Keluarga Bahagia, Konsultasi, pasutri, rumah tangga, Taman Orang Jatuh Cinta

Suami Pergi Membawa Dongkol


Kehidupan manusia memang tidak    bisa    lepas    dari problema.     Perselisihan merupakan  salah  satu  sumber problema.    Sangat    mungkin seseorang berselisih dengan teman, kolega  atau  sahabatnya.  Bahkan berselisih dengan mertua pun suatu yang aneh. Karena emosional dan katakter tertentu, gara-gara berselisih, seseorang kadang sampai pergi tak  tentu  rimbanya. Pernah  ada  kejadian  seorang suami yang telah memiliki beberapa anak  kabur  dari  rumah  karena berselisih  dengan  ibu  mertua.  Ia kabur  tanpa  membawa  anak  dan istrinya.  Tak  tanggung-tanggung pria   itu   bersembunyi   dalam pelariannya  hingga  lebih  dari  lima tahun!

 Selama itu tidak pernah menengok istri dan anak yang mestinya dicintainya  itu,  apalagi  menengok ibu  mertua.  Kerabat  istrinya  yang berusaha menemui untuk membujuknya  kembali  pun  harus  pulang dengan  tangan  hampa.  Hanya pesan  tegas  yang  di  bawa,  “Saya tidak  akan  kembali,  kecuali  ibu mertuaku  telah  mati!”  Masyaallah!

Gara-gara bermusuhan dengan ibu mertua,  anak  dan  istri  ikut  kena getahnya. Bukan  hanya  suami  yang  tak tahan hidup sendiri, istri pun tidak mau  hidup  tanpa  suami,  apalagi harus  ngurus  anak-anak.  Gagal membujuk  pulang  suaminya,  sang istri  pun  pergi  menemui  hakim agama.  Bukan  meminta  suaminya dicari dan dibui, tapi minta  fasakh (pembatalan  pernikahan).  Entah dengan  berapa  pertimbangan  permintaan   wanita   itu   ternyata dikabulkan  hakim. Lepas  dari  ikatan  pertama, segera  wanita  tersebut  dinikahi lelaki lain. Pada pernikahan keduanya tersebut ia sempat melahirkan beberapa  anak.  Hingga  akhirnya terdengar oleh (mantan?) suaminya yang  terdahulu.  Kontan  saja  pria tersebut  marah-marah  dari  persembunyiannya.  “Pernikahanmu haram, anak-anak kalian tidak syar’i karena  kamu  masih  dalam  tanggung  jawabku!”  pria  tersebut  mengirim  peringatan  keras  dari pelariannya.

Bagaimana  Islam  memandang kasus ini? Layakkah sikap suami–dalam konsep Islam duduk sebagai pemimpin  keluarga–tersebut yang  karena  marah  dengan  ibu mertua  kemudian  menelantarkan anak  istri  yang  menjadi  tanggung jawabnya?

Solusi

“Perbuatan lelaki tersebut hingga meng-hajr (memboikot) istrinya serta  menjauhinya  gara-gara  berselisih dengan ibu mertuanya tidak selayaknya terjadi. Tidak seyogyanya  seorang  suami  marah  hingga seperti itu. Apa dosa istri dan anak-anaknya,  sehingga  berbuat  jahat kepada mereka dengan meng-hajr, meninggalkan  mereka,  dan  tidak mau  kembali  hingga  menunggu kematian ibu mertua yang berselisih dengannya.

Pertama, yang mestinya dilakukan pria tersebut adalah menyudahi percekcokan  dengan  ibu  mertuanya. Maslahat dalam hal ini adalah memaafkan,  lapang  (dada),  dan bersabar,  tetap  bersama  keluarga dan istri serta berbuat baik kepada ibu mertuanya. Inilah yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim. Jika  telah  terjadi  sebagaimana diceritakan tersebut, yakni meninggalkan  istri  dan  anak-anaknya sehingga sang istri merasakan kesulitan,  telah  diutus  pula  perwakilan dari  sang  istri  untuk  bermufakat sementara  sang  suami  bertahan dengan  kemarahannya  dan  pemboikotannya, berarti ia telah melakukan sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak layak dilakukan. Sementara  tentang  putusan hakim  yang  mendasarkan  pada pengaduan  wanita  tersebut  untuk membatalkan  pernikahan  hingga bisa  menikah  dengan  lelaki  lain adalah  urusan  pengadilan.  Kembalinya  kepada  mahkamah,  kami tidak dapat mengoreksinya karena tidak mengetahui apa yang dilakukan hakim dan hal-hal yang mempengaruhi keputusannya. Yang dilakukan  mestinya  adalah  menyurati sang  suami  terlebih  dahulu  dan mempelajari  permasalahan  yang terjadi,  baru  kemudian  hakim memutuskan  hukum.

Keputusan yang  sesuai  dengan  kemaslahatan dan  yang  dapat  menghilangkan kesusahan sang istri. Mengenai  pembatalan  perni- kahannya  dengan  suami  pertama hingga  kemudian  bisa  menikah dengan lelaki lain, adalah akibat dari keputusan  hakim,  permasalahannya kembali kepada mahkamah. Jika  telah  dilakukan  dengan  cara yang syar’i, maka tidak ada koreksi; dan pernikahan mantan istrinya itu dengan  suami  keduanya  sah. Begitupun dengan anak-anak yang dilahirkan adalah syar’i.

[Al-Muntaqa   min   fatawa fadhilatu as-Syaikh Shalih bin Fauzan  bin  Abdilah  al-Fauzan juz III/252-254 no. 381]

Sumber: Majalah Fatawa vol 2/10

Iklan

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

5 thoughts on “Suami Pergi Membawa Dongkol

  1. sya jga punya masalah dg mertua yang sering nyuruh istriku(anaknya)bekerja di rumah mertua.yg bkin kesal ketika istriku diajak pulang malah dhalangi mertua dg alasan tdak ada org yg menggantikan istriku.sedangkan kita punya urusan kluarga yg hrs diselesaikan bersama.dengan berat hati saya ijinkan istri sya tnggal bersama ortunya.akibatnya kmunikasi diantara kami terganggu.jangankan nelpon sms pun tidak dilakukan.istri menganggap wajar karna dia ortunya sdangkan aku beranggapan aku adalah yang paling berhak atas istriku karena aku adalah suaminya.
    bagaimana sebaiknya sikap sya terhdap mertua yg melarang anaknya pulang ke suaminya dg alasan pekerjaan?
    dosakah suami melarang istri bkerja di rumah ortunya?
    bgaimana solusinya supaya mertua tidak selalu minta bantuan kpada istriku?
    mohon penjelasan,terimakasih.

    Posted by tatang | Rabu, Desember 21, 2011, 7:27 am
    • pertama, sebaiknya diajak diskusi dari hati ke hati. mungkin saja mertua bapak merasa kesepian sehingga butuh peran istri bapak sebagai seorang anak.

      kedua, ajak disukusi berdua dengan istri bapak. berikan penjelasan bahwa kewajiban utama seorang istri adlah bakti kepada suami.

      “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”

      jika mertua anda tinggal sendiri, maka ajaklah tinggal ditempat anda. atau jika tidak mau, berilah pengertian dan nasihat secara lembut. sering2lah menjenguk mertua anda paling ga telepon.

      wallaahua’lam.

      Posted by Admin | Rabu, Desember 21, 2011, 12:50 pm
  2. suami saya sudah 1 bulan ini meninggalkan saya dengan anak saya yang baru 2 bulan……….. karna tidak menyukai ibu saya………. saat saya sebelum 40 hari.suami saya meminta saya untuk tinggal dirumah orang tua nya……… padahal saya belum kuat untuk melakukan kegiatan rumah tangga…………. dirumah mertua saya tak terurus………..kalo dirumah orang tua sendiri ibu saya betul merawat saya da bayi saya……….. suami saya kalo tidak suka pergi 10 hari.kembali trus pergi lagi selama sebulan

    Posted by putri | Selasa, Maret 31, 2015, 12:29 pm
  3. apa yang ahrus saya lakukan……….menceraikan nya…karna selama berumah tangga dy berbicara tidak sopan………dan selalu menyakiti saya dan orang tua saya…………. tolong petunjuknya

    Posted by putri | Selasa, Maret 31, 2015, 12:30 pm
  4. gaji dan keuangan saya dy yg atur.saya tidak boleh menolong keluarga saya

    Posted by putri | Selasa, Maret 31, 2015, 12:30 pm

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: