Kisah

Perwira Polisi yang Menangis di Tanah Suci


Terkadang  perlakuan  semena-mena  atas  nama  tugas  yang  dilakukan seseorang  terhadap  orang  lain  dapat  menuntun  menuju  hidayah.  Seperti yang  terjadi  pada  diri  seorang  perwira  polisi  yang  berlaku  semena-mena terhadap istri seorang pegawai dapat menuntunnya menuju hidayah Islam.

Kolonel  Abdul  Fatah  Pasya  dari  kepolisian  Mesir  pernah  mengisahkan tentang seorang perwira yang masuk Islam. Berikut penuturannya.

Kami sedang melakukan operasi di kota Port Said utuk mencari seorang buronan.  sebelum  subuh  Kami  menggerebek  seorang  bandar  narkoba  di rumahnya.  Pimpinan  operasi  adalah  seorang  perwira  kristen  yang  kejam dan semena-mena.  Keluarga buronan itu tersentak dari tidur, khususnya istri yang sampai –maaf-  terkencing-kencing  disebabkan  penggerebekan  itu.  Perwira  polisi tadi kemudian mencaci maki perempuan itu dan memukulnya.

Hari  berlalu,  tahun  berganti.  Kami  berpisah  sesuai  tuntutan  tugas, setiap kami berada di posisi masing-masing.  Suatu  saat,  ketika  Allah  memperkenan  diriku  untuk  melaksanakan ibadah  Umrah,  datanglah  seorang  lelaki  yang  menangis  tersedu-sedu dengan sebuah mushaf di tangan, dia menghadap kiblat dan terus merintih. Merasa  prihatin  akan  kondisinya,  akupun  mendekatinya.  Aku  dengarkan rintihannya baik-baik, ternyata orang ini sangat mirip dengan pimpinanku dulu.  Tak  terbersit  sedikitpun  dalam  benakku  bagaimana  seorang  nasrani dapat  masuk  ke Masjidil  Haram.

Aku  menghampirinya  dan  bertanya padanya  “Ada  apa  pak  tua?”  Diluar  dugaan,  ternyata  dia  justru  berkata,

“Engkau  si  Fulan,  kan?  Tidakkah  kau  mengenali  diriku?  Aku  Fulan.”  Aku terkejut bukan main dan hampir tak percaya. Mataku serasa ditusuk paku di  hadapannya  karena  aku  tidak  percaya  atas  apa  yang  kulihat  dan kudengar,  sampai  kuteringat  sebuah  firman  yang  memecah  kebisuanku,

“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang kau  cintai,  namun  Allah  memberi  hidayah  kepada  yang  Dia  kehendaki.”

Aku sadar dan membenarkan firman itu. Tentu. Tentu. Aku  berkata  padanya,  “Ceritakan  padaku  apa  yang  terjadi?”  Sudah bertahun-tahun kami berdua tidak berjumpa dan tidak saling mengetahui kabar masing-masing.

Dia menjawab, “Tidakkah kau ingat seorang lelaki yang kita tangkap di rumahnya  karena  dituduh  menjual  narkoba,  dan  istrinya  histeris  karena terkejut.”

“Ya aku ingat,” kataku.

“Saudaraku,  Sesungguhnya  Tuhanmu  Maha  Mengawasi.  Ternyata  Dia hanya   menunda   dan   Dia   tidak   pernah   melalaikan   sesuatu”   katanya,

“Ternyata lelaki itu bukanlah seorang bandar narkoba, dia ternyata seorang yang mulia, beberapa kerabatku yang menjadi mengenalnya menyalahkan diriku.  Maka  aku  mohon  maaf  padanya  atas  kekeliruan  ini  dan  aku bebaskan dia dari penjara. Dan nama baiknya kupulihkan. Namun tahukah kau  apa  yang  menimpaku  setelah  kejadian  itu?  Sungguh  keadilan  Tuhan yang  Maha  Mengawasi  telah  ditetapkan,  dengan  datangnya  musibah  dan bencana kepada diriku secara bertubi-tubi.

Musibah pertama dalam bentuk balasan yang serupa dengan yang kukerjakan. Yaitu ketika setelah kejadian ini  aku  langsung  mendapatkan  dua  orang  anak  kembar  yang  menderita penyakit disfungsi saluran urine! Sesuatu yang dulu pernah menyebabkan tewasnya  istri  seseorang  yang  kudzalimi.  Aku  berusaha  mengobati  kedua anak kembar ini dengan mendatangi para dokter dan sekian banyak rumah sakit di Mesir, Inggris dan Amerika sampai hartaku habis, namun mereka tidak  juga  sembuh.  Saat  ini  keduanya  telah  tumbuh  menjadi  gadis  cantik bak  bunga  merekah  dan  menjalani  studi  di  perguruan  tinggi,  namun  tak ada  lelaki  yang  mau  melamar  mereka  ketika  mengetahui  penyakit  yang diderita keduanya.”

Orang itu melihatku sambil menangis meraung-raung sampai menarik perhatian orang-orang di sekitar kami, lalu dia berkata, “Saat itu juga aku sadar  bahwa  Allah  sedang  menghukumku  atas  kedzaliman  yang  pernah kulakukan  terhadap  salah  seorang  hamba-Nya.  Aku  harus  menanggung akibatnya dan aku menangis berhari-hari. Bertahun-tahun aku tak keluar kamar atau berbicara dengan orang lain. Aku cuci diriku dengan air mata dan  kutinggalkan  dunia  dengan  meendatangi  baitullah  untuk  memohon ampunan-Nya.

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: