Novel Siluet Cinta dalam Kabut (Manuskrip)

Episode 6: “Hidayah Menyapa”


Setiap manusia pastilah dia membutuhkan teman dalam kehidupannya. Terlebih lagi ketika dia berada di negeri asing, jauh meninggalkan sanak saudaranya dan kampung halamannya. Maka keberadaan teman sangat bermakna dalam kehidupannya.

Pernahkah anda membayangkan kehidupan tanpa seorang teman? Meskipun demikian hendaklah kita hati-hati memilih teman pergaulan. Karena teman pergaulan sesungguhnya banyak mempengaruhi perilaku kita. Bahkan dapat dikatakan bahwa baik buruknya perilaku kita, banyak ditentukan oleh teman-teman pergaulan kita.

Hal ini bukanlah teori baru, sejak dahulu Rasululloh sudah menasihatkan kita untuk berhati-hati memilih teman pergaulan.

“Perumpamaan teman duduk (bergaul) yang baik dan teman duduk (bergaul) yang buruk (adalah) seperti pembawa (penjual) minyak wangi dan peniup al-kiir (tempat menempa besi), maka penjual minyak wangi bisa jadi dia memberimu minyak wangi, atau kamu membeli (minyak wangi) darinya, atau (minimal) kamu akan mencium aroma yang harum darinya. Sedangkan peniup al-kiir (tempat menempa besi) bisa jadi (apinya) akan membakar pakaianmu atau (minimal) kamu akan mencium aroma yang tidak sedap darinya” HSR al-Bukhari (no. 5214) dan Muslim (no. 2628).

Bahkan semakin dewasa seseorang, semakin besar pengaruh temannya membekas dalam dirinya, lebih dari pengaruh orangtuanya, guru atau sanak saudaranya. Sehingga banyak yang kita dapatkan dalam kenyataan, seseorang yang menjadi baik atau buruk karena pada awalnya terpengaruh oleh temannya.

Maka prinsip kita bukan lagi sekedar : “Satu musuh sudah banyak, seribu teman masih sedikit”, namun lebih dari itu; “Satu teman buruk sudah banyak, seribu teman baik masih sedikit”.

Karena itu, carilah teman yang mendorong kita untuk kebaikan, mengajak kita kepada ketaatan serta akhlak mulia. Insyaalloh dengan niat yang ikhlas, kita akan mudah mendapatkan teman seperti ini dan akan dijauhkan dari teman yang buruk dan merusak kehidupan kita.

Seperti halnya Arman. Setelah dia membaca buku yang dipinjamnya (walaupun tidak tuntas), tidak ada yang membekas di hatinya. Tatkala berkumpul dengan teman-temannya terutama sahabatnya, Imran, dia melupakan apa yang ia  ketahui tentang pergaulan lain jenis. Terlebih lagi dia dielu-elukan kaum hawa di kelasnya. Ada rasa kebanggaan tersendiri bagi Arman. Terkadang ia memanfaatkan kelebihan fisiknya untuk minta dibuatkan tugas, sebagai tempat contekan, atau mempeloroti isi dompetnya. Sebuah persekongkolan antara dia dengan Imran.

Sorot matanya…

Seperti biasa kelas tampak ramai. Tapi yang tidak biasa adalah aksi kaum hawa yang mengerumuni Arman. Silih berganti. Ibarat gula dan semut. Ada yang pura-pura pinjam alat tulis, nanya seputar program, atau sekedar bincang-bincang. Arman menikmati pemandangan ini. “bukan salah gw dong kalo mereka suka. Mereka aja yang kegatelan.” Pikir Arman

Sudah setengah jam lebih dosen belum datang. Mereka sepakat pulang jika 30 menit lagi belum datang. Tiba-tiba…

“Man, gw suka ma lho. Lho mau ga jadi pacar gw..?” tanya Rina

Sontak saja Arman kaget. Dia tidak menyangka ditembak seorang cewek di kelas. Mukanya merah karena memendam rasa malu. Walaupun dia bangga karena banyak yang naksir, dia tetap merasa risih dengan tingkah laku cewek itu. Berani blak-blakan di depan kelas. Tingkahnya itu mengundang kegaduhan seisi ruangan.

“te-ri-ma…te-ri-ma…te-ri-ma” suara seluruh ruangan sambil bersorak

“gimana man, lho terima gw ga? Gw janji akan jadi pacar lho yang setia.”

Arman diam membisu. “lho pikir klo jadi pacar gw, gw akan setia?” hatinya berbisik

“lho bukan tipenya Arman. Dia lebih suka tipe cewek seperti itu.” Sahut Imran sambil menunjuk ke arah Irma.

Semua mata tertuju pada gadis bercadar itu. Irma yang menyadari dirinya menjadi objek sorotan merasa tidak enak. Dia pun pergi meninggalkan ruang kelas diiringi Sari. Tanpa sengaja Arman melihat tatapan Irma. Sorot matanya penuh kesedihan dan kemarahan. Arman merasa tidak nyaman. Dirinya menjadi sumber masalah bagi Irma. Pikirannya kalut. Dia bingung pergi meminta maaf kepada Irma atau tetap di kelas meladeni kegatelan Rina.

 “beneran Man? Lho suka sama Irma?” tanya Rina memecah kebuntuan Arman

Kemarahan Arman memuncak. Rasanya ingin dia muntahkan seluruh kekesalannya kepada cewek gatel itu terutama Imran.

“kalo gw suka Irma terus kenapa?! Gw ga suka cewek kayak lho. Ngerti lho..!!!” umpat Arman penuh Amarah

Arman lalu pergi menjauh dari teman-temannya. Sekilas dia menatap Imran dengan tatapan dingin. Imran yang menyadari kemarahan Arman langsung mengejarnya sambil minta maaf akan perkataannya tadi. Tapi Arman menghiraukannya. Dia berlalu begitu saja.

Sedangkan Rina tampak sedih atas perlakuan Arman. Teman-temannya pun menghiburnya. Rina adalah seorang gadis yang memiliki kelebihan secara fisik. Dia cantik dan smart. Bukan teman sekelasnya saja yang ingin menjadi pacarnya, cowok-cowok di luar kampus pun juga menaksirnya. Tapi sayangnya kelebihan fisiknya itu tidak bisa menundukkan hati Arman. Arman akan tolak mentah-mentah, jika ada cewek yang menembaknya. Karena bagi Arman, justru ceweklah yang ditembak. Jika ada cewek seperti itu maka sama saja dia merendahkan harga dirinya sendiri.

Perkumpulan Para Ninja

Kejadian kemarin membuat Arman jadi pendiam. Dia lebih memilih duduk di bangku paling belakang. Sikapnya dingin terutama kepada Imran. Imran pun tak berani mendekatinya apalagi duduk di sampingnya itu. Ada rasa bersalah di benak Imran. Dia pun mencoba meminta maaf kepada Irma melalui Sari.

“Sar, bilangin ke Irma maafin perkataan gw kemarin. Itu hanya gurauan gw saja.” Tutur Imran

“Kamu ga perlu minta maaf. Irma ga papa koq. Hanya sedikit syok aja.” Jawab Sari diplomatis

Setelah pernyataan minta maaf itu, Imran bermaksud untuk memberitahu Arman sehabis kuliah sore nanti. Tapi sayangnya Arman pulang terburu-buru. Sepertinya dia ingin sendiri..

Biasanya sehabis kuliah Arman pergi bareng teman-temannya jalan-jalan ke mall, nonton bioskop, atau ke toko DVD. Namun dia tak bergairah. Dia mau mencari suasana baru dengan berjalan-jalan sekitar kampus. Dia memacu motor byson-nya. Setelah melewati area masjid kampus, dia melihat sebuah aktivitas pengajian yang diikuti perempuan bercadar dan lelaki berjenggot dengan celananya yang ‘ngatung’.

“Pengajian apa ini seperti sarang teroris saja. Atau jangan-jangan para ninja itu adalah anggota teroris? Bagaimana dengan Irma bukankah dia juga bercadar?” pikir Arman

Arman sedikit tahu dengan ciri-ciri teroris. Terlebih lagi aksi dan sepak terjang para teroris memenuhi media cetak dan elektronik. Lelakinya berjenggot, ngatung dan wanitanya bercadar seperti yang baru saja dilihatnya. “Tapi kalau memang itu adalah aktivitas pengajian para teroris kenapa diadakan di area terbuka seperti di masjid kampus? Kenapa juga tidak ada yang melarang aktivitas mereka?”pikir Arman mencoba bersikap diplomatis

Lalu ia putuskan untuk berhenti. Dia ingin tahu lebih jauh tentang pengajian itu. “Siapa tahu ketemu Irma” pikir Arman dengan sumringah

Setelah memarkir motornya, Arman menuju ke perkumpulan pengajian itu. Tapi langkahnya terhenti. Dia berpikir sejenak. “Ngapain gw ke situ. Lagian ga mungkin gw nanya tentang Irma. Laki-lakinya mana tahu. Kenal aja ngga’. Pake cadar lagi..”

Akhirnya Arman  memutar badannya ke tempat parkir. Ketika dia mau menyalakan motornya, nampak  dua sosok gadis yang sepertinya ia kenal. Semakin lama jarak pandangnya semakin dekat dan ternyata ia adalah Sari. Lalu siapa yang disampingnya? Irmakah?

Setelah melihat Sari, Arman berkesimpulan bahwa pengajian itu bukan Cuma dihadiri perempuan bercadar saja. Dia lalu berniat untuk bertanya langsung kepada Sari. Siapa tahu mendapat pencerahan tentang pengajian itu, khususnya Irma.

Titik Balik Perubahanku  

Kring…kring..kring..

Suara weker membangunkan Arman. Tapi pemuda gaul itu tak juga bangun. Dia regangkan seluruh otot-ototnya. Matanya masih terasa berat. Terlihat rasa kantuk masih menyerangnya. Dia lirik jam wekernya sudah menunjukkan jam 8.30. Langsung saja dia buru-buru bangun. Dia lupa kalau hari ini ada quiz praktikum. Semalam dia begadang main PS 3 (Play Station) sampai jam 3 pagi. Otomatis belum sholat shubuh. Boro-boro sholat shubuh, sholat fardhu lainnya uring-uringan.

Dia pacu motornya dengan kencang. Sampai di lampu lalu lintas dia berhenti. Jalan raya tampak dipadati barisan kerumunan mahasiswa membawa berbagai macam spanduk. Mereka sedang berdemo sambil berteriak-teriak. Tak Cuma mahasiswanya, mahasiswi berjilbab pun ikut-ikutan berunjuk rasa. “ kayak gitu cewek berjilbab?! Teriak-teriak di jalan, ganggu orang lain aja!” umpat Arman

Di tengah kerumunan para pendemo itu, nampak Sari membawa sebuah kertas karton persegi panjang berisi sebuah tulisan yang tidak begitu jelas. “Bukannya sekarang ada quiz? Apa dia bolos?”

Tet..tet..teetttt….

Suara klakson kendaraan menyadarkan lamunannya. Ternyata Lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna hijau, langsung saja dia menancap motornya.

Dia bergegas menuju ruang praktikum. Ternyata baru  mau mulai. Dia langsung duduk di samping Rina, cewek yang sudah ia sakiti. Otak Rina adalah strateginya. Dia yakin Rina mau memberinya contekan.

Benar saja tidak ada kemarahan dari raut wajahnya yang terlihat sumringah karena Arman duduk di dekatnya. Sedangkan Arman biasa-biasa saja karena tujuannya adalah contekan gratis.

“Hai Man, tumben lho duduk samping gw?” tanya Rina sambil senyam-senyum

“gw butuh contekan lho, boleh ga?”

“Apa sich yang ga boleh buat lho?” jawab Rina dengan nada manja

“lho ga marah ma gw?” tanya Arman sambil menyiapkan alat tulisnya

“Ngapain gw marah, kan masih ada peluang ngedapetin lho..” jawab Rina penuh ambisi

Suasana ruangan terlihat hening. Semua sibuk dengan sebuah kertas pertanyaan di mejanya. Imran menoleh kepada Arman tapi Arman bersikap acuh tak acuh. Sembari menunggu ‘Serangan Fajar’ (istilah contekan, matanya sibuk mencari Irma tapi sia-sia. Matanya tidak menangkap sosok bercadar itu. “mungkinkah sakit? Atau ikutan demo bareng Sari? Ah ga mungkin dia seperti itu.”

“Man, lho ga nyontek jawaban gw?” tanya Rina sembari memegang tangan Arman

“Dasar cewek gatel pake pegang tangan gw segala.”umpat Arman dalam hatinya. “oh ya, santai aja.”

Sudah satu jam setengah ujian berlangsung dan waktunya semua lembar jawaban dikumpulkan. Sehabis ujian, Arman mencoba mencari sekali lagi keberadaan Irma. Ternyata tidak ada, akhirnya dia memutuskan pulang. Pertanyaan tentang pengajian kemarin pun urung ia tanyakan karena Sari sedang bolos dan asyik berdemo.

Walaupun Arman adalah pemuda gaul yang suka keluruyan, tidak ada kata cabut (bolos) di dalam kamusnya. Kecuali kalau sakit atau halangan mendadak. Dia ingin menunjukkan kepada orangtuanya kalau dia bisa sukses. Sebuah impian mulia sich…

Keesokan harinya..

“Man, maafin gw ya” pinta Imran sambil mengajaknya bersalaman

“Santai aja bro. Gw dah maafin lho koq.” Balas Arman

“trus knapa lho menghindar dari gw?”

“Biar lho kapok aja, haha…”

“Dasar lho..”

Arman dan Imran pun berdamai kembali. Bercanda seperti biasa seperti tak ada masalah sebelumnya. Arman lalu teringat Irma. Dia abaikan Imran dan beralih mencari sosok yang selama ini membuatnya penasaran. Imran yang menyadari bahwa sosok yang dicarinya adalah Irma langsung berbuat usil.

“Ternyata bener lho suka sama Irma? tuh orangnya.” Sambil menunjuk ke arah Irma

Kedatangan Irma membuat Arman salah tingkah. Dia tak tahu dengan perasaannya. Jika dia jatuh cinta kenapa harus Irma. “Bisa saja dia pake cadar karena menutup aibnya. Jelek, panuan, atau apalah. Mending sama Rina.”

“Man, koq bengong! Beneran ya lho suka sama Irma?” tanya Imran sambil memukul pundak Arman

“eh..eng..enggak koq. Gw penasaran aja. Koq ada cewek seperti dia ya.” Jawab Arman terbata-bata

Pembicaraan terhenti karena dosen sudah masuk ruangan. Beberapa menit kemudian, sebuah kertas berisi pengumuman seperti brosur sudah ada di mejanya. Dia membacanya dan ternyata sebuah informasi pengajian nanti sore dengan tema “Pergaulan Dunia Remaja”.

“Man, lho ikut aja. Gw juga ikut koq. Asal lho tau aja ya yang nyebarin brosur tuh Irma ?” ajak Imran sedikit berbisik.

“ini pengajian yang diikuti Irma? Sejak kapan lho ikutan kayak gini?”

“Dua minggu yang lalu. Gw diajak teman dan alhamdulillah gw tertarik.”

“Bukannya celananya ngatung? Koq lho ga?”

“Gw belum siap, bertahaplah?”

Jawaban Imran membuat Arman tertarik. Dia tidak menyangka sahabatnya itu ikut pengajian. Padahal dia paling malas ikut acara keagamaan. “Pantes aja ada yang berubah dari penampilannya.” Pikir Arman sambil melirik kawannya itu.

Akhirnya Arman dan Imran menghadiri pengajian itu. arman berharap dari pengajian itu, dia bisa menemukan jati dirinya dan ketenangan hidup. Dia pun memiliki teman-teman yang baru, lingkungan baru yang bisa menuntunnya mengenal islam lebih jauh.

……………………………………………………#####……………………………………………..

Kalau ditanya kepada kaum muslimin, apakah mereka ingin menjadi orang sholeh?, maka semuanya akan menjawab: “Ya”. Namun banyak yang hanya sampai disitu, selebihnya tidak ada tindakan nyata yang dia lakukan untuk mewujudkannya. Dirinya tidak tergerak untuk menempuh jalan atau sarana yang mengantarkan ke sana. Pengajian tidak dihadiri, al-Qur’an dan buku-buku islami tidak pernah dibaca, teman-teman yang sholeh justru dia benci.

Bahkan sebaliknya, jalan-jalan keburukanlah yang dia tempuh. Perkumpulan gosip menjadi hobinya, lagu dan musik menjadi temannya, tontonan dan bacaan porno selalu dicarinya dan…berbagai bentuk kegiatan rusak, dialah pelanggannya.

Jika demikian halnya, akankah keinginan seorang muslim untuk menjadi orang sholeh akan terwujud?

Benarlah kata seorang penyair:

Anda ingin selamat, namun tidak anda tempuh jalannya

Sesungguhnya perahu tidak berjalan di daratan

……………………………………………………#####……………………………………………..

Sering terjadi, seseorang sangat menyesali keburukan yang dilakukan dengan tangannya, walau sekali, namun berulangkali lisannya berbuat keburukan, jangankan disesali, bahkan dirinya tidak merasakan bahwa itu adalah keburukan.

Pernahkah anda merasa sakit hati oleh seseorang? Merasakan pedihnya fitnah keji dan kabar dusta tentang anda? Merasakan kesel dan empet mendengar omongan oenuh bualan dan kesombongan?, mengalami cekcok dengan orang-orang terdekat karena isu-isu bohong? Dan masih banyak lagi keburukan yang dirasakan akibat lisannya.

Menjaga lisan tidak lepas dari menjaga kehormatan. Menjaga kehormatan, berarti juga harus menjaga pandangan, pendengaran, mulut, tangan dan kaki kita terhadap apa saja yang mendatangkan perzinahan. Sebab kata Rasululloh mata, mulut, tangan, dan kaki dapat berzina dan kemudian dapat mengantarkan pada perzinahan yang sesungguhnya.

Ingatlah kedua pesan Rasululloh:

Yang paling banyak menyebabkan seseorang masuk neraka adalah mulut dan kemaluannya.” (HR. Tirmidzi)

“Barangsiapa yang dapat menjamin bagiku (bahwa ia akan menjaga) apa yang berada diantara kedua rahangnya (lidah) dan apa yang berada di kedua pahanya (kemaluan), Aku akan menjamin baginya surga.” (HR. Bukhori)

Betapa banyak orang yang menderita karena kehormatannya ternodai hanya karena janji-jani palsu, bisikan-bisikan semu atau kebusukan yang berlumur madu. Jangan sekali-kali percaya kepada laki-laki yang datang kepada anda dengan bujuk rayu. Yakinlah, anda bukan wanita pertama dan terakhir yang dirayunya, tidak ada yang diinginkan kecuali kehormatan anda yang ingin direnggutnya.

……………………………………………………#####……………………………………………..

Potongan nasihat itu benar-benar menghujam dada Arman. Tak terasa  tetesan air mata keluar dari matanya. Hatinya bergemuruh. Dia menyesali perbuatannya selama ini. Pergaulannya yang bebas, hobinya yang suka menonton film porno yang ia sewa atau beli di toko DVD bareng teman-temannya, dan kata-katanya yang kasar kepada Rina kembali terlintas di benaknya.

Dia lirik sekelilingnya. Sebuah pemandangan yang menyejukkan jiwanya. Begitu syahdu dan damai berkumpul dengan teman-teman yang sholih. Berbeda dengan teman-teman di kelasnya. “Suasana seperti inilah yang aku cari selama ini.” Seperti sebening embun yang menyirami bumi yang gersang.

Pikirannya pun kembali menyimak kajian, pesan-pesan nasihat yang disampaikan sang ustadz. Tanpa sengaja Imran melihat sikap Arman. Dia pun tersenyum. Imran pun bertekad memperbaiki dirinya dan berdiri tegak di samping Arman. Imran berjanji akan menebus semua kesalahannya karena dialah, Arman terjerumus masuk ke dalam lingkaran kenakalan dan maksiat.

Sudah dua bulan Arman aktif di pengajian itu. Sebuah pengajian yang berusaha menghidupkan sunnah dan menjauhkan syirik. Dari pengajian itu Arman mengenal lebih jauh tentang islam. Bagaimana seharusnya beragama. Setiap ibadah yang dilakukan harus berdasarkan dalil alqur’an dan hadist yang shohih berdasarkan pemahaman para sahabat. Karena jika tidak, maka ibadahnya tidak akan diterima.

 “Barangsiapa mengadakan sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami yang bukan dari ajarannya maka tertolak.” (HR. Bukhari)

“Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka.(HR. Muslim)

Arman mulai memperbaiki penampilannya. Dia terlihat lebih islmi dengan celana ‘ngatung’. . Imran juga tidak mau kalah dengan Arman. Dia pun memotong semua celana panjangnya sampai di atas mata kaki. Mereka langsung mengamalkan ilmu yang diterimanya berdasarkan dalil yang shohih.

“Pakaian muslim hingga separuh betis dan tdak mengapa bila diantara itu dengan kedua mata kakinya. Sedangkan yang dibawah mata kaki maka itu di neraka. Siapa yang memanjangkan pakaiannya (dibawah mata kaki) secara sombong maka Allah tidak melihat kepadanya.” [HR Abu Daud]

Apa saja yang di bawah mata kaki maka di neraka.” (HR. Bukhori)

Rambut gondrongnya pun ia pangkas lebih rapi dan mulai memelihara jenggotnya.

“Bedakanlah kalian dengan orang-orang musyrik, yaitu banyakkanlah jenggotmu dan pangkaslah kumismu.” (HR. Bukhori dan Muslim)

 “Pangkaslah kumis kalian dan biarkan jenggot kalian tumbuh.” Dalam suatu riwayat lain : “Cukurlah kumis kalian dan biarkan tumbuh jenggot kalian.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Ia kelihatan berwibawa. Imran pun takjub melihat perubahan kawannya itu. Imran lalu kembali berbuat usil.

“Assalaamu’alaykum, pak ustadz. Mau ngisi pengajian dimana ustadz?” kelakar Imran cekikikan

“Wa’alaykumussalaam warohmatulloh. Amien.. syukron do’anya..hahaha..”

Mereka pun tertawa bersama. Kekonyolan Imran tetap tidak berubah. Namun Arman tidak pernah mempermasalahkan kekonyolannya. Baginya, Imran adalah sahabat yang juga turut membantu perubahannya ke jalan kebaikan.

Kedua sahabat itu saling berlomba dalam kebaikan dan saling menasihati ketika salah satunya berbuat kesalahan. Benar-benar seperti pembeli dan penjual minyak wangi.

Episode Selanjutnya: Sweet Memories Bag “Bidadari Dibalik Cadar”

(Manuskrip Novel Siluet Cinta dalam Kabut, Karya : Abdul Aziz)

 

Iklan

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: