An-Nisaa', Keluarga Bahagia, pasutri, rumah tangga, Taman Orang Jatuh Cinta

Istri yang Membahagiakan Bag 3


Kebahagiaan rumah tangga bergantung kepada perasan istri dalam skala lebih besar daripada  yang  lain,  jika  istri  tidak  bermental  kaya,  maka  dia  akan  selalu  merasa kekurangan,  akibatnya  dia  akan  mengeluh  ke  mana-mana  dengan  kekurangannya. Kurang ini, kurang itu, kurang anu dan seterusnya. Mentalnya adalah mental sengsara, mental  miskin,  minim  syukur,  memposisikan  diri  sebagai  orang  miskin  sehingga seolah-olah dirinya patut diberi zakat.  Padahal seorang wanita bisa saja memiliki segala keutamaan di kolong langit ini

*****

Bermental kaya 

Mental  kaya,  dalam  agama  dikenal  dengan  istilah  qana’ah,  rela  dengan  apa  yang Allah Subhanahu waTa’ala bagi sehingga tidak menengok dan berharap apa yang ada di tangan orang lain.  Kaya  bukan  kaya  dengan  harta  benda,  namun  kaya  adalah  kaya  hati,  artinya  hati merasa cukup. Sebanyak apa pun harta seseorang, kalau belum merasa cukup, maka dia  adalah  fakir.  Kata  fakir  dalam  bahasa  Arab  berarti  memerlukan,  jadi  kalau seseorang masih memerlukan [baca: berharap dan menggantungkan diri] kepada apa yang dimiliki oleh orang lain tanpa berusaha, maka dia adalah fakir alias miskin.

Kebahagiaan rumah tangga bergantung kepada perasan istri dalam skala lebih besar daripada  yang  lain,  jika  istri  tidak  bermental  kaya,  maka  dia  akan  selalu  merasa kekurangan,  akibatnya  dia  akan  mengeluh  ke  mana-mana  dengan  kekurangannya. Kurang ini, kurang itu, kurang anu dan seterusnya. Mentalnya adalah mental sengsara, mental  miskin,  minim  syukur,  memposisikan  diri  sebagai  orang  miskin  sehingga seolah-olah dirinya patut diberi zakat.  Padahal seorang wanita bisa saja memiliki segala keutamaan di kolong langit ini, akan tetapi  semua  keutamaan  ini  tidak  ada  nilai  dan  harganya  jika  yang  bersangkutan mempunyai  tabiat  sengsara  dan  mental  miskin.  Kedua  tabiat  ini  bagi  wanita menyebabkan kesengsaraan bagi suami dan kenestapaan bagi rumah tangga.

Banyak  wanita  sejak  zaman  batu  sampai  hari  ini  merasa  nyaman  dengan  tabiat sengsara  dan  mental  miskin  ini.  Dalam  kehidupan  sejarah,  Nabiyullah  Ibrahim ’alaihissalam pernah menemukan dua orang wanita, yang pertama bermental miskin dan yang kedua bermental kaya, keduanya pernah menjadi istri bagi anaknya, Ismail. Dengan  bahasa  sindiran,  Nabi  Ibrahim  ’alaihissalam  pernah  meminta  Ismail  untuk berpisah  dari  istri  pertamanya.  Ibrahim  ’alaihissalam  melihat  istri  pertama  anaknya bukan  istri  yang  layak,  karena  dia  bermental  miskin.  Ketika  Ibrahim  ’alaihissalam bertanya   kepadanya   tentang   kehidupannya   dengan   suaminya,   yang   Ibrahim ’alaihissalam  dengar  dari  mulutnya  hanyalah  keluh  kesah.  Sebaliknya  istri  kedua, jawabannya  kepada  mertuanya  mengisyaratkan  bahwa  dia  adalah  istri  yang  pandai bersyukur  dan  bersikap  qana’ah,  maka  Ibrahim  ’alaihissalam  meminta  Ismail  untuk mempertahankannya.

Dalam  kehidupan  ini  tidak  sedikit  kita  menemukan  istri  model  seperti  ini.  Ditinjau secara  sepintas  dari  keadaan  rumahnya,  rumah  milik  sendiri,  lengkap  dengan perabotan  elektronik  yang  modern,  didukung  kendaraan  keluaran  terbaru,  tapi  dasar mentalnya mental miskin, maka yang bersangakutan tetap mengeluh seolah-olah dia adalah  orang  termiskin  di  dunia.  Apakah  hal  ini  merupakan  kebenaran  dari  firman Allah   Subhanahu   waTa’ala,   yang   artinya,   “Sesungguhnya   manusia   diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. al-Ma’arij: 19). Tanpa ragu, memang.

Jika   istri   bermental   kaya,   maka   keluarga   akan   merasa   kaya   dan   cukup.   Ini menciptakan kebahagiaan. Jika istri bermental melarat, maka yang tercipta di dalam rumah adalah iklim melarat dan ini menyengsarakan. (Ust. Izzudin Karimi, Lc).

Sumber:Buletin An-Nur

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: