Novel Siluet Cinta dalam Kabut (Manuskrip)

Episode 8: “ Bidadari Dibalik Cadar 2”


Suatu hari Rina mendapat telepon dari papanya bahwa mamanya kembali dirawat di rumah sakit. Mendengar  kabar tersebut Rina langsung menyusul papanya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Rina langsung menuju ruangan dimana mamanya dirawat. Saking terburu-burunya dia menabrak seorang gadis hingga terjatuh begitu juga makanan yang dibawanya.

“Hati-hati dong mba. Makanya kalo jalan liat-liat.” Ketus Rina

“Maaf mba saya ngga sengaja.” Ucap gadis itu

Rina semakin emosi setelah tahu bahwa gadis di depannya itu adalah gadis bercadar. Dia pun mengira gadis tersebut adalah Irma teman kuliahnya dulu. Suaranya pun terdengar begitu mirip dengan suara Irma.

“Sepertinya gue kenal suara lo. Irma?!” Tanya Rina dengan angkuh

“Saya Rida mba.” Jawab gadis itu dengan terbata-bata

Gadis itu pun menunduk dan membereskan makanan yang terjatuh. Sedangkan Rina, dia melenggang pergi dengan angkuhnya tanpa satu kata ‘maaf’. Gadis itu menatap punggung Rina yang semakin menjauh.  Dia pun beristighfar melihat penampilan Rina. Pakaian ketat dengan rok mini sepaha, mengumbar aurat dengan bentuk lekuk tubuhnya. Sebuah dandanan seksi menjadi tontonan gratis para lelaki jalang, para suami yang tidak menjaga matanya, dan para pemuda dengan gairah hawa nafsunya.

Segera Rida bangkit dan menuju ke ruangan pasien. Tampak seorang laki-laki paruh baya sedang terbaring lemah. Bisa ditaksir umurnya kira-kira 50 tahun. Di sampingnya seorang gadis berjilbab coklat sedang duduk sambil menyuapi laki-laki tersebut.

“Assalaamu’alaykum.” Salam Rida

“Wa’alaykumussalam. Obatnya sudah ditebus mba’?” Tanya gadis berjilbab coklat tersebut

“Sudah. Makan yang banyak ya, Pak. biar lekas sembuh.” Ujar Rida sambil meletakkan obat dan makanan yang dibawanya

“Nak, itu makanan kenapa berantakan?” Tanya sang bapak

“oh ya Pak. Tadi abis nabrak orang. Jadinya jatuh deh.” Jawab Rida sembari tersenyum

Rida seorang gadis lulusan pesantren ‘X’ di jawa tengah. Dia lulus dengan predikat mumtaz. Sempat dia ditawari mengajar di pesantren tersebut namun Rida lebih memilih mengajar di sekolah Islam di dekat rumahnya sambil  merawat bapaknya.  Sedangkan gadis berjilbab coklat itu adalah adiknya, Faiza. Seorang mahasiswi psykolog  yang meraih beasiswa di salah satu universitas di Jakarta.

Bapaknya seorang pedagang kain dan penjual obat-obat herbal di toko yang ia bangun di samping rumahnya. Bapaknya didiagnosa terkena penyakit jantung setelah mengeluh sakit di dadanya. Sedangkan ibunya sudah lama meninggal sekitar empat tahun lalu.

“Za, karena udah dzuhur mending kamu sholat dulu. Biar mba yang jaga bapak.”

“Kalian sholat bareng aja, bapak gapapa.” Ucap sang bapak

“Mba’ aja yang sholat, Iza lagi halangan.” Jawab Faiza

“Rida sholat dulu ya Pak.”

Sang bapak pun tersenyum. Dia menatap wajah Rida sampai keluar dari ruangan. Sebuah tatapan campur aduk. Antara senyuman dan air mata. Melihat ekspresi bapaknya, Faiza pun mencoba bertanya.

“Bapak kenapa menatap mba’ Rida seperti itu?” Tanya Faiza penasaran

“Bapak Cuma kasihan aja melihat mba mu. Dia tinggalkan masa depannya demi merawat bapak. Bapak berharap dia segera menemukan jodohnya.”

Amien.” Jawab Faiza mengamini doa bapaknya

Semenjak ibunya meninggal, Rida memang menghabiskan waktunya untuk merawat bapaknya dan mengurus rumah. Dia juga membantu biaya kuliah Faiza. Setiap ada ikhwan yang mau ta’aruf, selalu ia tolak mentah-mentah. Rida belum berniat untuk menikah.

Rida memilih sholat dimusholla daripada sholat di kamar pasien. Karena bapak Rida dirawat di kelas biasa dimana dalam satu ruangan dihuni 4-5 pasien. Sehingga dia memlih di musholla.

Sesampainya di musholla …

Pada saat Rida mau mengambil wudhu’, dia kembali bertemu dengan Rina. Rida langsung menyapanya dan mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Namun, tangan Rida hanya menyentuh udara kosong. Tak ada balasan dari Rina. Hanya ekspresi kebencian melihat sosok Rida yang bercadar. Ia acuhkan Rida dengan berdandan dan memoles wajahnya di depan cermin. Rida pun tertunduk dan memilih mengambil air wudhu’.

Melihat situasi seperti ini, Rina yang penasaran mulai mengintip siapa gadis dibalik cadar itu? Irmakah atau orang lain?. Rida yang menyadari bahwa dirinya diintip oleh Rina, segera ia membatalkan niatnya untuk mengambil wudhu’. Karena merasa risih dilihat dengan tatapan penuh curiga, Rida lalu memilih mengambil wudhu’ di dalam kamar mandi.

Tingkah laku Rida membuat Rina semakin jengkel dan geram. Seperti sebuah de ja vu antara dirinya dengan Irma dahulu.

“Dasar sok kecakepan. Pake jual mahal segala!” umpat Rina sambil berlalu menuju kamar mamanya

Sifat Rina yang angkuh, temperamen, dan mau menang sendiri adalah pengaruh dari didikan orangtuanya, terutama papanya. Kesibukan orangtuanya di dunia kerja membuat Rina tumbuh tanpa bimbingan dan salah dalam memaknai kasih sayang. Semenjak kecil Rina selalu dimanja. Apapun keinginan Rina selalu dipenuhinya karena ia tumbuh dalam keluarga materialistis. Orangtuanya menilai bahwa materi adalah symbol kesempurnaan dan kasih sayang. Akhirnya, ia tumbuh menjadi sosok pribadi yang angkuh.

Rina bekerja di dunia fashion. Di mata teman-temannya, Rina adalah sosok wanita yang sempurna. Dengan kelebihan fisiknya, tak jarang dirinya selalu didaulat oleh perusahannya untuk menjadi modelnya. Padahal Rina baru beberapa bulan bekerja. Rina pun menikmati pekerjaannya sebagai model. Namun, kecantikan dan kesombongannya memicu sebuah permusuhan. Seringnya ia terpilih sebagai model, akan semakin menyulut api dendam para model wanita lainnya.

Pria Misterius…

“Enak ya punya wajah cantik?!” ucap seorang wanita

“Lo ngomong ma gue?” Tanya Rina sambil menyisir rambut panjangnya

Wanita itu enggan menjawab pertanyaan Rina. Ia malah asyik berkicau sambil berdandan berdampingan dengan Rina.

“Tapi gimana ya, seandainya wajah yang cantik dan mulus itu tergores benda tajam. Pasti jadi jelek ya.” Ceracau wanita itu

“Maksud lo apaan. Lo ngomongin gue?” Tanya Rina geram

“Iya, gue ngomongin kesombongan lo.” Jawab wanita itu

“Jadi lo iri dengan kecantikan gue.” Cibir Rina menantang

“Eh, lo jangan macem-macem ma gue. Sebaiknya lo keluar dari pekerjaan lo sekarang sebelum gue berbuat lebih nekat.” Ancam wanita itu dengan pisau

Sontak saja Rina kaget melihat pisau di depan matanya. Tiba-tiba..

“Ada apa ya mba?” Tanya Rida

Melihat Rida, wanita itu pun pergi dengan tatapan penuh kebencian dan dendam. Sedangkan Rina bukannya berterima kasih malah bersikap dingin seperti biasanya.

“mba’, gapapa?” Tanya Rida

“lo ga usah pura-pura baik. Lo ngapain disini? Lo ngikutin gue?” hardik Rina

Rina melangkah pergi dengan perasaan tertekan. Rida merasa bahwa ada masalah antara Rina dan teman kerjanya. Kebetulan waktu itu Rida berada di kamar mandi. Samar-samar ia mendengar ancaman wanita itu. Setelah memenuhi hajatnya, Rida pun keluar dari kamar mandi.

Rina tidak menggubris ancaman wanita tersebut. Baginya ancaman tersebut hanyalah gertak sambel. Dia juga tidak kenal dengan wanita itu. dia menganggapnya suatu kewajaran karena memang banyak wanita iri terhadap kecantikannya.

Wanita itu pun membuktikan ancamannya. Jika dalam 24 jam Rina tidak keluar dari pekerjaannya maka Rina akan menghadapi ancaman yang lebih besar. Rina tetap tidak bergeming. Dia justru membalas sms ancaman wanita tersebut seolah menantang.

(Dua hari kemudian, tepat pukul 01.00 pagi..)

“Tolong…tolong…” Teriak Rina meminta tolong

Seorang pria berkaca mata dengan pakaian jubah mencoba memperkosa Rina di kamar mandi musholla. Mulut Rina segera dibungkam dengan kain agar Rina tak berteriak. Dengan sekuat tenaga Rina melawan pria itu. Namun, tenaga pria itu jauh lebih kuat dari Rina yang hanya seorang wanita. Terlihat Rina sangat ketakutan, air matanya menetes. Sorot matanya menunjukkan rasa memelas, berharap pria itu tidak menodainya.

“Dengar, Jika lo melawan—gue ngga segan-segan memperkosa lo!” ancam pria itu

Rina lalu menuruti kata-kata pria tersebut karena dia tidak ingin berakhir dengan membawa aib seumur hidupnya. Dalam hatinya berharap akan ada orang yang menolongnya. Satu-satunya harapan adalah Rida, gadis bercadar yang selalu bertemu dengannya di kamar mandi.

Pria itu mengambil hpnya dan menelepon seseorang. Terdengar suara seorang wanita dibalik Hpnya. Sepertinya suara itu adalah suara wanita yang mengancam Rina waktu di kamar mandi. Pria itu kemudian mengaktifkan speaker phone-nya agar didengar oleh Rina.

“Gue kan udah peringatin lo. Keluar dari pekerjaan lo. Sekarang lo rasain kesombongan lo.!” suara wanita itu lantang

Rina ingin mengatakan sesuatu tapi usahanya sia-sia. Mulutnya terkunci rapat. Badannya terkulai lemas tak berdaya. Wanita itu langsung menutup pembicaraannya. Segera pria misterius itu mulai melakukan aksinya. Hawa nafsunya pun tak terelakkan. Dengan sisa tenaga yang ada, Rina mencoba memberontak. Dia menendang pria itu tepat mengenai kemaluannya. Pria itu meringis kesakitan. Semakin kalap,  pria itu menampar Rina hingga tak sadarkan diri.

Laki-laki itu menyeringai puas melihat Rina pingsan. Selangkah lagi pria itu hampir menodai Rina, namun secepat kilat datanglah seorang pria-papanya, dua orang satpam, dan Rida. Pria itu kaget dan mencoba melawan. Namun, petugas keamanan segera menangkap dan mengamankan pria itu. Papanya segera membawa Rina ke kamar pasien dibantu Rida.

***

Esok harinya…

“Adek, gapapa?” Tanya sang papa

“Adek udah hancur pa. Adek mati aja!” Teriak Rina histeris

“Assalaamu’alaykum.” Sapa Rida

“Wa’alaykumussalaam.” Balas papa Rina

Papanya Rina beranjak keluar ruangan agar Rida lebih leluasa berbicara dengan Rina. Namun, Rina seolah tidak menginginkan kehadiran Rida, gadis yang dibencinya.

“Ngapain lo kesini? Mau ngetawain gue atau jangan-jangan ini rencana lo. Pergi?!” tuduh Rina sambil mengusir Rida

Melihat sikap Rina yang menghujat habis-habisan, papanya berusaha menenangkan Rina. Papanya menasihati Rina agar tidak bersikap arogan dan kekanak-kanakan. Sedangkan Rida keluar meninggalkan Rina dan papanya dalam keadaan tertunduk. Dia memahami sikap Rina saat ini. Perasaan tertekan dan penuh amarah membuatnya sangat emosional.

”sayang, kamu ngga boleh bersikap seperti itu. Dia ingin menjenguk kamu. Bukankah dia sahabatmu?” tutur sang papa dengan lembut

”Sahabat?!. Dia bukan sahabat Rina, pa.” ucap Rina sambil memeluk papanya

”Apa karena dia bercadar? Adek, tidak semua gadis bercadar adek benci. Papa lihat akhlaknya baik kok.” ucap sang papa lembut

”ngga, pa. Gara-gara dia Rina celaka. Rina udah ngga layak hidup pa. Rina udah jadi sampah.” Teriak Rina penuh amarah

“Adek, kamu gapapa. Pria itu tidak memperkosamu.”

Mendengar penjelasan sang papa, Rina bersikap lebih tenang dan bernapas lega. Tapi hatinya semakin dipenuhi dendam. Dia berjanji akan membuat perhitungan kepada wanita yang mengancamnya. Dia akan mencari tahu siapa wanita tersebut.

Kejadian kemarin malam sengaja ditutupi agar tidak tersebar ke media massa. Papanya meminta pihak rumah sakit dan orang-orang yang terkait untuk tidak membocorkan peristiwa pemerkosaan terhadap anaknya itu. Karena akan merusak reputasi papanya dan pekerjaan Rina sebagai model. Sedangkan sang mama merasa khawatir kenapa Rina tidak menjenguk dirinya. Papanya terpaksa menceritakan musibah yang dialami anak semata wayangnya itu.

Rida yang diusir oleh Rina langsung menuju kamar bapaknya. Dia memilih tidak menceritakan peristiwa kemarin malam. Faiza memberitahu Rida bahwa bapaknya diperbolehkan pulang besok. Rida pun terlihat sumringah mendengar kabar tersebut. Faiza merasa senyum Rina begitu datar seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Faiza tahu karakter kakaknya itu dikala ada masalah yang mengganggu pikirannya.

***

”Iza ma bapak duluan aja ke mobil, Rida ada urusan bentar.”ucap Rida sembari pergi

Faiza merasa curiga melihat sikap Rina yang tidak seperti biasanya. Dia yakin Rida pasti ingin menemui seseorang di rumah sakit. Tapi siapa? Apakah temannya sakit? Kalaupun iya, kenapa mba’ Rida menyembunyikannya?. Serba tertutup. Itulah pertanyaan Faiza.

”Assalaamu’alaykum.” sapa Rida

”Wa’alaykumussalaam.” Balas seoerang wanita

”Bu, Rida mau pamit dulu. Titip surat ini buat Rina ya bu.“ Pinta Rida sembari menyodorkan sebuah surat

Rida berpamitan kepada ibu Ros, mamanya Rina. Rida menganggap mamanya adalah ibu kandungnya sendiri. Selama ini Rina tidak pernah tahu bahwa Rida-lah yang menjaga mamanya setiap kali Rina dan papanya kerja. Terlebih lagi mamanya menyayangi Rida seperti anaknya sendiri. Sehingga jika ada pembantunya yang menjaganya, dia menyuruhnya pulang. Melalui Rida lah ibu Ros tahu tentang islam dan dia meminta Rida juga mengajari Rina, terutama kewajiban berjilbab. Tapi sampai saat ini Rida belum mewujudkan permintaan bu Ros karena Rina begitu sangat membencinya.

Rida pun memeluk erat bu Ros sebagai tanda perpisahan. Bu Ros pun memeluknya dengan hangat. Tanpa sengaja air mata Rida tumpah. Dia menangis dipangkuan bu Ros. Pertemuan yang singkat serasa begitu lama. Rida yang mendambakan sosok seorang ibu, ia dapatkan dari bu Ros. Begitu juga ibu Ros. Dari lubuk hatinya dia sangat menyayangi Rida bahkan seandainya Rida tidak keberatan, dia ingin mengangkat Rida sebagai anak angkatnya. Tapi, Rida bukanlah anak yatim piatu. Dia memiliki seorang ayah yang butuh penjagaannya. Dia berharap Rina bisa seperti Rida.

Pertemuan yang sementara menjadi sebuah perjumpaan yang bermakna antara seorang ibu dan anak. Seakan tak mau berpisah, bu Ros memberikan alamat dan no teleponnya. Bu Ros tidak pernah merasakan kasih sayang dari anaknya sendiri. Bahkan Rina lebih mengutamakan pekerjaannya ketimbang menjenguk mamanya sendiri. Walaupun begitu bu Ros tidak pernah menyesal dan marah dengan sikap Rina. Ia hanya menyesal karena membesarkan Rina dengan cara yang salah.

Rina segera melepaskan pelukannya dan berpamitan untuk terakhir kalinya. Sesampainya di pintu kamar, Rida menatap kembali wajah bu Ros. Ada kedamaian dan kesedihan yang tampak di wajah bu Ros. Sesegera mungkin Rida pergi dari hadapannya. Dia tidak ingin semakin sedih.

“Iza, kamu disini?“ tanya Rida sambil menghapus air matanya

Ternyata tanpa sepengetahuan Rida, Faiza mengikuti kemana Rida pergi. Kecurigaan Iza benar. Rida menyembunyikan pertemuannya dengan bu Ros. Iza juga mendengar pembicaraan mereka seputar Rina dan peristiwa pemerkosaan terhadap Rina.

”Iza udah tahu semuanya mba. Kenapa mba ngga cerita ma Iza?“ tanya Faiza sedikit kecewa sambil menghapus air matanya

Rupanya Faiza ikut terharu melihat ketulusan kakaknya dan kehangatan kasih sayang seorang ibu Ros walupun bukan ibu kandungnya. Akhirnya Rida terpaksa menceritakan semuanya. Setelah mendengar penuturan Rida, Faiza geram terhadap Rina. Namun, sebagai kakak-Rida-menasihati Faiza bahwa kemarahan justru akan membunuh dirinya. Rida pun memberanikan diri untuk meminta maaf kepada Rina sekaligus berpamitan. Walaupun dalam hati kecilnya Rina tidak akan menerima kehadirannya. Rida juga terpaksa mengajak Faiza yang ngotot ingin ikut. Namun dengan syarat Faiza tidak ikut masuk ke dalam ruangan.

“Assalaamu’alaykum.“

Seperti biasa ucapan salam Rida tidak pernah dijawabnya. Tapi kali ini Rina terlihat lebih tenang tidak arogan seperti sebelumnya. Rida lalu memberanikan diri masuk.

“Mba’ udah sehat?“ tanya Rida dengan lembut

“Ngapain lo kesini? Sok perhatian segala atau lo mau ngetawain gue?!“ Tuduh Rina dengan kasar

“Saya Cuma mau minta maaf sekalian pamit pulang, mba’.“ Jawab Rida mengulurkan tangan kanannya

”Eh, ninja. Sampai kapanpun gue ngga akan baikan sama lo. Ngerti lo.“ Umpat Rina

“Tapi, mba..; Belum selesai bicara Rina mendorong Rida hingga terjatuh.

“Kalo gue suruh pergi…ya pergi..punya kuping ngga sih lo. Dasar tuli..!“

Melihat perlakuan Rina terhadap Rida, Faiza pun tidak tahan. Dia tidak menyangka bahwa kakaknya begitu sabar menerima perlakuan kasar Rina.

“Cukup, mba’. Masih belum puas nyakitin mba’ Rida?”Tanya Faiza sedikit emosi

“Emang lo siapa, hah. Oh ya..lo adiknya? Kebetulan bilang sama kakakmu yang tuli itu jangan sok cari perhatian, sok baiklah.“

Mendengar kata-kata Rina, Faiza semakin emosi. Dia tidak mau harga dirinya dan kakaknya diinjak-injak oleh Rina. Faiza pun membantu Rida berdiri.

“Plaakkk…Itu adalah balasan untuk mulut mba’ yang kotor.“ Tampar Iza penuh amarah

Rida kaget melihat tamparan Faiza, adiknya. Selama ini adiknya dikenal pendiam dan tidak pernah berbicara kasar. Iza segera mengajak Rida pergi karena khawatir terjadi pertengkaran yang lebih parah. Sedangkan Rina tercengang kaget sambil memegang pipinya. Dia teringat bekas tamparan Sari dulu. Sebuah de ja vu kembali terulang.

“Asal mba’ tau. Orang yang mba’ benci adalah orang yang menolong mba‘ dari tindak pemerkosaan yang mba‘ alami. Oh ya satu lagi. Mba‘ Rida adalah teman lama yang sudah mba‘ sakiti sama seperti yang mba‘ lakukan barusan. Ingat itu..!“

Rina tertegun dan tak tahu harus berkata apa. Mulutnya seperti terkunci rapat. Bayang-bayang peristiwa buruk kembali terlintas di benaknya. Ada perasaan bersalah di hatinya. Orang yang selama ini ia benci ternyata adalah orang yang telah menolongnya. Rina tertunduk lesu. Dia masih belum percaya bahwa Rida-lah yang menolongnya. Tapi bagaimana mungkin?

Pak Ali, papanya datang dan membawa makanan yang dipesan Rina. Rina sudah diperbolehkan pulang. Tidak perlu dibawa ke psikiater untuk terapi karena Rina hanya syok dan tidak ada tanda-tanda trauma. Namun melihat wajah Rina kusut, Pak Ali heran.

“Adek, kenapa kok lesu gitu?“ tanya papanya

“Pa, apa bener Rida yang nolongin Rina?“ Tanya Rina mengangkat kepalanya

“Rida..gadis bercadar yang kamu usir kemaren?“ Tanya papanya mencoba mengingat

Rina mengangguk lemas; “Dia yang memanggil papa saat papa di kamar mamamu. Waktu itu Rida mau sholat malam. Saat mau masuk ke kamar mandi, Rida mendengar suara wanita seperti dibungkam. Agar lebih yakin Rida mengintip dan ternyata pria itu mencoba memperkosamu.“

Mendengar penjelasan papanya, tumpahlah air mata Rina. Dia pun beranjak pergi berusaha mengejar Rida. Tapi sia-sia. Rina teringat penjelasan papanya. Bagaimana mungkin Rida tahu kamar mamanya? Akhirnya Rina menuju ke kamar mamanya untuk meminta penjelasan.

“Mama gimana kabarnya?“ tanya Rina basa-basi

“Adek, gimana?“ tanya mamanya

Rina tidak menjawab pertanyaan mamanya. Dia mencium pipi mamanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Mama kenal Rida?“ Tanya Rina tiba-tiba

“Gadis yang menolongmu kemaren?“

“Mama tau darimana? “ Tanya Rina penasaran

“ Papamu yang cerita. Rida adalah gadis yang baik. Dia yang merawat dan menjaga mama. “

“ Bukankah bik inah udah jagain mama? “

“ Mama suruh bik inah di rumah aja. “

“ Tapi kenapa mama bisa kenal Rida?” Tanya Rina tambah penasaran

Mamanya pun  menceritakan awal pertemuannya dengan Rida. Sewaktu Rida melewati kamar mamanya tanpa sengaja dia melihat seorang wanita-yang mengancam Rina-masuk ke kamar mamanya saat sedang tidur. Rida pun curiga wanita itu akan melakukan tindak kekerasan. Sehingga Rida ikut masuk seolah-olah mau menjenguk mamanya. Melihat Rida, wanita itu pun segera pergi tanpa sepatah katapun.

“Rida hanya ingin meminta maaf dan ingin berteman denganmu. Tidak sepantasnya kamu berbuat kasar kepadanya.” Ucap mamanya

“Dia ngadu ke mama. Dasar sok baik.” Kembali Rina mengumpat

“Mama tau semuanya dari papamu. Rida tidak pernah menjelek-jelekkanmu di depan mama.“ Jawab mamanya memberi pengertian

Rina kembali tertegun. Dia tidak ingin mempercayai penjelasan mamanya. Dia berharap mamanya bohong. Tapi kenyataannya tidak.

“Rin, mama ingin kamu merubah sikapmu. Mama tau ini semua kesalahan mama yang selalu memanjakanmu. Berteman dan belajarlah agama kepada Rida. Disisa umur mama, mama ingin melihat kamu memakai jilbab. Seandainya mama diberi kesempatan umur panjang, mama akan berjilbab. Selama ini mama dan papamu selalu menganggap uang segala-galanya. Ternyata penilaian mama salah. Cintalah yang membuat kita tenang dan damai. Kamu liat Rida. Dia tidak pernah mengeluh walau hidup kesusahan. Hidupnya dan masa depannya dia korbankan untuk merawat bapaknya dan membiayai kuliah adiknya. Mama ingin kamu bercermin kepada Rida. Mama ingin kamu meluangkan waktu untuk mama, disisa-sisa kehidupan mama. Kamu tau kenapa mama tidak mau berobat di luar negeri dan memiih dirawat  di kamar kelas biasa? Mama hanya ingin merasakan kasih sayang dan perhatian kamu. Terlebih lagi kanker mama sudah tidak bisa disembuhkan.“

Pengakuan mamanya menghujam disudut hatinya yang kelam. Rina semakin sedih dan mengutuk dirinya sendiri yang tidak memperhatikan mamanya. Dia lebih mementingkan pekerjaannya. Selama ini dia jarang menjenguk mamanya. Dia juga semakin bersalah tentang sikapnya terhadap Rida. Penilaiannya selama ini hanyalah rasa dendam dan kebencian terhadap Irma, teman kuliahnya. Mungkin penilainnya terhadap Irma juga salah.

“Rin, mama boleh minta tolong?“

Rina hanya mengangguk. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Rasa bersalahnya yang terlampau banyak tak mampu menatap mamanya.

“Kamu mau belikan mama jilbab?“ Pinta mamanya

Rina kembali mengangguk dan langsung memeluk mamanya. Dia hempaskan tubuhnya kepelukan mamanya. Tangisannya pecah. Dia meminta maaf atas kedurhakaannya selama ini. Mamanya pun tersenyum bahagia. Dia membelai rambut panjang anaknya itu dengan lembut dan mencium keningnya. Rina kemudian melepaskan pelukannya.

“Oh ya. Ini ada titipan dari Irma, teman kuliahmu dulu.“ Ucap mamanya sambil menyodorkan sebuah surat

 “Irma..“ Tanya Rina kaget

“Ya, Rida adalah Irma, temanmu. Rida adalah nama panggilan di rumahnya. Bapak dan adiknya biasa memanggilnya dengan nama Rida. Dia meminta mama untuk tidak memberitahumu sebelum kamu mau menjadi temannya. Apalagi setelah mama tau kalau dia teman kuliahmu. Terus terang mama tidak tau masalah diantara kamu dan Rida. Yang mama tau dia hanya ingin berteman denganmu.”

Lemas sudah tubuhnya. Seperti manusia tak ber tulang, tidak ada penyangga untuk berdiri. Keangkuhan dan kebenciannya selama ini membuatnya buta akan sebuah ketulusan. Tulusnya sebuah persahabatan. Dia lalu beranjak pergi untuk membeli jilbab yang dipinta mamanya.

Secara perlahan Rina membuka surat dari Rida alias Irma. Dia teringat semua kesalahannya dan sikapnya yang kasar terhadap Rida. Penyesalan terdalam adalah setiap Rida mengajak bersalaman selalu ia tolak dengan angkuh.

***

Assalaamu’alaykum.

Rina, Saudariku. Saat kamu membaca surat ini mungkin kamu sudah tau siapa saya. Semenjak awal kita bertemu di rumah sakit, saya ingin memperbaiki hubungan pertemanan kita yang terputus saat kuliah dulu. Tidak ada niat apapun yang terlintas dibenakku untuk mengganggu hari-harimu.

Saudariku. Setelah kejadian pahit yang menimpamu saya terpaksa memberanikan diri untuk mengungkapkan semua uneg-uneg yang selama ini saya simpan.

Ketahuilah bahwa mahkota seorang wanita terletak pada tubuh dan kehormatannya. Kehormatan seorang wanita tidak bisa ditebus dengan emas sekalipun. Karena wanita adalah bidadari yang keindahannya membuat para lelaki terpukau. Karena wanita adalah tempat godaan syahwat, dia yang mengirim panah kepada laki-laki dengan panah pandangannya. Jika ia membatasi pandangannya dan tetap hanya memandang satu laki-laki saja, maka hal itu tidak mempengaruhi sedikitpun karena ada satu garis, di mana tidak terjadi kejahatan kecuali adanya sebab dan akibat.

 Sudah diketahui, sesungguhnya mata mengirim panah yang tidak terlihat yang bisa menembus jantung, lalu ia menggerakkan nafsu syahwatnya yang tersembunyi. Di mana pemiliknya terdorong di belakang pemilik mata tersebut, atau pemikirannya menjadi terganggu dengannya.

Saudariku. Bukankah tindak pemerkosaan terjadi hanya pada wanita yang menampakkan auratnya?Memamerkan lekuk tubuhnya dan menampakkan perhiasannya?

Saudariku. Sesungguhnya hijab (Jilbab) adalah karakteristik dan penjaga. Yang terjaga padanya para wanita muslimah. Saya melihat sebagai baju besi penjaga bagi para wanita kita. Dari panah orang-orang fasik para pelacur. Peliharalah kecantikanmu dengan hijab sesungguhnya ia adalah satu bagian taqwa dan tanda rasa malu. Hendaklah engkau bertaqwa, maka sesungguhnya memakainya adalah penutup dan sesungguhnya selimutnya adalah sebaik-baik penutup.

Hijab adalah benteng yang kokoh bagi wanita dari srigala manusia dari laki-laki yang mengintai aurat saudari mereka para wanita muslimah, dan ia merupakan tamparan di wajah laki-laki fasik  yang berusaha mencuri pandangan untuk mengetahui kecantikan pemilik hijab untuk menjerumuskannya di dalam jaringnya dan merobek kehormatan dan kemuliaannya.

Dia juga lebih mirip dengan awan hitam yang gelap, di dalamnya adalah kebaikan dan hujan. maka apabila tersingkap maka tidak ada kebaikan dan tidak ada hujan.

Ia menutupi hiasan buatan yang dipakai sebagian wanita  berupa bedak dan gincu. Sebagaimana ia merupakan sarana pembelaan laki-laki pada istrinya, maka tidak ada seorang pun yang menyamainya dalam melihat hiasannya  selain mahramnya.

Ia mirip pintu tertutup, tidak ada seorang pun yang berani memasukinya, apabila ia menutupnya karena taat kepada Alloh.

Saudariku. Tutuplah auratmu. Peliharalah ia dari serigala-serigala jalanan. Pernahkah engkau melihat serigala yang jujur?

Maafkan saya jika ada bait-bait nasihat yang menyakiti hatimu. Sesungguhnya apa yang tertulis dalam surat ini adalah harapan mamamu. Ibu yang telah melahirkanmu. Jika kamu menolaknya, kamu boleh membuangnya bahkan dirobek sekalipun tidak masalah. Setidaknya saya sudah memenuhi permintaan mamamu walau hanya dengan secarik kertas using yang tidak berharga disisimu. Saya mencintaimu karena Alloh dan berharap semoga kita bisa bertemu dalam keadaan yang lebih baik.

***

Sebuah untaian mutiara nasihat dari Irma membuat Rina semakin sadar. Dia terlalu bangga dengan kecantikannya dan keindahan tubuhnya. Sehingga kehormatannya hampir terenggut tanpa sisa. Dia pun berniat mengikuti jejak mamanya yang mau berjilbab. Dia pun berharap suatu saat bisa bertemu dengan Irma dalam keadaan yang lebih baik. Tidak ada dendam dan permusuhan.

Hampir tiga jam lebih Rina keliling mencari Jilbab. Mungkin karena belum tahu letak toko yang menjual pakaian muslimah. Akhirnya dengan susah payah dia mendapatkan jilbab lengkap dengan pakaiannya berwarna ungu. Dia memilih ungu karena warna kesukaannya. Segera ia ganti baju seksinya dengan pakaian muslimahnya. Dia ingin menunjukkan kepada mamanya seperti keinginan mamanya.

Jam menunjukkan pukul 5 sore. Sesegera mungkin Rina memacu kendaraannya. Entah kenapa Rina begitu semangat ingin memperlihatkan perubahannya kepada mamanya tersebut. Dia bertekat untuk memperbaiki kesalahannya dan memulai hidup baru.

Kurang lebih satu jam Rina tiba di rumah sakit. Buru-buru dia menuju kamar mamanya. Sesampainya di pintu kamar, Rina kaget kenapa para suster dan dokter sibuk mondar-mandir keluar masuk kamar mamanya. Wajah mereka terlihat panik. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan mamanya. Dia pun masuk ke dalam ruangan dengan perasaan cemas.

“Dok, mama kenapa?” Tanya Rina cemas

“Maafkan saya.” Jawab dokter singkat dan pergi

Tiba-tiba papanya datang dan langsung memeluk Rina. Rina tak kuasa menahan tangis. Hadiah jilbab untuk mamanya terlepas dari tangannya. Ketika dia ingin membuka lembaran baru, ternyata dia harus mengubur lembaran lama. Dia menyesal tidak bisa mewujudkan keinginan mamanya..

***

Rina menghapus air matanya. Dia bernapas panjang. Dia menghentikan ceritanya. Sedangkan Arman matanya berkaca-kaca. Dia berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Dia menunggu beberapa detik Rina kembali bercerita. Namun, Rina tidak melanjutkan ceritanya. Sehingga Arman berbalik bertanya.

“Saya minta maaf karena kamu harus membuka kembali musibah yang menimpamu. Saya juga turut berduka atas meninggalnya mamamu. Kalau boleh bertanya sekali lagi, kenapa kamu begitu membenci Irma? Apakah dia melakukan perbuatan yang menyakiti hatimu?” Tanya Arman kembali tertunduk

Pertanyaan Arman kali ini membuat Rina kembali bersedih. Kenapa tidak? Mau tidak mau dia harus membuka kembali kesalahannya terhadap Irma.

Episode Selanjutnya: “Sweet Memories Bag. Bidadari Dibalik Cadar 3”

(Manuskrip Novel Siluet Cinta dalam Kabut by Abdul Aziz)

Iklan

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

10 thoughts on “Episode 8: “ Bidadari Dibalik Cadar 2”

  1. assalammualaikum .
    cerita nya bagus , untuk bagian ke 3 nya kpn di tayangin yah ?

    Posted by Fitria Ningsih (@cuciit) | Rabu, Desember 21, 2011, 12:45 pm
  2. di tunggu akh cerita kelanjutannya

    Posted by Danang Argha | Kamis, Desember 22, 2011, 11:15 am
  3. di tunggu bagian ke 3nya ya pak admin…

    Posted by salman | Sabtu, Januari 7, 2012, 10:20 am
  4. Bikin dalam bentuk novel akhy…. Kalau ada ana mau beli nih. . . Novel cerita kisah seorang ahlussunnah… ^_^

    Posted by Herry Saputra Yunior | Senin, Januari 16, 2012, 11:32 pm
  5. assalamu’alaikum
    salam kenal kak,,,
    kunjungi juga ya blog aku
    http://aufaone.wordpress.com

    ditunggu komen dan kedatangannya….
    trimakasihhh

    Posted by aufaone | Sabtu, Maret 3, 2012, 12:44 pm
  6. kapan lanjutannya di posting……….
    terima kasih

    Posted by BINtang | Senin, Oktober 27, 2014, 9:03 am

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: