Novel Siluet Cinta dalam Kabut (Manuskrip)

Episode 1: “Kasih sayang Suami”


Tulisan ini terinspirasi dari sebuah kisah nyata katakanlah namanya Arman. Arman adalah sosok suami yang memiliki sikap lembut dan berusaha menyejukkan istrinya dikala sedih. Rasa lelah sepulang kerja tak menyurutkan tugasnya sebagai suami. Arman tahu tatkala istrinya gundah gulana, dia bisa melihat raut mukanya yang dipenuhi beban berat sebagai istri. Walaupun istrinya berusaha untuk menyembunyikan perasaannya, namun naluri kewanitaannya tetap lemah dan perasa.

“Istriku, bisa jadi Alloh belum memberi kita anak karena kesalahan dan dosa kita. Bisa jadi kita belum layak menjadi orangtua. Bagaimana seandainya kita punya anak justru membuat kita lalai, lupa kepada Alloh.”

Tidakkah kau ingat akan firman Alloh:

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.( Qs. al-Munafiqun:9)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155)

“Hendaknya kita berhudnuzhon kepada Alloh. Perbaiki diri kita dan terus berdo’a kepada Alloh semoga memberikan kita keputusan yang terbaik.” Kata-kata seperti itu yang terus terucap dari lisan Arman, suami yang berusaha menguatkan sang istri.

Begitulah keadaannya. Arman dan istrinya belum dikarunia seorang anak padahal mereka sudah lama menikah. Sebagai seorang wanita dan tentunya seorang istri, Arman tahu bahwa istrinya terus menyalahkan dirinya sendiri. Terlebih lagi, saat tetangga dan teman-temannya bertanya seputar kehamilan.

“ukhti/mbak gimana dah hamil?

Ukhti tau ga’ si Rina (nama samaran) dia dah hamil kedua lho..?

koq belum hamil sih mba’?

atau sederet pertanyaan lainnya.

Arman pun tidak pantang menyerah untuk terus menasihati dan menenangkan istrinya. Karena dia merasa bahwa suami tidak hanya mencari nafkah, tapi menjadikan dirinya sebagai pakaian. Selimut kehangatan tatkala istrinya kedinginan. Sebagai pelindung dan penutup aib-aibnya.

Mereka [istri-istri] adalah pakaian bagimu dan kamu [suami-suami] adalah pakaian bagi mereka, …” [QS al-Baqarah [2]: 187]

Rasa cinta dan kasih sayang Arman membuat sang istri lebih terhibur. Tak jarang Arman mengajaknya jalan-jalan di hari libur, makan bareng diluar, atau memintanya untuk mengunjungi teman-temannya. Siapa tahu istrinya kesepian di rumah dan tidak ada teman bicara saat Arman sedang bekerja.

Suatu hari setelah Arman pulang kerja, istrinya melayani Arman dengan tidak biasanya. Tak ada kesedihan di wajahnya. Berdandan lebih cantik layaknya saat awal menikah. Selepas makan dan menghilangkan penat, istri Arman melontarkan sebuah ucapan yang mengejutkan Arman.

“Suamiku, aku mencintaimu karena Alloh. Maukah kau memenuhi permintaanku?” tanya sang istri dengan wajah serius.

“Istriku, aku juga mencintaimu karena Alloh. Selama aku mampu dan tidak melanggar syariat, insyaalloh akan aku penuhi permintaanmu.” Tutur sang suami sembari mengelus rambut sang istri.

“aku ingin mas menikah lagi dengan wanita yang bisa memberikan keturunan tapi dengan syarat aku yang memilihnya.”

Arman pun terkejut mendengar permintaan istrinya. Selama hidupnya dia tidak pernah berharap poligami karena dia merasa belum mampu.

“Istriku, aku tidak akan mau poligami walaupun kita belum dikarunia anak. Bagaimana mungkin aku menikah lagi, sedangkan aku belum bisa menjadi suami yang baik, pemimpin yang baik untukmu. Aku belum bisa menjadi seorang suami yang sholeh yang mengajak istrinya untuk menjadi wanita yang benar-benar sholihah.” Ucap Arman sembari memegang erat tangan sang istri.

“Tapi, aku mandul mas. Aku tidak bisa memberimu keturunan. Aku tidak layak menjadi istrimu, aku tidak sempurna seperti istri lainnya. Aku ikhlas mas.”

 “istriku, dengarkan aku baik-baik. Engkau belum hamil bukan kesalahanmu. Mungkin ini juga kesalahan suamimu. Kita sama-sama menanggung. Boleh jadi kita belum dikarunia seorang anak karena kesalahan dan dosa suamimu ini. Bantu aku untuk memperbaiki diri dengan nasihat yang lembut dan do’a.”

“maafkan aku mas, jika aku berbuat durhaka. Karena aku tidak ingin menjadi istri yang durhaka kepada suaminya yang dengannya itu menyebabkan Alloh tidak ridho terhadapku. Aku hanya ingin membuatmu bahagia dan memiliki keluarga yang utuh. Aku tidak mau suatu saat mas kecewa dan lebih memilih selingkuh dengan wanita lain. Sebelum itu terjadi, aku mau mas menikah lagi dan tidak menceraikanku.”

“istriku, bidadariku. Tatap mata mas, apakah ada kebohongan dimataku? Apakah kau tidak mempercayaiku?apakah kau mengira aku seperti suami yang tidak tahu agama yang mana tatkala ada kekurangan dari istrinya lalu dia selingkuh? Aku tidak pernah menyesal menikahimu sampai kapanpun. Setiap kita pasti punya kekurangan. Baik aku ataupun kamu. Justru kekurangan itu, harus saling menyempurnakan layaknya bumbu masakan.”

“Maafkan aku mas. Mas kenapa nangis juga?. Mas marah dengan kata-kata aku?”

“Air mata ini bukti kalau mas sangat mencintaimu terlepas dari banyak tidaknya kekuranganmu. Aku ingin kita saling menguatkan dan percaya dengan apa yang ditakdirkan Alloh untuk kita. Mas yakin, ada hikmah dan balasan yang lebih baik yang menanti kita. Apapun yang kau dengar dari orang-orang, selayaknya kau jadikan do’a semoga menjadi jalan untuk kebaikan kita. Sibukkan dirimu dengan cara mengaji, menghafal, dan mendengarkan kajian terutama rumah tangga ( Radio Rodja 756am).” Nasihat Arman sembari menatap sang istri lekat-lekat.

Mendengar penjelasan sang suami, sang istri pun tidak kuasa menahan tangisnya. Air matanya pun tumpah dipelukan Arman. Arman pun langsung menerima pelukannya dan memeluknya dengan erat sambil menghapus air matanya.

Episode selanjutnya: Sang Kumbang Malam

(Manuskrip Novel “Siluet Cinta dalam Kabut”)

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

3 thoughts on “Episode 1: “Kasih sayang Suami”

  1. Duda mendambakan Istri baik itu gadis maupun janda yang tidak bisa mempunyai anak. Apakah karena mandul atau sebab-sebab lainnya sehingga tidak bisa mempunyai anak. Saya tidak menuntut istri harus bisa mempunyai anak, kunjungi istrimandul.wordpress.com

    Posted by istrimandul | Kamis, Februari 9, 2012, 7:39 am
  2. Jazakumullah khairan, kisah ini penuh pelajaran berharga. Barakallahu fiikum.
    antum bagus sekali menuturkan kisah di atas. kisah tersebut bisa dikemas sehingga membaca bisa mengambil ibrah dari setiap peristiwa yang ada, semoga Allah mudahkan antum menyelesaikan kisah di atas, dan memberikan kebaikan kepada aktor asli kisah di atas. sekedar cerita, kebetulan saya membaca kisah tersebut tidak dari awal, loncat ke agak akhir baru akhirnya membaca dari awal sampai tulisan terakhir, dan walaupun tidak dari awal ternyata bisa diikuti, ini menurut saya cara penulisan yang sangat bagus, sehinggga membaca dari manapun masih bisa mendapatkan manfaat dari bagian tersebut.

    sedikit sharing dari saya sebagai pembaca (tentunya antum yang lebih mengetahui bagaimana kisah ini dan tujuan penulisan kisah ini), ketika saya mengetahui istri mas arman bernama mbak irma, maka pada bagian ta’aruf beliau dengan mbak rina, saya bisa memastikan beliau gagal ta’aruf, padahal antum belum menuturkan kisah selanjutnya. sehingga jika antum ingin membuat pembaca lebih penasaran dan dirasa ada manfaat besar dari hal tersebut, jangan ‘dibocorkan’ nama istri mas arman sampai beliau benar-benar menikah dengan mbak irma. karena saya melihat, seandainya nama istri beliau disamarkan sejak awal itupun tidak mengurangi pesan yang ingin disampaikan. itu sedikit masukan dari pembaca, pada akhirnya saya serahkan kembali kepada antum sebagai penulis kisah apakah saran tersebut akan diterima atau tidak. tentunya saya menulis sepanjang ini, tidak lain karena melihat kisah ini bermanfaat dan dituturkan dengan sangat baik sehingga jika ada saran yang baik tentu saya dengan senang hati menyampaikannya. oh iya, komentar ini tidak perlu ditampilkan jg tidak apa-apa, karena sebenarnya hanya saya tujukan untuk antum. Barakallahu fiikum.

    Posted by budi | Jumat, November 23, 2012, 8:42 pm

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: