Kisah, pasutri

Cerita Ketulusan Cinta..


Sebagaimana kenyataan yang ada sebagai episode sandiwara bumi telah membuktikannya. Saat cinta itu ada, tak semua yang memilikinya memahami hakikat cinta. Tak semua suami atau istri tahu bahwa ia telah dibuai cinta.

Disisi lain, betapa banyak rumah tangga yang berdiri kokoh dan tidak dibangun atas dasar cinta. Dan memang sebuah rumah tangga tak selamanya harus dibangun atas dasar ‘Cinta’. Bisa saja cinta belum sempurna tunas-tunasnya di saat sebuah rumah tangga dimulai pembangunannya. Namun siapa sangka bahwa tumbuhnya cinta ternyata tak sebanding dengan lamanya masa. Sebelum bangunan rumah tangga sempurna terkadang cinta justru telah melejit mendahuluinya dan telah begitu jauh sempurna.

Tentang hal ini, cobalah perhatikan cerita ketulusan cinta yang tak pernah diduga-duga pemiliknya.

Suatu ketika, Rosululloh Shollaahu’alaihi wasallam berselisih pendapat dengan istrinya, Aisyah Rodhiyallahu’anha. Perselisihan tersebut sempat menjadikan ‘Aisyah Rodhiyallahu’anha marah. Adalah Rosululloh Shollaahu’alaihi wasallam tatkala ingin melipurnya, beliau kemudian berkata kepadanya, “Siapakah yang akan menjadi hakim untuk perselisihan kita ini?”

Dan ‘Aisyah Rodhiyallahu’anha pun menginginkan ayahnya, Abu Bakr Rodhiyallahu’anhu yang menjadi hakimnya. Maka Rosululloh Shollaahu’alaihi wasallam memerintahkan seorang sahabatnya agar memanggilkan Abu Bakr ash-Shiddiq Rodhiyallahu’anhu. Di saat Abu Bakr Rodhiyallahu’anhu telah tiba di hadapan mereka berdua, Rosululloh Shollaahu’alaihi wasallam kemudian berkata kepada A’isyah Rodhiyallahu’anha, “Engkau atau aku yang akan menceritakan permasalahan kita kepada Abu Bakr Rodhiyallahu’anhu?”

A’isyah Rodhiyallahu’anha pun menjawab, “Engkau saja yang menceritakan!”

Rosululloh Shollaahu’alaihi wasallam pun menceritakannya kepada Abu Bakr ash-Shiddiq Rodhiyallahu’anhu. Namun sebelum Rosululloh Shollaahu’alaihi wasallam selesai bercerita, tiba-tiba A’isyah Rodhiyallahu’anha berkata, “Putuskanlah dengan keadilan atau kejujuran, atau dengan kebaikan lainnya…”

Mendengar perkataan putrinya, Abu Bakr ash-Shiddiq Rodhiyallahu’anhu pun merasa kesal. Sebab perkataannya tersebut terasa meremehkan Rosululloh Shollaahu’alaihi wasallam yang sedang bercerita. Maka ia pun menampar wajah putrinya, A’isyah Rodhiyallahu’anha hingga hidungnya berdarah, sembari berkata kepadanya, “Bodoh, siapa yang dapat berbuat adil jika bukan Rosululloh Shollaahu’alaihi wasallam?’

Begitu melihat keadaan A’isyah Rodhiyallahu’anha, Rosululloh Shollaahu’alaihi wasallam langsung mendekatinya kemudian membersihkan hidungnya dengan air. Setelah itu Rosululloh Shollaahu’alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakr ash-Shiddiq Rodhiyallahu’anhu, “Bukan ini yang kami inginkan, bukan ini yang kami inginkan!”

Allohu Akbar, siapa yang bisa memahami bahwa itulah ketulusan cinta?

Disebutkan di dalam kitab sejarah, bahwa setelah ath-Thufail bin Amru ad-Dausi memeluk islam, ia menolak untuk berdekatan dengan istrinya. Bahkan ia mengatakan kepadanya, “Sekarang engkau telah haram bagiku.”

Istrinya pun bertanya, “Mengapa?”

Ath-Tufail menjawab,”Karena aku telah memeluk islam.”

Istrinya pun lalu berkata, “Aku adalah bagian darimu dan engkau adalah bagian dariku. Agamaku adalah agamu.”

Kemudian ia pun turut memeluk islam.

Bisakah kita memahami bahwa itulah ketulusan cinta?

Disebutkan di dalam kitab sejarah pula, bahwa setelah perang Uhud, para sahabat kembali dengan membawa para syuhada’. Mereka kembali melewati tempat Himnah bin Jahsy. Diantara para syuhada’ adalah tiga putra Himnah bin Jahsy dan suaminya. Tatkala Himnah bin Jahsy memeriksa para syuhada’ tersebut satu per satu, ia bertanya kepada para sahabat, “Siapakah orang ini?’

Para sahabat pun menjawabnya.

Himnah pun mengatakan, “Innaa lillahi wainnaa ilaihi rooji’uun.” Dan disaat tiba giliran yang ditanyakan ialah tiga putranya, ia pun berkata dengan perkataan yang sama. Namun tatkala yang ditanyakan ternyata ialah suaminya, Mush’ab bin Umair, yang telah mati syahid, maka seketika Himnah pun menjerit dan menangis. Sampai Rosululloh Shollaahu’alaihi wasallam berkata, “Sesungguhnya keberadaan seorang suami sangat berarti bagi istrinya.”

Allohu Akbar.

Tak kalah menariknya ialah cerita ketulusan cinta berikut ini. Suatu hari, ada seorang istri muslimah yang taat. Dia memegangi syariat berjilbab dengan baik, sehingga menutup wajahnya dari laki-laki yang bukan mahromnya. Suatu saat ia menuntut suaminya untuk memberikan beberapa haknya, tetapi suaminya mengingkarinya. Akhirnya istri ini pun mengadukan hal ini ke pengadilah agama. Pada saat siding, hakim berkata kepada si istri.

“Engkau harus menghadirkan beberapa orang saksi.”

Tatkala para saksi telah hadir, hakim pun berkata kepada si istri, “Sekarang bukalah cadarmu, agar para saksi bisa mengenalimu.”

Melihat si istri akan membuka cadarnya di hadapan para saksi dan laki-laki lainnya yang tidak halal melihat kecantikannya, suaminya tiba-tiba mengatakan,” Tidak, wahai Hakim! Jangan anda meminta istri saya membuka wajahnya. Baiklah, saya mengaku telah menahan hak-haknya.”

Mendengar perkataan suaminya tersebut, si istri langsung berdiri lalu beranjak menuju suaminya dan duduk di sampingnya, kemudian ia pun berkata kepada hakim, “Aku bersaksi kepada anda wahai hakim, aku telah melepas hak-hakku dari suamiku, dan aku telah membebaskannya dari tuntutanku.”

Hakim pun lalu berkata, “Tulislah hal ini di dalam bagian makarimul akh;aq (akhlak-akhlak yang terpuji).”

Masya Alloh.

Benar-benar sebuah ketulusan cinta. Tetapi siapa yang mengetahuinya?

Boleh saja seorang istri mengatakan, “Aku tidak mencintai suamiku!” Boleh saja seorang suami mengatakan, “Aku tidak bisa mencintai istriku.” Namun tentunya boleh juga kita mengatakan, “Bagaimana bila aku tidak percaya?”

Pasalnya, siapa yang akan mengingkari cerita-cerita di atas adalah cerita cinta?Ya, memang benar, itulah cinta.

Jadi, apa yang mendorong suami untuk ingin segera pulang menemui istrinya bila bukan cinta?Apa yang menjadikan istri merasa gundah dan khawtir saat melihat istrinya dalam keadaan sakit bila bukan cinta.

Memang banyak suami atau istri yang memahami cinta lain dari yang kita sebutkan. Akan tetapi, betapa banyak suami dan istri yang memahami cinta dengan pemahaman lain, yang mengatakan bahwa dirinya tidak mencintai pasangannya, namun saat istri atau suaminya sedang sakit atau semacamnya, ia merasa sangat cemas, bahkan perasaan itu seolah-olah hamper membunuhnya. Apalagi bila bukan karena cinta?

Maka sebagaimana kau mencintainya, yakinlah bahwa ia juga mencintaimu.

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: