Novel Siluet Cinta dalam Kabut (Manuskrip)

Episode 5: “Sweet Memories”


Air mata Irma tak berhenti mengalir, ia terus menengadahkan kedua tangannya berdoa di penghujung malam. Suaranya lirih hanya nampak mulutnya yang komat-kamit. Siapapun yang melihatnya pasti tahu bahwa ia sedang dihadapkan pada masalah yang rumit walau tak bisa mendengar doa yang dipanjatkannya. Sedangkan Arman, jiwanya larut dalam penyesalan bersama bayang-bayang dosa dan maksiat. Matanya menerawang di balik langit kamar yang gelap. Pikirannya tertuju pada perjalanan hidupnya. Dia mencoba mengingat kembali memori indah, kisah cinta antara dirinya dengan sang istri.

Kisah Cinta Arman…

Arman adalah sosok pemuda gaul yang tinggal dilingkungan yang jauh dari hiruk pikuk metropolitan. Sebagai anak tertua, Arman menjadi tumpuan hidup orangtuanya kelak di masa-masa tua. Ayahnya bekerja sebagai pedagang yang sukses dan ibunya bekerja sebagai buruh di pabrik tekstil. Bisa di bilang Arman berasal dari keluarga yang berkecukupan.

Istilah gaul dan mafia sering dilontarkan oleh teman-teman sejawatnya. Gaul karena pakaiannya yang mengikuti trend anak muda masa kini ditambah julukan “mafia” dengan modal rambut ala pemain film action menambah jumlah pemuda yang terpengaruh era modernis barat lewat media televisi dan internet. Walaupun begitu, Arman memegang teguh prinsipnya untuk tidak merokok, minum-minuman keras, dan bermain judi. Sifatnya yang ramah dan suka menolong sesama membuat dia disukai banyak orang bertolak belakang dengan penampilan fisiknya.

Kurangnya pemahaman orangtua terhadap ilmu agama mempengaruhi Arman dalam bersikap dan beribadah. Sholatnya hanya ia kerjakan semaunya saja. Jika ingin sholat, dia sholat. Jika malas, maka dia memilih bermain bersama teman-temannya. Atau dia akan pura-pura sholat jika ketahuan oleh ibunya belum mengerjakan sholat.

Arman tumbuh menjadi pemuda matang yang disukai oleh setiap gadis di kampungnya. Orangtuanya pun berniat untuk menjodohkan anaknya itu. Setiap gadis yang disodorkan selalu ditolaknya mentah-mentah.

“Kalau masalah kebutuhan hidup kamu bisa meneruskan usaha bapakmu.”kata sang ibu

“Bukan karena pekerjaan yang saya risaukan tapi masalah hati bu.”kelakar Arman sambil tersenyum

Akhirnya Arman lebih memilih untuk melanjutkan studinya di salah satu universitas negeri di jawa. Orangtuanya pun tidak memaksakan keinginannya untuk menikahkan anak kesayangannya itu. Biarlah ia memilih jalan hidupnya sendiri. Ucap sang ayah kepada ibunya. Sedangkan ibunya memiliki pandangan hidup yang lain. Dia mengkhawatirkan pergaulan anaknya itu jika tidak segera menikah apalagi kuliah dengan pergaulan yang bebas.

Aku penasaran…

Lingkungan baru dan teman-teman baru membuat pergaulan Arman semakin beragam. Dia berteman dengan siapa saja. Ada yang pendiam, super culun, mahasiswa berprestasi, atau mahasiswa nakal sekalipun.

Kuliah pertama baru saja dimulai. Untuk urusan perkenalan, hampir seluruh mahasiswa di kelasnya sudah ia kenal. Bahkan banyak kaum hawa yang tergila-gila pada Arman. Tapi Arman tidak merasa tertarik walaupun bisa dibilang mahasiswi tersebut cantik dan menjadi incaran. Banyak pria yang menyukai gadis itu, berbeda dengan Arman. Bagi Arman, gadis itu atau gadis lain di kelasnya bukanlah tipenya. Dia mencari gadis yang berbeda yang mencuri perhatiannya. Sayangnya, belum ada gadis seperti itu yang ia temui. Sehingga Arman dikatakan memiliki kelainan jiwa.

“sakit lho..?”kelakar teman-temannya.

“kalo gw sakit, lho gw embat juga..hahaha..”ketawa Arman dengan ciri khasnya.

Arman tidak pernah menganggap serius kata-kata yang menyakitkan hati Arman. Dia berpikir ucapan temannya itu hanyalah pencair suasana di kelas. Suasana garing, dosen galak tak ada bedanya dengan SMA.

Selang beberapa menit, tampaklah sesosok gadis bercadar dengan pakaian serba tertutup. Berjalan dengan tertunduk membuat Arman penasaran dengan tingkah lakunya. Gadis itu maju ke depan kelas untuk meminta maaf karena terlambat.

“pak, maaf saya terlambat.”kata gadis itu sembari menunduk

“ya silahkan duduk. Lain kali jangan terlambat. Bapak membolehkan kamu duduk karena ini baru pertama masuk kuliah.”pesan sang dosen

Hampir semua temannya terutama para cowok menertawakan tingkah laku dan penampilan gadis itu seolah mengejek. Berbeda dengan Arman, pakaian yang serba tertutup, bercadar, dan menundukkan pandangan membuatnya penasaran. Di kampungnya belum ada gadis seperti itu, yang ada adalah gadis-gadis dengan pakaian serba terbuka. Rok mini dan pakaian ketat serba tipis bahkan paling parah hanya menggunakan kaos singlet wanita (maaf: penulis dan sumber ga tahu namanya).

Pikirannya tertuju pada gadis itu. Sesekali Arman meliriknya. Penjelasan dosen tak lagi ia hiraukan.

“hei, namamu siapa?”ucap sang dosen dengan lantang

Seisi kelas kaget dan semua mata tertuju pada Arman. Kecuali gadis itu hanya sekali, selebihnya dia alihkan pandangannya ke buku.

“Arman, pak.”jawab Arman dengan gugup.

“Siapa yang kamu lirik? Kamu jelaskan kembali apa yang bapak jelaskan tadi.”suruh sang dosen

“bukan siapa-siapa pak.” Arman tertegun dia bingung mau menjelaskan apa. Dia hanya ingat kata ‘software’ dan ‘virus’. “saya ga tahu, pak.”

Julukan ‘Gadis Ninja’

Kejadian kemarin membuat Arman malu dan memalukan. Malu karena semua mata memandangnya (pen: punya malu juga dia), memalukan karena dia hanya bisa mengingat dua kata saja: ‘software’ dan ‘virus’. Untung saja dosennya tidak memergoki siapa yang diliriknya. “Kalau ketahuan mampus gw.”umpat Arman

Arman kuliah di jurusan Teknik Informatika S1. Dia memilih jurusan itu karena tertarik dengan dunia maya. Pikirnya jurusan TI amat gampang Cuma browsing, ngetik. Ternyata jurusan TI tidak semudah yang dibayangkan Arman. Justru yang dipelajari adalah hardware dan software. Arman jadi malas ikut kuliah software tapi kalau hardware dia sangat bersemangat.

Entah kenapa Arman semakin bersemangat kuliah. Padahal hari ini kuliah software. Mungkin rasa penasarannya membuat dia ingin cepat-cepat ke kampus. Sampai di kelas Arman mencari-cari gadis bercadar itu tentunya dengan tingkah yang tidak membuat orang lain curiga. Tapi berbeda dengan Imran, sahabat dekatnya itu.

“woi, man. Cari siapa lho..?” tanya Imran dengan sedikit penasaran

“eh, lho..sory gw ga liat lho. Gw ga nyari siapa-siapa koq.”jawab Arman dengan berkelit.

Agar  tidak tambah curiga,  Arman lalu duduk di samping sahabatnya itu.

“lho nyari si ‘ninja’ itu ya?” tanya Imran

Pertanyaan Imran membuat Arman kaget. Dia tahu julukan itu ditujukan kepada gadis bercadar tersebut. Tapi dia pura-pura tidak paham maksud perkataan Imran.

“ga koq. Oh ya..ngomongin tentang ninja, menurut lho kenapa dia pake cadar ya?”

“gw kagak tahu masalah gituan. Tapi di daerah gw, rata-rata cewek ‘ninja’ kayak gitu ekstrim. Mereka ga mau bersalaman dengan cowok, kalo ngomong nunduk, dan ga mau bergaul sama cowok.”

“hmm..gitu yaa.. bikin gw tambah penasaran.” Batin Arman berujar sambil senyum-senyum

Semua temannya berhamburan masuk kelas karena dosen sudah datang. Semuanya sibuk membenahi dirinya. Ada yang membereskan buku-bukunya yang berantakan, cewek-ceweknya cepat-cepat memasukkan alat kosmetiknya, dan ada yang cepat-cepat menelan makanannya padahal harus dikunyah. Arman dan Imran tertawa saja melihat tingkah polah teman-temannya yang unik.

Ketawa Arman berhenti saat gadis bercadar itu masuk ke dalam ruangan. Sangat misterius. Tak ada tegur sapa dengan teman cowok. Hanya menyapa teman cewek saja dan tentunya teman sebangkunya, Sari.

Sari adalah gadis yang menarik perhatian Arman karena dia berjilbab (bukan suka melainkan kagum) tapi tidak selebar gadis bercadar itu. Namun perhatian Arman berpaling pada gadis itu. Di hari kedua kuliah ini, Arman belum juga tahu siapa nama gadis itu. Sepertinya Sari adalah sahabat dekatnya dan tahu banyak tentang gadis itu. Dia lalu berniat untuk bertanya kepada Sari selepas kuliah nanti. Kebetulan kuliahnya sampai sore.

Selepas Kuliah…

“Sar, gw mau ngomong bentar bisa ga?” tanya Arman

“Sar, ana pulang duluan ya..Assalaamu’alaykum” ucap gadis itu dan pergi sambil tertunduk

“ok, wa’alaykumussalam. hati-hati ukh.” Balas Sari

Dari kejauhan Arman berani melirik gadis itu sedangkan sosok itu ada di depannya, dia tidak berani mengangkat matanya.

“Man, kamu mau ngomong apa?” tanya Sari dengan gusar.

“hmm..gw..gw..mw..mw..tapi lho janji ya jangan kasih tahu siapa-siapa terutama gadis bercadar itu.” Pinta Arman dengan terbata-bata

“ya saya janji.”jawab Sari

“hmm..gw mau tanya tentang gadis bercadar itu. Penampilan dan tingkah lakunya bikin gw penasaran. Asal lho tw aja, teman-teman gw bilang dia ‘Ninja’. “

“oh itu..dia namanya Irma. Mengenai penampilannya bercadar, dia tidak mau kaum adam terkena fitnah. Kalo masalah menundukkan pandangan (ghodul bashor) dan tidak mau bersentuhan itu wajib kepada lelaki bukan mahromnya. Biar lebih jelas kamu baca perintahnya di buku ini, kebetulan baru saya pinjam dari Irma.” Jawab Sari sambil menyodorkan buku.

“lho kenapa ngeliat gw..?” kelakar Arman

“gw sih belum siap aja. Ga enak kalo ga ngeliat orangnya kalo ngomong.” Timpal Sari

“hmm..oh ya gw pinjam dulu dah semalam doang, besok gw balikin.” Pinta Arman sambil manggut-manggut

“kamu harus izin dulu ke Irma.”

“ ya elah..kayak kagak kenal aja lho..bentar doang. Ok setuju!”

Arman berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Sari. Sedangkan Sari diam tertegun melihat keanehan pada diri Arman.

Sesampainya di kos-an, Arman langsung ke kamarnya dan membuka buku yang dipinjamnya. Belum lima menit membaca, kepalanya sudah mau pecah. Dia tidak mengerti tentang isi buku itu. Tapi ada sesuatu di buku itu yang menarik perhatiannya tentang pertanyaannya selama ini.

……….

Dalil al-Qur’an

Allah berfirman : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya” (QS. An-Nuur : 30-31).

Dalil Hadits

Dari Jabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu ia berkata :

”Aku bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dari pandangan tiba-tiba (tidak sengaja). Mak beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim)

Dari Buraidah radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Wahai ‘Ali, janganlah kamu mengikutkan pandangan dengan pandangan. Sesungguhnya bagimu hanyalah pandangan yang pertama, dan bukan yang setelahnya”.(HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam bahwasannya beliau bersabda :

”Telah dituliskan atas Bani Adam bagian dari zina yang pasti ia melakukannya, tidak bisa tidak. Maka, zina kedua mata adalah melihat (yang diharamkan), zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan), zina lisan adalah berkata-kata (yang diharamkan), zina tangan adalah memegang (yang diharamkan), zina kaki adalah melangkah (ke tempat yang diharamkan), hati berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluan membenarkan itu semua atau mendustakannya”.(HR. Bukhari dan Muslim)

………

“Ngeri juga gw bacanya. begitu bahayakah sampai mata dibilang zina.” ujar Arman dalam batinnya

Arman pun menutup bukunya itu. Rasa bosan dan mengantuk menyerangnya. Dia bukan tipe orang yang suka membaca. Sedikit banyak pertanyaan Arman sudah terjawab. Tapi belum ada kepuasan bagi Arman untuk mengetahui lebih jauh tentang sosok bercadar itu, Irma. Terlebih lagi dia belum begitu paham tentang apa yang dibaca. Namun apa yang dia baca memicu rasa ingin tahunya tentang islam, agama yang sudah lama dianutnya.

Episode selanjutnya: Sweet Memories Bag “Hidayah Menyapa”

(Manuskrip Novel “Siluet Cinta dalam Kabut”)

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

2 thoughts on “Episode 5: “Sweet Memories”

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: