Fiqih Ibadah, TataCara Sholat Rasululloh

Sholat Tak Harus Di awal Waktu..Bag 2


Waktu Shalat saat Belajar

Bagi  yang  pernah  kuliah  tentu pernah merasakannya. Mulai kuliah jam 11.00, satu jam kemudian masuk  waktu  Zhuhur,  padahal  kuliah baru  kelar  jam  14.00.  Tidak  harus kuliah,  yang  sekolah  pun  tentu pernah  mengalami.  Bagaimana menyikapi kondisi demikian? Bolos, protes  ke  dosen,  mengakhirkan shalat,  atau  bagaimana? 

Syaikh Utsaimin    masih    memberikan jawabannya,  berikut.

“Waktu  dua  jam  belum  mengeluarkannya   dari   waktu   shalat Zhuhur,   karena   waktu   shalat Zhuhur  dimulai  saat  tergelincirnya matahari sampai masuk waktu Ashr, ada  lebih  dari  dua  jam.  Sehingga masih  sangat  mungkin  baginya melaksanakan shalat Zhuhur seusai jam  pelajaran.  Hal  ini  jika  tidak memungkinkan  untuk  melakukan shalat pada jam pelajaran tersebut. Jika memungkinkan, maka itu lebih terjaga.  Kalaupun  jam  pelajaran belum  usai  hingga  masuk  waktu Ashr,  sementara  keluar  di  tengah pelajaran  akan  menimbulkan  problem  yang  menyulitkan,  maka boleh  menjamak  shalat  Zhuhur dengan  Ashr,  shalat  Zhuhur  diakhirkan pada waktu Ashr. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas ,  “Nabi ketika  di Madinah  menjamak  shalat  Zhuhur dengan  Ashr,  Maghrib  dengan  Isya tanpa ada (sebab) yang dikhawatirkan  maupun  hujan.”  Ketika  Ibnu Abbas  ditanya  mengapa  demikian, beliau  menjawab,  “Nabi  tidak ingin  memberatkan  umatnya.”(Riwayat  Muslim)

Perkataan  Ibnu  Abbas ini menunjukkan  bolehnya  menjamak dua  shalat  pada  salah  satu  waktu jika ada kesulitan atau sesuatu yang memberatkan. Yang  demikian  termasuk  kemudahan  beragama  yang  Allah berikan  kepada  umat  ini,  berdasarkan  firman-Nya, “Allah  menghendaki  kemudahan bagimu  dan  tidak  menghendaki kesukaran bagimu” (Al-Baqarah:185)

dan  firman-Nya, “Allah  tidak  hendak  menyulitkan kamu”  (Al-Maidah:6)

juga  firman-Nya, “Dia  sekali-kali  tidak  menjadikan untuk  kamu  dalam  agama  suatu kesempitan.”  (Al-Hajj:78)

Rasulullah pun menegaskan, “Sesungguhnya agama itu mudah.” (Riwayat  al-Bukhari  no.  39)

Masih  banyak  dalil  lain  yang menunjukkan  kemudahan  syariat ini.  Hanya  saja,  kaidah  agung  ini tidak  boleh  kemudian  (digunakan untuk)  mengikuti  hawa  nafsu  dan kepuasan,  (harus  tetap  dalam  koridor) untuk mengikuti syariat. Tidak semua yang dikira manusia mudah dan  gampang  merupakan  bagian dari  syariat.  Karena  mereka  yang ‘suka  menggampangkan’  dan  tidak peduli  dengan  agamanya  acapkali menganggap  susah  sesuatu  yang mudah. Mereka pun menuntut agar syariat  disesuaikan  atau  dicocokan dengan  hawa  nafsunya  dengan menggunakan  kaidah  tadi.  Hal  ini tentu merupakan pemahaman yang salah.  Agama  itu  mudah  seluruh syariatnya,  bukan  mudah  menurut hawa  nafsunya.  Seandainya  kebenaran mengikuti hawa nafsu niscaya kerusakanlah  yang  akan  terjadi  di langit,  di  bumi,  dan  apa  yang  ada di  antara  keduanya.

[Majmu   Fatawa   Wa   Rasail Fadhilah  asy-Syaikh  Muhammad bin Shalih al-Utsaimin XII/216-217]

Sumber: FATAWA  |  Vol  II  /  No.  10  –  Agustus  2006  /  Rajab  1427

Iklan

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: