An-Nisaa'

Serial “Wahai Saudariku Mana Jilbabmu?” (Rumahmu Surgamu 2)


Wahai saudari…!. Engkau adalah yang paling berharga di sisi kami, engkau adalah saudari, putri, istri dan ibu…sudah menjadi keharusan bahwa engkau menjadi pembantu bagi kami untuk menjagamu dari bahaya…

Engkau adalah separo masyarakat dan engkau melahirkan yang lain. Engkaulah yang kami harapkan bisa mengeluarkan generasi yang membimbing umat…Namun bagaimana mungkin hal itu terjadi bagimu apabila engkau pergi berlari meninggalkan rumah, meninggalkan tugas rumah, mendidik generasi baru dan tugas keibuan, dan jadilah engkau bersama laki-laki dalam bekerja?

Ketahuilah –semoga Allah memberi rahmat kepadamu-, bahwa Allah tidaklah menyuruhmu berdiam diri di dalam rumah kecuali karena sayang kepadamu:

 “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. al-Ahzab:33)

Ambillah pelajaran kondisi wanita di Barat: sesungguhnya ia mengeluh perbuatan zalim dari laki-laki, ia mengadukan tindakan pelecehan sex di setiap tempat. Ia tidak bisa berlari dari realita, karena ia harus bekerja dan jika tidak ia akan mati kelaparan. Maka ia berada dalam penderitaan yang tidak berkesudahan..

Adapun engkau, sungguh Allah telah memberikanmu kemuliaan dengan Islam yang mewajibkan kepada bapak, suami, saudara, dan anak agar berusaha untuk memberikan nafkah untukmu, dan Allah tidak pernah menyuruhmu bekerja. Ini adalah harta ghanimah yang datang kepadamu tanpa susah payah mendapatkannya. Engkau menetap di dalam rumah seperti ratu, selain engkau bekerja untukmu. Bukanlah ini merupakan nikmat yang besar.

Maka janganlah engkau terperdaya dengan dunia dan hiasan syetan untuknya agar keluar bekerja. Maka jika engkau ingin dekat dengan ar-Rahman maka menetaplah di dalam rumah. Rasulullah  bersabda:

Perempuan adalah aurat, maka apabila ia keluar niscaya syetan memuliakannya, dan yang paling dekat dari Wajah Rabb-nya saat dia berada di dalam rumahnya.HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban.

Dan ketahuilah wahai saudariku, sesungguhnya yang paling berharga pada dirimu adalah iman dan iffahmu, dan ia terancam akan terkoyak apabila engkau ikhtilath dengan laki-laki. Maka berjauhlah dari mereka dan jangan engkau mendekatkan diri dari mereka kecuali mahram atau suami. Dan ketahuilah, sesungguhnya engkau berada di bawah naungan hijab dan menetap di dalam rumah niscaya engkau mendapatkan suami yang terbaik akhlak dan ghirah. Dan apabila engkau tetap dalam pekerjaan yang ikhtilath ini niscaya engkau tidak akan mendapatkan laki-laki yang baik.

Wahai Saudari! Jangan engkau mengatakan ‘Saya bisa menjaga diri, sekalipun berada di antara laki-laki…’ Maka sesungguhnya Allah tidak menyuruh menundukkan pandangan dan berpisah di antara laki-laki dan wanita kecuali Dia  mengetahui bahwa dorongan sex adalah kekuatan yang menghanyutkan. Seorang muslim disuruh menjauhkan diri dari tempat-tempat fitnah dan ia tidak menjerumuskan dirinya kepada kebinasaan. Apabila seorang manusia kelaparan, ia tidak mampu menahan diri dari makanan, demikian pula apabila ia kelaparan secara sex. Dalam kondisi bagaimanapun, apabila sudah jelas haramnya ikhtilath, maka sesungguhnya haram bagi wanita dan laki-laki bekerja berdampingan, sekalipun keduanya menjaga diri. Dan tidak menjadi ukuran dengan tidak adanya nafsu syahwat atau kemampuan wanita menjaga dirinya…dan jika engkau –wahai saudari yang mulia- membutuhkan pekerjaan maka hendaklah pekerjaan itu jauh dari laki-laki.

Saudari yang mulia..saya tidak tahu, apakah kata-kata saya sampai ke sudut hatimu? Dan apakah ia bisa menembuh selaput luar jantungnya? Saya mengharapkan hal itu dari hatiku. Dan aku berdoa kepada Allah dengan doa yang sangat agar Dia  menjagamu dari tipu daya orang-orang yang menipu, orang-orang yang merencakan untuk melemparmu ke dalam lumpur kehinaan. Dan mereka sangat senang saat bisa mewujudkan hal itu darimu, saat engkau meninggalkan rumah dan berada di tengah-tengah laki-laki. Karena mereka mengetahui bahwa engkau adalah pendidik generasi mendatang. Maka apabila engkau sudah rusak niscaya rusaklah generasi penerus, dan umat menjadi mangsa bagi musuh-musuhnya.

Saya berharap kamu bisa memahani persoalan penting ini dengan sebenarnya dan memahami kadar bahaya yang engkau berada di dalamnya. Engkau adalah saudariku dalam kondisi apapun. Percayalah bahwa suatu hari nanti engkau akan kembali kepada petunjukmu, dan percayalah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan percuma usahaku bersamamu. Dan tidak adalah taufiqku kecuali dengan pertolongan Allah . Dan saya sangat berharap agar engkau mengulang kembali membaca nasehat ini beberapa kali, dari waktu hingga waktu yang lain.

Iklan

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: