Seputar Puasa (Ramadhan)

44 Soal-jawab Seputar Ramadhan..Bag 8


Shoum sunnah sebelum lunas mengqadha shoum wajib

Soal ke-38 : Apakah boleh mendahulukan shaum yang tathawwu atas shaum yang wajib. Contohnya seorang laki-laki masih mempunyai hutang shaum di bulan Ramadhan kemudian ia hendak melaksanakan shaum satu hari, maka apakah ia mendahulukan yang wajib dulu ataukah yang tathawwu ?

Jawab : Apabila ditakutkan tertinggal hari itu atau hari-hari itu (yaitu hari-hari shaum tathawwu pent) maka tidak mengapa akan hal ini. Karena sesungguhnya waktu mengqadha itu adalah waktu yang panjang/waktu yang luas. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Kami tidak mengqadha kecuali di bulan Sya’ban,” karena beliau disibukkan dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, yang meriwayatkan dari Rabb-nya :

“Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang Aku cintai dari perkara-perkara yang Aku wajibkan atasnya dan masih saja ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan yang nafilah sehingga Aku mencintainya…” sampai akhir hadits.

Maka yang paling afdhal adalah mendahulukan apa-apa yang telah Allah Ta’ala wajibkan atasnya. Akan tetapi jika di sana ada hari yang utama dan ia takut meninggalkannya atau tertinggal, sedangkan waktu mengqadha adalah waktu yang luas maka tidak mengapa, insya Allah. Seperti enam hari di bulan Syawal (setelah puasa wajib di bulan Ramadhan pent) atau seperti tiga hari di setiap bulan dan seperti shaum Senin-Kamis dan juga shaum hari Arafah dan hari Asyura.

Shoum bagi musafir yang berniat tinggal dalam waktu lama

Soal ke-39 : Apa hukumnya shaum bagi orang yang musafir yang dia berniat untuk tinggal dalam waktu yang ditentukan, seperti sebulan misalnya ?

Jawab : Apabila ia berniat melebihi 20 hari maka hendaklah ia shaum dan tidak dianggap sebagai musafir. Dan barangsiapa yang mengatakan bahwa ia dianggap sebagai musafir maka telah menyelisihi keumuman manusia dan makna secara bahasa dari makna kata ‘safar’. Sedangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam , beliau tinggal di Tabuk selama 19 hari dan berkata Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu,

“Apabila kami menetap setelah itu maka kami menyempurnakan shalat.”

Yang berarti bahwa kami tidak lagi sebagai musafir dan ini adalah pendapat(ijtihadnya) Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu. Akan tetapi ini yang lebih dekat, insya Allah Ta’ala.

Keluar mani setelah bercumbu

Soal ke-40 : Seorang laki-laki mencumbui istrinya disiang hari di bulan Ramadhan kemudian ia keluar maninya sedangkan ia tidak mengetahui apakah hal itu haram ataukah tidak haram. Maka apakah diwajibkan atasnya sesuatu ?

Jawab: Apabila ia mencumbui istrinya dengan tujuan untuk memenuhi syahwatnya dengan mengeluarkan maninya di luar daripada farji (kemaluan) istrinya maka ia dianggap ber-dosa. Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dari apa-apa yang meriwayatkan-nya dari Rabb-nya,

“…meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya karena Aku.”

Dan apabila ia mencumbui istrinya dalam keadaan tidak mengetahui atau bodoh akan hukumnya maka hendaknya ia bertaubat kepada Allah dan apabila ia mengetahui maka hendaknya ia bertaubat kepada Allah jika ia mengetahui hal itu. Dan apabila ia mencumbui istrinya sedangkan ia dalam keadaan mengetahui bahwa mencumbui ini adalah hal yang diperbolehkan baginya kemudian ia memeluknya dan ia beranggapan bahwa hal ini tidak haram atasnya kecuali jima’ kemudian setelah itu ia mengeluarkan mani dan ia tidak bermaksud untuk mengeluarkan mani, maka tidak apa-apa baginya. Dan walau bagaimanapun maka tidak diwajibkan atasnya untuk memberikan kafarah jima’ pada setiap keadaan, dan ini adalah ucapan (pendapat) Abu Muhammad bin Hazm rahimahullah ta’ala dan ini adalah shahih.

Zakat fitrah kepada pemerintah atau dalam bentuk uang

Soal ke-41 : Apa pendapatmu tentang zakat yang diberikan kepada pemerintah di bulan Ramadhan, apakah ia sah ataukah tidak sah? Mohon terangkan kepada kami.

Jawab : Zakat yang diserahkannya yang dimaksudkan adalah zakat fitrah maka pemerintah biasanya mengambilnya dalam bentuk uang. Sedangkan zakat fitrah itu ialah seperti apa yang telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dari hadits Abdullah bin Umar dan hadits Abu Said Al- Khudri t yaitu satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum atau satu sha’ dari anggur yang dikeringkan atau satu sha’ dari akid (keju). Maka jika ia mendapatkan kemudahan dari salah satu dari empat macam tersebut maka silakan untuk mengeluarkannya dan jika tidak memudahkannya dari hal tersebut maka hendaknya dari pokok hasil bumi.

Adapun menggantinya atau menghargakannya dengan uang maka yang shahih dalam hal ini adalah tidak sah. Akan tetapi apabila pemerintahan mengharuskannya dengan hal ini dan tidak menguatkannya dengan dalil-dalil, maka jika seseorang mampu maka hendaklah ia mengeluarkan dari biji-bijian atau dari empat macam tadi. Kemudian ia memberikan harganya atau uangnya kemudian ia memberikan atas apa yang diinginkan atau diharuskan oleh pemerintahan sehingga ia selamat dari kejahatannya. Dan jika ia tidak mampu untuk mengeluarkan zakat dua kali maka sah untuknya mengeluarkan dari macam yang pertama. Maka sah baginya untuk mengeluarkan salah satunya dan dosanya kembali kepada pemerintah.

Wanita tidak shoum karena hamil dan melahirkan

Soal ke-42 : Ada seseorang yang bertanya tentang perempuan yang tidak mampu untuk melaksanakan shaum Ramadhan dikarenakan melahirkan atau kehamilan.

Jawab : Maka hendaknya ia meng-qadha, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’anul Karim,

{فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِیْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةُ مِنْ أَیَّامٍ أُخَر}

Maka barangsiapa di antara kalian sakit atau bepergian maka hendaknya mengganti pada hari yang lainnya.”

Maka hendaknya ia mengqadha pada waktu yang ia mampui, baik itu setelah setahun atau dua tahun atau bahkan tiga tahun. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.

Dan telah terdapat di dalam Sunan (dalam salah satu kitab sunan pent) dari hadits Anas bin Malik Al- Ka’bi radhiallahu ‘anhu. Ia berkata, “Aku menemui Rasulullah, kemudian Rasulullah berkata, ‘Kemarilah kepada makanan’, kemudian aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sedang dalam keadaan shaum (yakni dia sedang dalam keadaan musafir).’ Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata,

إِنَّ الله وضع عنِ الْم سافِرِ شطْر الصلاَةِ ووضع عنِ الْم سافِرِ والْحامِلِ وْالمُرضِعِ الصيام

“Sesungguhnya Allah menggugurkan atas orang yang musafir setengah sholat (atau keringanan) shalat dan menggugurkan bagi yang musafir dan bagi yang hamil dan orang yang menyusui dari shaum (keringanan shaum),” atau yang semakna dengan ini.

Dan yang dimaksud dengan meletakkan di sini adalah meletakkan sementara, berdasarkan ayat yang kalian telah mendengarnya yaitu,

{فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِیْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةُ مِنْ أَیَّامٍ أُخَر}

“ Barangsiapa di antara kalian yang sakit atau bepergian maka hendaknya mengganti pada hari yang lainnya.”

Sebagian kalangan ahlil ilmi ada yang mengatakan bahwa jika sudah lewat satu tahun sedang ia belum mengqadha Ramadhan yang pertama maka diharuskan baginya untuk membayar kafarah bersamaan dengan qadha. Atau mengatakan bahwa wajib atas seseorang, siapa saja baik itu dalam keadaan sakit atau keadaan musafir, kemudian lewat satu tahun maka wajib baginya untuk membayar kafarah disertai dengan membayar qadha (menggantinya). Akan tetapi tidak ada dalil di sana baik dari Kitabullah atau Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam , hanya dari sebagian perkataan salafush shalih saja. Dan kita mengambil dengan dhahir ayat bahwasanya Allah Ta’ala tidak mengatakan,

“Barangsiapa di antara kalian yang sakit atau bepergian maka hendaklah ia menggantinya pada hari-hari yang lain. Dan apabila melewati satu tahun sedang ia belum mengqadha maka sedekahlah diamembayar kafarah.”

“Dan tidaklah Rabb-mu ini memiliki sifat pelupa“.

Maka tidak ada baginya kecuali mengqadha saja jika ia mampu walaupun ia lewat tiga kali Ramadhan atau bahkan lebih. Kemudian setelah itu jika ia mampu untuk mengqadha maka mengqadhalah, wallahul musta’an. Dan mengqadha ini tidak mesti berurut-urutan sehingga tidak memberatkan kepadanya. Jika sekiranya dia shaum tiga hari kemudian berbuka pada satu hari sesuai dengan kekuatan dan kemampuan, maka lakukanlah. Maka Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan bahwasanya tersisa padanya sesuatu (shaum) Ramadhan, yaitu disebabkan karena haidh kemudian beliau tidak mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban. Dan yang dimaksudkan oleh Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa sesungguhnya qadha ini tidak mesti segera, wallahul musta’an.

Wanita haidh dan nifas menyentuh dan membaca Al-Qur’an

Soal ke-43 : Apakah diperbolehkan bagi seorang perempuan yang sedang haidh atau nifas untuk menyentuh mushaf Al-Quran dan membacanya, terlebih khusus di bulan Ramadhan yang penuh berkah, dimana orang-orang mengkhususkannya untuk meng-khatam-kan Al-Quran ?

Jawab : Aku tidak mengetahui di sana ada larangan tentang hal itu, sedangkan hadits, “ Tidak boleh seseorang menyentuh Al-Quran kecuali yang thahir (suci).“

Maka sebagian mereka (ahlil ilmi pent) ada yang berpendapat bahwa hadits itu adalah mursal. Dan jika sekiranya hadits tersebut dengan berbagai banyak jalannya adalah menjadi shalih (shahih) untuk dipakai sebagai hujjah, maka ia diambil kepada apa yang dikatakan oleh Imam Asy-Syaukani di dalam kitabnya, yaitu Nailul Authar. Beliau mengatakan,

“Tidak boleh disentuh Al-Quran kecuali oleh yang thahir, yakni adalah maksudnya yang muslim. Maka tidak boleh orang kafir menyentuhnya karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam melarang untuk membawa safar Al-Quran ke negeri musuh.”

Dan adapun firman Allah Ta’ala,

لاَیمََسُّهُ إِلاَّ اْلمُطَهَّرُوْنَ

Tidak ada yang menyentuhnya kecuali al muthaharuun “,

Maka yang dimaksud dengan mereka adalah almalaaikat, seperti halnya perkataan Imam Malik di dalam Muwaththa-nya berkata, “Bahwa ayatini ditafsirkan dengan firman Allah Ta’ala,

كَلاَّ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ, فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ, فِي صُحُفُ مُكَرَّمَةٍ, مَرْفُوْعَةٍ مُطَهَّرَةٍ, بِأَیْدِي سَفَرَةٍ, كِرَامٍ بَرَرَةٍ,

“Jangan demikian, sesungguhnya dia (petunjuk di dalam Al-Qur’an) adalah suatu peringatan, Maka barangsiapa yang menghendaki niscaya dia mengingatkannya, Dalam lembaran-lembaran (kitab-kitab) yang dimuliakan, Yang ditinggikan lagi disucikan, Di tangan para utusan, Yang mulia lagi (pula) takwa” (QS.’Abasa : 11–16), yakni yang dimaksudkan adalah para malaikat.

Seperti halnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَا تَنَزَلَتْ بِهِ الشَّیَاطِیْنُ. وَمَا یَنْبَغِيْ لهَمُ وَمَایَسْتَطِیْعُوْنَ إِنَّهُمْ عَن السَّمْعِ لَمَعْزُوْلُوْنَ

“Dan Al-Qur’an itu bukanlah dibawa turun oleh syaithan-syaithan. Dan tidaklah patut mereka membawa Al-Qur’an itu dan merekapun tidak kuasa. Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengarkan Al-Qur’an itu”.
(Qs. Asy- Syu’aro 26 : 210-212)

Wanita haidh dan nifas menghadiri majlis-majlis ilmu di masjid

Soal ke-44 : Apakah dibolehkan baginya untuk menghadiri majlis-majlis ilmu dan durus-durus di masjid ?

Jawab : Tidak mengapa, insya Allah. Sedangkan hadits yang menyatakan,

إِني لاَ ُأحِلُّ ْالمَسجِد لحَائِضٍ ولاَ جنبٍ

“ Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi yang haidh ataupun yang junub“, ini adalah hadits yang dhaif.

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam mengatakan kepada Aisyah radhiallahu ‘anha,

إِنِّ حيضتكِ َليست فِي يدِكِ ويقُولُ َلهَا َأيضا

“Sesungguhnya haidhmu bukanlah pada tanganmu.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam juga mengatakan kepada Aisyah radhiallahu ‘anha,

إِفْعلِى مايفْعلُ ْالحَاج غَير َأنْ لاَ تطُوفِي بِاْلبيتِ

” Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang orang yang haji kecuali tidak boleh untukmu berthawaf di Baitul Haram.”

فَلاَ بأْس َأنْ تح ضر د روس ْالعلم فِي ْالمَسجِدِ

Maka tidak mengapa baginya untuk menghadiri durus-durus ilmu di masjid.

Walhamdulillahi rabbil alamin.

م نْ ص ام رم ض انَ إی م انًا و اح تِس اب ا غَفِر له م اتَقَد م مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari-Muslim)

Telah berlalu dalam hidup kita belasan bahkan puluhan bulan Ramadhan. Apakah amaliyah Ramadhan kita telah menjadikan kita hamba Alloh yang beruntung dan meraih janji-janjinya?

Akankah kita biarkan Ramadhan yang akan datang kita alani dengan kebodohan dan sekedar menggugurkan kewajiban semata?

Segeralah raih janji-janji Alloh dengan amal yang erdasarkan ilmu. Buku ini akan menjawab tuntas keraguan dan kerancuan amaliyah Ramadhan kita selama ini

________

FooteNote
1 Pemula dalam tholabul ilmi
2 Hadits mudhtorrib adalah hadits yang datang dari banyak jalan dan berbeda-beda lafazhnya sehingga tidak bisa untuk dirajihkan, dan hadits mudhtarib ini termasuk dalam kerangka hadits-hadits dhoif

Iklan

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: