Novel Siluet Cinta dalam Kabut (Manuskrip)

Episode 4: “Air Mata Istriku Bag 2”


Rasa cinta pasti dimiliki setiap manusia normal. Bahkan sesungguhnya ia adalah anugrah Alloh yang paling besar. Bayangkan jika hidup kita tanpa cinta, tentu akan terasa hambar. Jadi, kita tak usah memungkiri bahwa kita cinta lawan jenis, anak keturunan, harta benda, rumah tinggal dan kehidupan dunia ini (QS. Ali Imron: 14).

Tapi yang harus kita ketahui adalah bahwa cinta kita kepada Alloh dan Rasul-Nya harus berada di atas segala-galanya (QS. at-Taubah:24). Cinta yang berwujud keimanan, kepatuhan dan ketaatan terhadap ajaran-Nya. Itu artinya, cinta kita kepada selain keduanya jangan sampai merusak keimanan dan ketaatan kita kepada aturan Alloh dan Rasul-Nya.

Lalu, dapatkah keduanya diwujudkan secara berbarengan? Bahkan ketika hal itu dapat kita wujudkan sesungguhnya itulah makna cinta hakiki.

Ketika seseorang mencintai lawan jenis, kemudian pada saat yang bersamaan dia mendahulukan cintanya kepada Alloh, maka tidak ada pintu yang tersedia baginya melainkan pernikahan. Sebab hanyalah pernikahan yang Alloh ridhoi bagi sahnya hubungan dua manusia berlainan jenis yang telah saling mencintai.

Bahkan, justru dengan pernikahanlah cintanya yang sejati dapat disalurkan. Cinta yang berarti memiliki, menikmati, memberi dan menerima dengan rasa tenang dan damai. Tentu saja tanpa menghilangkan debar-debar hati dan degup jantung yang meluap karena cinta.

Namun, jika cinta seseorang kepada lawan jenisnya begitu saja disalurkan tanpa mengindahkan cintanya kepada Alloh ta’ala. Maka yang terjadi adalah hubungan intim yang tak halal. Tidak ada yang dimiliki kecuali pemuasan hawa nafsu, tidak ada ketenangan kecuali ragu-ragu dan tidak ada kelanggengan kecuali bujuk rayu semu, dan kemudian sang kumbang mencari bunga-bunga lain yang lebih segar setelah dia mendapatkan apa  yang diinginkan dari bunga yang kini telah layu.

Begitulah ungkapan dan nasihat yang ditujukan untuk keadaan Arman saat ini. Ibarat sang kumbang, Arman selalu dipenuhi dengan rasa haus berkepanjangan, mencari dan hinggap di setiap bunga-bunga segar untuk mengambil noktah sari tapi sayangnya bunga-bunga itu tidak berada dalam taman bunga pemiliknya melainkan tumbuh dijalanan, klub-klub malam, dan kumpulan para pria wanita dengan sederet alkohol.

Meskipun kehinaan menghampirinya, dosa dan maksiat menyelimutinya, tapi kecintaannya terhadap sang istri tak pernah pudar. Hingga, dia memutuskan untuk mengakhiri penderitaan istrinya dengan perceraian. Mendengar kata cerai, setiap istri tentunya mengalami kesedihan teramat perih. Begitu juga yang dialami Irma. Namun, sebagai istri yang masih mencintai suaminya Irma berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya. Terlebih lagi Arman belum mengucapkan kata “cerai” dihadapannya.

Irma memutuskan untuk diam. Dia khawatir setiap kata yang terucap akan membuat Arman marah dan mengeluarkan kata-kata cerai. Sedangkan Arman juga diam dan menatap wajah istrinya yang tertunduk sambil menangis. Jauh dari lubuk hatinya, dia tidak mau berpisah dengan Irma karena begitu banyak kenangan bersama sang istri baik dalam suka maupun duka. Arman pun membelai rambut sang istri  dan mencium keningnya. Kemudian memilih untuk tidur. Dia berharap Alloh akan memberikan keputusan yang terbaik, menceraikan istrinya atau tetap mempertahankannya.

Melihat sang suami membaringkan tubuhnya ke peraduan tanpa menyentuh makanannya sama sekali, Irma semakin larut dalam kesedihannya namun ia tahan agar tak bersuara dan mengganggu tidurnya. Irma pun mencoba untuk tidur di samping Arman. Dia berharap Arman memeluknya dan mendekapnya dalam kehangatan.

Di penghujung malam…

Hening..hanya suara jarum jam berdetak menemani tidurnya Arman. Namun tidak bagi Irma. Dirinya gelisah tak bisa tidur. Pikirannya tertuju pada perubahan sikap suaminya yang sangat drastis. Bayangan suaminya tampak begitu jelas di pelupuk matanya. Sesekali tersenyum, sesekali ia menangis. Dia lirik jarum jam sudah menunjukkan pukul 02.00.

“Biasanya jam segini, suamiku sudah bangun dan sholat malam. Membangunkanku dengan tangannya yang lembut.

“Dengan suaranya yang tenang. Sayang, bangun. Dah waktunya sholat malam.” Ucapnya sembari menciumnya.”

Tapi sekarang tidak ada lagi..” ujar Irma dalam batinnya sembari menangis pelan

Rasa takut Irma membuatnya enggan untuk membangunkan sang suami untuk ketiga kalinya. Dia pun bergegas mengambil air wudhu’ dan sholat di kamar sebelah. Begitu lama ia sholat jauh lebih lama dari sebelum-sebelumnya. Suaranya parau, serak seperti menangis yang tertahan saat membaca ayat-ayat al-Qur’an.

Sebenarnya Arman juga tidak bisa menutup matanya. Ia tak bisa diajak kompromi. Pikirannya juga larut dalam bayangan sang istri. Ia merasakan saat tangan sang istri membelainya mencoba membangunkan sampai tiga kali tapi ia pura-pura tidur. Dia pun mendengar tangisan Irma yang tertahan dalam sholatnya. Arman pun beranjak dan bangun perlahan-lahan agar tak terdengar Irma.

Sayup-sayup Arman mendengar lantunan ayat yang dibacakan sang istri, begitu syahdu dan damai. Seperti semilir angin yang menyapa dinding halus di hatinya. Tak terasa air matanya mengalir. Hilang sudah semua kejadian yang menimpanya walau sekejap. Yah..sekejap saja. Karena dosa dan maksiat tidak akan pernah bisa dilupakan. Tanpa disadarinya, lisannya berdo’a:

“ya Alloh masih adakah kebaikan yang tersisa untukku? Masih pantaskah aku menjadi suami yang baik untuk istriku? Jika dengan kehidupan membuatku lebih baik maka panjangkanlah umurku. Jika dengan kehidupanku menyebabkan dosa dan maksiat maka matikanlah diriku.” Ucap Arman dengan suara lirih sambil menangis.

“Janganlah mengharapkan kematian karena tertimpa musibah duniawi, jika terpaksa,maka hendaklah ia mengucapkan: Ya Alloh panjangkan hidupku, jika kehidupan itulebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.” (HR.Bukhari, no. 5671, An-Nasa’i, no. 1820, dishahihkan oleh Albani)

Arman intip kembali istrinya itu, ternyata masih sholat. Tak tahu sudah berapa rokaat yang dijalankannya. Perasaan Arman hancur. Lebih hancur saat mendengar isak tangis sang istri. Kemarahan yang ia perbuat tak pantas ia timpakan kepada istri yang sholihah sepertinya. Ia mengutuk dirinya sendiri, mengutuk semua perbuatan yang ia lakukan. Ia ingin membayar semua kekeliruan yang telah ia perbuat. Ia ingin memperbaiki bangunan yang sudah rapuh. Ia ingin menyatukan kembali semua tali yang telah tercerai berai.

“Tapi bisakah? Mampukah aku mengatasi dan memperbaiki semuanya? Haruskah aku mengatakan hal yang sebenarnya ataukah aku simpan dalam-dalam?” sekelumit pertanyaan terlintas di benaknya.

Iblis dan bala tentaranya tidak akan berhenti untuk mengajak Arman mengikutinya, memaksiati Alloh dan Rosul-Nya sampai tercapai tujuan utamanya. Ia kaburkan akal pikirannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengandung syubhat dan syahwat.

“Sesungguhnya iblis (raja setan) membangun singgasananya di atas air kemudian mengutus balatentaranya (untuk menebar malapetaka dan dosa). Setan yang paling dekat kedudukannya dengan iblis adalah yang paling hebat menimbulkan malapetaka di antara manusia. Salah satu setan berkata, aku telah melakukan ini dan itu. Iblis menjawab, kamu belum berbuat apa-apa. Setan lainnya melapor, aku tidak biarkan manusia sampai aku ceraikan dia dari kelurganya. Maka Iblis mendekatkan setan ini seraya berkata, kamu yang paling hebat. (HR Ahmad,’Abd bin Hamid dan Muslim dari Jabir).

 

Episode Selanjutnya “Sweet Memories”

(Manuskrip Novel Siluet Cinta dalam Kabut)

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: