Kisah

Ketinggalan Zaman di Abad 15 Hijriyah


Pada suatu hari Musa bin Ishaq, hakim kota Rayy dan Ahwaz pada abad  13 hijriyah, menjalankan tugas untuk menangani beberapa kasus. Diantara para penggugat ada seorang istri yang menuntut suaminya untuk melunasi mahar sebesar 500 dinar. Suaminya menolak tuntutan itu.  Musa berkata kepada lelaki itu, “Datangkan saksi-saksimu.”

“Aku sudah mendatangkan mereka.” Jawab si suami.

Hakimpun   kemudian   meminta   supaya   salah   satunya   dihadapkan padanya lalu berkata, “lihatlah si istri untuk memantapkan persaksianmu.” Lalu dia meminta si istri untuk  berdiri. Si suamipun terkejut dan berkata, “Apa  yang  kalian  inginkan  darinya?”  Musa  berkata,  “Saksi  harus  melihat wajah istrimu agar dapat mengenalnya.”

Si  suami  rupanya  tidak  suka  istrinya  dipaksa  untuk  menyingkapkan wajahnya  untuk diperlihatkan kehadapan para saksi. Dia berkata, “Wahai hakim  aku  mengaku  bahwa  aku  memang  memiliki  hutang  mahar  seperti yang  disebutkan  istriku,  tapi  kumohon  jangan  kau perintahkan  dia  untuk memperlihatkan wajahnya.”

Si  istripun  menyadari  betapa  besar  rasa  cemburu  dan  perlindungan yang  diberikan  oleh  suaminya  di  depan  khalayak.  Kemudian  dia  berkata kepada  hakim,  “Wahai  hakim  aku  memintamu  menjadi  saksi  bahwa  aku telah  menghibahkan  maharku  untuk  suamiku  dan  aku  membebaskannya dari pembayaran maharku di dunia dan di akhirat.”

Inilah salah satu kejadian pada abad 13 hijriyah. Sementara kita di abad ke  15  ini  sering  menyaksikan  hal  yang  sebaliknya.  Banyak  suami  yang membolehkan  begitu  saja  istri  dan  putri-putrinya  keluar  rumah  dengan dandanan  mencolok,  memancing  fitnah  dan  mengabaikan  rasa  malu dengan alasan agar mereka tidak ketinggalan jaman.

Peradaban macam apa ini? Apakah seluruh hal yang hina dan merusak ini  dapat  disebut  sebagai  kemajuan?  Jika  ini  disebut  kemajuan,  maka  kita tak  boleh  menerimanya,  biarlah  mereka  menyebut  kita  sebagai  “orang-orang yang ketinggalan jaman.”

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: