqarah: 226) [Fatwa no. 606, 19/338, 339]

Diriwayatkan sebuah atsar dari Umar ibnul Khathathab z saat beliau menjadi Amirul Mukminin. Dikisahkan, suatu malam Umar mengelilingi kota Madinah guna memeriksa keadaan rakyatnya. Bertepatan ketika melewati sebuah rumah, Umar mendengar suara seorang wanita yang sedang mendendangkan syair:

Amat panjangnya malam ini dan tertutup sisinya

Ia menaruh belas kasihan kepadaku karena tidak ada teman berbaring yang kudapat bersenda gurau dengannya

Aku bersenda gurau dengannya setingkat demi setingkat

Seakan-akan bulan yang memunculkan alisnya dalam kegelapan malam

Orang yang bermain dengannya dibuat senang karena berdekatan dengannya

Lunak pangkuannya, tidak dimiliki oleh kerabatnya

Maka demi Allah, seandainya bukan karena Allah, aku tidak peduli dengan selain-Nya

Niscaya akan bergerak sisi-sisi tempat tidur ini

Akan tetapi aku takut dengan malaikat yang dekat yang ditugasi mencatat amal diri-diri kita

Pencatat amal itu tidak pernah berhenti mencatat sepanjang masa

Karena takut kepada Rabbku dan juga rasa malu menahanku

Demikian pula karena memuliakan suamiku untuk dicapai martabatnya

Umar pun menanyakan kepada orang-orang tentang siapa wanita tersebut. Dikabarkan kepada Umar, wanita itu adalah Fulanah yang suaminya sedang pergi jauh untuk berperang fi sabilillah. Maka ‘Umar pun mengirim utusan untuk memanggil suami wanita itu agar pulang menjumpai istrinya. Kemudian Umar masuk ke tempat putrinya, Hafshah c untuk bertanya, “Wahai putriku, berapa lama seorang wanita dapat bersabar berpisah dengan suaminya dan tidak bergaul dengan suaminya?”

Hafshah menjawab, “Subhanallah, orang yang semisal ayah bertanya kepadaku tentang perkara seperti ini?”

“Kalaulah bukan karena ingin memerhatikan urusan kaum muslimin, aku tidak akan bertanya kepadamu,” tukas Umar.

“Lima bulan… dan bisa juga enam bulan,” Hafshah menjelaskan.

Setelah mendapatkan keterangan dari putrinya, ‘Umar pun menetapkan waktu peperangan bagi pasukannya selama enam bulan. Dengan perincian mereka berjalan selama sebulan, tinggal di tempat peperangan empat bulan dan berjalan pulang selama sebulan. (Tuhfatul ‘Arus, Al-Istambuli, hal. 200)

Bila ada yang bertanya, apakah dengan meninggalkan istri dalam waktu bertahun-tahun berarti telah jatuh talak kepada si istri, dan ketika suaminya kembali dari bepergiannya tersebut harus menjalin akad nikah yang baru? Maka dijawab oleh Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta’, “Meninggalkan istri dalam waktu sekian lama tersebut tidaklah teranggap jatuh talak kepada si istri, sehingga jelas tidak butuh akad nikah yang baru bila si suami kembali kepada istrinya.” (Fatwa no. 9822, 19/341)

Seorang penanya mengajukan permasalahannya kepada Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, “Saya tinggal di Sudan. Ketika berusia 17 tahun, saya menikahi seorang gadis. Setelah menikahinya saya hanya sempat mendampinginya selama tiga bulan karena saya harus safar ke Libia dalam rangka mencari rizki yang halal. Sekarang telah lewat masa dua tahun, saya belum juga dapat kembali ke negara saya dan kepada istri saya karena tidak punya biaya untuk pulang, karena musibah kecelakaan mobil yang berakibat patahnya tangan saya hingga saya tidak dapat bekerja. Lalu apa jalan keluar terhadap keadaan ini? Apakah saya harus mengirim surat cerai kepada istri saya yang telah saya tinggalkan lebih dari dua tahun dan mungkin akan terus bertambah waktu yang ada disebabkan kecelakaan yang menimpa saya ini? Namun perlu diketahui, istri saya tersebut tinggal bersama ayah dan keluarga saya. Ia tidak mengalami kekurangan sedikitpun dari sisi penghidupan/nafkah. Berilah kami fatwa, jazakumullah khairan!”

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah memberikan jawaban, “Apa yang disebutkan penanya bahwa ia safar meninggalkan istrinya dan ada penghalang yang membuatnya tidak dapat kembali kepada istrinya, lalu apakah ia harus mengirim surat cerai kepada si istri?

Jawabannya: Anda, wahai penanya, diberi udzur dalam apa yang anda sebutkan. Anda tidak harus menceraikan istri anda selama anda punya udzur. Karena anda sebutkan tentang musibah yang menimpa anda dan ketidakmampuan anda untuk melakukan perjalanan/safar. Ini merupakan udzur bagi anda dan tidak ada alasan untuk menggugat anda. Kecuali kalau anda mampu menempuh perjalanan guna bertemu istri anda dan berkumpul kembali dengannya tapi anda tidak mau melakukannya. Bila seperti ini keadaannya, istri anda diberi pilihan; ia mau bersabar menanti anda kembali, ataukah ia menuntut haknya terhadap anda. Karena itu, anda lihat keadaan anda. Jalan keluar itu dekat, Insya Allah, bila niat dan ketetapan hati anda benar. Terlebih lagi ayah anda telah menanggung kebutuhan hidup istri anda. Maka tidak ada alasan bagi anda untuk gundah gulana dan gelisah.” (Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah, hal. 283-283)

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: