An-Nisaa', Kisah

Perjuangan Seorang Muslimah untuk Bercadar…


Cadar… Satu kata yang dulu sempat membuat diriku takut untuk mendekati orang-orang yang memakainya. “Mungkin mereka jelek, makanya menutupi wajahnya, atau mungkin dia mempunyai gigi taring seperti drakula ataukah mungkin dia..begini..begini dan begitu”. Begitu banyak pikiran-pikiran yang menghantuiku ketika masih menjadi orang yang belum tahu tentang syari’at Alloh tentang cadar ini.

Sampai suatu ketika Alloh menakdirkanku untuk mengenal sekumpulan akhwat yang bercadar, “subhanalloh” satu kata yang terlontar dari lisanku waktu itu. Ternyata mereka tidak seperti yang aku pikirkan selama ini, ternyata cadar merupakan salah satu syari’at dari islam.

Berawal dari perkenalanku dengan para akhwat, disitulah awal mula diriku mengenal ilmu yang shohih, hari-hari kujalani dengan ilmu-ilmu yang yang selama ini kuanggap hanya sebatas budaya dan pemikiran orang-orang belaka. Sedikit demi sedikit kuamalkan ilmu yang telah kudapatkan, pergaulan antara lawan jenis, musik, ikhtilath, sampai ke syarat-syarat jilbab yang syar’i pun kulalui dan kuamalkan. Alhamdulillah, meski banyak rintangan dan cobaan dalam mengamalkannya. Tapi begitulah perjuangan. Begitulah konsekuensi dari amalan yang telah kita ilmui. Tapi untuk masalah cadar, ah, diriku sungguh tak tertarik untuk menggunakannya.

Sempat mempelajari tentang hukum dari cadar dan waktu itu berkeinginan untuk mempelajarinya lebih dalam, tapi teringat akan ucapan bapak, “kamu boleh pakai jilbab yang besar tapi jangan sampai bercadar. Nanti boleh bercadar kalau sudah nikah.” Ya sudahlah mendingan aku ambil hukum yang sunnahnya saja, daripada bapak marah. Toh nanti kalau dah nikah aku akan pakai cadar juga insya Alloh, untuk sekarang ga usahlah, pikirku dalam hati. Akhirnya niat untuk mempelajari hukum cadar lebih lanjutpun aku urungkan.

“Astaghfirulloh, apakah jilbab yang sudah cukup lebar ini masih bisa saja menimbulkan fitnah bagi seorang laki-laki?”

Manusia boleh berencana tapi Alloh lah yang berhak menentukan jalan hidup kita. Alhamdulillah, hidayah Alloh datang kepadaku, yang awal mulanya diriku begitu kekeh untuk tidak bercadar, niat untuk mempelajari hukumnya pun ogah-ogahan, namun Alloh menakdirkan padaku untuk lebih mengetahui tentang cadar ini melalui sebuah fitnah yang kualami di kampus. Seorang teman memberitahukan padaku bahwa ada seseorang yang terfitnah gara-gara diriku. “Astghfirulloh, apakah jilbab yang sudah cukup lebar ini masih bisa saja menimbulkan fitnah bagi seorang laki-laki?” Airmatapun mulai mengalir, bukan karena terharu disebabkan ada orang yang “ngefans” tapi karena merasa bahwa diri ini adalah sumber fitnah. Belum bisa menyempurnakan hijab, tidak bisa menjaga diri, dll. Lama diriku merenung. “Kenapa sampai ada yang terfitnah? Toh aku tak pernah berkomunikasi dengannya? Jangankan berbicara, senyumpun tak pernah.” Apa yang menyebabkan semua itu??Apa??? Wajah… Ya inilah sumber dari fitnah itu… Seketika itu pun diriku bertekad dengan kuat untuk mempelajari hukum cadar, walaupun masih teringat dengan kata-kata bapak, namun tak mengurungkan niatku untuk belajar..

Alhamdulillah, Alloh memudahkan jalanku untuk mempelajari ilmu tentang cadar ini, mulai dari dukungan akhwat, cerita cerita akhwat yang memberikan motivasi, buku-buku yang mereka pinjamkan, sampai ketika salah seorang ustadzah dari Arab datang ke kota Serambi Madinahku buat memberikan dirosah. Sampai suatu hari ketika sang ustadzah telah selesai memberikan dirosahnya, kulihat dirinya sedang duduk untuk istirahat, aku pun mengajak seorang kakak untuk menemaniku berbicara kepada ustadzah tentang masalah cadar (karena ketidaktahuanku bercakap dalam bahasa arab, makanya minta tolong ke akhwat buat jadi penerjemahnya. Syukron wa jazaakillahu khair buat kakak yang membantu diriku saat itu.)

Kakak : “Adik ini ingin bertanya kepada anda wahai ustadzah, dia ingin sekali memakai cadar namun orangtuanya melarangnya, tolong berikan nasehatmu padanya.”

Ustadzah: “Kalau dia meyakini bahwa hukum cadar adalah wajib maka apapun konsekuensi yang harus dia dapatkan sekalipun orangtua melarang maka dia tetap harus memakainya, tapi ketika dia meyakini bahwa itu hanyalah sunnah maka lebih baik dia mengikuti permintaan orang tuanya.” (Kira-kira seperti itulah percakapan mereka kalau diterjemahkan dalam bahasa indonesia.)

Sampai suatu ketika keyakinanku mengatakan bahwa cadar itu adalah sebuah kewajiban.

Hemm. Ternyata, point yang kudapatkan dari pernyataan ustadzah adalah “ilmu sebelum berbuat”. Ya, aku harus mempelajarinya lagi lebih dalam tentang cadar (waktu itu aku masih menganggapnya sebatas sunnah). Hari-haripun kulalui dengan berusaha mencari tahu tentang hukum cadar. Mulai dari bertanya ke ustadz, bertanya ke akhwat dan berbagai cara kutempuh untuk mengetahui hukum sebenarnya dari cadar. Sampai suatu ketika keyakinanku mengatakan bahwa cadar itu adalah sebuah kewajiban. Tapi bagaimana dengan orangtua? Inilah ujianku selanjutnya. Aku harus berusaha memahamkan kepada mereka sedikit. Akhirnya akupun berusaha menutupi wajah ini sedikit demi sedikit, walaupun belum menggunakan cadar tapi wajah ini sering kututup dengan jilbabku ketika ada seorang laki-laki ajnabi yang lewat dihadapanku. Dan ini berlangsung sampai beberapa hari.

Suatu hari tiba-tiba keluargaku berkumpul di ruang keluarga, bapakku tiba-tiba mengatakan padaku, “bapak ga mau lihat kamu pakai cadar.” Tiba-tiba suasana di rumah menjadi tegang (ternyata selama ini bapak memperhatikanku, karena begitu seringnya aku menutup wajahku dengan jilbab yang kupakai, sampai beliau mengira bahwa aku telah bercadar waktu itu.) Bapak dengan berbagai ucapannya sambil menunjuk-nunjuk ke arahku mengatakan, “bapak ga mau kamu pakai cadar!!!”

“Apapun alasannya, bapak ga mau kamu pakai cadar. Kalau sampai pakai cadar, kamu jadi anak durhaka sama bapak!!!”

“Ga usah suruh temanmu kesini lagi, kalau ada temanmu yang datang, bapak akan usir.”

Bla..bla..bla… Berbagai macam perkataan bapak pada diriku saat itu.” Aku bisa paham terhadap ucapan bapak, karena memang beliau kurang paham apalagi beliau jarang bermulazamah dengan ustadz-ustadz. Tapi yang membuatku begitu sedih adalah ketika ibuku mendukung argumen bapak dan juga ikut-ikutan memarahiku dan melarangku. Aku kaget, karena yang selama ini aku tahu bahwa ibu mengenal beberapa ustadz dan teman-temanku yang bercadar. Pikirku waktu itu, ibu mungkin setuju-setuju saja pada saat aku bercadar. Tapi ternyata, ibuku pun melarang dan ikut-ikutan memboikotku.

Pada hari itu, bertepatan dengan perginya bapak kembali berlayar, sebelum beliau berangkat beliau datang ke kamarku dan mendapati diriku yang hanya bisa menangis tersedu-sedu dan mengatakan, “Ingat, bapak ga mau kamu pakai cadar!!!” Ya Alloh, sekeras itukah hati bapak, sampai tidak mau mendengarkan penjelasanku tentang cadar, pikirku dalam hati.

Teringat dengan kisah-kisah beberapa akhwat yang juga sempat mengalami kejadian yang sama.

Hari pertama sejak peristiwa malam itu kulalui dengan tangisan di kamar. Menangis, menangis, dan terus menangis. Satu hal yang membuatku begitu sedih ketika melihat sikap ibuku padaku, dulu ketika ada sebuah masalah yang kuperbuat di rumah hingga membuatku menangis tersedu-sedu. Ibu biasanya langsung datang menghiburku dan mengatakan, “sudahlah nak, nda usah menangis lagi.” Tapi sekarang, seakan-akan beliau bukan ibuku, sikapnya yang keras dan cuek saja melihat diriku menangis tetap tidak mengubah pendiriannya untuk melarangku bercadar. Jangankan berbicara padaku, bahkan hanya sekedar menyuruhku makan, beliau menyuruh adikku datang ke kamar. Yang bisa kulakukan saat itu hanya menangis dan berdoa pada Alloh. Namun aku yakin bahwa ujian ini akan segera berakhir, entah sehari, sepekan, sebulan, setahun bahkan bertahun-tahun, ya pasti akan berkahir!! Teringat dengan kisah-kisah beberapa akhwat yang juga sempat mengalami kejadian yang sama. Ada yang menyembunyikan cadarnya hingga dua tahun lamanya. Ada yang hampir diusir oleh orang tuanya. Ada yang cadarnya dibakar. Dan berbagai macam ujian yang dihadapi mereka. Namun toh akhirnya orang tua mereka mengizinkan bahkan sekarang mendukung anaknya..

Hey, kamu baru diuji seperti ini, masa mau nyerah begitu saja. Apa ga ingat gimana perjuangan Rosululloh dan para shahabatnya ketika memperjuangkan islam??? Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diusir oleh kaumnya sendiri, kaki beliau berdarah-darah karena dilempar batu. Para shahabat, bahkan ada yang rela tidak diakui oleh ibunya sendiri. Dan kamu ingat Sumayyah? Wanita syahidah pertama yang rela disiksa oleh orang-orang kafir karena memeluk islam, hingga beliau menemui ajalnya. Sekarang lihat dirimu??? Kalau cobaan ini saja bisa membuatmu menyerah dan jauh dari Alloh. Kira-kira ketika kamu hidup pada zaman nabi, apa kamu bisa menjadi salah seorang shahabiyah? Ataukah kamu adalah salah seorang musuh dari islam?

Akupun tersadar setelah melakukan dialog dengan diriku sendiri, segera aku ambil air wudhu dan sholat. Dalam sholat kubaca Surah An-Nashr “innama’al ‘usri yusro..fainnama’al ‘usri yusro” rasanya keyakinan akan pertolongan Alloh semakin dekat itu begitu kuat. Ya, pertolongan itu akan datang fikirku.

Sampai hari ketiga, keadaan di rumah masih tetap sama. Ibu juga nenekku masih memboikotku. Aku masih saja berada dalam kamar sambil memikirkan cara untuk meminta izin kembali ke bapak. Tiba-tiba teringat akan cerita salah seorang kakak. Ketika dia ingin mengutarakan keinginannya memakai cadar kepada orangtuanya, “dek, dulu waktu ana ingin bercadar, orangtua melarang. Namun karena kayakinan yang mantap untuk menutup aurat secara sempurna, akhirnya kutempuh berbagai cara meyakinkan bapak. Dan cara yang kupilih adalah mengirimkan surat ke beliau dengan kalimat yang syahdu, “wahai ayahku. Kutulis surat ini, bla..bla..bla. (Afwan, lupa isi suratnya.)”

Hemmm. Tiba-tiba cara yang ditempuh sang kakak tadi, terlintas di dalam pikiranku. Tapi bukan melalui surat, hanya sms yang bisa kukirimkan kepada bapakku untuk menjelaskan kenapa aku ingin bercadar.

“Assalamu’alaikum, pak kabarnya gimna? Semoga bapak baik-baik saja. Maaf sebelumnya jika saya lancang sms bapak, tapi saya sms hanya ingin menjelaskan kenapa saya ingin bercadar. Maaf pak, bukannya saya ingin menjadi anak yang durhaka karena tidak mematuhi perintah bapak, tapi karena keinginan saya yang ingin mengikuti perintah Alloh makanya saya berani untuk memakai cadar. Saya begitu sedih ketika melihat ekspresi bapak yang begitu marah ketika mengetahui bahwa saya ingin bercadar, seakan-akan bapak sangat membenci cadar. Saya tidak ingin bapak seperti itu, karena cadar juga merupakan bagian dari syari’at islam. Dan yang saya pelajari bahwa istri-istri nabi pun pakai cadar, kalau bapak benci cadar artinya bapak juga benci istri-istri Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bla..bla..bla…

Sms yang kukirm begitu panjang, 1 sms sampai 7 layar dan aku mengirimkan sebanyak 3 kali sms. Jadi kalau mau dihitung. Kira-kira aku mengirim sebanyak 21 sms ke bapak.

Beberapa saat setelah kukirimkan sms ke bapak, tiba-tiba ada sms yang masuk ke hp-ku, tapi belum berani kubuka isinya. Sampai akhirnya hpku berdering, ketika kulihat nama yang memanggil ternyata adalah bapakku. Sambil deg-degan kuangkat telpon bapakku, dan siap menerima omelan dari bapak lagi karena kelancanganku untuk meminta izin memakai cadar.

Aku : “Assalamu’alaikum.”

Bapak: “Wa’alaikumsalam, lagi dimana nak???”

Aku: “Di rumah pak. Lagi di kamar.”

Bapak: “Kamu masih nangis??”

Aku: “I..i..iya pak. (Sambil menghapus airmata.)

Bapak: “Bapak dah terima sms dari kamu. Kamu beneran mau pakai cadar???

“Aku: “I..i..iyya pak..”

Bapak: “Ya udah…kalau mau pakai cadar, pakai cadar saja. Asal hati harus lembut ya nak…

“Aku: “Hah??” (Dalam keadaan yang masih belum percaya, tiba2 sikap bapak berubah 180 derajat.) Beneran pak??”

Bapak: “Iya nak… mana mamamu? Bapak mau bicara.”

Akhirnya bapak bicara ke ibu, dan dari percakapannya ibu mengatakan kalau bapak mengizinkan aku pakai cadar. Ibu dilarang untuk melarangku bercadar. Masih belum percaya dengan keputusan bapak, akupun membaca sms yang dikirimkan bapak kepadaku sesaat sebelum beliau menelponku, “ya udah kalau kamu mau pakai cadar bapak izinkan, ingat ya, hati harus lembut..janji ya..” Alhamdulillah, bapak benar-benar mengizinkanku.

Dan akhirnya. Bismillah. Tepat tanggal 5 Ramadhan, aku pun keluar dari rumah pertama kali dengan menggunakan cadar yang menutupi wajahku. Tak henti-hentinya aku mengucapkan syukur di atas angkot dan airmata terus saja mengalir karena akhirnya pertolongan Alloh datang juga setelah 3 hari diriku harus menangis di kamar tanpa henti. Diboikot oleh orang tua sendiri. Yaa, akhirnya akupun memakainya. Semoga pakaian ini akan terus kukenakan hingga ajal menjemput. Amin, Allohumma amin. “yaa muqallibal qulub tsabbit qalbi ‘ala diinik.“ Seperti yang dikisahkan seorang akhwat

sumber: shalihah.com

http://lautanilmu.ridhofitra.info/2010/10/sebuah-kisah-tentang-cadar -http://enkripsi.wordpress.com/2010/12/30/sebuah-kisah-tentang-cadar/ [Judul asli Sebuah Kisah tentang Cadar ]

About Admin

di dunia yang penuh dengan syubhat dan fitnah, ana menjadi orang yang terasing. semula ana berasal dari pulai terasing yaitu pulau madura dan sekarang berada di bumi yang penuh fitnah dan syubhat

Diskusi

17 thoughts on “Perjuangan Seorang Muslimah untuk Bercadar…

  1. Izin share

    Posted by Gerizal | Rabu, Januari 18, 2012, 11:33 am
    • tafadhol akh. semoga bermanfaat

      Posted by Admin | Rabu, Januari 18, 2012, 11:43 am
    • subhanaAllah ya ukhtii…. perjuanganmu sangat memotivasiku untuk terus maju untuk berusaha merealisasikan sunnah ini. do’akanku agar Allah berikan keistiQomahan dalam menjalaninya…

      Posted by Puji Utami | Sabtu, Juli 7, 2012, 11:54 am
    • Surat Terbuka Untuk IBunda Terkasih

      Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan seorang ibu terbaik kepadaku. Ibu yang telah bersusah payah mengandungku selama sembilan bulan, menyusuiku dengan susah payah pula tak tergantikan, yang telah mengasuhku sejak kecil hingga dewasa.
      Terima kasih ibu………………..
      semoga jerih payah ibu mendapat pahala berlipat di sisi Allah.
      Masih segar rasanya kenangan manis masa kecilku berasama Bunda tercinta. Saat Bunda bercerita sambil menyuapiku agar aku mau menghabiskan makan siang di piring bunga-bunga kesayanganku. Saat Bunda mengomeliku sambil menjemur kasur karena kata Bunda aku sudah besar tapi masih mengompol. Dan sederet kenangan indah yang tak kan habis bila kutulis diatas sepuluh buku tulis tebal sekalipun.

      Bunda…………
      Engkau yang selalu mendoakanku sejak aku dalam kandungan hingga aku dewasa, yang selalu bepesan agar aku rajin mengaji dan mendalami ilmu agama, agar kelak kita bersama-sama masuk surga, berkumpul di tempat kenikmaatan abadi dan takkan berpisah selamanya.
      Dan sekarang…… jalinan indah yang pernah kita rangkai bersama sejak aku kecil, sedikit demi sedikit terurai. Seiring jatuhnya tetes demi tetes air mataku di hadapan keangkuhan sikap Bunda yang tak lagi bisa menerima sedikitpun ucapan dan perbuatanku, ananda yang selalu menyayangimu.

      Bunda……..
      Hanya karena pakaian islami yang kukenakan, pakaian taqwa, malu dan iman, sikap Bunda berubah. Sesungguhnya hijab syar’i itulah pakaian seorang muslimah yang ingin mendapat ridha Allah Ta’ala.
      Bunda…….mengapakah engkau malu bila Nanda memakai pakaian islami ? Malu terhadap siapa ? Tentu terhadap manusia-manusia fasiq yang selalu mencemooh agama dan orang-orang yang berpegang teguh pada agama ini. Bunda……biarlah semua orang mencemooh dan menghina kita, asalkan kita berada dalam kebenaran demi ridha Allah Ta’ala. Karena tauladan kita Nabi Muhammad pernah berpesan,
      مَنِ الْتَمَسَ رِضَا اللهِ بِسَخَطِ النَاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَ أَرْضَى عَنهُ النَاسِ وَ مَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَاسِ بِسَخَطِ اللهِ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِ وَ أسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ
      “Barang siapa berusaha mendapat ridha Allah sekalipun dengan resiko kemarahan manusia, maka Allah meridhoinya dan mejadikan manusia ridho kepadanya. Dan barang siapa berusaha mendapat ridho manusia dengan melakukan apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya dan menjadikan manusia murka pula kepadanya”( H.R Ibnu Hibban dalam shahihnya)

      Bunda……………
      Berulang kali bunda bertanya, mengapa Nanda menutupi kaki dengan kaos kaki, menutup tangan dengan sarung tangan serta menutup wajah yang masih muda dan cantik? Subhanallah……..Nanda mengerti, Bunda bukanlah bertanya. Bunda ingin mengingkari perbuatan benar ini, karena Nanda sudah berkali-kali pula menjelaskan, Bunda bukannya mengerti, tapi kemarahan, kata-kata pedas dan wajah masam yang Nanda terima.

      Bunda……..
      seluruh tubuh wanuta muslimah adalah aurat di hadapan laki-laki selain mahramnya. Tak terkecuali muka dan telapak tangan. Hal ini sangat jelas dalam firman Allah,
      وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
      “Hendaknya mereka (para wanita mu’minah) menuurnkan jilbab-jilbab mereka ke dada-dada mereka”.
      Q.S An Nur: 31

      Dan sekian banyak penjelasan ulama menegaskan bahwa yang dimaksud adalah menurunkan jilbab dari atas kepala sampai bawah mata kaki.

      Bunda………
      mengapa engkau marah hanya karena Nanda menutup aurat secara sya’i?
      Engkau mengatakan bahwa menutup wajah ada perselisihan hukumnya diantara para ulama, sunnah dan wajib. Lalu engkau bersikukuh agar Nanda memihak pendapat yang mengatakan sunnah, dan bila Nanda tetap menuutup wajah, itu artinya Nanda durhaka kepada Bunda karena tidak taat kepada Bunda, sedangkan taat orang tua adalah wajib.
      Subhanallah…..

      Mengapa Bunda ingin memaksakan kehendak ?
      Mengapa Bunda menghalangi Nanda melaksanakan apa yang Nanda yakini sebagai satu kebenaran ? Sesunguhnya sikap menghalangi manusia dari jalan Allah adalah kemaksiatan yang besar dan merupakan sikap orang-orang kafir. Allah berfirman,
      قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللهِ مَنْ ءَامَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنتُمْ شُهَدَآءُ
      “Katakanlah wahai Ahlul kitab ! mengapa kalian menghalangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kalian menghendakinya menjadi bengkok, padahal kalian menyaksikan ? Q.S Ali Imran: 99

      Bunda…….
      Hak mengamalkan syariat adalah milik setiap mu’min. Karena setiap mu’min wajib melaksanakan tuntutan syariat. Syarit hijab (pakaian muslimah) adalah hak Allah yang harus dinomor satukan. Kalaupun Bunda memandang menutup wajah adalah sunnah, tak ada hak untuk menghalangi Nanda menutup wajah, karena ketaatan kepada syariat Allah ini tidak menghalangi bakti Nanda pada Bunda. Mengapa Bunda menuduh Nanda durhaka kepada orang tua? Nanda berlindung kepada Allah dari sikap durhaka pada tua yang merupakan dosa besar serta mendapat laknat dari Allah.

      Bunda…………Nanda ingin bertanya, bila Bunda mempunyai perhiasan yang indah, mahal dan antik, di manakah Bunda akan menyimpannya ? Tentu Bunda kan menjawab di tempat yang aman, yang terlindung dari pandangan sembarang orang serta jauh dari jangkauan pencuri. Demikian pula permisalan wanita muslimah. Karena ia adalah perhiasan yang mahal di sisi Allah. Ia harus berhijab, agar terhindar dari fitnah dan pandangan sembarang orang serta jangkauan tangan-tangan usil. Ini pulalah jawabannya, mengapa Nanda tinggal di rumah, tidak sibuk keluar, bekerja, belanja dan jalan-jalan sore seperti kebanyakan wanita-wanita pesolek yang berkeliaran di jalan-jalan. Kesibukan Nanda shalat di rumah, membaca Al Qur’an, menela’ah tafsir Al Qur’an serta buku-buku yang bermanfaat lebih dicintai Allah dari pada tuntutan Bunda agar Nanda bekerja di Bank, mengajar TPA di masjid atau sibuk megurusi kegiatan Remaja Masjid yang bercampur baur antara lelaki dan perempuan.

      Bunda………….
      Tak ada gunanya Bunda terus menerus marah dan mencaci maki. Sikap Nanda akan sama seperti sikap Mush’ab bin Umair ketika ibunya menyuruhnya kembali kepada kekafiran, dan berkata,”Kalaupun ibu mempunyai sepuluh nyawa sekalipun, kemudian nyawa ibu keluar satu persatu, aku tak kan murtad dari agama yang benar ini”
      Semoga Allah memberimu hidayah Bunda tersayang. Dan semoga Allah menguatkan Nanda dalam ujian keimanan ini.

      Ya Allah……luka di hati ini semakin pedih, saat Bunda menampik jabat tanganku, semakin tercabik-cabik pula hati ini saat Bunda mencabik-cabik jubah hitam dan cadar hitamku satu-satunya. KepadaMu-lah Ya Allah…….. hamba mohon pertolongan. Hamba yakin akan janjiMu, bahwa bersama kesukaran ada kemudahan, dan pertolonganMu ada bersama kesabaran.
      (Ummu Khaulah)

      Maraji :
      • Al Qur’an Al karim
      • Hirosatul fadhilah

      Posted by Ummu Iyas | Kamis, April 2, 2015, 10:18 am
  2. Assalamu’alaykum wr wb.
    Saudaraku, mohon bantuan atau share ilmu ηƴα tentang dasar / dalil hukum yang kuat ttg seruan kepada kaum muslimah untuk menggunakan cadar. Hal Îηî akan saya gunakan sebagai dasar untuk berdakwah kepada keluarga dan keluarga saya.
    Syukron, jazakumulloh

    Posted by rakhmat fithroni | Rabu, Januari 18, 2012, 1:54 pm
  3. Assalamu’alaykum wr wb.
    Saudaraku, mohon bantuan atau share ilmu ηƴα tentang dasar / dalil hukum yang kuat ttg seruan kepada kaum muslimah untuk menggunakan cadar. Hal Îηî akan saya gunakan sebagai dasar untuk berdakwah kepada keluarga dan kerabat saya.
    Syukron, jazakumulloh

    Posted by rakhmat fithroni | Rabu, Januari 18, 2012, 1:54 pm
  4. Ijin copas yo mas….barakallohu fyk….

    Posted by alfurqoncell | Selasa, Januari 24, 2012, 7:20 am
  5. sedih…jangankan bercadar..mempelajari sunnah saja merupakan perjuangan yg berat..

    Posted by noor | Selasa, Januari 24, 2012, 1:53 pm
  6. subhanallah.. ternyata ana harus banyak bersyukur karena memiliki keluarga yang begitu mendukung keputusan ana untuk menutup wajah. semoga selalu istiqomah..

    Posted by meutya~halida | Selasa, Januari 24, 2012, 8:34 pm
  7. Subhanalloh

    Posted by Akfree | Minggu, Maret 11, 2012, 5:40 pm
  8. berjuang menutup aurat..

    Posted by Via | Kamis, Juni 14, 2012, 9:26 am
  9. perjuangan anti bnar2 mnyentuh,, dapatkah ana seperti mu ?😥

    Posted by esis | Senin, Juli 15, 2013, 11:47 am
  10. Lebay! Emang kamu tinggal di arab mesti bercadar segala!

    Posted by boni | Minggu, Desember 28, 2014, 8:45 am
  11. alhamdulillah akupun bercadar, doakan aku istiqomah ya dan aku mau berbagi pekerjaan dari internet tuk ukhti bercadar, bisa liat diblogku syukran.

    Posted by samraimad | Sabtu, Mei 7, 2016, 6:03 am

Berkomentarlah dengan sopan dan beradab. Komentar yang tidak beradab maka akan dihapus. no Bashing...!!!. Syukron

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: