Novel Siluet Cinta dalam Kabut (Manuskrip)

Episode 7: “Bidadari Dibalik Cadar”


Walaupun hidup seribu tahun…

Jika tak sembahyang apa gunanya..

Bait di atas- yang tak asing bagi sebagian kita- adalah ungkapan sederhana namun mengena, betapa sholat berarti bagi kehidupan kita. Ya… hidup ini memang jadi tak ada artinya kalau kita malas sholat, apalagi kalau sampai tidak sholat. Karena sholat merupakan tiang agama dan pedoman hidup yang menjadi tolok ukur nilai kehidupan kita. Karena sholat merupakan barometer amal kita di dunia dan barometer hisab di akhirat. Karena sholat merupakan rukun islam kedua setelah syahadatain, itu artinya bukti pertama yang dijadikan pedoman benar tidaknya pengakuan keimanan seseorang adalah sholat.

Karena sholat merupakan ibadah yang paling keras akibatnya jika ditinggalkan. Jangan lalaikan sholat, betapapun kesibukan anda. Jangan mudah anda tertipu dengan syubhat-syubhat yang sering anda dengar di tengah masyarakat. Seperti ada yang mengatakan: “Walau rajin sholat, belum tentu masuk syurga”, “Buat apa rajin sholat, kalau kelakuannya ngga benar”, “Yang penting bukan sholatnya, tapi hatinya…” dan ungkapan-ungkapan lain yang senada.

Kedudukan dan kebesaran sholat dalam islam tidak akan tergoyahkan hanya karena ulah oknum-oknum yang menyalahgunakannya. Perhatikanlah selalu sholat anda, jika anda selama ini sering meninggalkan sholat, bertaubatlah kepada Alloh , sesali sikap anda dan mintalah ampunan-Nya, kemudian tekadkan hati untuk tidak lagi meninggalkannya.

Jika anda selama ini telah menjaga sholat-sholat anda, tingkatkan pelaksanaannya, berjamaahlah di masjid (bagi laki-laki), pahamilah ilmunya dan tata cara pelaksanaannya sesuai tuntunan Rasululloh dan yang tak kalah penting adalah menjaga kekhusyu’an dan keikhlasan.

Nasihat itu membuat Arman sadar akan kelalaiannya selama ini. Tak Cuma penampilannya, sholatnya pun ia perbaiki. Dia berusaha menjaga sholatnya untuk selalu tepat waktu.

Sosok Itu Menghilang..

Perubahan Arman membawanya pada kehidupan yang lebih baik. Satu persatu, cewek-cewek gatel mulai enggan mendekatinya. Bukan berarti tidak suka, melainkan karena Arman menjaga jarak pergaulannya. Tak lagi berani duduk berkumpul dengan cewek-cewek apalagi berduaan. Dia juga menolak ketika bersentuhan dengan teman cewek di kelasnya.

“Man, lho kenapa jadi begini sih..gw pegang dikit aja lho menghindar. Mang gw mau gigit lho..” tanya Rina

“Sorry Rin, sentuhan kamu lebih berbahaya dari sekedar gigitan. “ jawab Arman sambil menunduk meninggalkan Rina

“Sebenarnya gw masih suka lho, Man. Walaupun penampilan lho berubah sok ustadz, gw tetap suka. Tp sikap lho bikin gw mundur.” Ujar Rina dalam benaknya

Memang perubahan Arman dan Imran menimbulkan tanda tanya bagi sebagian teman di kelasnya. Berbeda dengan Imran, perubahan Arman lebih mencolok.  Mungkin karena tidak tumbuh jenggot di dagu Imran. Sedangkan Arman, semenjak SMA rambut-rambut halus sudah tumbuh di dagunya. Cuma selalu ia pangkas habis.

Bukan hanya penampilannya, cara berbicara mereka juga berubah. Tak ada kata-kata ‘lho’ n ‘gw’. Mereka sering menggunakan istilah ana (saya) dan antum (kamu). Itupun hanya berlaku kepada teman cowok, sedangkan ketika berbicara kepada cewek, mereka menggunakan bahasa pada umumnya yaitu saya dan kamu. Entah kenapa mereka seperti itu. Mungkin merasa tidak pas saja.

Arman dan Imran semakin aktif ikut pengajian. Mereka habiskan waktu luangnya untuk menimba ilmu agama. Bukan hanya mereka yang berubah, Sari pun tampak antusias mengikuti pengajian di kampusnya itu. Ia sudah memakai jilbab yang lebar seperti Irma walaupun tidak bercadar. Sehingga dua pasang insan tersebut menjadi sorotan teman-temannya di kelas. Terutama gosip yang beredar bahwa Arman berubah karena semata-mata mau mendekati Irma. Gosip itu sebenarnya bermula karena ketidaksengajaan Imran yang berbuat usil kepada Arman. Sehingga terdengar teman yang lainnya.

“Man, antum nikah aja ma Irma. Ana ma temannya, Sari.”kelakar Imran setengah berbisik

“Apaan sih..mending antum fokus kuliah dan kajian aja.” Jawab Arman sedikit menasihati Imran

Tanpa sepengetahuan mereka, salah seorang teman cowok di belakangnya mendengar pembicaraan mereka. Sehingga melalui lisannya gosip itu tersebar.

Irma yang mendengar gosip itu merasa bersalah. Namun dia memilih diam saja. Baginya, jika gosip itu diladeni maka sama saja dia membuka lubang fitnah. Dia yakin gosip itu akan berlalu dengan sendirinya. Begitu juga Arman, dia lebih memilih tutup telinga daripada mengomentari gosip tersebut. Toh, tidak akan rugi.

Seminggu gosip itu baru menguap dengan sendirinya. Tapi seminggu itu juga, sosok bercadar itu pun lenyap. Tak ada kabar beritanya. Sari, sahabatnya pun juga tidak tahu keberadaannya. Jujur dalam hatinya, Arman menginginkan sosok seperti Irma yang akan menjadi istrinya kelak. Karena melalui keberadaannya lah, dia mengenal dan belajar islam lebih dalam.

Ada kesedihan yang nampak di raut wajahnya. Tapi Arman berusaha melupakan Irma, karena ia khawatir setan akan terus mempermainkan hatinya. Dia tidak ingin pemahamannya terhadap ilmu agama akan terbuang percuma karena tergoda dan tertipu oleh bujuk rayu setan yang ingin menggadaikan keimanannya hanya karena keuntungan dunia yang sesaat, seperti halnya orang-orang tua kita dahulu:

“Seperti menembak burung ‘kecici’ dengan peluru emas”. Burung kecici yang tidak seberapa nilainya memang dia dapat, tetapi dia kehilangan emas yang jauh lebih besar nilainya.

Dia pun teringat do’a yang diajarkan Rasululloh:

“Ya Alloh yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)

Mengejar Jodohnya…

Tak terasa sudah lima tahun kuliah. Kini dia berhasil meraih gelar sarjananya dengan hasil yang sangat memuaskan. Cukup sebagai modal mencari pekerjaan. Berbekal ijazah S1-nya, Arman mulai aktif mencari lowongan pekerjaan. Mulai dari browsing internet, koran, atau papan pengumuman di kampusnya. Tidak perlu menunggu lama, Arman pun diterima di sebuah perusahaan swasta. Gajinya pun cukup besar sesuai dengan kapasitas kemampuannya di bidang programmer.

Penampilan berjenggot dengan celana ‘ngatung’ tidak menghalangi seseorang untuk memperoleh pekerjaan. Karena berhasil tidaknya suatu pekerjaan atau sukses tidaknya sebuah perusahaan bukan ditentukan oleh penampilan fisiknya, akan tetapi lebih kepada kemampuan kinerjanya.

Lain halnya dengan Imran. Ternyata Imran lebih susah mencari pekerjaan. Setiap perusahaan yang ia lamar berujung pada sebuah syarat : ‘Cukurlah jenggot anda dan gunakan celana seperti keumuman para karyawan’. Sehingga Imran memilih bertahan dan memegang teguh aqidahnya. Karena ia teringat sebuah kaidah yang ia dapatkan yaitu: “Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Alloh, maka Alloh akan menggantinya dengan yang lebih baik.”

Arman dan Imran masih menjalin komunikasi walaupun hanya lewat telepon dan SMS. Ketika Imran mengalami kesulitan pekerjaan, Arman memberikan tawaran untuk bekerja di perusahaan dimana dia bekerja. Namun Imran menolaknya karena dia tidak mau bekerja di bidang programmer. Akhirnya daripada menganggur, Imran berbisnis internet. Dia membuka warnet di dekat rumahnya, Bandung. Arman pun ikut membantunya dengan memberikan modal secukupnya untuk sahabatnya itu.

Setahun lamanya Arman bekerja mengumpulkan harta. Meskipun begitu, disela-sela kesibukannya ia tetap meluangkan waktunya untuk hadir di majelis ilmu. Dia pun berpikir sudah saatnya untuk mencari pendamping hidup. Apalagi orangtuanya terutama ibunya terus-menerus mendesak anaknya untuk segera menikah.

“nak, kapan kamu menikah?” ibu pengen melihat kamu berumahtangga dan menimang cucu mumpung ibu masih hidup.”desak ibunya via telepon

“Ya, bu. Arman belum menemukan wanita yang cocok.” Jawab Arman

“yang ibu tawarkan kemaren gimana? Ga cocok juga?!” tanya Ibunya

“Arman mau wanita bercadar bu. Kalau tidak ada, gadis berjilbab gapapa.”

Arman mencari wanita bercadar sebagai pendamping hidupnya. Alasannya karena wanita bercadar adalah wanita misterius. Wajahnya masih virgin belum dicicipi para lelaki. Maksudnya, tak ada orang lain yang tahu seperti apa wajahnya kecuali keluarganya dan suaminya kelak. Arman ingin cukup dirinya saja yang melihat wajah calon istrinya itu.

Ibunya paham akan keputusan anaknya itu. dari awal ibunya tidak pernah mengekang dan mengatur kehidupan pribadi Arman. Termasuk perubahan yang terjadi pada diri Arman. Malah berkat kesabaran dan baktinya, secara perlahan ayah dan ibunya mengikuti sunnah.

Ajang Reuni

‘Terlalu banyak pertimbangan’. Kata-kata itu yang sering dilontarkan oleh teman-teman se-kantornya. Mereka menasihati Arman untuk tidak neko-neko. Nobody’s perfect. Dalam hal pekerjaan, Arman boleh dibilang sukses tapi masalah mencari jodoh dia kalah dari Imran. Imran akan segera mengakhiri masa lajangnya akhir pekan ini. Imran menyebarkan undangan via email kepada teman-temannya, sedangkan khusus Arman melalui telepon.

“Man, ana mau ngundang antum. Ana mau nikah besok ahad.”

“antum serius?! Sama siapa?”tanya Arman sedikit kaget

“seriuslah..sama Sari. Antum masih ingat kan dengan kata-kata ana dulu.”

“ya..ya..ana masih ingat. Subhaanalloh..ternyata antum berjodoh ya ma Sari. Ya dah insyaalloh ana dateng.”

“Ok, syukron ya akh.”

Arman lalu mengingat kembali kata-kata Imran dulu. Dia tidak menyangka guyonan Imran akan menjadi kenyataan. Arman pun berharap dia menemukan jodohnya seperti Imran. “Kalau Imran berjodoh dengan Sari, maka semoga aku berjodoh dengan Irma.” Kelakar Arman sambil beristighfar

Arman beristighfar karena dia tahu bahwa do’anya itu salah. Jodoh di tangan Alloh dan Alloh lah yang Maha Mengetahui siapa wanita yang terbaik untuk Arman. Bisa jadi Irma bukanlah wanita yang baik sebagai istrinya. Semuanya ia serahkan kepada Alloh.

Hari penikahan Imran pun tiba. Tidak semua teman-teman menghadiri pernikahan Imran dan Sari. Mungkin jaraknya yang jauh dan kesibukan pekerjaan menjadi penghalang ketidakhadiran mereka. Acara walimah diadakan sesuai dengan sunnah. Tidak ada campur baur, para tamu undangan-pria dan wanita-terpisah, tidak ada musik apalagi dangdutan, dan acara-acara adat lainnya.

Setelah akad nikah, Arman pun mengucapkan selamat dan do’a yang diajarkan Rasululloh kepada sahabatnya itu.

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْكَمُاَ فِيْ خَيْرٍ

“Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan atasmu serta mengumpulkan kamu berdua (pengantin laki-laki dan perempuan) dalam kebaikan.”

Acara walimah itu juga menjadi ajang reuni bagi Arman dan teman-temannya. Masing-masing saling bersalaman, menanyakan kabar. Karena ikhwan dan akhwat dipisah, maka ajang reuni pun terbagi dua kelompok. Tiba-tiba dari kelompok akhwat hadirlah seorang wanita berjilbab yang tak dikenal. Dia mengucapkan salam kepada Sari.

“Barokallah ya Sar..”do’a gadis itu

“Amien..ukhti siapa ya. Koq ana kayaknya pernah liat.” Tanya Sari sambil mengingat-ngingat

“Ana Rina.” Jawab Rina singkat

“Subhaanalloh..”

Akhirnya Sari dan teman-teman yang lain menyadari bahwa wanita itu adalah Rina, teman sekelasnya dulu yang berambisi mengejar Arman. Setelah panjang lebar bercerita, ternyata Rina memutuskan berjilbab karena berkat Irma.

“Irma..??!!” jawab mereka serentak.

“koq bisa..?!” tanya mereka penasaran

Rina memilih menyembunyikan pengalamannya itu. Dia berpikir belum saatnya menceritakan semua hal yang menyebabkan dirinya memutuskan berjilbab. Setelah lama berbincang-bincang, Rina dan beberapa teman yang lain pamit pulang.

“Sar, ana pulang dulu ya. Semoga jadi keluarga sakinah mawaddah warohmah. Sekalian doakan ana juga moga nyusul.”

“oh ya ukh, jazakillah khoir.”

Mereka pun pulang satu persatu. Tapi belum beberapa detik, Rina berbalik badan.

“Sar, maafin ana waktu kuliah dulu ya..sekalian titip salam untuk Irma.” Pesan Rina

“Sama-sama Rin. Irma ga dateng karena ada urusan.”

Kelompok reuni para cowok juga pamit pulang. Ajang reuni selama kurang lebih 1 jam memberikan pengalaman berarti untuk Arman. Mulai dari karir, gulung tikar bisnis, atau masalah jodoh.  Ada pesan terakhir Imran yang masih terngiang-ngiang di benak Arman.

Kejarlah jodohmu walau kau harus berjalan tanpa alas kaki

Bersabarlah jika nantinya kau melewati onak duri, kerikil dan paku tajam

Ketika kau tlah melihatnya jangan jadikan cinta sebagai tujuanmu

Karna cinta akan tumbuh dengan sendirinya

Janganlah kau berharap lebih padanya

Cantik, kulit putih, badan ramping atau lainnya

Tengoklah dirimu

Sempurnakah kau..?

 Tapi raihlah jodohmu dengan ilmu dan agama

Niscaya kemulian cinta akan nampak di wajah dan hatinya

Sedap dipandang mata

Dan tampak pesona cinta yang abadi

Dalam perjalanan pulang, Arman merenungi setiap kata yang terucap. Dia menyadari bahwa selama ini dirinya terlalu banyak kriteria.

“Tapi aku kan ganteng. Pantas dong dapet akhwat cantik.” Kelakar Arman sambil menyetir

Tiba-tiba tanpa sengaja dia melihat seorang gadis berjilbab ungu. Gadis itu sedang menunggu bus di halte.

“Sepertinya aku kenal gadis itu? Begitu anggunnya. Perfecto. ” ucap Arman dengan takjub

Arman segera memalingkan wajahnya. Namun pikirannya masih tertuju pada gadis berjilbab itu. Siapakah gerangan gadis itu? Arman mencoba mengingat-ngingat kembali wajah gadis itu. Sayangnya, otaknya tak mampu membuka memorinya. Malah, hampir saja dia mencelakakan seorang anak kecil yang menyeberang di depannya.

“Ya Alloh mudahkanlah urusan hamba. Berilah keputusan yang terbaik. Jauhkan hamba dari fitnah syahwat ini (wanita).” Do’a Arman sambil beristighfar

Misteri Terkuak

Arman menjalani hari-harinya seperti biasa. Bekerja dan menuntut ilmu syar’i. Dia pun meminta bantuan ustadznya dan Imran untuk dicarikan akhwat yang siap nikah. Namun, Arman tidak berpangku tangan saja menunggu kabar mereka. Sambil mencari, Arman mengamalkan sunnah yang diajarkan Rasululloh:

Wahai sekalian para pemuda barang siapa diantara kalian telah mampu baah (menikah dgn berbagai macam persiapannya) hendaklah menikah, krn menikah lbh menundukan pandangan dan lbh menjaga kehormatan. Barang siapa yg belum mampu menikah hendaklah puasa krn puasa merupakan wijaa (pemutus syahwat) baginya.” HR. Bukhori (4/106) dan Muslim (no. 1400)

Sebenarnya di kantornya banyak akhwat yang sudah siap nikah. Seandainya Arman memilih salah satu di antara mereka, tentu dia diterima. Semasa kuliah pun banyak cewek yang naksir, apalagi sekarang. Banyak pasang mata akhwat di kantornya yang meliriknya. Namun, Arman hanya mau akhwat yang berbeda dan semanhaj (satu pemahaman).

Jika berkumpul dengan teman sekantor, pasti topik pembicaraannya seputar jodoh. Tujuannya hanya untuk memanas-manasi Arman. Bagaimana tidak, kelebihan fisik yang dimiliki Arman ternyata membuatnya kesulitan mencari jodoh. Tidak ada kekurangan yang nampak dari fisik Arman. Apalagi ditunjang dengan pemahamannya tentang agama menjadi dambaan setiap wanita.

Proses Ta’aruf…

Setiap ada kajian pasti Arman meluangkan waktunya untuk hadir. Kebetulan di hari libur ini ada bedah buku seputar membentuk keluarga sakinah. Arman pun tampak bersemangat karena dia berpikir tema keluarga sakinah adalah bekal tolok ukur dikala dia menikah kelak.

Sekitar 2 jam acara bedah buku itu selesai. Arman pun berkenalan dengan seorang bapak yang juga ikut acara tersebut. Selepas acara itu mereka memilih bercakap-cakap di teras depan masjid lantai dasar. Dari pembicaraan itulah, Arman tahu sedikit banyak tentang bapak itu.

 Namanya pak Amin. Umurnya sekitar kepala empat. Dia memiliki dua orang anak perempuan yang semuanya sudah menikah. Padahal Arman berharap salah satu anaknya belum menikah. Siapa tahu dia menawarkan anaknya tersebut. Paling tidak ta’aruf dulu.

Pak Amin juga mengetahui bahwa Arman belum menikah. Beliau lalu menawarkan seorang akhwat tapi tidak semanhaj dengannya. Tanpa pikir panjang Arman langsung menolaknya.

“Menikah tidak harus semanhaj yang penting menutup aurat. Lagipula antum bisa mendakwahinya.” Nasihat Pak Amin

“Bukan begitu, Pak. Ana Cuma takut akhlaknya tidak baik.” Tutur Arman

“Akhi, antum pikir kalau manhaj-nya sama akan menjadi jaminan akhlaknya baik? Coba lihat sekeliling antum. Bukankah banyak para pemuda yang mengaku mencintai sunnah tapi akhlaknya jauh dari sunnah?berapa banyak para pemuda memelihara jenggotnya, celananya ngatung tapi malah pacaran?”

“Baiklah, ana coba. Ngomong-ngomong namanya siapa pak?” tanya Arman

“Namanya Rina. Dia lulusan S1 TI di jakarta sama seperti antum. Ayahnya adalah teman ana. Namanya Pak Ali. Untuk lebih jelasnya antum ketemu beliau sekalian ta’aruf. Insyaalloh gadis itu baik.

Arman pun setuju ta’aruf dengan gadis itu. Walaupun dihatinya masih ada keraguan. Tapi ia menguatkan perasaannya itu sambil memohon petunjuk kepada Alloh. Pak Amin memberinya no. Hp kawannya itu. Sebelumnya Pak Amin akan menghubungi Pak Ali terlebih dahulu.

Seminggu kemudian Arman mendapatkan informasi dari Pak Amin untuk  melakukan proses ta’aruf. Arman lalu menghubungi Pak Ali kapan proses ta’aruf dilaksanakan. Sehingga diputuskanlah akhir pekan saja. Pak Ali pun memberitahu alamat lengkapnya kepada Arman. Ternyata masih di wilayah jakarta, tak jauh dari tempat kerja Arman.

Menunggu akhir pekan pun terasa lama. Begitulah kira-kira yang dialami Arman. Masih terbersit keraguan dihatinya. Bagaimana seandainya gadis itu menolak? Atau gadis itu buruk rupa?. Pekerjaan di kantor pun sedikit terbengkalai. Padahal ini hanyalah ta’aruf, siapa saja bisa menolak. Namun Arman khawatir malah dirinya ditolak pada saat ia menyukai gadis itu.

Akhir pekan pun tiba. Tak ada persiapan khusus yang dilakukan Arman. Ia hanya menyiapkan keberanian saja. Berani untuk ditolak dan berani untuk menolak.

Tidak susah mencari alamat Pak Ali. Karena Arman sudah hapal rute ibukota tersebut. Dia lebih memilih naik kendaraan umum ketimbang naik mobil pribadinya. Alasannya, dia tidak mau kekayaan sebagai kunci ta’arufnya kali pertama ini.

Arman pun disambut hangat oleh Pak Ali. Setelah mengucapkan salam, Arman dipersilahkan duduk. Kaget juga melihat penampilan Pak Ali. Sepertinya beliau belum mengenal sunnah. Celananya masih isbal (di bawah mata kaki), kumisnya lebat, dan bekas jenggot yang dicukur abiz.

Ternyata Pak Ali ‘welcome’ banget. Amat kontradiktif dengan penampilannya yang sangar lantaran kumis lebatnya. Sehingga Arman tidak merasa canggung atau grogi. Malah ia terbawa suasana seperti sudah lama kenal. Setelah panjang lebar bercerita mengenai Arman, kuliah dimana, pekerjaannya dan lain hal, Pak Ali memanggil Rina.

Tak lama kemudian Rina keluar sambil membawa makanan ringan dan minuman. Rina duduk di samping Pak Ali.

“Nak Arman, maaf ya sampe lupa minumannya.”

“Gapapa, Pak.”

“ya udah bapak tinggal dulu ya, biar kalian lebih enak ngobrol.” Ucap Pak Ali sembari meninggalkan mereka berdua

Arman tertunduk. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mulai menetes. Ingin rasanya dia minum segelas air agar hilang rasa groginya. Namun, Arman memilih memainkan kedua ibu jarinya dengan memutar. Suasana tampak hening, ibarat seorang tersangka menunggu keputusan hakim atau seorang teroris menunggu eksekusi mati. Bagi Arman lebih dari itu. Dia tidak punya pengalaman sebelumnya. Sehingga tidak tahu harus memulai darimana. Dia pun berpikir kata apa yang pertama kali diucapkan. Sesekali dia menghela napas panjang. Sesekali menyeka keringat dinginnya. Padahal ruangannya ber-AC. Arman berharap Pak Ali ada di tengah-tengah mereka. Selain menghindari khalwat (berduaan), Arman tidak akan mati kutu seperti saat ini.

“Nak Arman koq diem?” tanya Pak Ali dibalik ruangan

“oh ya Pak,maaf.” Jawab Arman gelagapan

“Bagaimana lagi, mau tidak mau aku harus memulai bicara. Aku laki-laki.” Ujarnya dalam hati

Ibarat perang berkecamuk, Arman sudah berada di medan tempur. Tidak mungkin berbalik mundur. Dia harus tetap maju dan menerima konsekuensinya. Menang dalam pertempuran atau kalah. Memenangkan hati gadis itu atau kalah ditolak.

Sedikit demi sedikit Arman mengangkat kepalanya. Seperti slow motion sebuah adegan film. Kaget bukan main, ternyata gadis dihadapannya ini adalah Rina, gadis berjilbab ungu yang ia temui minggu lalu di halte, Bandung. Lebih kaget lagi, ternyata Rina adalah teman kuliahnya dulu yang bermetamorfosa dari ulat menjadi kupu-kupu cantik. Wajah dan penampilannya membuat Arman terpesona. Rina juga memakai jilbab ungu sama seperti di halte, Jauh lebih anggun.

“Rina..?!!!” ucap Arman sedikit tertegun

“iya Man. Bagaimana kabar antum?” tanya Rina

“Baik, alhamdulillah. Bagaimana ceritanya kamu bisa berjilbab?” tanya Arman sambil menunduk

Arman memilih menunduk. Dia tak berani menatap lama-lama gadis itu walaupun sudah lama mengenal Rina. Begitu juga Rina. Dia menunduk karena paham akan pengaruh sebuah tatapan.

Pertanyaan Arman tak lantas ia jawab. Dia bingung menjawab pertanyaan Arman atau memilih menyembunyikannya. Jika option pertama dipilih maka otomatis Rina akan menceritakan pengalaman pahitnya yang bisa jadi itu adalah aib bagi perempuan. Jika option kedua yang dipilih maka Rina menyimpan sebuah rahasia yang bisa saja terbongkar sehingga membuat Arman kecewa jika menjadi suaminya kelak. Terlebih lagi seandainya Arman tahu bukan dari mulutnya melainkan orang lain. Sebuah pilihan dilematis, bak makan buah simalakama.

Pilihan RIna jatuh pada option kedua. Tentunya melihat baik buruknya menurut kacamata Rina. Sambil mengatur nafasnya, Rina lalu mulai bercerita.

“ana berjilbab karena…Irma.” Ucap Rina penuh keraguan

“Irma…???!!!”

Sontak saja Arman kaget. Saking kagetnya, dia menatap kembali wajah Rina. Selama ini dia, Rina, Sari sahabatnya tidak pernah tahu keberadaan Irma. Kenapa Irma memutuskan berhenti kuliah padahal selama ini dia nampak baik-baik saja. Tidak ada problem dengan teman kelasnya. Hari-harinya pun ia sibukkan dengan menuntut ilmu. Lantas, bagaimana bisa Irma menjadi sebab perubahan Rina.

Rina kembali mengatur nafasnya. Menjawab pertanyaan Arman tentunya dia harus membuka kembali aib yang sudah lama ingin ia hapus. Sebuah lembaran kenangan kelam yang ingin ditutupnya dan mulai membuka lembaran baru. Menatap sebuah masa depan yang cerah.

Episode Selanjutnya: “Sweet Memories Bag. Bidadari Dibalik Cadar 2”

(Manuskrip Novel Siluet Cinta dalam Kabut by Abdul Aziz)

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

2 thoughts on “Episode 7: “Bidadari Dibalik Cadar”

  1. Bismilaah. Alhamdulillaah. Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh, Mas ‘Abdul ‘Aziz. Ini prtma klinya sya mengnjungi blog Mas. Ckup bgus, Mas. & smga keslahan yg ada pda blog ini pun bsa diperbaiki dan yg baik diperthankan.
    Barakallaahu fiik.

    Posted by Dito(Murid BP/Murid Privat Mas Dicky) | Kamis, Oktober 27, 2011, 6:56 pm

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: