About Islam, Berita, da'wah dan tsaqofah, Kisah

Renungan Pak Haji dan Bu Haji Bag 2


Alangkah indahnya jika sepulang haji yang kikir menjadi dermawan, penjahat menjadi penebar salam, bandar judi menjadi ketua majlis ta’lim, dan ribuan bahkan jutaan orang merubah jalan hidupnya bersama-sama satu tujuan menuju Allah Subhanahu Wata’ala. Tak ada lagi pejabat penerima sogok, hakim berat sebelah, pengusaha ataupun pedagang licik, curang dan lain-lain.
Apalah artinya pergi haji jika hanya sekedar untuk menambah gelar namun yang korup tetap korup, yang lintah darat tetap lintah darat, yang bakhil malah makin menjadi-jadi. Padahal perbuatan jahat dan fasik itu harus ditinggalkan kapan saja bukan hanya ketika melakukan haji.

*****

Makna haji yang sebenarnya

Al-Allamah Abu Abdillah Muhammad bin Abdir Rahman Al Bukhari Al Hanafi menjelaskan bahwa haji (al hajj) maknanya adalah bermaksud atau menuju (al qashdu). Niat dan maksud adalah pekerjaan yang paling utama sebab ia hanya dilakukan oleh anggota badan termulia yaitu hati. Karena ibadah haji ini merupakan ibadah yang besar dan sangat utama, juga memuat ketaatan yang sangat berat, maka disebutlah ia al hajj yang berarti al-Qashdu (dinisbatkan kepada amalan hati karena keutamaannya, red). Dan mengenai pentingnya niat dalam haji dan umrah Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman, artinya,“Dan sempurnakanlah haji dan umrah itu karena Allah.” (QS. al-Baqarah: 196).

Oleh karena itu seseorang yang akan pergi haji meskipun pergi menuju baitullah (ka’bah) namun sebenarnya yang jadi tujuan adalah Rabbul Ka’bah Allah Rabb seru sekalian alam. Maka ketika seorang haji tiba di Ka’bah, dan sebelumnya ia tahu bahwa pemilik rumah tersebut tidak ada di sana, berputar-putarlah ia mengelilingi rumah itu yakni thawaf, dan ini merupakan isyarat bahwa ka’bah bukanlah maksud dan tujuan namun Allah Subhanahu Wata’ala pemilik Ka’bahlah tujuannya.

Begitu pula ketika mencium hajar aswad bukanlah bertujuan untuk menyembah batu, tapi semata-mata karena mengikuti sunnah Rasul. Dan inilah yang membedakan antara seorang muslim dan musyrik. Dulu kaum musyrikin menciumnya karena benar-benar menyembahnya, sedang seorang muslim melakukan itu adalah karena mengikuti sunnah.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengibaratkan bahwa mencium hajar aswad seolah-olah ia menjabat atau mencium tangan kanan Allah, sehingga ketika seorang haji menyentuhnya hendaknya tertanam dalam benak bahwa ia sedang berbai’at kepada Allah Subhanahu Wata’ala, pencipta dan pemilik hajar aswad yang telah memerintahkan untuk melakukan itu. Berbai’at disini maknanya berjanji untuk selalu taat dan tunduk kepada Allah Subhanahu Wata’ala, kemudian selalu ingat bahwa jika mengkhianati bai’at tersebut akan berhadapan dengan murkaNya.

Dari sini para ulama menganjurkan bahwa kewajiban pertama bagi calon haji adalah bertaubat, memperbaiki ketakwaan dan inilah sebaik-baik bekal. Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman, artinya, “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. al-Baqarah: 197). Dan tak mungkin seseorang akan membawa bekal takwa ini jika tidak bertaubat dan meninggalkan segala jenis kemaksiatan.

Jika orang yang berhaji telah memahami apa makna dan tujuannya dalam berhaji, maka ketika melantunkan talbiyah akan meresap dalam jiwa bahwa seolah-olah ia sedang meninggalkan segala atribut keduniaan dan menuju Allah seraya mengatakan, “Ya Allah aku datang, aku datang memenuhi panggilanMu, aku berdiri di pintuMu, aku singgah di sisiMu. Aku pegang erat kitabMu, aku junjung tinggi aturanMu, maka selamatkan aku dari adzabMu, kini aku siap menghamba kepadaMu, merendahkan diri dan berkiblat kepadaMu. MilikMu segala ciptaan, bagimu segala aturan dan perundang-undangan, bagiMu seluruh hukum dan hukuman, tiada sekutu bagiMu. Tak peduli aku berpisah dengan sanak keluarga, ku tinggalkan profesi dan pekerjaan, kulepas segala atribut dan jabatan karena tujuanku hanyalah wajah dan keridhaanMu, bukan dunia yang fana bukan nafsu yang serakah maka amankan aku dari adzabMu. “

Setelah Para Haji Pulang

Banyak oleh-oleh yang dibawa pulang oleh para jama’ah haji, namun ada satu oleh-oleh yang sangat besar dan berharga, dan hanya bisa disimpan dalam hati dan dada. Oleh-oleh yang tak akan habis jika dibagi-bagikan kepada orang lain bahkan malah kian bertambah dan semua orang pasti suka untuk menerimanya. Tak lain adalah kebersihan jiwa dan akhlak. Inilah barang termahal yang selayaknya dibawa pulang oleh mereka yang menunaikan haji. Alangkah indahnya jika sepulang haji yang kikir menjadi dermawan, penjahat menjadi penebar salam, bandar judi menjadi ketua majlis ta’lim, dan ribuan bahkan jutaan orang merubah jalan hidupnya bersama-sama satu tujuan menuju Allah Subhanahu Wata’ala. Tak ada lagi pejabat penerima sogok, hakim berat sebelah, pengusaha ataupun pedagang licik, curang dan lain-lain.
Apalah artinya pergi haji jika hanya sekedar untuk menambah gelar namun yang korup tetap korup, yang lintah darat tetap lintah darat, yang bakhil malah makin menjadi-jadi. Padahal perbuatan jahat dan fasik itu harus ditinggalkan kapan saja bukan hanya ketika melakukan haji. Jika seseorang masih sama buruk dan jahatnya antara sebelum dan sesudah haji bahkan malah lebih parah, maka suatu pertanda bahwa kepergiannya ke tanah suci hanyalah sia-sia sebab ia tak mampu mengambil sesuatu yang paling berharga dari perjalanan tersebut.

Sebagai khatimah hendaknya setiap orang yang akan melakukan ibadah haji sadar dan mengetahui bahwa perjalanan yang akan ia tempuh adalah perjalanan ibadah yang agung dan mulia sehingga harta yang digunakan untuk itu adalah dari penghasilan yang baik dan halal. Di samping itu ia harus mempelajari tata cara manasik yang benar, sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian diharapkan haji yang ia lakukan akan menjadi haji yang mabrur yang diterima di sisi Allah Subhanahu Wata’ala bukannya maghrur (tertipu) atau mabur (bahasa Jawa) yang hanya sekedar terbang naik pesawat saja.

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

2 thoughts on “Renungan Pak Haji dan Bu Haji Bag 2

  1. saya hanya blogwalking jika berniat liat blog saya kunjungin balik ya???

    Posted by reza | Jumat, Mei 6, 2011, 6:38 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Business Money and Banking | Business Money and Banking - Senin, Mei 2, 2011

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: