Seputar Puasa (Ramadhan)

Beberapa Hal yang tidak Membatalkan Puasa (1/2)


  • Mencuci telinga, atau memasukkan tetesan ke dalam hidung, atau oksigen yang dimasukkan melalui hidung apabila bagian yang masuk tenggorokan tidak ditelan.
  • Pil-pil pengobatan yang diletakkan di bawah lidah untuk pengobatan sariawan atau lainnya juga tidak membatalkan puasa selagi dihindari masuknya ke dalam tenggorokan.
  • Memasukkan alat perekam ke lobang vagina, atau jari untuk pemeriksaan. [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 10/172]
  • Memasukkan alat pelihat atau spiral atau yang serupa dengannya ke dalam rahim.
  • Benda yang dimasukkan ke lobang air seni, maksudnya; pipa yang dimasukkan ke lobang tempat aliran air seni pada zakar atau vagina, atau benda yang dihubungkan dengan sinar atau obat, atau tempat untuk membersihkan wadah air seni.
  • Melubangi gigi atau mencopot gigi geraham atau pembersihan gigi atau bersiwak dan bersikat gigi asal dihindari tertelannya sesuatu ke dalam tenggorokan.
  • Kumur-kumur dan oksigen buatan yang dilakukan di mulut asal dihindari tertelannya sesuatu ke dalam tenggorokan.
  • Injeksi pengobatan di tubuh atau pada otot atau pembuluh darah, selain infuse pengganti makanan.
  • Gas oksigen.
  • Gas pembius yang tidak diberi bahan cair sebagai suplemen.
  • Benda-benda yang diserap kulit, seperti bahan cairan atau minyak angin atau benda tempelan lainnya yang mengandung bahan medis atau kimia.
  • Memasukkan selang (pipa kecil) ke urat-urat untuk kepentingan pemotretan atau pengobatan rongga jantung atau anggota badan lainnya.
  • Memasukkan alat untuk melihat yang dimasukkan ke bagian luar lambung untuk pemeriksaan atau operasi medis.
  • Mengambil bintik atau bendul-bendul yang ada di dalam hati atau lainnya selagi tidak dibarengi dengan bahan cairan suplemen.
  • Alat yang digunakan untuk melihat pencernaan bila dimasukkan tidak dibarengi dengan bahan-bahan suplemen atau benda lainnya.
  • Masuknya alat atau benda medis ke otak atau sumsum.

Hendaknya seorang dokter muslim selalu memberi nasihat kepada pasien untuk menunda hal-hal yang tersebut di atas yang tidak berbahaya atas penundaannya sampai waktu berbuka tiba, karena hal yang demikian itu lebih berhati-hati. [Qararat Majma’ Al-Fiqh Al-Islami, hal. 213]

  • Barangsiapa yang makan atau minum secara sengaja di siang Ramadhan tanpa ada uzur, maka ia telah melakukan salah satu dosa besar; maka ia wajib bertobat dan mengganti puasanya. Dan jika yang dimakan atau diminum itu benda haram, seperti minuman keras, maka dosanya lebih besar dan keji lagi. Maka, ia wajib segera bertobat dengan sungguh-sungguh dan memperbanyak melakukan amalan-amalan sunnah berupa puasa dan lainnya, agar ia dapat menutup kewajiban yang dinodainya dan agar Allah berkenan memberinya tobat atasnya.
  • Barangsiapa lupa, lalu makan atau minum, maka hendaknya terus berpuasa, karena sesungguhnya ia diberi makan atau minum oleh Allah.” [Diriwayatkan oleh Al- Bukhari, Al-Fath, no. 1933]

Di dalam riwayat lain disebutkan, “Maka, tidak wajib meng-qadha’ atau membayar kaffarat baginya.

Apabila Anda melihat orang yang sedang berpuasa makan karena lupa, maka hendaknya anda ingatkan, karena luasnya cakupan firman Allah subhanahu wa ta’aala, “Dan saling tolong menolonglah kamu di dalam kebajikan dan takwa.”

Dan karena juga luasnya cakupan hadits Rasulullah,  “Apabila aku lupa, maka ingatkanlah aku.

Dan karena pada dasarnya hal tersebut adalah merupakan suatu kemunkaran yang wajib diubah. [Majalis Syahr Ramadhan, Ibnu Utsaimin, hal. 70]

  • Orang yang harus berbuka (membatalkan puasanya) karena harus menyelamatkan seseorang dari kebinasaan, maka ia boleh berbuka dan nanti harus menggantinya; sebagaimana seperti harus menyelamatkan orang yang tenggelam dan memadamkan kebakaran.
  • Orang yang wajib berpuasa lalu melakukan hubungan suami istri (senggama) dengan sengaja dan sadar (tidak terpaksa) di siang bulan Ramadhan, maka ia telah membatalkan puasanya, apakah keluar sperma ataupun tidak. Maka, ia wajib segera bertobat dan menyempurnakan puasa hari itu dan wajib pula menggantinya, serta wajib membayar kaffarat yang sangat berat.

 Di dalam hadits Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu dituturkan: Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seketika datang seorang lelaki, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, celaka aku!” Nabi bertanya, “Kenapa?” Ia menjawab, “Aku terlanjur melakukan jima’ terhadap istriku padahal aku sedang berpuasa.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu punya hamba sahaya yang bisa kamu merdekakan?” Ia jawab, “Tidak.” Lalu, nabi bersabda, “Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Lelaki itu menjawab, “Tidak.” Nabi bersabda, “Apakah kamu mampu memberikan makan kepada 60 orang miskin?” Orang itu menjawab, “Tidak” (Al-Hadits). [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Al-Fath, no. 1936]

Demikianlah hukumnya, dan begitu pula sama hukumnya bagi orang berbuat zina, homoseks dan menyetubuhi binatang. Dan barangsiapa yang melakukan persetubuhan berulang kali di hari-hari Ramadhan, maka ia wajib membayar kaffarat sebanyak hari pelanggarannya, ditambah dengan mengganti puasa hari-hari itu, dan tidak ada alas an baginya untuk tidak membayar kaffarat sekalipun karena ketidakmengertiannya terhadap kewajiban kaffarat. [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 10/321]

  • Jika seseorang ingin melakukan persetubuhan terhadap istrinya, lalu terlebih dahulu ia membatalkan puasanya dengan makan, maka kemaksiatannya lebih besar, karena ia telah menodai kehormatan bulan suci Ramadhan dua kali, yaitu dengan makan dan persetubuhannya. Dan kaffarat-nya berat dan lebih pasti, dan cara tipu dayanya menjadi malapetaka bagi dirinya dan ia wajib melakukan tobat yang sejati. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa, 25/262].
  • Mencium, bercumbu, bersentuhan tubuh dengan istri, berpelukan dan memandang istri atau hamba sahayanya berulang-ulang itu boleh saja selagi dapat mengendalikan nafsunya. Di dalam hadits Shahih Al-Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau menuturkan, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium(nya) di saat sedang berpuasa, dan bersentuhan tubuh di saat beliau berpuasa pula, akan tetapi nabi adalah orang yang sangat bisa mengendalikan nafsunya.”

Adapun hadits yang berbunyi, (Ia meninggalkan istrinya karena-Ku), maka yang dimaksud (meninggalkan istrinya pada hadits itu) adalah melakukan jima’. Akan tetapi, jika birahi seseorang cepat bereaksi dan tidak dapat mengendalikannya, maka hal di atas tidak boleh ia lakukan, karena dapat menyebabkan puasanya batal dan ia tidak terjamin aman dari keluarnya sperma atau terjerumus di dalam persetubuhan. Allah subhanahu wa ta’aala telah berfirman di dalam hadits Qudsi, “Ia meninggalkan istrinya demi Aku.” Dan kaidah agama mengatakan, “Setiap sarana yang dapat mengantarkan kepada yang diharamkan, maka diharamkan.”

  • Kalau seseorang melakukan persetubuhan lalu fajar terbit, maka ketika itu wajib menanggalkannya, sedangkan puasanya sah sekalipun keluar sperma setelah zakarnya dicabut. Adapun kalau persetubuhan dilanjutkan sampai setelah fajar terbit, maka puasanya batal, ia wajib bertobat, mengganti puasa hari itu dan membayar kaffarat berat.
  • Kalau seseorang masuk ke waktu Shubuh dalam keadaan janabat (junub) maka hal ini tidak merusak puasanya, dan bahkan boleh menunda mandi junub, mandi haidh dan nifas hingga setelah fajar Shubuh terbit, namun ia wajib segera mandi supaya dapat melakukan shalat Shubuh dan agar ia segera didekati oleh para malaikat.
  • Kalau orang yang sedang berpuasa tidur di siang hari lalu bermimpi hingga keluar sperma, maka puasanya tidak batal secara ijma’, bahkan ia harus menyempurnakan puasanya.
  • Barangsiapa yang melakukan pengeluaran mani di siang Ramadhan, seperti dengan memainkan kemaluannya atau berulang-ulang memandang lawan jenisnya, ia wajib bertobat kepada Allah dan melakukan imsak pada hari itu serta meng-qadha’ puasa hari itu di kemudian hari. Dan jika ia mulai melakukan pengeluaran mani lalu berhenti dan belum keluar maninya, maka ia wajib bertobat dan ia tidak wajib qadha’ karena mani belum keluar. Dan hendaknya setiap orang yang berpuasa menghindari segala sesuatu yang dapat memancing bangkitnya syahwat dan berupaya mengusir bisikan-bisikan jiwa yang jahat.

Adapun keluarnya madzi –sebagaimana pendapat yang kuat– tidak membatalkan puasa. Keluarnya wadi –yaitu cairan bening kental seusai kencing– tanpa ada rasa nikmat juga tidak membatalkan puasa dan tidak mewajibkan mandi, hanya saja wajib dicuci dan berwudhu. [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 10/179]

Iklan

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

9 thoughts on “Beberapa Hal yang tidak Membatalkan Puasa (1/2)

  1. kalau misal kena vertigo atau sakit kepala yang luar biasa (memang penyakitnya seperti itu) dan bisa hilang kalau minum obat, dan kalau tidak minum obat benar2 sakit serta lemas dan mual.. sedangkan saya pingin lanjut puasa… bisa gak setelah batal minum obat saja lalu lanjut puasa lagi / disempurnakan puasanya hari itu?

    Posted by chomz | Rabu, Agustus 3, 2011, 12:24 pm
    • wallaahua’lam akh, kalo vertigonya adalah rutinitas dalam artian suka kambuh. karena keterbatasan ilmu ana, saran ana antum tanya ke konsultasisyariah.com atau dengerin radio rodja 756 am dan antum bisa tanya langsung seputar permasalahan antum. syukron.

      Posted by Admin | Rabu, Agustus 3, 2011, 12:33 pm
  2. mau tanya, apabila saat puasa bangun tidur tanpa sengaja keluar air mani, seperti yang dijelaskuan diatas kan tidak membatalkan puasa, ,
    namun setelah itu apakah harus mandi besar?? supaya saat sholat dalam keadaan khusyu

    Posted by nur | Rabu, Agustus 10, 2011, 3:16 pm
  3. Mau tanya.. klo masturbasi pada saat puasa terul keluar sperma dan kita lupa sedang puasa itu batal nggak?

    Posted by Bla bla | Senin, Mei 14, 2012, 9:53 am
  4. Misalkan kta itu lg pusa snin-kmis tpi kta lupa memekan buah rambutan mnurut anda bgai mna apa kah itu batal……mksh

    Posted by Santi | Kamis, Februari 14, 2013, 9:25 am
  5. batal tidak minum air tanpa sengaja pada puasa senin kamis

    Posted by rio | Senin, November 4, 2013, 9:42 am
  6. mau tanya ni kalau tiba2 di televisi ada yg memencing syahwat lalu kita keluar mani apakah itu batal puasanya..?

    Posted by wandi | Kamis, Juli 3, 2014, 1:15 pm

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: