Novel Siluet Cinta dalam Kabut (Manuskrip)

Episode 3: “Air Mata Istriku”


Langit tak lagi cerah. Mendung dan kelabu. Pelangi nan indah tak lagi menghiasi langit biru. Hanya lembayung senja menebar pesonanya di kaki langit. Semakin menambah suramnya kehidupan. Siang seperti malam dan malam seperti ruang gelap berlapis, pekat. Tak ada bintang-bintang. Tak ada setitik cahaya meneranginya. Sedangkan Sang nakhoda terperangkap dilautan. Terombang-ambing bersama kapalnya. Suara Kepakan sayap burung-burung seakan tertawa kepadanya. Ketika dia berusaha mengendalikan kapalnya ke tepi, gelombang pasang menerpanya.

Seperti itulah suasana hati Arman. Dia menyadari kesalahannya, pengkhianatan terhadap istri yang sangat dicintainya. Benarlah apa yang dikatakan temannya itu. Sekali masuk, maka dia akan sulit untuk keluar. Batinnya selalu bergejolak, berperang antara hawa nafsu dan akal sehatnya. Namun setan selalu menghiasi pikirannya dengan kenikmatan semu itu. Hari-harinya dipenuhi dengan segudang maksiat. Ayat-ayat al-Qur’an tak lagi keluar dari lisannya, sholat malam tak lagi didirikan. Hanya sholat lima waktu saja yang ia kerjakan. Itupun semuanya tak ada yang membekas di hatinya.

“tar malem gw jemput lho dipersimpangan lampu merah hotel “X”. Isi sms Arman

“OK gw tunggu.” Balas sang wanita

Begitulah aktivitas Arman setiap harinya. Mencari mangsa di facebook atau bertanya kepada temannya itu. Maklum sepak terjang temannya tak diragukan lagi. Uangnya pun dihambur-hamburkan untuk perbuatan haram itu. Istrinya ia abaikan dan hanya sebagai tempat pelampiasan kemarahannya.

Suatu hari selepas pulang kerja. Tidak seperti biasanya Arman memasang muka cemberut, penuh amarah. Tak ada senyum yang tersungging di bibirnya. Mencium kening sang istri tak lagi ia lakukan. Seperti ada kebencian yang tersemburat di dadanya. Sang istri pun bingung. Adakah kesalahan yang telah ia perbuat ataukah hanya masalah kantor saja? Ataukah suaminya itu sudah bosan dengannya? Sekelumit pertanyaan memenuhi pikirannya. Sebagai istri yang sholihah, Irma mencoba untuk memahami perubahan sikap suaminya itu.

Kebiasaan Irma yang memijat kakinya tetap ia lakukan sehabis makan. Irma serba salah, bertanya atau tidak. Dia khawatir suaminya itu akan murka sehingga mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Seperti kata “cerai”. Tapi disisi lain, Irma tidak mau suaminya menanggung beban sendiri. Dia ingin menjadi istri yang siap membantu mencarikan solusi di setiap masalah yang dialami suaminya itu. Akhirnya Irma memberanikan diri untuk bertanya kepada suami tercintanya itu.

“suamiku, apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” tanya Irma sembari memijat kaki Arman

Arman tetap diam membisu. Dia tidak menatap wajah sang istri melainkan tertuju kepada benda-benda disekelilingnya. Irma merasa bersalah karena membuat Arman tambah marah. Dia sedih karena suami yang dicintainya itu tidak menatapnya dan mengacuhkannya. Irma pun memilih untuk diam saja dan melanjutkan memijat kaki Arman. Sebenarnya Irma mau menangis, tapi ia tahan. Suasana pun hening, tak ada pembicaraan. Hanya suara detak jarum jam dinding memecah kesunyian. Sesekali Irma mencuri pandang ke arah Arman dan berharap Arman juga memandangnya. Namun, harapannya sia-sia. Suaminya tetap enggan menatap wajah Irma. Jauh dari lubuk hatinya, Irma tahu kalau suaminya itu memiliki masalah yang pelik. Kesedihan yang mendalam. Terlihat dari tatapan matanya yang kosong menatap langit-langit. Setetes air mata yang mengalir di pipinya menambah keyakinan Irma, tapi Irma tak bisa berbuat apa-apa.

“Maafkan aku.” Ucap Arman dengan suara lirih

“Mas minta maaf kenapa? Justru aku yang minta maaf karena bikin mas marah.

“Kamu tidak perlu minta maaf karena kamu tidak salah apa-apa. Aku hanya capek aja dengan masalah yang aku hadapi belakangan ini.”

“karena aku belum hamil?”tanya Irma

“bukan..bukan itu. Saat ini aku belum bisa terus terang kepadamu karena aku tidak mau kehilanganmu. Sayang, lihat mata aku. Jika suatu saat nanti kamu melihat sesuatu yang kamu benci dariku, percayalah aku sangat mencintaimu sampai kapanpun.”tutur Arman dengan mata berkaca-kaca sambil memegang kedua pipi sang istri

Sikap Arman yang mendadak berubah, kadang pemarah kadang tampak biasa dan kadang bersikap melankolis meninggalkan sejuta pertanyaan yang menggelayuti pikirannya.

Malam Itu…

“Enyahlah kau dari hadapanku…!!!”teriak Arman kepada sang wanita tersebut

“OK..OK fine. Gw pergi tapi gw minta bayaran gw.”

“gw ga akan ngasih sepeser pun kepadamu. Pergi ato gw terpaksa pake kekerasan.” Ancam Arman

Sang wanita pun pergi dengan nada menggerutu. Arman menghempaskan tubuhnya ke tembok. Dia menangis sambil memukul-mukul tangannya ke tembok. Sesekali dia tertawa seakan dia menertawai dirinya sendiri. Hatinya terkoyak, remuk dan hancur berkeping-keping. Dia teringat istrinya, istri yang dicintainya yang kini sedang cemas karena sampai jam 10 malam dia belum pulang. “Sedangkan aku, aku malah menghancurkan kepercayaan istriku.”batin Arman berucap

Jeritan hati Arman sedikit membuka akal sehatnya bahwa apa yang tlah ia lakukan selama ini adalah melanggar syariat Alloh. Arman bingung, pulang atau tidak. Jika dia tidak pulang, istrinya akan dipenuhi dengan kecemasan. Jika Arman memilih untuk pulang, dia tak tahu harus berkata apa. Dia tidak mau membohongi istrinya untuk kesekian kalinya.

Akhirnya dia lebih memilih untuk pulang…

Sepanjang perjalanan Arman menangisi nasibnya. Kenapa nasibnya seperti berada di penghujung neraka. Tempat kesengsaraan tanpa batas. Tempat berkumpulnya para pelaku maksiat dan pastinya para iblis dan tentaranya.

“Aku harus mengambil keputusan. Keputusan yang mungkin membuat istriku mengalami kesedihan mendalam, rasa sakit tak terperih. Tapi itu hanya sekejap karena aku yakin setelah itu istriku akan  mendapatkan kebahagiaan yang selama ini tidak ia dapatkan dariku. Rumah tangga yang bahagia. Keluarga yang sakinah mawaddah warohmah yang selama ini ia impikan dan cita-citakan bersamaku. Suami yang mencintainya seutuhnya. Suami yang bisa menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Tidak seperti aku…kotor dan berlumuran dosa. Bagaimana mungkin istriku mendapati suami sepertiku.”ujar Arman dalam hati kecilnya

Sesampainya…

Assalaamu’alaykum…“suara Arman sambil mengetok pintu

Wa’alaykumussalaam warohmatulloh..”balas Irma dengan sesenggukan

Irma yang cemas menunggunya langsung berlari membukakan pintu dan memeluknya erat-erat seakan sudah lama tak berjumpa. Wajar saja. Karena ditelepon berkali-kali tidak diangkat, sms tidak dibalas. Tangisannya pun pecah. Sedangkan Arman tanpa ekspresi, datar, dan dingin. Dengan wajah lesu ia mencium kening istrinya seperti tak bertenaga.

“mas, ga’ papa kan?” Tanya Irma yang masih mencemaskan keadaannya

“ga’ papa.”

Jawabannya singkat namun Irma sangat paham dengan sikapnya itu. Irma tidak melanjutkan pembicaraannya. Dia langsung menyiapkan makanan untuk suami tercintainya. Sedangkan Arman membisu ibarat mayat hidup, bergerak tapi tak bersuara.

“seandainya kita harus berpisah..”

“maksud mas?”

“emang kamu budeg (tuli)..?!. kurang jelas kata-kataku, haahh?!!” kata Arman dengan nada tinggi

Irma kaget dengan ucapan suaminya itu. Tiba-tiba dalam hitungan detik Arman berubah. Seperti layaknya monster berwajah manusia yang siap menerkam mangsanya. Dia tak menyangka Arman mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati. Hatinya teriris, seperti irisan sembilu. Jantungnya terkoyak, seperti koyakan kampak para penebang kayu.

Irma tak tahu harus berkata apa. dia bingung, sedih. Kepalanya pening tak kuasa menahan kata-kata itu karena sudah terlanjur terekam diingatannya. Ibarat dihujam dengan godam. Bagaikan terkena sengatan listrik dengan daya yang tak seimbang dengan kekuatan tubuhnya. Dia hanya bisa menangis, menangis, dan menangis.

“akankah rumah tanggaku hancur berantakan pada detik ini juga? Sanggupkah aku berpisah dengan suamiku?suami yang sudah bertahun-tahun menemaniku dalam suka dan duka.” Pekik Irma dalam batinnya.

Episode Selanjutnya “Air Mata Istriku Bag 2”

(Manuskrip Novel Siluet Cinta dalam Kabut)

 

 

Iklan

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: