Mengejar Pelangi (Novel Kedua)

Mengejar Pelangi Bag 2


Farhan telah berusia 11 tahun dan ia sudah duduk di kelas 5 SD. Seperti kebanyakan anak seumuran, Farhan tumbuh sebagai anak yang periang namun terkadang berubah pendiam. Didikan sang ibu membuat Farhan tumbuh jadi anak yang rajin. Selepas pulang sekolah, ibunya tidak pernah mengijinkan Farhan untuk bermain. Sudah menjadi rutinitas Farhan untuk selalu tidur siang. Sehingga Farhan hanya punya waktu bermain di sore hari.

Ibunya juga tak lupa mendidik Farhan untuk menjadi anak sholeh. Sehabis sholat maghrib, Farhan belajar mengaji di langgar dekat rumahnya. Sang ustadz pun sangat menyayangi Farhan. Selain karena masalah keluarganya, Farhan ternyata pandai mengaji dan mampu menyerap semua pelajaran yang diajarkan sang ustadz.

Begitu juga urusan sekolah, ibunya sangat keras mendidik Farhan. Entah karena pengaruh sakit hati sang ibu atau niat sang ibu untuk menjadikan Farhan orang yang sukses. Tak jarang Farhan mendapatkan tamparan dan hantaman asbak (tempat rokok) di wajahnya. Darah segar pun mengalir deras di sekitar wajahnya. Sehingga neneknya memarahi ibunya tentang pola ajarnya kepada Farhan.

Namun, Farhan tidak pernah mengeluh, marah ataupun dendam kepada ibunya. Dia sudah bisa berpikir dan merasakan penderitaan yang dialami ibunya. Farhan hanya bisa menangis dan meringis kesakitan dibalik temaramnya cahaya lampu minyak.

Suatu hari, tanpa disangka ayah Farhan pulang. Sang ayah membawa berbagai buah-buahan dan yang membuat girang Farhan dan adiknya adalah dua buah sepeda terpajang di halaman rumah. Farhan yang sudah menginjak kelas 5 SD dan adiknya- Rio- yang berumur 7 tahun sangat senang. Tapi tidak dengan ibunya. Ibu Farhan memilih menjauh seolah-olah tidak menyadari kedatangan suaminya.
Sang ayah pun menyuruh Farhan untuk menyerahkan uang kepada ibunya.

Namun, ibunya menolak uang pemberian ayahnya tersebut. Farhan pun merengek meminta ibunya untuk mengambil uang tersebut. Akhirnya mau tidak mau ibunya menerimanya dengan terpaksa.

Singkatnya, melihat kebaikan dan kasih sayang suaminya kepada Farhan dan adiknya, ibunya pun luluh dan berharap bahwa badai yang menghantam biduk rumah tangganya tlah berakhir. Dia berharap suaminya itu benar-benar berubah terlebih suaminya tidak pernah absen sholat 5 waktu. Ibunya juga memilih untuk tidak mengungkit-ngungkit perihal gosip mengenai suaminya itu.

***
Farhan sudah menginjak kelas 6 SD dan ia berharap bisa melanjutkan ke tingkat SMP. Tekad dan semangat Farhan didukung oleh ayahnya untuk masuk ke sekolah favorit. Tapi disudut hatinya tersimpan kebencian terhadap ayahnya.

Kebencian itu bermula saat ayahnya membawa teman laki-lakinya ke dalam rumah. Farhan pun kian akrab dengan teman ayahnya yang dipanggilnya paman bahkan lebih dekat dari ayahnya sendiri. Terlebih lagi Farhan menyadari bahwa ayahnya lebih menyayangi adiknya daripada dirinya sendiri.

Malam itu, ayahnya kembali mengajak temannya untuk makan malam bersama keluarganya. Saat makan berselang, ayah Farhan kehilangan uang 5000. Dicarinya uang tersebut tapi tetap tidak ditemukan. Tanpa bertanya, ayahnya menuduh Farhan yang mencuri uangnya itu. Merasa dituduh Farhan pun membela diri. Dia berusaha jujur dan mengatakan bahwa dia tidak pernah mencuri sepeser pun. Tapi ayahnya tidak mempercayai Farhan malah tamparan sang ayah yang mendarat dipipi Farhan.

“Farhan, ayo ngaku mana uang ayah? Kalo kamu butuh uang tinggal ngomong ga perlu mencuri !” Maki sang ayah. “Farhan nggak mencuri uang ayah.” Bela Farhan sambil menangis

“Plakkk..Kalo kamu masih nggak mau ngaku, ayah bunuh kamu !” ancam sang ayah sambil menodong pisau

Tamparan sang ayah membuat Farhan meringis kesakitan dan memilih untuk kabur dari rumahnya. Tamparan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan tuduhan ayahnya yang tidak mempercayai pengakuan dirinya. Sebagai seorang anak, Farhan merasa seperti bukan darah dagingnya. Dirinya tertekan, pikirannya kalut dan amarahnya sudah tak terbendung. Ia pun bersumpah untuk tidak menganggapnya seorang ayah.

Farhan tak tahu harus pergi kemana. Dia pun duduk dipinggir jalan. Tiba-tiba pamannya (teman ayahnya) menghampirinya. Farhan yang menyadari kedatangan pamannya itu segera memeluknya. “Paman, Farhan nggak mencuri uang ayah.” Ucap Farhan sambil menangis dipelukan pamannya. “Paman percaya Farhan kok.

Sekarang Farhan segera menjauh dan bersembunyi karena ayahmu tidak main-main dengan ancamannya. Farhan harus kuat dan ingat jangan terlalu jauh bersembunyi agar paman tidak kesusahan mencarimu. Besok malam paman tunggu kamu disini.”

Farhan pun segera berlari menjauhi pamannya itu. Farhan kebingungan kemana ia harus bersembunyi. Malam-malam keluyuran seorang diri ditambah dengan guyuran hujan semakin menambah sakit hatinya. Rasa lapar yang melilit perutnya membuat Farhan tidak kuat berjalan. Semenjak tadi dia pun belum menyentuh makanan dirumahnya sama sekali. Akhirnya dia menemukan rumah kosong yang belum selesai dibangun dan gelap gulita tanpa ada cahaya.

Farhan pun tidur di atas lantai beralaskan tanah. Hujan yang semakin deras dan rumah yang tak berpintu membuat Farhan semakin menggigil kedinginan. Dia pun tak bisa tidur. Semalaman dia menangis. Dia memikirkan ibunya yang pasti cemas mencari dirinya. Ia pun teringat dan mengerti maksud perkataan ibunya dulu. Tapi dia tidak peduli. Lebih baik tidak punya ayah daripada memliki ayah seperti monster yang tak pernah menyayangi dirinya dan berusaha membunuh anaknya sendiri.

Farhan semakin tidak kuat menahan rasa lapar dan haus yang menggerogoti kerongkongannya. Dia pun menadahkan kedua tangannya untuk mengumpulkan tetesan air hujan yang jatuh di genting. Seteguk demi seteguk diminumnya air hujan itu. Tapi rasa lapar masih juga ia rasakan.

Akhirnya, Farhan memilih untuk membaringkan tubuhnya yang setengah telanjang. Karena bajunya basah terkena air hujan, ia dekapkan kedua tangannya didada untuk mengurangi kedinginan malam yang menyelimuti tubuhnya.
Farhan pun kembali menangis. “Haruskah aku terus bersembunyi disini tanpa makanan?” ucap Farhan dengan getir. Ia pun teringat kata-kata ibunya untuk berdoa dikala ia sedang mengalami kesusahan.

“Ya, Alloh maafkan Farhan kalo ada salah. Selama ini Farhan tidak pernah meminta apa-apa. Saat teman Farhan beli baju baru, Farhan tidak meminta. Saat teman-teman makan-makanan yang enak, Farhan tidak pernah memaksa ibu untuk masak yang enak. Sekali ini aja, Farhan ingin pulang ya Alloh. Tapi tidak ke rumah. Farhan ingin menemui-Mu ya Alloh. Farhan takut disini. Farhan takut sama Ayah. Ayah Farhan monster. Ya, Alloh Farhan rela menderita. Farhan gapapa kok ngga punya Ayah. Tapi bahagiakan ibuku ya Alloh. Farhan ingin melihat ibu terus tersenyum.”

Begitulah doa Farhan, doa seorang anak kecil. Tanpa terasa Farhan pun terlelap dalam tidurnya. Badannya panas tinggi tapi ia tahan. Dia berharap setelah bangun nanti, ada pelangi yang menyapanya. Ada senyuman yang menghiasi wajahnya.
Akankah Farhan ditemukan dalam keadaan masih hidup atau malah sudah tak bernyawa lagi? Mampukah Farhan mengejar pelangi yang diimpikannya? Tunggu kisah selanjutnya..

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

Belum ada komentar.

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: