Mengejar Pelangi (Novel Kedua)

Mengejar Pelangi Bag 1


Farhan, begitulah namanya. Umurnya baru 5 tahun. Hidup dan kehidupannya sarat dengan pelajaran berharga yang bisa kita petik bersama. Dia tinggal bersama ayah dan ibunya. Semula Farhan dan orangtuanya hidup bahagia. Ayahnya bekerja sebagai pedagang tembakau sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga.

Sayangnya kebahagiaan yang Farhan rasakan amatlah singkat. Semenjak ibunya melahirkan anak keduanya, ayahnya berubah drastis. Hari-harinya dipenuhi dengan pertengkaran dan air mata. Usia Farhan yang baru genap 6 tahun harus merasakan kepedihan dalam hidupnya.

Kejadian itu bermula, saat ibunya mendengar gosip bahwa ayahnya menikah lagi. Sang ibu berusaha bersikap tegar dan mencoba tenang. Dia tak mau termakan oleh gosip yang belum tentu kebenarannya. Tapi sayang ibarat lagu bang toyyib, ayahnya jarang pulang bahkan bisa dikatakan tak pernah pulang. Dengan sifat seorang wanita yang lemah, sang ibu menyadari dan mulai membenarkan berita itu. Sakit tak terperih yang ia rasakan. Dia pun merelakan kepergian suaminya walau dalam hati kecilnya masih mengharapkan kedatangan dan peluk hangat suaminya.

Farhan, bocah kecil dengan keluguannya tak tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Sering terucap dari lisan Farhan: “Bu, Ayah kemana kok nggak pernah pulang?” Setiao mendengar pertanyaan itu, sang ibu mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah dihadapan anaknya. Ibunya hanya bisa membohongi Farhan bahwa ayahnya sedang keluar kota.

Melihat keluguan Farhan dan si kecil adiknya, sang ibu pun bangkit dan mencoba berdiri di kakinya sendiri. Dia pun bekerja sebagai buruh Rumah Tangga layaknya pembantu. Semangat sang ibu semakin membara saat Farhan mulai masuk sekolah dasar. Dia berharap Farhan bisa menjadi tulang punggungnya kelak.

Sebagai buruh cuci gajinya yang tidak seberapa, tidaklah cukup memenuhi kebutuhan mereka setiap harinya. Sehingga ibunya pun berniat untuk menggadaikan beberapa perabotan rumah. Seprai, gelas-gelas dan piring-piring tak luput memenuhi pegadaian. Sedangkan Farhan tak pernah tahu bahwa ada yang terasa ganjil di rumahnya. Piring-piring yang biasa menghiasi lemari tak lagi terlihat. Seprai yang terbiasa ia lihat dikasurnya, kini tak lagi terhampar, seolah badan tanpa baju.

Suatu hari keadaan mereka semakin genting dengan kebutuhan yang semakin melonjak, terpaksa sang ibu makan dengan lauk seadanya. Sepulang sekolah Farhan selalu menyempatkan diri untuk sholat. Begitulah didikan sang ibu untuk tidak melupakan Alloh di setiap kesibukan. Selepas sholat, ibunya mulai mengajak Farhan untuk makan siang.

Tingkah laku Farhan yang masih kekanak-kanakan, membuat sang ibu sedikit terhibur dari sesaknya kesusahan yang semakin membelit kehidupannya. Seperti biasa Farhan minta disuapin dan ibunya dengan penuh kasih sayang menuruti permintaan anak sulungnya tersebut. Dalam hatinya ia menangis dan ingin memuntahkan seluruh kesedihannya didepan sang anak. Tapi apa daya, Farhan masih kecil tak pantas menerima beban derita ini.

Diusianya sekarang ini yang seharusnya mendapat kasih sayang dan perlindungan dari ayahnya, dirinya justru harus menerima kepahitan hidup.

“Ibu kenapa menangis?” sang ibu pun tersentak kaget dan tanpa sadar kalau air matanya menetes di pipinya. Ibunya pun tersenyum dan berusaha menyembunyikan kesedihannya. “Nak, gapapa ya kalo hari ini kita Cuma makan nasi dan kerupuk. InsyaAlloh besok kalo ada rejeki lebih kita makan yang enak.” Ucap sang ibu dengan getir

Farhan pun menghapus air mata ibunya dengan jari mungilnya sambil mengunyah nasi di mulutnya. “Makan kayak gini juga enah kok bu, yang penting ibu dan Farhan bisa makan.” Jawab Farhan dengan tulus sambil tersenyum

Ucapan Farhan membuat sang ibu tertegun dan tak menyangka jawaban itu keluar dari anaknya yang cuma seorang bocah kecil. Dia pun bersyukur Alloh memberikan anak yang tidak banyak menuntut. Biasanya anak seusianya banyak maunya, minta dibelikan ini dan itu. Sang ibu kembali tersenyum bangga dan memeluk anaknya itu dengan penuh kehangatan. Seolah-olah jawaban anaknya itu sebagai obat dari sakitnya yang tak terperih.

Farhan yang masih dalam pelukan ibunya kembali bertanya. “Bu, kenapa Ayah tega meninggalkan ibu? Apa Ayah nggak sayang ma Farhan ?”

Ibunya kembali tersentak kaget bahkan berkali-kali lipat lebih kaget dari pertanyaan sebelumnya. Bagaimana tidak, seorang bocah yang baru berusia 7 tahun bertanya seperti pertanyaan orang dewasa yang sudah mengerti akan pahitnya kehidupan. Lama sang ibu terdiam. Dirinya tak mampu menatap wajah lugu anaknya itu. Air matanya kembali jatuh. Batinnya berkata: “Haruskah aku ungkapkan kejadian pahit ini?”

“Ibu gapapa kan. Kenapa menangis, Kata-kata Farhan bikin ibu sedih?” sesal Farhan sambil memeluk sang ibu.

“Nak, ibu gapapa. Jangan pernah kamu mengatakan seperti itu lagi tentang Ayahmu. Ayahmu sangat sayang kepada Farhan. Suatu saat kamu akan mengerti. Jika kelak kamu sudah paham, ibu berharap kamu tidak akan pernah membenci ayahmu. Mengerti sayang?”

Ibunya pun langsung mendekap Farhan ke pangkuannya. Dia kembali menangis walau mencoba untuk menahannya. Sebagai seorang ibu, ia paham akan maksud pertanyaan anak sulungnya tersebut. Dibalik hati kecilnya pasti tersimpan sejuta pertanyaan yang tak bisa ia ungkapkan. Hidup tanpa seorang Ayah jelas membuatnya terluka, terlebih saat teman-temannya sering bertanya perihal keberadaan Ayahnya.

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: