Aqidah dan Manhaj

Jangan Menjadi Manusia Spons…Bag 2


Rasulullah telah mencela orang yang mengambil setiap ucapan lalu menceritakannya begitu saja kepada orang lain apa yang dia dengar itu, tanpa melakukan tabayun. Sabda beliau,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ.

“Cukuplah pada diri seseorang yaitu dia menceritakan setiap apa saja yang didengarnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 5).

Selain kitabullah dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, masih ada lagi ucapan yang layak untuk kita jadikan rujukan dalam Agama dan kebaikan. Yaitu ucapan dan pendapat Khulafa` ar-Rasyidin, yang direkomendasikan oleh Rasulullah dengan sabdanya,

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ؛ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ.

“Wajib atas kalian untuk berpegang pada Sunnahku dan sunnah Khulafa’ ar-Rasyidun yang telah mendapatkan petunjuk (sepeninggalku), gigitlah ia dengan gigi geraham(mu).” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 16692, Abu Dawud no. 44607, dan Ibnu Majah no. 42, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Sha-hihah, no. 2735 dan lainnya).

Sunnah adalah jalan hidup, berupa ucapan perbuatan mau-pun ketetapan. Jalan hidup Khulafa’ ar-Rasyidun adalah jalan yang juga ditempuh oleh Rasulullah, dan pantang bagi mereka menam-bah atau mengurangi sunnah Nabi mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah menyebut jalan Khulafa’ ar-Rasyidun juga sebagai sunnah. Mereka adalah para khalifah atau pengganti Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengemban dakwah Islam, penerus risalah, penegak Syariat dan Tauhid, ulama sekaligus mujahid, dan mujtahid paling utama. Mereka adalah Amirul Mukminin, imam kaum muslimin yang Allah mewajibkan ketaatan kepada mereka setelah menaati Allah dan Rasul. Mereka mendapatkan ilmu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan begitu lengkap dan utuh. Demikian juga dengan ucapan para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain, lebih-lebih yang telah menjadi ijma’ (konsensus) mereka, yang Allah ridha kepada mereka, dan mereka ridha kepada Allah, serta telah dijanjikan dengan surga.

Selanjutnya kita juga dianjurkan untuk mengambil ucapan para penerus shahabat dari kalangan tabi’in, tabiut tabi’in dan para ulama umat dari masa ke masa di setiap zamannya, yang menempuh manhaj as-Salaf ash-Shalih tadi. Para ulama adalah pewaris Nabi, maka yang layak disebut ulama adalah yang mempunyai banyak bekal ilmu (warisan) yang bersumber dari Kitabullah dan Hadits Nabi, memahami kalam Allah dan ucapan RasulNya, mengetahui hukum-hukum syariat, dapat mengambil istinbat (kesimpulan) hukum, paham teori dan praktiknya. Kemudian secara umum kita juga mengambil ucapan-ucapan yang baik dari sesama muslim, ucapan yang bermanfaat dan membawa maslahat.

Dari mereka itulah kalau kita ingin mengambil perkataan dan ilmu, bukan dari sembarang orang. Apalagi orang yang tidak jelas akidahnya, tidak jelas manhajnya, tidak diketahui kepada siapa dia mengambil ilmu, tidak perhatian terhadap agama dan syariat, tidak perhatian terhadap halal haram, melakukan kebid’ahan, banyak meninggalkan sunnah Nabi dan banyak melakukan kemaksiatan bahkan dengan terang-terangan melakukannya di muka umum.

Di masa ini tidak sedikit manusia-manusia yang melemparkan berbagai wacana, teori-teori dalam agama, pendapat-pendapat dan ide yang tidak jelas sumbernya. Ada di antaranya yang bersumber dari non muslim kaum kufar atau dari orang-orang yang memiliki keyakinan menyimpang dari akidah yang shahihah. Ada yang mengambil akidah dari mimpi ataupun apa yang disebut orang sebagai wangsit alias bisikan ghaib.

Ada pula yang cukup berbahaya yakni mengambil dari nash ayat atau hadits namun dipahami dan ditakwilkan secara salah. Keahlian mereka sebenarnya bukan dalam hal agama dan ilmu syar’i, namun dalam bersilat lidah, berdebat, pemutarbalikan fakta, mantiq dan berfilsafat. Dengan modal ini segala sesuatu menjadi mungkin, ayat dan hadits bisa dimentahkan, al-haq dan syariat Islam dapat disingkirkan, kemantapan menjadi keragu-raguan, orang benar dapat disalahkan, yang salah dianggap benar, kayakinan dapat dikaburkan. Mereka adalah manusia-manusia yang lihai mengemas kata dan kalimat, untuk menjauhkan dan menjerumuskan manusia dari Agama Allah.

Memang demikian ciri khas kebatilan dan pengikut kebatilan, di mana mereka mendapati syariat Allah maka dengan serta merta mereka cari kelemahan dan celah-celah untuk bisa dijatuhkan. Di mana mereka mendapati kaum muslimin yang konsisten dengan ajaran Islam maka dengan cepat dicarikan istilah-istilah yang buruk dan menyeramkan. Sedangkan kebatilan yang mereka pegang dikemas sedemikian menarik untuk menghilangkan kecurigaan. Oleh sebab itu, jangan sampai kita tertipu dengan permainan kata, pe-ngemasan istilah, dan keindahan bungkus. Ingat! Iblis pun menga-takan kepada Nabi Adam ’Alaihi wasallam, bahkan dengan bersumpah, sebagaimana diabadikan Allah dalam al-Qur`an dengan FirmanNya,

“Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya (Adam dan Hawa), ‘Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua’.” (Al-A’raf: 21).
Begitu pula Fir’aun ketika menjawab kaumnya. Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman mengabadikan perkataannya,

“Fir’aun berkata, ‘Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar’.” (Ghafir 29).

Begitu pula orang-orang munafik yang digambarkan oleh Allah dengan FirmanNya,

“Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu membuat ke-rusakan di muka bumi’. Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’.” (Al-Baqarah:11).

Maka sekali lagi, janganlah seorang muslim menjadi spons, yang mengambil nasihat versi iblis, kebaikan dan jalan benar versi Fir’aun atau perbaikan menurut pandangan kaum munafik. Jika seseorang mengambil semua informasi yang dia dengar, mengambil ucapan semua orang yang baik dan yang buruk, ataupun perkataan-perkataan yang jauh dan tidak sejalan dengan al-Qur`an dan as-Sunnah, maka ketika dia berbicara pun akan mengeluarkan apa yang selama ini dia serap. Dan akhirnya yang terjadi adalah “dhallu wa adhallu” (sesat dan menyesatkan). Wallahul musta’an, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Diringkas seperlunya dari Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, Darul Haq Jakarta).

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: