Seputar Puasa (Ramadhan)

44 Soal-jawab Seputar Ramadhan..Bag 7


Mematikan lampu pada waktu shalat supaya menambah kekhusyu’an

Soal ke-33 : Mematikan lampu pada waktu shalat supaya menambah kekhusyuan sebagaimana yang terjadi pada diri kami dalam bulan Ramadhan. Maka apa pendapatmu tentang hal ini dan apakah hal ini sampai kepada perkara yang bid’ah ?

Jawab : Tidak, hal ini tidak sampai kepada batasan bid’ah dan bukan pula merupakan suatu yang sunnah. Maka apabila seseorang merasa menambah kekhusyu’an apabila ia memejamkan kedua matanya dan memati-kan lampu, bahkan akan menjadikannya lebih jauh dari sifat riya’ maka hal ini tidak mengapa. Walaupun memang bahwasanya manusia berbeda dalam hal ini, maka tidak sepatutnya untuk mewajibkan atau menarik/ menekan seseorang kepada pendapat-nya dan mematikan lampu. Sebagian orang tidak menyukai akan hal itu.

Tentang hadits, “Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid”

Soal ke-34 : Apa pendapatmu tentang hadits, “Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid” ?

Jawab : Sebagian di antara mereka (ahli ilmu) ada yang menganggap bahwa hadits tersebut adalah mauquf kepada Hudzaifah radhiallahu ‘anhu dan sebagian yang lain ada yang mengatakan bahwa sesungguhnya Hudzaifah berkata kepada Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, “Bahwa sesungguhnya orang-orang itu mereka melaksanakan shalat antara engkau dan antara ini dan itu.” Dan tampaknya mereka semuanya berada di Kufah. Maka berkata Abdullah ibn Mas’ud, “Barangkali mereka-lah yang benar sedang engkau yang salah.” Mereka (sebagian ahli ilmu) mengatakan, jika sekiranya hadits ini marfu’ maka tidak mungkin Abdullah ibn Mas’ud berani untuk mengatakan kepada Hudzaifah, “Barangkali mereka yang benar dan engkau yang salah.”

Dan jika sekiranya hadits ini benar (shahih) maka tafsirannya menjadi bahwa tidak ada i’tikaf yang lebih afdhal. Oleh karena itu, maka ini menjadi dalil keutamaan atau keafdhaliyahan i’tikaf di tiga masjid ini seperti yang telah terdapat dalil-dalil yang menyebutkan tentang keutamaan shalat di tiga masjid. Dan kalau tidak demikian maka ayat juga datang secara mutlak yaitu,

وَلاَ تُبَاشِرُوْهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُوْنَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Dan janganlah kalian menggauli istri-istrimu sedang kalian beri’tikaf di masjid.”

Dan tidak terdapat keterikatan (pengkhususannya) dengan tiga masjid, lagi pula hadits ini adalah idhthirab, terdapat di dalamnya kadangkadang Hudzaifah meriwayatkannya mauquf dan pada riwayat lain meriwayatkannya dengan marfu’, maka jauhlah dari amalan-amalan kaum muslimin. Dan aku juga mengetahui bahwa ada sebagian saudara-saudara yang telah menuliskan risalah tentang hal ini. Akan tetapi tidak semestinya untuk menyempit-kan manusia (kaum muslimin) dengan se-suatu apapun yang Allah Ta’ala telah berikan keluasan atas mereka.

Lansia yang sudah pikun, bagaimana tentang shoumnya

Soal ke-35 : Seorang perempuan yang sudah lanjut usianya dan sudah berubah akalnya dengan sebagian perubahan-perubahan, kemudian ia meninggal dan ia punya hutang shaum dua kali bulan Ramadhan, sedangkan ia tidak mengetahui Ramadhan dari selainnya disebabkan karena terjadi hilang ingatan/akalnya (atau terjadi perubahan akalnya). Apakah bagi anaknya untuk memberikan makanan untuk menggantikan shaumnya ataukah ia mesti shaum ?

Jawab : Keadaan dia adalah termasuk orang-orang yang diangkat atau diberikan rukhshah

kepadanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

رفَع ْالقَلَم عن َثلاََثةٍ عنِ ْالمَجنونِ حتى يفِيق وعنِ الصغِيرِ حتى يبلُغَ و عنِ النائِمِ حتى يستيقِظَ

“Diangkat pena dari tiga orang, dari orang yang gila sehingga ia sadar, dari anak kecil sehingga di baligh dan dari orang yang tertidur sehingga ia bangun kembali.”

Maka tidak ada keharusan apa-apa untuknya.

Onani di bulan Ramadhan

Soal ke-36 : Apa hukumnya seseorang yang melakukan onani di bulan Ramadhan, apakah ia diharuskan seperti orang yang menjima’i istrinya ?

Jawab : Ia menjadi berdosa. Adapun memberikan kafarah maka ia tidak dituntut sedangkan tentang dosanya dikarenakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda yang meriwayatkannya dari Rabb-nya,

“…meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya karena aku.”

Dan tidak ada pula atasnya kewajiban untuk mengqadha karena sesungguhnya mengqadha itu tidak ada kecuali dengan dalil. Sedangkan dalil terdapat pada orang-orang yang musafir dan yang sakit apabila berbuka. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

{فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِیْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةُ مِنْ أَیَّامٍ آُخَرَ}

“Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan maka hendaknya menggantinya pada hari yang lainnya.”

Demikian pula dengan wanita yang haidh, dia hendaknya mengqadha shaum dikarenakan hadits Aisyah radhiallahu ‘anha dalam Shahihain. Dan juga orang yang menyusui dan yang hamil apabila ia berbuka diwajibkan untuk mengqadha dikarena-kan hadits Anas bin Malik Al-Ka’bi radhiallahu ‘anhu. Dan perkara qadha ini juga adalah dikarenakan ayat yang telah lewat, wallahu a’lam.

Tahlil, takbir, tahmid setelah bacaan surat Adh- Dhuha imam tarawih

Soal ke-37 : Apakah hukumya orang yang shalat tarawih pada bulan Ramadhan kemudian ketika ia membaca surat Adh-Dhuha ia memerintahkan kepada makmum yang ada di belakangnya untuk mengangkat suara-suaranya atau untuk mengucapkan kalimat ‘laa ilaha illallahu wallahu akbar wa lillahilhamd’. Dan ia mengira bahwasanya itu adalah perkara sunnah karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika tidak dating kepadanya wahyu kemudian turun wahyu kepadanya maka ia bertakbir dan memerintahkan para sahabatnya untuk bertakbir. Dan apakah akan diterima shalat dengan memberikan tambahan di dalamnya dari jenisnya ?

Jawab : Adapun ucapan ‘laa ilaha illallahu wallahu akbar’ sesudah membaca surat Adh-Dhuha, maka terdapat satu hadits yang dhaif yang telah disebutkan oleh Al-Hafiz Adz-Dzahaby di dalam kitab ‘Thabaqatul Qura Al-Kibar’ dan ia mengatakan di dalam sanadnya terdapat seorang rawi yang bernama Ibnu Abi Barzah. Dan ia bukan yang dimaksud adalah Qasim bin Abi Barzah, karena Qasim bin Abi Barzah adalah tsiqah. Akan tetapi yang dimaksudkan adalah Ahmad bin Muhammad. Maka tidak terdapat hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam tentang perintah untuk hal itu atau untuk mengatakan hal itu akan tetapi justru ucapan itu adalah dikategorikan sebagai bid’ah.

Adapun membuat tambahan-tambahan di dalam shalat dengan sesuatu hal yang termasuk dari jenisnya maka tidak boleh, karena kita sesungguhya bukanlah orang yang membuat keributan di dalam agama Allah. Dan telah terdapat di dalam Shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau berkata kepada Malik bin Huwairits radhiallahu ‘anhu dan sahabat-sahabatnya,

“Shalatlah kalian seperti halnya kalian melihat aku melaksanakan shalat.”

Kecuali jika tambahan itu dalam hal doa-doa qunut atau sujud atau tasyahud sebagaimana yang telah kami terangkan di dalam kitab ‘Riyadhul Jannah fii Raddi ala A’daai As-Sunnah’.
—————————————————————————————————

Judul Asli : Bulugh Al Maram min Fatawa Ash Shiyam As-ilah Ajaba ‘alaiha Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’I, Peringkas : Abu Malik Al Maqthory, Abu Tholhah Ad Duba’I, Penerbit : Al Maktabah As Salafiyyah Ad Da’wiyyah, – Masjid Jamal Ad Din – Al Bab Al Kabir, – Al Yaman – Ta’iz
Edisi Indonesia :
[RISALAH RAMADHAN, Untuk Saudaraku, Kumpulan 44 Fatwa Muqbil bin Hadi al-Wadi’I, Penerjemah Ibnu Abi Yusuf, Editor Ustadz Abu Hamzah, Setting & Lay Out Afaf Abu Rafif, Penerbit Pustaka Ats-TsiQaatPress, Jl. Kota Baru III No 12, Telp 022 5205831, Cetakan Ke-I Sya’ban 1423 H]
Sumber: dikutip dari pfd http://assunnah.cjb.net, Oleh: Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I, Penerjemah: Al Ustadz Abu Hamzah Bandung, Fatwa-fatwa Syaikh Muqbil Seputar Puasa
Iklan

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

6 thoughts on “44 Soal-jawab Seputar Ramadhan..Bag 7

  1. assalamu alaikum..
    kang koq kalo kita onani d bulan puasa, emang ga wajib qodho gt???
    trs saya pnya tmn, dy pernah jima’ wktu siang hari bulan puasa, tp sblum dy jima’ dy ngebatalin puasa dgn cara minum dlu baru dy jima’. . Apakah wajib baginya kifarat..??
    trima ksh sblumnya. .
    wassalam

    Posted by boim | Rabu, Juni 29, 2011, 10:41 am
    • wa’alaykumussalaam warohmatulloh…

      dari fatwa syeikh muqbil tidak ada dalil tentang onani. onani di bulan puasa tidak membatalkan puasanya, namun ia telah berdosa besar.

      untuk pertanyaan jima’, afwan ana masih dangkal jika kasusnya spt itu..tapi jika dy jima’ dengan sengaja maka dy wajib membayar kafarat..wallaahu a’lam..

      antum bisa bertanya ke: muslim.or.id atau tanya radio rodja 756 am..syukron

      Posted by Abu Sahlan | Kamis, Juni 30, 2011, 9:41 am
  2. afwan akh..ana masih dhoif..ana tidak bisa jawab..mgkin antum tanya ke asatidz yg lain.. dradio rodja atau muslim.or.id..afwan ya akh..

    Posted by Abu Sahlan | Kamis, Juni 30, 2011, 1:25 pm
  3. mw nanya k muslim.co.id, saya sungkan sbb kykna situs kelompok wahaby/salafy. . Banyak bentrok ma manhaj saya..

    Posted by boim | Jumat, Juli 1, 2011, 4:28 pm
    • akhi..ilmu tidak bisa diambil dari sp aja..harus ahlinya..ilmu dunia saja kita harus nanya pada ahlinya, apalgi ilmu agama..

      jika antum mengatakan sungkan nanya pd kelompok wahaby/salafy, lalu antum tidak sungkan sama sp? selama ilmunya sesuai dgn dalil al-qur’an dan sunnah maka antum wajib terima walaupun tidak sesuai dgn manhaj antum..

      salafy/wahaby yg antum katakan..mereka tidaklah mengeluarkan satu patah katapun kecuali dgn dalil dan tidak beramal kecuali dgn dalil..

      bentrok dgn manhaj antum?? justru antum lebih kritis dlm hal ini.kenapa bisa bentrok? ada apa?

      jika antum risih/takut/enggan dgn manhaj salaf, sebaiknya antum perlu baca lebih detail,tau sejarahnya tidak hanya tau dari orang2..jika antum tau ulama’2 jaman dulu, setiap perkataan dan perbuatannya adalah manhaj salaf.

      antum bisa baca perktaan 4 imam, hadits Rasululloh dan ulama2 lainnya ttg manhaj salaf. semua para ulama’ sunnah mengatakan dirinya bermanhaj salaf.

      terakhir..kalo antum sungkan nanya ke situs yg ana sebutkan karena mereka wahaby/salafy..kenapa dgn ana tidak???sedangkan ana juga bermanhaj salaf???

      wallaahua’lam

      Posted by Abu Sahlan | Jumat, Juli 1, 2011, 4:40 pm
  4. ana bukan ga mw buka situs ntuh..
    Banyak hukum yg diterangkan. . Semua bener org atas dasar quran hadist.
    cma menurut ana bnyk trdpt khilaf dgn manhaj ana dlm perkara sunah atw syiar..
    contoh dlm stus trsebut seolah menbid’ahkan perayaan rajaban. .
    dan mengatakan seolah pelaku bid’ah adlah syirik..
    padahal perayaan trsbut menunjukan sebuah persatuan umat atw syiar umat.. Orang rajaban sperti itu brskala nasional, dan pembukaan nya jg presiden..
    sekalian aja sebut bhwa negara kita ini negara syirik..
    wah bisa panjang ni koment
    udahlah jgn d terusin. . .

    Posted by boim | Sabtu, Juli 2, 2011, 9:28 pm

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: