Fiqih Ibadah, Konsultasi

Seputar Utang Piutang


Ust. Mau Tanya: 1) apa hadits atau dalil tentang bahayanya BERHUTANG atau tidak sempat dibayarkan hutangnya sampai dia meninggal. 2) Apakah betul orang yang tidak membayar hutangnya itu kemudian mati, maka rohnya tidak sampai ke langit? 3) Bagaimana hukumnya seseorang berhutang di Masjid, dan apa dalilnya syukron.

“Syaikh bin bazz  menjawab: “”Imam Ahmad, Ibnu Majah, dan Turmudzi  meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah  bahwa beliau bersabda:

« نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ »

“”Jiwa seorang mukmin itu tergantung dengan hutangnya hingga dibayarkan untuknya.”” (Dishahihkan oleh al-Albani, Shahihul Jami (6779))

Ini menyangkut orang yang meninggalkan harta yang cukup untuk menutupi hutangnya namun ia tidak menutupnya, adapun orang yang meninggal dalam keadaan tidak bisa membayar, maka diharapkan dia tidak termasuk dalam ancaman hadits ini. berdasarkan firman Allah:

“”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”” (QS. Al-Baqarah: 286)

Juga firman Allah :
“”Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.”” (QS. Al-Baqarah”” 280)

Juga tidak termasuk ke dalam ancaman hadits tadi adalah orang yang saat berhutang ia berniat baik yaitu berniat akan membayar hutangnya, kemudian dia meninggal dan tidak mampu untuk membayar hutangnya. Berdasarkan riwayat al-Bukhari  dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah bersabda:

« مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ »

“”Barangsiapa mengambil harta manusia berkeinginan untuk membayarnya, maka Allah yang akan membayarnya, dan barangsiapa mengambilnya dan berkeinginan untuk menghabiskannya maka Allah akan menghabiskannya.”” (HR. al-Bukhari (2387)) (Fatawa wa Maqalat Mutanawwi`ah jilid 20)

Di sini saya tambahkan hadits tentang bahayanya berhutang dan orang yang dikecualikannya, yaitu sabda Rasulullah:

« مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ، أَوْ دِرْهَمٌ قُضِيَ مِنْ حَسَنَاتِهِ، لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ »

“”Barang siapa meninggal dunia dengan menanggung hutang dinar atau dirham maka dibayarkan dengan dimabil dari kebaikan-kebaikannya, pada waktu tidak berlaku lagi dinar dan dirham.”” (dari Ibnu Umar ra. HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan, dan Thabrani dalam al-Kabir dengan redaksi yang lebih panjang:

« الدَّيْنُ دَيْنَانِ: فَمَنْ مَاتَ وَهُوَ يَنْوِي قَضَاءَهُ فَأَنَا وَلِيُّهُ، وَمَنْ مَاتَ وَلاَ يَنْوِي قَضَاءَهُ فَذَاكَ الَّذِي يُؤْخَذُ مِنْ حَسَنَاتِهِ، لَيْسَ يَوْمَئِذٍ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ »

“”Hutang itu ada dua: Barang siapa meninggal dunia sedangkan ia (dulu) berniat membayarnya maka aku adalah walinya (penolongnya). Barang siapa meninggal dunia dan ia tidak berniat membayarnya maka dialah yang diambil dari kebaikannya, pada hari tidak ada dinar dan dirham.””

« مَنْ حَمَلَ من أُمَّتِـي دَيْناً وَجَهِدَ فـي قَضَائهِ فماتَ قَبْلَ أَنْ يَقْضِيَهُ، فأَنَا وَلِـيُّهُ »

“”Barang siapa dari umatku memikul beban hutang dan berusaha keras untuk menutupinya lalu mati sebelum melunasi maka aku adalah walinya.”” (HR. Ahmad dari Aisyah dengan sanad jayyid; Abu Ya`la dan Thabrani dalam al-Ausath)

« مَطْلُ الغَنِيِّ ظُلمٌ، ومَن أُتْبَع على مَلِيّ فلْيَتَّبعْ »

“”Menunda-nundanya orang yang punya itu adalah kezhaliman.”” (HR. Bukhari (2254) dari Abu Hurairah ra)

« رَحِمَ اللَّهُ عَبْداً كَانَتْ ِلأَخِيْهِ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ فِيْ نَفْسٍ، أَوْ مَالٍ، فَأَتَاهُ، فَاسْتَحَلَّ مِنْهُ قَبْلَ أنْ يُؤْخَذَ مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ، أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ، فَتُوْضَعُ فِيْ سَيِّئَاتِهِ »

“”Semoga Allah merahmati seorang hamba yang pada dirinya ada kezhaliman untuk saudaranya tentang jiwa (darah, nyawa), atau harta, lalu ia mendatanginya untuk meminta kerelaannya sebelum diambil dari kebaikannya, jika tidak memiliki kebaikan maka diambil dari keburukan saudaranya lalu ditambahkan ke dalam keburukannya.”” (HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya (7248) dari Abu Hurairah dengan sanadnya)

« مَنْ كَانَ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَلْيَقْضِهِ إِيَّاهُ أَوْ لِيَتَحَلَّلَ مِنْهُ قَبْلَ أَنْ يَقْضِيَهُ فِيْ يَوْمٍ لاَ ذَهَبَ وَلاَ وَرَقَ. قَالُوْا: فَمَاذَا يَقْضِيْهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: يُؤْخَذُ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ وَفَّتْ وَإِلاَّ طُرِحَ عَلَيْهِ مِنْ سَيِّئَاتِ اْلآخَرِ »

“”Barang siapa memikul hutang maka hendaklah melunasinya atau meminta kerelaannya sebelum melunasinya di hari yang tidak ada lagi emas dan perak. Mereka bertanya: Ya Rasulallah lalu dengan apa ia melunasinya? Beliau bersabda: “”Diambil dari kebaikannya, jika mencukupi (ya sudah), jika tidak maka dipikulkanlah kepadanya dari keburukan saudaranya/kliennya.”” (HR. Abu Ya`la (6601) dengan sanadnya)

Berkenaan dengan hukum berhutang di masjid, maka sepanjang penelitian sesuai dengan kemampuan dan kecukupan waktuku tentang perkataan para imam, maka aku tidak mendapatinya kecuali hanya qiyas, oleh karena itulah aku memohon ma`af tidak bisa menjawabnya, mungkin engkau bisa mengalihkan pertanyaan ini kepada orang yang lebih mengerti daripadaku. Wallah a`lam. (AR) “

 Sumber: http://qiblati.com/soal-hutang.html (dengan sedikit merapikan tulisan dan perubahan judul

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: