birrul walidain

Wahai Anakku…Bag 1


Wahai  anakku  siang  malam  sepanjang  umurku,  aku korbankan  untukmu  agar  kalian  berbahagia,  kedua orang tuamu letih dan menderita serta hati gundah bila engkau sedang sakit dan wajahmu pucat. Anakku tercin-ta. Itulah kalimat yang sering diulang-ulang oleh seorang ibu atau bapak.  Wahai  seorang  anak  ingatlah  jasa  kedua  orang  tuamu yang besar tatkala engkau masih berada dalam kandungan, disaat kau masih bayi dan setelah kau menginjak remaja hingga engkau menjadi orang dewasa.  Sekarang tiba saatnya kedua orang tuamu membutuh-kan kasih sayang  dan  perhatian  darimu.  Sementara  engkau  hanya  sibuk mengurusi isteri dan anak-anakmu hingga orang tuamu engkau abaikan, padahal orang arab jahiliyah dulu menganggap aib dan harga  diri  jatuh  jika  ada  seorang  anak  yang  durhaka  kepada kedua orang tuanya.

Peribahasa-peribahasa   Arab   menceritakannya,   menuduhnya dengan gambaran yang sangat jelek sekali bahkan memberinya julukan  dengan  julukan-julukan  yang  sangat  keji.  Akan  tetapi kita membaca banyak  cerita di zaman sekarang tentang cerita anak-anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.

Abu Ubaidah At-Taimy dalam kitabnya, Al-‘Aqaqah wal Bararah menuturkan  beberapa  contoh  orang-orang  yang  berbuat  baik kepada  kedua  orang  tuanya  dan  beberapa  contoh  orang-orang yang  durhaka  kepada  kedua  orang  tuanya.  Seorang  dari  bani Qurai’  bernama  Murrah  bin  Khattab  bin  Abdullah  bin  Hamzah pernah  mengejek  dan  terkadang  memukul  orang  tuanya,  sehingga bapaknya berkata:

Saya   besarkan   dia   tatkala   dia   masih   kecil

bagaikan anak burung yang baru lahir yang masih

lemah tulang-belulangnya.

Induknya  yang  menyuapi  makan  sampai  melihat

anaknya sudah mulai berkulit sempurna.

Dan  contoh  lain  yang  durhaka  kepada  orang  tua-nya  adalah putra  Umi  Tsawab  Al-Hazaniyah,  dia  durhaka  kepada  ibunya karena isterinya selalu menghalangi untuk berbuat baik kepada ibunya, sehingga ibunya mengungkapkan kepedihan hati dalam sebuah syair:

Saya  mengasuhnya  di  masa  kecil  tatkala  masih

seper-ti  anak  burung,  sementara  induknya  yang

menyuapi  makanan  dan  melihat  kulitnya  yang

masih baru tumbuh.

Setelah  dewasa  dia  merobek  pakaianku  dan  me-

mukul  badanku,  apakah  setelah  masa  tuaku  aku

harus mengajari etika dan adab.

Dan  juga  Yahya  bin  Yahya  bin  Said,  suatu  ketika  dia  pernah menyusahkan bapaknya lalu bapaknya meng-hardiknya dengan menulis syair:

Semenjak  lahir  dan  masa  bayi  yang  masih  kecil

aku mengasuhmu, dan saya selalu berusaha agar

engkau menjadi orang tinggi dan berkecukupan. 

Di  malam  hari  engkau  mengeluh  sakit  hingga tidak  bisa  tidur.

 Keluhan  itu  membuatku  gundah dan ketakutan.

 Jiwa selalu gelisah memikirkan keselamatan untuk dirimu,

sebab aku tahu setiap jiwa terancam oleh kematian.

Contoh-contoh di atas merupakan sebagian dari beberapa kasus anak  durhaka  kepada  kedua  orang  tua-nya  yang  terjadi  pada masa lampau dan sekarang.  Dan di dalam sebagian lagu-lagu masyarakat jahili-yah dahulu, yang sering para wanita lantunkan adalah: Ya Allah, apa yang harus  saya  perbuat  terhadap  anakku  yang  durhaka,  di  masa kecil   aku   dengan   susah   payah   membesarkannya,   setelah menikah  dengan  seorang  putri  Romawi  dia  berbuat  semena-mena  terhadapku.  Wanita  ini  mengadu  kepada  Allah  terhadap sikap  anaknya  yang  telah  diasuh  dengan  susah  payah,  tetapi setelah menikah dengan wanita nasrani Romawi, dia melupakan ibunya.

Adapun contoh orang-orang yang berbuat baik kepada orang tua antara lain; cerita tiga orang yang terjebak dalam gua, di antara mereka  ada  yang  mengatakan:  “Tidak  ada  cara  yang  mampu menyelamatkan  kalian  kecuali  bertawassul  dengan  amal  shalih kalian.  Seorang  di  antara  mereka  berdo’a:  “Ya  Allah  saya mempunyai dua orang tua yang lanjut usia dan saya sekeluarga tidak makan dan minum di malam hari sebelum mereka berdua, pada suatu saat saya pernah pergi jauh untuk suatu keperluan sehingga saya pulang terlambat dan sesampainya di rumah saya mendapatkan mereka berdua dalam keadaan tidur.  Lalu saya memerah susu untuk malam itu, tetapi mereka berdua masih tetap tidur pulas, sementara saya tidak suka jika makan dan  minum  sebelum  mereka.  Akhirnya  saya  menunggu  sambil memegang  susu  hingga  mereka  berdua  ter-bangun,  sampai fajar terbit mereka berdua baru bangun lalu meminum susu. Ya Allah jika perbuatan yang telah aku kerjakan tersebut termasuk perbuatan  ikhlas  karena  mencari  wajahMu,  maka  hilangkanlah kesulitan kami dari batu besar ini, lalu batu itu pun bergeser dari mulut gua.

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Satu respons untuk “Wahai Anakku…Bag 1

  1. Assalamu’alaykum ustadz..afwan ,ana minta banner blog antum buat tukeran link..dan ijin share artikel antum..jazakallahu khoiron.http://tentarakecilku.blogspot.com

    Posted by abu tentarakecil | Selasa, Mei 10, 2011, 6:32 pm

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: