An-Nisaa', Kisah

Sekuntum Bunga dari Taman Sunnah


Duhai engkau sang pejuang

Layaknya sekuntum bunga

di liarnya padang ilalang

Amarah dan kesedihan mengobarkan semangatmu


Engkau berkuda bak pejuang sejati

Memimpin kaummu ikut menyerbu

Berbanggalah ibu yang melahirkanmu

Menjadi seorang wanita mujahidah

 Dikisahkan   ketika   Khalid   bin Al-Walid    mendekati    medan perang     dalam     salah     satu pertempuran    di    Ajnadin menghadapi     bangsa     Rowami     dalam episode  penaklukkan  Damaskus,  tiba-tiba ia  melihat  seorang  prajurit  penunggang kuda  melesat  melewatinya  dari  belakang dan  berkuda  menuju  pasukan  Romawi. Sebelum  Khalid  sempat  menahannya,  ia telah  menghilang,  Bertubuh  langsing  dan berpakaian  hitam,  penunggang  kuda  itu mengenakan     pelindung     di     dadanya, bersenjatakan pedang dan tombak. Khalid melihat  ia  mengenakan  sorban  hijau  dan selendang     yang     menutupi     wajahnya sebagai  cadar  dan  hanya  matanya  saja yang terlihat.

Khalid tiba di medan perang bersamaan  dia  melihat  penunggang  kuda itu     melemparkan     dirinya     kedalam pasukan     Romawi     dengan     penuh kemarahan  yang  membuat  semua  yang hadir mengira bahwa ia dan kudanya gila. Rafi  –  pemimpin  pasukan  yang  waktu  itu menggantikan  Dhirar  yang  ditawan  oleh tentara  Romawi  –    melihatnya  sebelum melihat  kedatangan  Khalid  dan  berkata,

”Dia  menyerang  seperti  Khalid,  tetapi  jelas dia    bukan    Khalid.” Kemudian Khalid bergabung dengan Rafi.

Khalid langsung menggambungkan kelompok  Rafi  dan  pasukan  berkuda  yang dibawanya    dan    menyebarkannya    dalam kombinasi     kekuatan     untuk     berperang. Sementara      itu      penunggang      bercadar menunjukkan aksi berkuda dan penyerangan dengan tombaknya yang mendebarkan kaum Muslimin.    Dia    terus    maju    menyerang barisan     depan     pasukan     Romawi     dan membunuh     seorang     prajurit,     lalu     dia berkuda  lagi  kebagian  depan  yang  lain  dan menyerang  prajurit  di  barisan  depan,  dan seterusnya. Beberapa orang prajurit Romawi maju untuk menghadangnya namun berhasil dijatuhkan   dengan   permainan   tombaknya yang         dahsyat.         Kagum         terhadap pemandangan  yang  menakjubkan  tersebut, pasukan    Muslimin    masih    belum    dapat melihat  siapa  gerangan  pejuang  itu,  kecuali bahwa dia adalah postur seorang anak muda dan  sepasang  mata  yang  tajam  bercahaya  di atas    cadarnya.

Sang    penunggang    kuda tampaknya    hendak    bunuh    diri    karena dengan      pakaian      dan      tombak      yang berlumuran  darah  dia  kembali  menyerang prajurit  Romawi.  Keberanian  sang  pejuang memberikan keberanian baru bagi kelompok Rafi     (yang     semula     hampir     kewalahan sebelum  kedatangan  pasukan  Khalid  bin  al-Walid),  yang  melupakan  kelelahan  mereka dan   menyerbu   ke   medan   perang   dengan semangat   baru   yang   tinggi   ketika   Khalid memerintahkan untuk menyerang.

Penunggang bercadar,  yang kini diikuti oleh prajurit  lainnya,  melanjutkan  pertempuran-nya  dengan  prajurit  Romawi  ketika  seluruh pasukan  kaum  Muslimin  menyerbu.  Segera setelah serbuan umum itu, Khalid mendekat kepada   sang   penunggang   dan   bertanya,

”Wahai   pejuang,   tunjukkanlah   wajahmu!”

Sepasang mata hitam berkilat menatap Khalid sebelum berbalik dan kembali menyerang tentara  Romawi.  Kemudian  beberapa  orang  tentara  Khalid  menyusulnya  dan  berkata kepadanya.  ”Wahai  pejuang  yang  mulia,  komandanmu  memanggilmu  dan  engkau  pergi darinya! Tunjukkan kepada kami wajahmu dan sebutkan namamu agar engkau mendapat penghormatan selayaknya.” Sang penunggang kuda kembali berbalik pergi seolah dengan sengaja merahasiakan identitas dirinya.

Ketika  sang  penunggang  kuda  kembali  dari  serangannya,  dia  melewati  Khalid,  yang menyuruhnya  dengan  tegas  untuk  berhenti.  Dia  menarik  kudanya  berhenti,  Khalid melanjutkan:   ”Engkau   telah   berbuat   banyak   yang   memenuhi   hati   kami   dengan kekaguman. Siapakah anda?”

Khalid hampir terjatuh dari kudanya ketika dia mendengarkan jawaban dari penunggang kuda bercadar, karena yang didengarnya adalah suara seorang gadis. ”Wahai komandan, bukannya  aku  enggan  menjawab  pertanyaan  anda,  hanya  saja  aku  merasa  malu,  sebab anda seorang pemimpin yang agung, sedangkan aku adalah gadis pingitan. Sesungguhnya tiada  lain  yang  mendorongku  untuk  melakukan  hal  seperti  itu  melainkan  karena  hatiku terbakar dan aku sangat sedih.”

Khalid dibuat kagum kepada orang tua itu, Al-Azwar, yang menjadi ayah pejuang-pejuang pemberani,  laki-laki  dan  perempuan  (yakni  Dhirar  dan  Khaula-pent).  ”Kalau  begitu bergabunglah bersama kami.”

Dialah Khaulah binti Al-Azwar, seorang gadis pemberani, yang membuat kagum pasukan Muslimin   dengan   sepak   terjangnya   menyerang   tentara   Romawi.   Kesedihan   dan kemarahan    akan    berita    ditawannya    saudaranya    tercinta,    Dhirar    bin    al-Azwar, membuatnya  tampil  ke  medan  perang  sebagai  pejuang,  dan  tidak  lagi  berada  di  barisan belakang  sebagai  perawat  prajurit  yang  terluka  dan  mengurus  perbekalan  sebagaimana yang dilakukan sebelumnya bersama para wanita yang ikut dalam peperangan.

Dikisahkan  dalam  perang  Yarmuk,  Khaulah,  isteri  Zubair,  Ummu  Hakim  dan  kaum wanita lainnya ikut terlibat di dalam peperangan. Dengan bersenjatakan pedang, tombak dan  tiang-tiang  tenda,  mereka  melawan  setiap  tentara  musuh  yang  mendekat,  dan membawakan air bagi pasukan muslimin yang terluka dan kehausan. Ia berteriak kepada kaumnya: ”Sebagian kalian jangan sampai terpisah dari lainnya. Jadilah seakan-akan satu lingkaran dan jangan berpencar karena itu akan menyebabkan kalian mudah dikuasai lalu akan  terjadi  perpecahan  diantara  kalian.  Hancurkan  tombak-tombak  mereka,  patahkan pedang-pedang mereka!”

Dia berperang dengan seorang tentara Romawi, namun lawannya adalah pemain pedang yang lebih baik dan berhasil memukul kepala Khaulah dengan pedangnya, dan akibatnya ia terjatuh dengan darah yang bersimbah membasahi kepalanya. Ketika pasukan Romawi dipukul mundur, dan wanita lainnya melihat tubuhnya tidak bergerak, ia menangis sedih dan bergegas mencari Dhirar untuk mengabarkan bahwa saudarinya tercinta telah tiada.

Namun  Dhirar  tidak  dapat  ditemukan  hingga  malam  tiba.  Ketika  ia  akhirnya  tiba  di tempat saudarinya, Khaulah duduk dan tersenyum. Dia sungguh baik-baik saja!

 (Kisah Khaula binti Azwar)

Maraji:

1.   “Dzatul  Himmah”  (Setinggi  Cita  Wanita  Perindu  Surga)  oleh  Isham  bin  Muhammad Asy-Syarif. (Dalam buku ini, Dhirar bin Al-Azwar disebutkan sebagai Shirar bin Al-Azur)

2.   “The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed, His Life and Campaigns” oleh mantan Lieutenant General A.I. Akram of the Pakistan Army, in October 1969.

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: