Seputar Puasa (Ramadhan)

Beberapa Hal yang tidak Membatalkan Puasa (2/2)


  • Barangsiapa yang muntah tidak sengaja, maka tidak wajib qadha’, dan barangsiapa yang muntah dengan disengaja, maka wajib meng-qadha’.” [Hadits shahih diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, 3/89]

Oleh karenanya, barangsiapa yang muntahnya disengaja dengan memasukkan jarinya ke dalam tenggorokannya atau sengaja menekan perutnya atau sengaja mencium bau yang tidak sedap atau sengaja melihat sesuatu yang dapat membuatnya muntah, maka ia wajib qadha’. Kalau setelah mau muntah namun tidak jadi, maka puasanya tidak batal, karena tidak jadi muntah itu bukan atas keinginannya, tetapi kalau ia yang menelannya kembali, maka puasanya batal. Jika perutnya mual, maka ia tidak wajib menahan muntah, karena hal tersebut dapat membahayakannya [Majalis Syahr Ramadhan, Ibnu Utsaimin, hal. 76].

Apabila seseorang menelan sesuatu yang menempel di celah-celah giginya dengan tidak sengaja, atau benda itu sangat kecil yang sulit untuk diketahui, maka itu termasuk air liur dan tidak membatalkan. Tetapi kalau benda itu besar dan memungkinkan baginya untuk diludahkan, maka batal puasanya bila ia telan dengan sengaja. [Al-Mughni, 4/47]

Karet, apabila bercampur sesuatu atau mempunyai rasa tambahan atau manis, maka haram mengunyahnya, dan jika rasa manis tersebut sampai ke tenggorokan maka dapat membatalkan. Setelah air kumur dibuang dari mulut, maka basah atau lembab yang tersisa di mulut itu tidak merusak puasa, karena hal seperti itu sulit dihindari.

Orang yang mimisan (hidung berdarah) puasanya tetap sah, karena mimisan itu timbul bukan atas dasar kehendaknya [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 10/264]. Kalau gusi bernanah atau berdarah karena gosok gigi, maka darah tidak boleh ditelan dan harus diludahkan. Namun, jika sebagiannya tertelan tanpa disengaja dan bukan atas kemauannya maka tidak apa-apa; dan demikian pula muntah yang kembali masuk ke tenggorokan tanpa kemauan dirinya, puasanya tetap sah. [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 10/254]

Ingus, yaitu cairan kental yang keluar dari rongga hidung di kepala dan dahak, yaitu cairan kental yang keluar dari dalam dada karena batuk atau berdeham, jika ditelan sebelum sampai ke mulut maka tidak membatalkan puasa, karena sulit dihindari; akan tetapi jika ditelan sesudah sampai di mulut maka pada saat itu puasanya batal. Dan bila ingus atau dahak masuk secara tidak sengaja (tertelan), maka tidak membatalkan.

Menghirup uap air, sebagaimana dilakukan oleh buruh (pekerja) di tempat-tempat penyulingan air tidak membatalkan puasa. [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 10/276] Dan makruh mencium aroma makanan tanpa keperluan mendesak, karena hal itu dapat mengundang puasa menjadi batal. Termasuk keperluan mendesak adalah mengunyah makanan untuk bayi, kalau hal itu terpaksa harus dilakukan oleh sang ibu, dan mencicipi rasa makanan untuk diketahui sedap atau tidaknya. Demikian pula jika di saat membeli sesuatu dengan terpaksa harus dicicipi. Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas pernah berkata, “Tidak apa-apa mencicipi cuka atau makanan yang hendak dibeli.” [Dihasankan dalam Irwa’ Al-Ghalil, 4/86. Lihat Al-Fath pada syarh bab ightisal ash-sha’im, dalam kitab Ash-Shiyam]

  • Bersiwak (gogok gigi dengan siwak) adalah sunnah dilakukan sepanjang hari oleh orang yang sedang berpuasa, sekalipun siwaknya lembab. Kalau seseorang yang sedang berpuasa bersiwak, lalu merasakan rasa pedas atau rasa siwak selain itu, kemudian menelannya, atau ia ludahkan, sedangkan di mulutnya masih ada ludah lalu menggosokkannya kembali dan menelan ludah tersebut, maka tidak apa-apa. [Al- Fatawa Ash-Sa’diyah, 245]

Dan hendaknya ia menghindari dan tidak menggunakan siwak yang telah dicampur zat lain, seperti siwak hijau; juga menghindari siwak yang mempunyai rasa tambahan seperti rasa lemon dan menthol. Dan hendaklah ia meludahkan serpihan siwak yang tercecer di mulut, ia tidak boleh menelannya secara sengaja; dan jika tertelan secara tidak sengaja maka puasanya tidak apa-apa.

  • Segala sesuatu yang menimpa orang yang sedang berpuasa, seperti luka, mimisan atau tersedak air atau bensin ke dalam tenggorokan bukan atas kesengajaan itu tidak merusak puasa. Dan demikian pula debu, asap dan lalat yang masuk ke tenggorokan dengan tidak sengaja, juga tidak membatalkan. Dan sesuatu yang tidak mungkin dapat dihindari, seperti air liur (ludah) tidak membatalkan. Demikian halnya debu jalanan dan debu tepung.

Kalau seseorang mengumpulkan air liurnya di mulut lalu ia telan dengan sengaja, maka puasanya juga tidak batal (menurut pendapat yang lebih shahih). [Al-Mughni, Ibnu Quddamah, 3/106]

Demikian pula air mata yang tertelan, atau berminyak rambut atau mengubah warna rambut dengan hanna’, (sejenis tanaman) yang kemudian rasanya terasa di tenggorokan. Dan memakai hanna’ pada anggota badan, bercelak dan berminyak, [Lihat Majmu’ Al-Fatawa, 25/233, 25/245] memakai hand and body lotion, mencium wangi-wangian (parfum) dan menggunakannya serta gaharu dan lain-lainnya tidaklah mengapa bagi orang yang puasa, asalkan tidak dimasukkan ke dalam hidungnya. [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 10/314]

Sebaiknya tidak memakai pasta gigi di siang hari, karena pasta gigi mempunyai sengatan yang amat kuat. [Majalis Syahr Ramadhan, Ibnu Utsaimin, hal. 72]

  • Sebagai sikap waspada bagi orang yang puasa adalah untuk tidak berbekam, karena perselisihan tentang masalah ini sangat tajam, sehingga Ibnu Taimiyah cenderung kepada pendapat yang mengatakan batal puasa bagi orang yang berbekam (dibekam).
  • Merokok juga termasuk yang membatalkan puasa, dan bukan alasan untuk meninggalkan puasa karena merokok. Sebab bagaimana akan dimaklumi orang yang melakukan kemaksiatan?!
  • Menyelam di dalam air atau berselimutkan pakaian basah untuk mendinginkan badan tidak apa-apa dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa. Dan tidak mengapa pula menyiramkan air di kepalanya karena kepanasan atau kehausan [Al-Mughni, 3/44], namun makruh hukumnya berenang, karena dapat menyebabkan puasanya batal.

Dan orang yang pekerjaannya menyelam atau pekerjaannya menuntutnya menyelam, selagi ia aman dari masuknya air ke dalam tenggorokannya, maka tidak mengapa.

  • Kalau seseorang makan atau minum atau melakukan persetubuhan dengan dugaan masih malam (fajar Shubuh belum terbit, pen.), namun kemudian ternyata fajar telah terbit, maka tidak mengapa baginya, karena ayat Alquran membolehkan perbuatan tersebut hingga ada kejelasan. Abdur Razaq telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata, “Allah menghalalkan makan dan minum bagimu selagi kamu masih ragu.” [Fathul Bari, 4/135. Ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 29/263]
  • Kalau seseorang berbuka dengan dugaan bahwa matahari telah terbenam, padahal belum, maka ia wajib mengganti puasanya (menurut jumhur ulama); karena hokum dasarnya adalah masih tetapnya siang; dan keyakinan itu tidak dapat dihilangkan dengan keraguan. Namun, Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa “ia tidak wajib mengganti (meng-qadha’).
  • Kalau fajar telah terbit, sedangkan di mulutnya ada makanan atau minuman, maka para ahli fikih sepakat bahwa orang itu harus meludahkannya dan puasanya sah. Dan begitu pula hukum orang yang makan atau minum karena lupa, lalu sadar dan di mulutnya ada makanan dan minuman, maka puasanya sah asalkan meludahkan apa yang ada di dalam mulutnya.

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: